SENARAI ARTIKEL

Wednesday, March 31, 2010

KETIKA CINTA BERTASBIH 2






KETIKA CINTA BERTASBIH
dengan cahaya cinta
kutulis novel kedua dari
dwilogi Ketika Cinta Bertasbih ini
untuk anakku tercinta:
Muhammad Ziaul Kautsar,
dan untuk segenap generasi Indonesia
yang baru dilahirkan
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
MR. Collection's
a
Thanks untuk Risma Yudha atas bukunya
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NO.19 TAHUN 2002
TENTANG HAK CIPTA
PASAL 72
KETENTUAN PIDANA
SANKSI PELANGGARAN
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau
memperbanyak suatu Ciptaan atau memberikan izin untuk itu, dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit
Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil
pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
dipidanakan dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Ketika Cinta Bertasbih / Habiburrahman El Shirazy
Jakarta, Penerbit Republika
halaman 20,5 x 13,5 cm
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Editor : Ahmad Mujib El Shirazy, Abdul Basith EI Qudsy
Desain Sampul dan Isi : Abdul Basith El Qudsy
Percetakan : Tamaprinter Indonesia
INFORMASI PENTING
Alhamdulillah, berkat dukungan dan doa pembaca yang budiman,
PESANTREN BASMALA tidak lagi mengontrak dan pindah alamat. Sebab,
terhitung sejak tanggal 1 Januari 2007, PESANTREN BASMALA, telah
berhasil membebaskan rumah untuk kepentingan aktivitas pesantren yang
beralamat di: Jl. Raya Patemon No. 18.A. Gunungpati, Semarang, Jawa
Tengah. Telp. (024) 703.41.703. Karena itu, alamat lama yang ada di: Perum
Bank Niaga Blok B-9 Ngaliyan Semarang, Jawa Tengah, Telp. (024) 7615434
Ketika Cinta Bertasbih
ISBN:
Diterbitkan oleh:
Penerbit:
1. Penerbit Republika
Jl. Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan
Telp. (021) 7892845. Fax. (021) 7892842
Anggota IKAPI DKI Jakarta
2. Pesantren Basmala Indonesia
Jl. Raya Patemon No. 18.A Gunungpati,
Semarang, Jawa Tengah 50228.
Telp.: (024) 70796504, (024) 703.41.703
Email: basmala_indo@yahoo.com
Hak Cipta © Habiburrahman El Shirazy
Cetakan ke-1, Nopember 2007
813
5
6
PAGI BERTASBIH
DI DESA WANGEN
Langit dini hari selalu memikatnya. Bahkan sejak ia
masih kanak-kanak. Bintang yang berkilauan di matanya
tampak seumpama mata ribuan malaikat yang mengintip
penduduk bumi. Bulan terasa begitu anggun menciptakan
kedamaian di dalam hati. Ia tak bisa melewatkan pesona
ayat-ayat kauni yang maha indah itu begitu saja.
Sejak kecil Abahnya sudah sering membangunkannya
jam tiga pagi. Abah menggendong dan mengajaknya
menikmati keindahan surgawi. Keindahan pesona langit,
bintang gemintang, dan bulan yang sedemikian fitri.
"Di atas sana ada jutaan malaikat yang sedang
bertasbih." Begitu kata Abahnya yang tak lain adalah Kiai
Lutfi sambil menggendongnya. Ia tidak mungkin
melupakannya.
7
1
"Jutaan malaikat itu mendoakan penduduk bumi yang
tidak lalai. Penduduk bumi yang mau tahajjud saat jutaan
manusia terlelap lalai." Sambung Abah sambil membawanya
ke masjid pesantren.
Abah lalu mengajaknya untuk akrab dengan dinginnya
mata air desa Wangen. Setelah mengambil air wudhu,
Abah mengajaknya keliling pesantren, mengetok kamar
demi kamar sambil berkata, "Shalat, shalat, shalat!" Setelah
semua kamar diketuk, sang Abah mengajaknya kembali
ke masjid untuk shalat. Beberapa orang santri ada yang
sudah shalat. Ada yang masih mendengur berselimut
sarung.
Setelah shalat sebelas rakaat Abah mengajaknya berdoa.
"Ayo Nduk, kita berdoa biar diamini jutaan malaikat."
Dan tatkala fajar merekah kemerahan di sebelah timur,
Abah bertasbih dan mengajaknya menikmati keindahan
yang menggetarkan itu. Lalu dengan menggendongnya
kembali, Abah mengajaknya keliling pesantren untuk
kedua kalinya. Kali ini Abah membangunkan para santri
dengan suara lebih keras, dengan nada sedikit berbeda,
"Subuh, subuh, shalat! Subuh, subuh, shalat!"
Lalu azan subuh berkumandang.
Azan subuh selalu menggetarkan kalbunya. Alam
seperti bersahut-sahutan mengagungkan asma Allah. Fajar
yang merekah selalu mengalirkan ke dalam hatinya rasa
takjub luar biasa kepada Dzat yang menciptakannya.
Setiap kali fajar itu merekah ia rasakan nuansanya tak
pernah sama. Setiap kali merekah selalu ada semburat
yang baru. Ada keindahan baru. Keindahan yang berbeda
dari fajar hari-hari yang telah lalu. Rasanya tak ada
sastrawan yang mampu mendetilkan keindahan panorama
itu dengan bahasa pena. Tak ada pelukis yang mampu
melukiskan keindahan itu dalam kanvasnya. Tak ada!
Keindahan itu bisa dirasakan, dinikmati dan dihayati
8
dengan sempurna oleh syaraf-syaraf jiwa orang-orang yang
tidak lalai akan keagungan Tuhannya.
Langit dini hari selalu memikatnya. Bahkan sejak ia
masih kanak-kanak. Azan subuh selalu menggetarkan
kalbunya. Dan fajar yang merekah selalu mengalirkan
kedalam hatinya rasa takjub luar biasa kepada Dzat yang
menciptakannya.
Anna berdiri di depan jendela kamarnya yang ia buka
lebar-lebar. Ia memandangi langit. Menikmati fajar. Dan
menghayati tasbih alam desa Wangen pagi itu. Dengan
dibalut mukena putihnya ia menikmati keindahannya dari
jendela kamarnya. Ia hirup dalam-dalam aromanya yang
khas. Aroma yang sama dengan aroma yang ia rasakan
saat ia kecil dulu. Tidak jauh berbeda. Aroma daun padi
dari persawahan di barat desa. Goresan yang indah
bernuansa surgawi . Angin pagi yang mengalir sejuk
menyapa rerumputan yang bergoyang-goyang seolah
bersembahyang.
Di kejauhan beberapa penduduk desa sudah ada yang
bergerak. Ada rombongan ibu-ibu yang mengayun sepeda
membawa dagangan di boncengan. Mereka menuju pasar
Tegalgondo. Biasanya mereka shalat subuh di sana sebelum
menjajakan dangangan mereka. Penduduk Pesantren
Daarul Quran, baik yang putr a maupun yang putri
sebagian besar telah bangun dan bersiap untuk shalat
subuh. Kiai Lutfi, pengasuh utama Pesantren Daarul Quran
sudah shalat sunnah fajar di masjid.
Anna shalat sunnah dua rakaat lalu beranjak ke masjid.
Masjid pesantren yang terletak di tengah-tengah desa
Wangen, Polanharjo, Klaten itu kini jauh lebih megah dari
waktu ia masih kecil dulu. Dulu masjid pesantren itu
berdinding papan dan lantainya ubin kasar. Hanya muat
untuk dua ratusan orang saja. Saat itu jumlah santri baru
seratus tujuh puluh. Semuanya putra. Karena memang
belum membuka pesantren putri. Sekarang masjid itu
9
sudah mampu menampung seribu lima ratus orang. Dua
lantai. Lantai bawah untuk santri putra dan lantai atas
untuk santri putri. Jumlah santri sudah mencapai seribu
tiga ratus. Delapan ratus untuk santri putra dan lima ratus
untuk santri putri.
Lantai atas masjid itu putih. Penuh oleh santriwati
berbalut mukena putih. Mereka seumpama bidadaribidadari
yang turun ke bumi bersama para malaikat pagi.
Sebagian sedang shalat sunnah. Sebagian duduk membaca
Al Quran. Sebagian yang lain duduk sambil berzikir. Anna
shalat tahiyyatul masjid di tengah-tengah mereka. Jika para
bidadari memiliki ratu, maka Anna Althafunnisa-lah
ratunya para bidadari yang mengagungkan asma Allah di
masjid itu.
Iqamat dikumandangkan.
Semua berdiri serentak. Shaf ditata seperti barisan
pasukan yang siap berperang. Kiai Lutfi merapikan shaf
dengan sabar. Ia sangat perhatian mengatur shaf. Lalu
takbiratul ihram menggema di masjid itu. Semua jamaah
mengumandangkan takbir bersama. Mengagungkan asma
Allah. Masjid itu lalu menyatu bersama alam yang
mengagungkan asma Allah pagi itu.
Usai shalat subuh dan berzikir. Kiai Lutfi mengajak
santrinya untuk melantunkan zikir pagi. Lalu beliau
membacakan kitab Subulus Salam karya Imam Ash Shan'ani
yang merupakan penjelas kitab Bulughul Maram yang
disusun oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani. Subulus Salam
adalah satu dari tiga kitab yang menjadi wirid Kiai Lutfi.
Artinya kitab itu adalah salah satu kitab yang senantiasa
dibaca berulang-ulang oleh Kiai Lutfi. Kitab kedua adalah
kitab Tafsir Jalalain yang disusun oleh Imam Jalaluddin As
Suyuthi dan Imam Jalaluddin Al Mahalli. Kitab ketiga adalah
Al Hikam yang ditulis Imam Ibnu Athaillah As Sakandari.
Subulus Salam dan Tafsir Jalalain dibaca dan dijelaskan
kandungannya panjang lebar oleh Kiai Lutfi setiap hari.
10
Dan semua santri wajib mengikutinya. Subulus Salam
dibaca setelah shalat subuh dan Tafsir Jalalain setelah shalat
maghrib. Sementara kitab Al Hikam dibacakan setiap Rabu
bakda Ashar untuk masyarakat umum.
Sudah jamak di dunia pesantren bahwa seorang Kiai
biasanya memiliki kitab-kitab andalan yang sangat dia
kuasai dan ia ajarkan kepada santrinya. Kitab itu jadi
wiridnya. Sehingga ia seolah-olah hafal kitab itu. Dengan
melihat kitab yang dijadikan wirid maka para santri dan
masyarakat bisa mengetahui kepakaran seorang Kiai.
Misalnya Kiai Lutfi setiap hari mengajarkan Subulus Salam
dan Tafsir jalalain, maka beliau adalah pakar di bidang
fiqh dan hadis, juga pakar di bidang tafsir. Penguasaan
beliau dalam ketiga bidang itu sangat mendalam. Bukan
berarti Kiai Lutfi tidak menguasai ilmu nahwu, ilmu tata
bahasa Arab. Bukan. Beliau juga menguasai ilmu itu. Tapi
kecenderungan dan kepakaran beliau di bidang itu.
Contoh lain misalnya Kiai Rasyidi biasa mengajarkan
kitab Qira'atur Rasyidah di Pesantren As Salam Pabelan.
Itu karena beliau di kalangan ulama karesidenan Surakarta
dikenal sebagai pakar bahasa Arab. Beliau lulusan Al Azhar
yang sudah belasan tahun hidup di Mesir. Beliau juga
sangat menguasai ilmu fiqh dan disiplin ilmu lainnya.
Namun beliau memiliki kecenderungan untuk mendalami
dan mengajarkan bahasa Arab kepada para santrinya.
Lain lagi dengan Almarhum Kiai Ali Darokah, ulama
Surakarta jebolan Mambaul Ulum yang legendaris. Beliau
juga menjadi guru para ulama di Surakarta .dan sekitarnya,
dikenal sebagai ulama yang memiliki kepakaran di bidang
ilmu fiqh dan ushul fiqh.
Sementara Kiai Salman Popongan cenderung pada
ilmu tasawuf. Maka kitab yang menjadi wiridan beliau,
konon, adalah kitab-kitab tasawuf seperti kitab Al Hikamnya
Imam Ibnu Athaillah As Sakandari dan kitab Ihya'
Ulumuddin-nya Imam Al Ghazali.
11
Di Sukoharjo, Kiai Ahmad Husnan dikenal sebagai
ulama yang pakar dalam takhrij hadits. Maka kitab-kitab
yang beliau bahas dan beliau uraikan kepada para santrinya
di Pesantren Al Mukmin adalah kitab-kitab hadis dan ilmu
hadis seperti Kutubus Sittah. Beliau bahkan banyak menulis
buku dalam bidang hadis.
Di Jogjakarta, ada ulama yang dikenal sangat pakar di
bidang Ushul Fiqh dan Fiqh. Kepakarannya bahkan masyhur
sampai Asia Tenggara. Beliau adalah almarhum Kiai Haji
Ali Maksum, Pengasuh Pesantren Al Munawwir Krapyak.
Maka di antara kitab yang menjadi wirid beliau adalah kitab
Asybah Wan Nadhair, Fathul Mu'in dan Fathul Wahab.
Pagi itu Kiai Lutfi membacakan dan menguraikan
hadis yang berbunyi, "Laa yadhulul jannata qattaatun!"
Semua santri, baik putra dan putri mendengarkan dengan
khidmat dan rasa ingin tahu. Kiai Lutfi lalu menjelaskan
arti dan maksud hadis pendek itu,
"Anak-anakku semuanya yang aku sayangi,
Hadis pendek ini muttafaq 'alaih, artinya diriwayatkan
oleh Imam Bukhari dan Muslim. Jelas shahihnya. Tidak bisa
diragukan. Arti dari hadis ini adalah,'Tidak akan masuk surga
orang yang suka memfitnah.
Imam Shan'ani menjelaskan, kata "qattat" itu dengan
huruf qaf, huruf ta' dan sesudah alif huruf ta' lagi, yang
berarti pemfitnah. Ada ulama yang berkata, ada perbedaan
antara "qattaat" dan "nammaam".
Nammaam ialah orang yang mencari berita untuk
menyampaikannya kepada orang lain (untuk menebar fitnah).
Sedangkan "qattaat" adalah orang yang hanya mendengar
berita yang ia tidak mengetahui pasti kebenaran berita itu,
kemudian ia menceritakan apa yang ia dengar itu (kepada
orang lain untuk memfitnah).
Hakekat fitnah itu pemindahan pembicaraan orang
kepada orang lain untuk merusak hubungan di antara mereka.
12
Anak-anakku, ingatlah baik-baik kadis ini. Hayati dan
patri dalam sanubari! Jangan sekali-kali kalian menjadi
seorang pemfitnah, baik qattaat maupun nammaam. Sebab
pemfitnah itu telah diharamkan oleh Rasulullah Saw. untuk
masuk surga. Pemfitnah termasuk seburuk-buruk makhluk
Allah di atas muka bumi ini. Al Hafidz Al Mundziri
mengatakan, Ummat Islam sudah sepakat bahwa fitnah itu
diharamkan dan fitnah itu termasuk dosa besar!"
Lalu Kiai Lutfi terus membacakan isi kitab Subulus
Salam itu dan menjelaskan panjang lebar dengan penuh
rasa kasih sayang dan cinta kepada santri-santrinya. Setelah
setengah jam membacakan Subulus Salam, Kiai Lutfi
menutup kajian pagi hari itu dengan hamdalah. Para santri
bubar kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap menyambut
aktifitas pesantren yang lebih padat. Kiai Lutfi biasanya
tetap iktikaf di masjid sampai kira-kira jam delapan.
* * *
Anna kembali ke kamarnya. Ia mempersiapkan diri
menghadapi salah satu hari yang sangat bersejarah dalam
hidupnya. Nanti sore keluarga Furqan dari Jakarta akan
datang untuk melamarnya. Kemar in sore Furqan
mengirim sms bahwa dia dan keluarganya sudah sampai
di Solo, saat ini mereka menginap di hotel Lor Inn Solo.
Tanpa ia pinta, ingatannya kembali berputar bagaimana
ia mengiyakan lamaran Furqan. Bulan April ia meninggalkan
Cairo. Saat itu konsentrasinya adalah penelitian di
Malaysia untuk tesisnya tentang "Asuransi Syari'ah di Asia
Tenggara." Ia belum memberi jawaban atas lamaran Furqan
yang diajukan lewat Ustadz Mujab.
Ada dua minggu lamanya ia mengadakan penelitian
di perpustakaan Universiti Malaya, ISTAC, HUM dan
Universiti Kebangsaan Malaysia. Ia lebih banyak mengcopy
data-data dan rujukan-rujukan penting. Lalu ia pulang ke
Indonesia. Kerinduannya pada Abah dan Umminya, juga
13
pada aroma desa Wangen sudah sedemikian membuncah
di dada.
Ia masih ingat betul, selama satu minggu di rumah ia
belum membicarakan perihal lamaran Furqan pada kedua
orang ruanya. Ia masih bimbang dan ragu. Dan tepat satu
minggu setelah menghirup udara Wangen, suatu pagi ia
diajak bicara serius oleh Abahnya. Saat itu ia sedang
mengerjakan tesisnya di ruang perpustakaan Abahnya.
"Nduk, aku ingin bicara sebentar denganmu bisa?" Kata
Abahnya, dengan wajah serius.
"Inggih, bisa Abah." Jawabnya sambil menghadapkan
seluruh wajahnya pada sang Abah.
"Begini, Nduk, Abah rasa kamu harus segera menikah.
Kamu harus segera memutuskan siapa yang kamu pilih
untuk menjadi pendamping hidupmu. Jika Abah hitung,
dua tahun ini sudah enam kali engkau menolak lamaran.
Dan lamaran itu datangnya tidak dari orang sembarangan.
Abah dan Ummimu sudah tidak sanggup lagi untuk terus
menolak lamaran yang datang. Abah ingin menyampaikan
padamu, tadi malam ada seseorang yang datang lagi untuk
melamarmu. Abah kenal baik dengannya. Dan Abah
percaya padanya. Ummimu juga. Dia dulu juga santri di
pesantren ini. Tapi keputusan ada di tanganmu, Nduk.
Sebab engkau sudah besar, sudah sangat berpendidikan."
Ana sedikit terperanjat. Ia jadi penasaran siapa santri
itu?
"Pernah nyantri di sini Bah?"
"Iya."
"Siapa dia Bah? Apa aku mengenalnya?"
"Mungkin saja."
"Namanya siapa Bah?"
"Muhammad Ilyas."
"Muhammad Ilyas yang mana ya Bah?"
14
"Yang tinggi kurus, agak hitam."
Anna mencoba mengingat beberapa santri yang ia
kenal. Ia tidak memiliki bayangan. Ia memang tidak
banyak mengenal para santri putra yang seusianya, atau
sedikit di atasnya. Sebab begitu lulus SD ia langsung
dibuang ayahnya untuk belajar di Kudus. Tiga tahun di
Kudus, ia lalu melanjutkan belajar di MAPK Putri Ciamis.
Saat di Madrasah Aliyah itulah ia sempat mengikuti
pertukaran pelajar ke Wales, U.K. Begitu selesai Aliyah ia
langsung terbang ke Mesir. Jadi nyaris ia tidak banyak
berinteraksi dengan santri-santri Abahnya. Baik yang putra
maupun putri.
"Wah, saya tidak mengenalnya Bah." Kata Anna pelan.
"Ilyas cuma satu tahun di sini. Di kelas 3 Aliyah saja.
Sebelumnya ia belajar di Pasuruan. Anaknya cerdas. Hanya
saja olah bahasanya kurang halus. Tapi pelan-pelan bisa
diperbaiki. Ia menyelesaikan S1 di Madinah dan sekarang
sedang menulis tesis masternya di Aligarh, India. Saat ini
ia sedang liburan. Tadi malam ia datang bersama
pamannya untuk melamarmu. Aku dan Ummimu tidak
langsung mungkin menerima atau menolaknya. Kami
akan memutuskan sesuai dengan apa yang kau putuskan."
"Kalau Abah sendiri kelihatannya bagaimana?"
"Abah sendiri tidak ada masalah. Selama yang datang
itu orang yang shalih dan berilmu itu saja. Dan Ilyas sudah
memenuhi kriteria itu. Selanjutnya tergantung kamu. Sebab
kamu yang akan menjalani. Kaulah yang menentukan siapa
pendamping hidupmu. Bukan Abah atau Ummimu."
Diam-diam dari hati yang paling dalam Anna merasa
sangat bersyukur memi l iki orang tua yang sangat
penyabar, demokratis, dan sangat terbuka.
"Begini, Bah, saat ini saya juga sedang menerima
lamaran dari seorang yang baru saja menyelesaikan S2nya
di Cairo University." Anna membuka masalahnya.
15
"Coba ceritakan lebih detil!" Pinta Abahnya.
Ia lalu menceritakan tentang lamaran Furqan dengan
detil. Tentang siapa Furqan, aktivitas Furqan, prestasiprestasi
Furqan selama di Cairo, juga latar belakang
keluarga Furqan. Ia ceritakan semua yang ia tahu tentang
Furqan.
Kiai Lutfi hanya manggut-manggut saja mendengar
cerita putrinya yang sedemikian panjang lebar.
"Dia orang Jakarta asli?" Tanya Kiai Lutfi.
"Tidak tahu ayah. Tapi setahuku sejak kecil ia di
Jakarta, lalu kuliah di Cairo."
"Bisa bahasa Jawa?"
"Mungkin. Tapi ya sebatas memahami perkataan
dalam bahasa Jawa Bah."
"Furqan itu, seperti yang kau ceritakan banyak
memiliki kelebihan. Tapi jika dia nanti misalnya tinggal di
sini tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik, itu akan jadi
satu kelemahannya."
"Sebagaimana setiap manusia memiliki kelebihan
pasti kan juga memiliki kelemahan Bah."
"Yah, terserah bagaimana keputusan kamu. Siapa yang
kamu pilih? Furqan atau Ilyas? Abah minta salah satu dari
mereka ada yang kamu pilih. Jangan tidak ada yang kamu
pilih. Itu saja permintaan Abah dan Ummi padamu,
Nduk."
"Bah, untuk memilih salah satu di antara keduanya,
rasanya kita harus adil. Saya sudah pernah bertemu
dengan Furqan, tapi belum pernah bertemu Ilyas. Rasanya
kalau saya putuskan memilih Furqan misalnya itu tidak
adil."
Pak Kiai Lutfi faham.
"Baik. Itu gampang. Kebetulan besok pagi dia mau
mengisi acara pembekalan anak-anak kelas tiga Aliyah
16
yang akan meninggalkan pesantren ini. Kau akan aku
temukan dengannya."
Dan benar, hari berikutnya, Ilyas datang. Pakaiannya
rapi. Ia datang dengan mengendarai Honda Supra X. Kiai
Lutfi minta kepada Ilyas supaya masuk rumah sebelum
mengisi acara. Sesaat lamanya Kiai Lutfi mengajak Ilyas
berdiskusi beberapa masalah keumatan di ruang tamu.
Anna mendengarkan diskusi dari ruang tengah. Antara
ruang tengah dan ruang tamu disekat dengan kaca riben
hitam. Anna bisa melihat Ilyas dengan jelas, dan sebaliknya
Ilyas tidak bisa melihat Anna dengan jelas. Anna sudah
merasa cukup. Tapi tiba-tiba ayahnya bangkit masuk ruang
tengah dan memanggil namanya,
"Anna, minumannya mana?"
Terpaksa ia mengeluarkan minuman dan dua kaleng
biskuit. Ia bisa melihat Ilyas dengan lebih jelas. Ia tahu
Ilyas melirik wajahnya sekelebat. Setelah itu ia membandingkan
kelebihan dan kekurangan dua pemuda yang
melamarnya. Furqan dan Ilyas. Hatinya condong pada
Furqan, tapi masih ada sebersit keraguan. Ia masih belum
bisa memutuskan. Ia perlu orang lain yang bisa ia ajak
bicara dari hati ke hati.
Akhirnya ia memi l ih Nafisah, Ketua Pengurus
Pesantren Putri, yang ia rasa sudah sangat dekat dengannya
sebagai teman bermusyawarah. Ia menceritakan kebimbangannya
kepada Nafisah setelah ia mengambil janjinya agar
tidak membuka isi pembicaraan kepada siapa pun juga.
"Mbak punya foto Ustadz Furqan?" Tanya Nafisah
setelah mendengar semuanya.
"Ada." Jawab Anna seraya membuka diarynya.
"Ini fotonya." Lanjut Anna dengan menyodorkan
sekeping foto pada Nafisah.
Nafisah menerima foto itu dan mengamatinya dengan
seksama.
17
"Wah, tampan sekali Neng Anna. Jujur saja, kalau saya
yang disuruh memilih, saya pasti memilih Ustadz Furqan.
Sebab dia sudah selesai S2. Sementara Ustadz Ilyas belum.
Dia mahasiswa Mesir. Sementara Ustadz Ilyas mahasiswa
India. Kalau Ustadz Furqan kan setelah menikah bisa
melanjutkan S3 di Mesir sambil menunggui Neng Anna
menyelesaikan tesis. Jadi kalian bisa hidup bersama gitu
lho. Kalau Ustadz Ilyas kan susah. Bagaimana? Satu di
India, yang satu di Mesir? Terus ini Neng, terus terang,
saya pribadi pernah diajar oleh Ustadz Ilyas. Ada yang saya
kurang suka pada beliau?"
"Apa itu?"
"Saya takut ghibah Neng."
"Semoga tidak termasuk ghibah sebab ini niatnya sama
sekali bukan untuk ghibah. Lha kalau saya tidak tahu hal
itu bagaimana saya bisa menimbang Nafisah?"
"Baik, ini menurut saya pribadi lho Neng. Sikapnya
yang kurang saya sukai, Ustadz Ilyas agak kurang menjaga
pandangan pada para siswi ketika mengajar."
"Kan kalau mengajar memang boleh memandang
yang diajar."
"Tapi kan bisa lebih dijaga. Saya suka model Ustadz
Ramzi yang lulusan Syiria itu, beliau sangat menjaga
pandangan. Tapi sayangnya beliau sudah punya isteri."
Setelah berbincang-bincang cukup detail dengan
Nafisah, ia agak cenderung kepada Furqan. Tapi tetap
belum bisa memilih Furqan. Entah kenapa ia merasa tidak
mencintai mantan Ketua PPMI itu. Bahkan dalam hatinya
ada semacam ketidakcocokan dengan Furqan.
Menurutnya pola hidup Furqan terlalu berbeda
dengan mahasiswa yang lain. Dari orang-orang yang ia
percaya flat yang disewa Furqan sangat mewah, punya
mobil pribadi. Ke mana-mana selalu memakai mobil
pribadi. Dan tidak jarang sering menyendiri di hotel hanya
18
untuk menulis makalah. Meskipun ia tidak menyalahkan,
karena barangkali Furqan punya alasan. Tapi seperti itu
hukan cara hidup yang ia dambakan. Menurutnya itu
sudah berlebihan.
Tentang kebimbangannya ia sampaikan pada kedua
orang tuanya. Ayahnya diam, menyerahkan semuanya
pada Ummi. Umminya malah bertanya padanya,
"Jujurlah Nduk, adakah seseorang yang sebenarnya kau
damba. Dalam bahasa anak mudanya kau naksir
padanya?"
Ia menggelengkan kepala.
"Tapi pernahkan kau ber temu dengan seorang
pemuda yang sangat berkesan di hatimu?" Lanjut Sang
Ummi.
Ia diam.
"Cobalah ingat-ingat!"
"Ya ada Mi."
"Siapa dia?"
"Aku tak kenal dia Mi. Aku hanya kenal namanya."
"Namanya siapa?"
"Abdullah."
"Abdullah siapa?"
"Tak tahu Mi."
"Bagaimana kamu ini. Masak cuma kenal nama
depannya saja kamu sudah terkesan dengan pemuda itu.
Dia sekarang di mana?"
"Mungkin masih di Cairo Mi."
"Bisa kau lacak?"
"Tidak Mi."
"Kau sungguh aneh Nduk. Terkesan kok pada orang
tidak jelas."
"Kalau Ummi jadi Anna pasti juga akan terkesan."
19
Anna lalu menceritakan perjalanannya dengan temantemannya
ke Sayyeda Zaenab, Cairo. Saat itu ia belanja
kitab. Uangnya ia habiskan untuk beli kitab. Ia ingat kitab
yang ia beli adalah Lathaiful Ma'arif-nya Ibnu Rajab Al
Hanbali, Fatawa Mu'ashirah-nya Yusuf Al Qaradhawi,
Dhawabithul Mashlahah-nya Al Buthi, Al Qawaid Al
Fiqhiyyah-nya Ali An Nadawi, Ushulud Dakwah-nya Doktor
Abdul Karim Zaidan, Kitabul Kharraj-nya Imam Abu
Yusuf, Al Qamus-nya Fairuzabadi dan Syarhul Maqashidnya
Taftazani.
Ia pulang bersama Erna. Dompet Erna dicopet. Ia
teriak. Pencopet lari. Ia bergegas turun sambil mengejar
minta tolong pada orang-orang kalau kecopetan.
Pencopetnya hilang tak terkejar. Ia dan Erna tak ada uang
untuk pulang. Sama sekali. Di saat ia bingung ada seorang
pemuda naik taksi yang menolongnya memberi tumpangan
di belakang. Ia teringat kitab-kitabnya yang
tertinggal di bis. Pemuda itu minta sang sopir mengejar
bis. Akhirnya terkejar di Halte jalur ke Hay El Sabe dekat
Muraqib Nasr City.
Ia mendapatkan kembali kitabnya. Pemuda yang
menolongnya sangat santun. Dan sangat menjaga pandangan.
Ia sangat terkesan pada pemuda itu. Ia merasa sangat
ditolong saat itu. Entah kenapa ia sulit melupakan itu. Sulit
melupakan pemuda yang selalu menunduk itu. Dan saat
itu, ketika ditanya namanya cuma menjawab: "Abdullah."
"Anna sangat terkesan padanya, Mi."
"Yang seperti itu yang kau damba kira-kira?"
"Mungkin. Tapi jujur Anna suka pada pemuda itu."
"Tapi siapa dia dan di mana dia kau tidak tahu kan?"
"Iya."
"Itu namanya tidak jelas. Kalau menurut Ummi
pilihlah yang jelas." Tegas Umminya.
"Benar kata Ummimu Nduk." Abahnya menguatkan.
20
Namun ia belum bisa memutuskan. Dalam hati kecil
ia mengatakan jika pemuda yang menolongnya, yang baik
hat inya, dan sangat menjaga pandangan bernama
Abdullah itu datang melamarnya, maka ia akan langsung
mengatakan: "Iya!"
"Aduhai jikalau saja saat ini kau ada di sini Abdullah.
Jikalau saja kau menyampaikan lamaranmu kepadaku.
Jikalau saja kau utarakan ingin membangun rumah tangga
denganku. Aku pasti akan memilihmu, dari pada Ilyas atau
Furqan. Tapi, ah... di mana keberadaanmu di saat aku harus
memilih? Di mana...? Ah,..ya Rabbi ampuni hamba-Mu
yang lemah iman ini." Desis hatinya bimbang.
Saat ia bimbang dan ragu sms dari isteri Ustadz Mujab
terus datang berulang-ulang. Terakhir sms itu mengatakan,
"Kami sudah tidak enak sama Furqan. Cepatlah kau
putuskan. Kalau mau ya bilang mau. Kalau tidak ya tidak.
Supaya semua jadi enak. Terima kasih!"
Ana masih bimbang. Dalam hat i keci lnya ada
Abdullah. Ia sendiri tidak tahu kenapa di sana ada
Abdullah. Ia ingin mengenyahkan Abdullah itu tapi tak
juga mau enyah.Ia tahu tak boleh ada siapapun di dalam
hatinya kecuali orang yang halal baginya. Tapi kenapa
muncul juga Abdullah. Seringkali ia rasakan munculnya
itu pelan dan halus sekali. Ia kembali membaca sms itu.
Gamang. Tapi harus ia putuskan. Ingin rasanya ia
putuskan untuk tidak menerima dua-duanya. Tapi ia juga
gamang. Sudah berapa kali ia mengabaikan lamaran yang
datang?
Ia baca lagi sms dari Cairo itu. Ia rasakan bagai sesuatu
yang menterorkan. Akhirnya dalam kegamangannya,
karena teror sms itu ia memutuskan untuk menerima
Furqan. Meskipun keputusan itu belum benar-benar bulat
di hatinya. Masih ada sebersit keraguan yang bercokol di
sana. Dan ia tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan
keraguan itu. Ia mencoba menghilangkannya dengan shalat
21
istikharah selama tiga hari ber turut- turut. Akhirnya
walaupun sebersit keraguan itu masih bercokol, ia tetap
memutuskan memilih Furqan bila dibandingkan dengan
Ilyas. Ia berusaha mantap meskipun masih ada kegamangan
yang menggelayut dalam batinnya.
Ia menyampaikan keputusannya pada Abah dan
Umminya. Mereka berdua menyambut dengan wajah
berseri-seri dan gembira. Lalu ia mengirim sms kepada
Mbak Zulfa di Cairo, isteri Ustadz Mujab. Isi smsnya itu
adalah pemberitahuan bahwa ia menerima lamaran Furqan
dan mohon disampaikan kepada Furqan secepatnya.
* * *
Anna tersadar dari lamunannya. Waktu terus berjalan.
Hari ini adalah hari yang akan menjadi bagian dari sejarah
hidupnya. Ia masih belum yakin bahwa ia siap menjadi
isteri Furqan. Ia tidak tahu kenapa sebersit rasa ragu masih
juga menyusup halus di dalam hatinya. Apakah sebenarnya
ia belum siap menikah? Ataukah ia masih kurang mengenal
Furqan sehingga hatinya belum benar-benar bisa bulat
seratus persen? Ataukah sebenarnya masih ada yang
mengganjal dalam hati Abah atau Umminya? Tapi setiap
kali ia bertanya pada mereka berdua, mereka menjawab
telah mantap. Abahnya malah dengan entengnya berkomentar,
"Bisa jadi keraguan itu datangnya dari setan yang tidak
menginginkan kebaikan pada ummat manusia."
Anna berdiri. Melangkah ke arah cermin dan
memandang wajahnya sendiri. Ia lalu berseru pada wajah
yang ada di cermin,
"Anna, Kau harus mantap! Kau tidak mungkin
mundur hanya karena keraguan yang tidak jelas dari mana
datangnya. Kalau kau mencari manusia yang sempurna,
kau tidak akan mendapatkannya di atas muka bumi ini!
Semua ummat manusia memiliki aib, kekurangan, salah
22
dan dosa-dosa! Tak ada yang sempurna. Anna, Kau harus
yakin keputusanmu adalah benar!"
"Neng Anna! Neng Anna!"
Itu suara Sri, khadimah1 yang sangat disayang
Umminya.
"Iya Ti, ada apa?"
"Dicari Mbak Nafisah. Katanya ada keperluan penting.
Dia menunggu di ruang tamu."
"Ya, suruh menunggu sebentar."
Anna melepas mukenanya. Ia merapikan rambut dan
jubah panjang yang dipakainya. Ia mengambil jilbab dari
almarinya. Mengenakannya. Bercermin sekilas lalu turun
menemui Nafisah.
"Maaf Neng mengganggu." Sapa Nafisah.
"Tidak kok. Ada apa ya Fis? Katanya penting?"
"Iya Neng. Kami mau minta bantuan Neng Anna
sedikit."
"Banyak juga tidak apa-apa kok selama aku mampu.
Apa itu?"
"Begini Neng. Anak kelas tiga Aliyah putra dan putri
punya kan acara besar..."
"Bedah buku kumpulan cerpen itu?" Potong Anna.
"Iya benar. Cuma kami ada sedikit masalah Neng."
"Masalah apa?"
"Rencananya yang menjadi pembandingnya kan Bu
Nila Kumalasari, M.Ed. Dosen Fakultas Tarbiah STAIN,
tapi mendadak beliau ada halangan. Ayah beliau di
Semarang sakit keras, dan sedang dirawat di RS. Roemani
Semarang. Beliau harus ke Semarang menunggui ayah
beliau. Jadi beliau tidak bisa."
1 Khadimah, artinya pembantu. Di dunia pesantren khadimah atau khadim
biasanya digunakan untuk menyebut santri yang mengabdikan diri membantu
urusan sehari-hari keluarga kyai.
23
"Sudah cari pengganti beliau?"
"Sudah, tapi nama-nama yang kami hubungi tidak
bisa Neng."
"Guru bahasa Indonesia kalian saja yang jadi pembanding."
"Beliau juga tidak bisa. Sebab beliau sudah ijin untuk
menghadiri pernikahan adiknya di Jogja."
"Ya sudah, tanpa pembanding saja. Biarkan pengarang
kumpulan cerpen itu jadi pembicara tunggal saja."
"Justru pengarangnya minta ada pembanding. Kami
tidak mau mengecewakan beliau. Kami sudah janji akan
menyandingkan dengan pembanding yang tepat. Dan
rasanya lebih seru kalau ada pembanding."
"Terus apa yang bisa aku bantu? Aku tidak punya link
orang-orang yang berkecimpung di bidang sastra."
"Begini Neng, karena waktu sudah mepet. Kami dari
panitia dengan sangat memohon Neng Anna bersedia
menjadi pembicara pembanding."
"Aku?"
"Iya Neng."
"Wah tidak bisa! Tidak bisa!"
"Kami mohon Neng!"
"Tidak bisa, Fis! Itu bukan bidangku."
"Iya kami tahu. Maka nanti Neng Anna tidak usah
bicara tentang sastra dan tetek bengeknya. Kami tidak minta
Neng Anna bicara tentang itu?"
"Terus aku bicara tentang apa?"
"Neng kan sarjana Syariah dari Al Azhar. Kami minta
Neng Anna menyoroti isi dan pesan yang terkandung
dalam kumpulan cerpen itu sudah sesuai dengan syariah
belum. Sesuai dengan ajaran Islam yang mulia tidak. Itu
saja. Tolong ya Neng. Kalau Neng Anna tidak mau kami
24
harus bagaimana lagi. Waktunya tinggal besok Neng."
Nafisah membujuk dengan nada mengiba.
Anna Althafunnisa diam sesaat. Keningnya berkerut.
la mengambil nafas agak panjang lalu mendesah. Bibirnya
yang indah itu bergetar lirih,
"Baiklah."
"Terima kasih Neng."
"Tapi aku minta segera kau bawakan kemari buku
kumpulan cerpen itu ya. Biar segera kubaca."
"Jangan khawatir Neng. Ini sudah aku bawakan."
Jawab Nafisah dengan wajah berbinar-binar bahagia. la
mengeluarkan buku ukuran sedang dari dalam lipatan
kitab Fathul Qarib. Rupanya buku kumpulan cerpen itu
ia selipkan di dalam kitab kuning yang memang lebih lebar.
Nafisah mengulurkan buku itu pada Anna. Anna menerima
dan memeriksa sampul buku itu dengan seksama. Judul
kumpulan cerpen itu adalah Menari Bersama Ombak.
Ditulis oleh Ayatul Husna. Diterbitkan oleh penerbit
terkenal di Jakarta. Ia buka halaman demi halaman.
"Wah baru empat bulan sudah cetakan ke-5, berarti
ini buku best seller ya Fis."
"Iya Neng. Saya membaca di koran penulisnya akan
menerima penghargaan dari Diknas Pusat bulan Agustus
nanti. Sebab buku ini terpilih sebagai buku kumpulan
cerpen remaja terbaik nasional."
"Wah jadi semangat nih. Jadi ingin bertemu penulisnya
nih."
"Ya, begitu Neng. Kami jadi tambah semangat."
"O ya Fis, aku ada satu permintaan lagi."
"Apa itu Neng?"
"Aku minta agar identitasku sebagai lulusan Al Azhar
tidak disebut-sebut. Aku minta agar namaku yang
digunakan dalam seminar besok nama penaku yaitu
25
Bintun Nahl. Sebut saja guru bahasa Arab, pernah nyantri
di Kudus dan Ciamis. Itu saja."
"Baik Neng, insya Allah kami penuhi."
Anna menatap kedua mata Nafisah memancarkan
sinar kebahagiaan. Dan di luar, sinar surya sudah
memancar menyinari alam, menebar kehangatan. Sinar
itu menyapa dengan ramah daun-daun padi yang masih
hijau, yang menghampar bagai permadani nan luas.
Burung-burung pipit beterbangan ke sana ke mari dengan
riang. Alam semakin hangat. Semakin benderang. Sinar
matahari pagi itu terus bergerak menerobos menyingkirkan
kegelapan.
Sinar matahari pagi itu juga menerobos sela-sela jendela
kamar Furqan di Hotel Lor Inn Solo. Furqan yang
menyibak perlahan tirai jendela kamarnya dengan wajah
pucat dan muram. Cerahnya pagi hari itu ternyata tak juga
sanggup mencerahkan batin, jiwa dan perasaannya. Ada
beban yang ia rasa sangat berat yang menekan jiwanya.
Itulah yang membuat dia muram di hari yang seharusnya
ia ceria.
Furqan memandang ke arah matahari. Ia berkata lirih
pada matahari,
"Apalah arti sinarmu, bagi orang yang semangat
hidupnya sudah redup dan nyaris mati!?"
Furqan menyibak jendela lebih lapang, berharap
dadanya bisa terasa lebih lapang. Wajah Anna Althafunnisa
berkelebat-kelebat dalam pikiran.
* * *
26
IKATAN BATIN
Sore itu dengan pembacaan surat Al Fatihah ikatan
pertunangan Anna Althafunnisa dengan Furqan resmi
sudah. Peristiwa itu disaksikan oleh tokoh-tokoh terpenting
dari dua keluarga, belasan Kiai pengasuh pesantren dan
para pemuka masyarakat desa Wangen.
Anna tampak anggun dengan dalam balutan jilbab dan
jubah panjangnya berwarna biru muda. Kecantikannya
dipuji oleh keluarga Furqan. Nyonya Maylaf, ibu Furqan,
yang tergolong wanita yang tidak mudah memuji
kecantikan orang lain, saat itu tidak mampu untuk
menahan pujiannya.
"Pa, calon menantu kita ini kecantikannya sungguh
alami ya." Bisik Bu Maylaf pada Pak Andi Hasan, suaminya.
Pak Andi Hasan mengangguk pelan.
Furqan tampak gagah dengan koko biru tuanya. Jika
disandingkan dengan Anna pastilah pakaian keduanya
27
2
akan tampak sangat serasi. Sore itu Furqan mampu
menyembunyikan segala muramnya.
"Padahal tidak ada kesepakatan kok baju Anna dan
Nak Furqan bisa serasi ya." Seru Kiai Lutfi Hakim, ayah
Anna Althafunnisa sambil tersenyum.
"Ini namanya benar-benar jodoh Pak Kiai." Sahut Bu
Maylaf.
"Sudah ada kontak batin yang memadukan, bukankah
begitu Fur?" Sambung Pak Andi Hasan sambil melirik
Furqan.
Furqan hanya tersenyum. Anna menunduk memandang
lantai. Kalimat-kalimat itu semakin meneguhkan
keyakinannya bahwa inilah sejarah hidupnya. Bahwa
Furqan adalah bagian dari sejarah masa depannya.
Sore itu juga disepakati hari, waktu, dan tempat akad
nikah. Setelah dialog penuh kehangatan tercapai
kesepakatan bahwa akad dan pesta walimah diadakan di
desa Wangen. Di Pesantren Daarul Quran. Sementara di
Jakarta hanya acara semacam syukuran yang akan
diadakan di sebuah hotel berbintang di bilangan Cikini.
Akad nikah akan dilangsungkan pada hari Jumat kedua
bulan Agustus. Lalu disambung walimah selama dua hari
yaitu, hari Sabtu dan Ahad.
Yang menarik sebelum hari akad dan wal imah
disepakati, Anna Althafunnisa mengajukan syarat kepada
Furqan jika tetap ingin menikahinya. Syarat yang sempat
membuat perdebatan sengit antara Anna dan Furqan.
"Saya punya syarat yang syarat ini menjadi bagian dari
sahnya akad nikah. Artinya farji saya halal diantaranya jika
syarat saya ini dipenuhi oleh Mas Furqan." Kata Anna di
majelis musyawarah itu.
"Apa itu syaratnya?" Tanya Furqan.
"Pertama, setelah menikah saya harus tinggal di sini.
Saya tidak mau tinggal selain di lingkungan pesantren ini.
28
Kedua, saya mau dinikah dengan syarat selama saya hidup
dan saya masih bisa menunaikan kewajiban saya sebagai
isteri Mas Furqan tidak boleh menikah dengan perempuan
lain!" Dengan tegas Anna menjelaskan syarat yang
diinginkannya. Kalimat yang diucapkan itu cukup
membuat kaget Furqan dan keluarganya.
"Apa syarat-syarat itu tidak mengada-ada?" Kata Pak
Andi Hasan, ayah Furqan.
"Tidak. Sama sekali tidak. Para ulama sudah membahasnya
panjang lebar. Dan syarat yang saya ajukan ini
sah dan boleh." Jawab Anna. Pak Kiai Lutfi diam saja. Dia
percaya bahwa putrinya pasti bisa memperjuangkan apa
yang menjadi maslahat bagi masa depannya.
"Maaf, untuk syarat pertama saya rasa tidak ada
masalah. Itu sah dan boleh-boleh saja. Tapi untuk syarat
kedua, apa tidak berarti kamu mengharamkan poligami?"
Gugat Furqan.
"Mohon Mas Furqan melihat dan meneliti dengan
seksama, dibagian mana dan di teks mana saya mengharamkan
poligami yang dihalalkan oleh Al Quran. Tidak,
sama sekali saya tidak mengharamkan. Kalau Mas Furqan
menikah dengan selain saya, Mas mau menikahi langsung
empat wanita juga saya tak ada masalah. Itu hak Mas
Furqan. Syarat itu sama dengan syarat misalnya saya minta
setelah menikah Mas Furqan tidak makan Jengkol,
karena saya tidak suka. Jengkol itu bau. Baunya saya tidak
suka. Apa itu berarti saya mengharamkan Jengkol? Saya
meminta syarat untuk sesuatu yang menurut saya
bermanfaat bagi saya dan anak-anak saya. Dan dengan
syarat ini Mas Furqan sama sekali tidak dirugikan, sebab
saya mengatakan tidak boleh menikah dengan perempuan
lain selama saya hidup dan saya masih bisa
menunaikan kewajiban saya sebagai isteri. Kalau saya
sakit menahun dan tidak bisa menunaikan kewajiban saya
ya silakan menikah. Syarat yang seperti ini dibolehkan
29
oleh ulama." Anna beragumentasi membela syarat yang
diajukannya.
"Maaf saya belum pernah membaca ada ulama
membolehkan syarat seperti itu." Tukas Furqan.
"Baiklah. Tunggu sebentar!" Kata Anna. Gadis itu
masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah kitab. Pada
halaman yang ditandainya ia membukanya dan langsung
menyodorkannya pada Furqan,
"Ini juz 7 dari kitab Al Mughni karya Ibnu Qudamah,
silakan baca di halaman 93!"
Furqan menerima kitab itu lalu membaca pada bagian
yang diberi garis tipis dengan pensil oleh Anna. Saat
membaca kening Furqan berkerut. Ia lalu mendesah. Ia
diam sesaat. Wajahnya agak bingung.
"Jelas sekali, para ulama sepakat bahwa suatu syarat
yang menjadi sebab akad nikah terjadi harus dipenuhi.
Maka syarat saya tadi harus dipenuhi kalau ingin akad
nikah dengan saya terjadi. Selama syarat itu tidak
ber tentangan dengan tujuan pernikahan dan tidak
menghilangkan maksud asli pernikahan. Saya tidak
mensyaratkan misalnya saya hanya boleh disentuh satu
tahun sekali. Tidak! Syarat ini ber tentangan dengan
maksud pernikahan. Dan ulama juga banyak yang memilih
pendapat bahwa perempuan boleh mengajukan syarat
sebelum akad nikah bahwa suaminya tidak akan menikahi
perempuan lain. Dan sang suami wajib memenuhi syarat
itu selama dia menerima syarat itu ketika akad nikah.
Imam Ibnu Qudamah ketika berbicara tentang syarat
dalam nikah sebagaimana termaktub dalam kitab Al
Mughni yang Mas Furqan pegang itu berkata: 'Yang wajib
dipenuhi adalah syarat yang manfaat dan faidahnya
kembali kepada isteri. Misalnya sang suami tidak akan
mengeluarkannya dari rumahnya atau dari kampungnya,
tidak bepergian dengan membawanya atau tidak akan
30
menikah atasnya. Syarat seperti ini wajib ditepati oleh
suami untuk isteri, jika suami tidak menepati maka isteri
berhak minta dihapuskan nikahnya. Hal seperti ini
diriwayatkan dari Umar bin Khattab ra, dan Saad bin Abi
Waqqash, Mu'awiyah, dan Amru bin Ash ra. Hal ini juga
difatwakan oleh Umar bin Abdul Aziz, Jabir bin Zaid,
Thawus, Auzai dan Ishaq.'
Dan ayat yang meminta kita untuk memenuhi janji
adalah Al Maidah ayat 1, Allah berfirman, 'Hai orang-orang
yang beriman penuhilah janji-janji!" Dan dalam sebuah
hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw.
bersabda, 'Sesungguhnya syarat yang paling berhak untuk
kalian penuhi adalah syarat yang membuat suatu farji jadi
halal untuk kalian!'
Saya hanya ingin seperti Fat imah yang selama
hidupnya berumah tangga dengan Ali bin Abi Thalib tidak
dimadu oleh Ali. Dan saya ingin seperti Khadijah yang
selama hidupnya berumah tangga dengan Rasulullah juga
tidak dimadu. Sungguh saya sama sekali tidak mengharamkan
poligami. Tapi inilah syarat yang saya ajukan.
Jika diterima ya akad nikah bisa dirancang untuk
dilaksanakan. Jika tidak, ya tidak apa-apa. Silakan Mas
Furqan mencari perempuan lain yang mungkin tidak akan
mengajukan syarat apa-apa!" Papar Anna panjang lebar
Menghadapi argumentasi Anna, akhirnya Furqan dan
keluarganya menyerah. Mereka akhirnya menerima dua
syarat yang diajukan Anna Althafunnisa.
* * *
Sore itu juga berita telah resminya Anna Althafunnisa
putri Pengasuh Pesantren Daarul Quran bertunangan
dengan Furqan Andi Hasan dari Jakarta langsung menyebar
di seantero desa Wangen. Beberapa santri senior, beberapa
ustadz muda dan beberapa pemuda desa yang menaruh
hati dan harap menelan ludah kekecewaan. Impian mereka
31
bisa bersanding dengan putri Kiai Lutfi yang terkenal
cantik, cerdas dan shalihah itu hilang.
Seorang pemuda desa Wangen yang tidak bisa
menyembunyikan kekecewaannya berkata, "Aku kecewa
pada Pak Kiai. Kenapa Pak Kiai memilih calon menantu
dari Jakarta! Kenapa mesti Jakarta yang diutamakan?
Kenapa tidak memilih menantu orang sini saja. Menantu
yang sudah beliau kenal, dan sudah mengaji dan belajar
pada beliau sejak masih balita!"
"Masalahnya bukan orang Jakarta atau orang sini.
Bukan itu kukira. Aku yakin karena yang dipilih sekarang
ini adalah yang terbaik menurut Pak Kiai dan putrinya
yaitu Anna Althafunnisa. Kau boleh saja kecewa. Tapi jodoh
sudah ada yang menentukannya." Sahut pemuda yang
lebih tua.
* * *
Bu Maylaf belum mengganti gaun yang ia kenakan
dalam acara pertunangan putranya. Selepas maghrib ia
langsung mengajak Furqan jalan-jalan mengelilingi kota
Solo. Mereka hanya berdua. Pak Andi Hasan dan yang
lain memilih istirahat di hotel. Mobil Toyota Fortuner
berplat B itu melaju tenang di jalan Slamet Riyadi.
Jalan utama kota Solo itu lebar dan ramai. Di kanan
kiri berdiri bangunan-banguan metropolis; mall, hotel,
bank, butik, rumah makan, pusat elektronik dan lain
sebagainya. Meskipun bukan sebuah ibu kota provinsi,
Solo bisa disebut kota yang kesepuluh terbesar di
Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan,
Semarang, Makassar, Denpasar, Palembang, dan Jogyakarta.
Bu Maylaf minta Furqan menuju kraton.
"Aku ingin tahu suasana kraton dan Pasar Klewer di
malam hari." Gumam Bu Maylaf.
"Aku juga ingin, Bu." Sahut Furqan.
32
"Fur, kau bahagia?" Tanya Bu Maylaf sambil memandang
gurat wajah putranya yang tidak benar-benar cerah.
"Iya bahagialah Bu. Ibu ini ada-ada saja."
"Tapi ibu amati begitu pulang dari pesantren tadi
wajahku muram."
"Ah tidak. Ibu saja yang terlalu berperasaan."
"Tidak Anakku, ibu serius. Ibu amati kamu masih saja
murung. Sejak kamu pulang dari Cairo sampai sekarang
kamu kok sepertinya punya masalah serius? Apa kamu
sebenarnya tidak suka pada gadis itu? Merasa salah pilih?
Karena kamu sudah terlanjut melamar dia sejak di Cairo
dan terlanjur bilang sama ibu dan ayah, kamu jadi
menanggung beban, begitu?"
"Tidak ibu. Aku tidak ada masalah apa-apa kok. Aku
suka gadis itu dan sama sekali tidak salah pilih."
"Terus kenapa kamu muram seperti tertekan sesuatu?"
"Tidak ada kok Bu. Sungguh!"
"Fur, firasat seorang ibu pada anaknya tidak pernah
salah. Ibu tahu kamu sejak kamu lahir. Kalau kamu senang
ibu hafal wajah kamu. Kalau kamu marah, kamu kesal,
kamu kecewa, ibu hafal semua. Juga kalau kamu
memendam masalah. Ayo ceritakanlah pada ibu, Nak!"
Desak Bu Maylaf.
Mendengar kata-kata ibunya itu Furqan ingin
menangis, ingin rasanya meledakkan tangisan di
pangkuan ibunya sambil dielus-elus kepalanya seperti
saat masih kecil dulu. Ia ingin menceritakan musibah
yang menimpanya beberapa hari sebelum kepulangannya.
Tentang dirinya yang tanpa ia ketahui dosanya
digarap agen Mossad di Meridien Hotel. Tentang Miss
Italiana yang menghancurkan dirinya dengan virus HIV.
Tentang janjinya pada Kolonel Fuad untuk tidak
menyebarkan virus HIV yang diidapnya pada orang lain.
Dan kini ia telah bertunangan dengan Anna Althafunnisa.
33
Gadis terbaik yang pernah ia kenal dan ia ketahui.
Haruskah ia meneruskan sampai ke pelaminan?
Ia ingin mengungkapkan semua pada ibunya. Ia sangat
mencintai Anna, tapi ia tidak ingin merusak Anna. Ia tidak
tahu harus bagaimana?
Jika ia berterus terang pada ibunya, pada keluarganya.
Ia khawatir akan itu menyakit hati mereka berdua dan
merusak hidup mereka. Sebab ia tahu betapa sayang
mereka berdua padanya. Ia satu-satunya anak lelaki
mereka. Kakak dan adiknya perempuan. Ia tiga bersaudara.
Ia anak tengah. Kakaknya telah menikah dan kini
sedang hamil tua. Sementara adiknya hanya selesai D3 dan
tidak mau melanjutkan kuliah lagi. Ialah yang meraih
pendidikan tertinggi, maka ialah putr a kebanggaan
keluarga. Apa jadinya jika ayah dan ibunya mengetahui
anak kebanggaan mereka mengidap virus HIV.
"Fur kenapa kamu diam!"
Teguran ibunya menyadarkan dirinya dari lamunan.
Ia berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Ia
mencoba untuk menormalkan keadaan.
"Oh tidak Bu. Aku tidak memendam masalah. Aku
hanya tegang saja akhir-akhir ini. Tegang karena akan
punya isteri. Akan benar-benar hidup sendiri. Hidup
berumah tangga. Itu yang mungkin ibu lihat aku agak
muram. Hanya tegang mau hidup berumah tangga Bu."
Furqan menjawab diplomatis. Jawaban yang bisa
menutupi segala galau dan kacau yang terus menteror
perasaan dan jiwanya.
"O, begitu. Kalau itu ya memang biasa. Sebagian orang
yang akan berumah tangga mengalaminya. Ibu dulu juga
begitu. Tapi percayalah dengan berjalannya waktu semua
akan baik-baik saja. Membangun rumah tangga tidak
semenakutkan yang kau bayangkan. Dengan kerjasama
yang baik antara suami isteri nanti rumah tangga itu akan
34
sangat menyenangkan dan membahagiakan. Semoga
rumah tanggamu nanti kokoh dan barakah, Fur."
"Amin."
Malam itu mereka menikmati panorama malam di
kawasan kraton. Furqan minta ibunya menemaninya
minum wedang ronde di pojok barat alun-alun utara, tak
jauh dari masjid Agung.
"Wah wedang rondenya enak ya Fur."
"Iya Bu."
"Nanti kalau kau pengantin baru. Ajaklah Anna
minum wedang ronde di sini. Akan terasa sangat romantis
Fur. Setelah itu ajaklah jalan-jalan keliling kota. Lalu ajaklah
bermalam di hotel berbintang lima. Pasti itu akan membuat
Anna tambah berlipat cintanya padamu Fur." Kata Bu
Maylaf sambil tersenyum pada putra kesayangannya.
"Ah ibu, sudah membayangkan yang indah-indah."
"Ya, bayangkanlah yang indah-indah itu. Karena
memang yang indah-indah itu adalah hak para pengantin
baru. Saya dengar dari Pak Kiai yang mengajar di masjid
kita, bahwa Rasulullah meminta kepada pada pejaka agar
menyertai isterinya yang selama tujuh hari saat pengantin
baru. Jika isterinya itu seorang gadis. Tujuannya ya katanya
agar bisa mereguk keindahan-keindahan bersama sedalamdalamnya,
seromantis-romantisnya, agar cinta di antara
keduanya benar-benar berakar mendarah daging. Dan
dengan itu mawaddah dan rahmah lebih mudah tercipta."
"Wah ibu kayak Ustadzah saja."
"Lho, begini-begini kan ibu ini ibundanya Ustadz
Furqan, lulusan S2 Mesir."
Keduanya tersenyum. Sesaat wajah murung Furqan
hilang. Imajinasi keindahan berkelebat-kelebat dalam
pikirannya. Keanggunan Anna dalam balutan serba biru
kembali hadir di pelupuk matanya.
* * *
35
Sementara itu, di sebelah barat Kota Surakarta.
Tepatnya dalam rumah papan di sebuah kampung di
pinggir Kartasura, tampak tiga orang perempuan sedang
beraktifitas di ruang tamu yang sekaligus adalah ruang
tengah, ruang makan dan ruang kerja. Seorang perempuan
tampak sudah berumur. Kira-kira lima puluh tahunan.
Sedangkan dua per empuan lainnya masih muda.
Perempuan setengah baya itu sibuk bekerja di depan mesin
jahit tuanya. Ia sedang menjahit korden seorang pelanggannya.
Berkali-kali perempuan itu menjahit sambil terbatukbatuk.
Perempuan setengah baya itu tak lain adalah ibunda
Khairul Azzam. Namanya Ibu Malikatun Nafisah. Di
dukun Sraten ada yang memanggil Bu Lika. Ada yang
memanggil Bu Nafis dan Bu Isah. Panggilannya yang paling
lazim dan masyhur adalah Bu Nafis.
"Bue, jangan memaksakan diri tho. Kalau sudah capek
ya istirahat. Besok pagi dilanjutkan lagi. Nanti sakit lagi."
Ucap perempuan muda berjilbab cokelat sambil menghentikan
aktifitas membacanya. Perempuan berjilbab
coklat itu lalu bangkit dari tempat duduknya dan beranjak
menuju ibunya. Ia lalu memijit pundak ibunya yang masih
sesekali batuk dengan penuh kasih sayang.
"Ya keras sedikit Na. Ke arah tengkuk Na. Pegel
rasanya. Ini biar Bue teruskan sedikit lagi ya. Biar selesai
sekalian. Masalahnya ibu sudah janji besok pagi bisa
diambil. Kalau besok belum jadi terus yang pesan datang
kan mengecewakan." Lirih Sang Ibu sambil terus
melanjutkan pekerjaannya.
"Kalau Husna bisa menjahit, pasti Husna bantu. Biar
Bue istirahat saja. Bue kan sudah tua, tidak perlu memaksamaksakan
diri bekerja." Sahut perempuan berjilbab cokelat
itu sambil terus memijit Sang Ibu.
"Ah ini kegiatan ringan saja kok Na. Ya Bue kan perlu
kegiatan tho. Mosok nganggur. Ukh... ukh... ukh!" Kata
Sang Ibu sambil terbatuk-batuk.
36
"Dik Lia, maaf bisa nggak bantu Bue. Biar Bue istirahat
saja. Ini Bue sudah batuk terus!" Seru perempuan berjilbab
cokelat sambil menengok ke arah adiknya yang sedang
bergelut dengan tumpukan buku di kanan-kirinya.
"Aduh Mbak Husna, tidak bisa. Ini kerjaan sekolah
menumpuk. Malam ini harus beres. Bue sih, sudah
dibilangin tidak usah terima orderan, masih terus saja
terima. Bue tidak melihat kondisi diri sendiri. Kalau sakit
kan yang repot kita Bu. Anak-anaknya Bue." Jawab sang
adik sewot.
"Kalau tidak bisa ya sudah tho Dik, nggak perlu
ceramah." Sahut sang kakak.
"Mbak Husna tidak tahu sih, Lia ini lagi pusing plus
repot banget . Apa Mbak nggak lihat kerjaan Lia!
Setumpuk nih! Lia harus lembur malam ini Mbak. Kalau
luang pasti tanpa diminta juga sudah Lia bantu kerjaan
Bue." Timpal sang adik.
"Sudah-sudah! Bue yang salah. Bue terlalu memaksakan
diri. Husna, jangan ganggu adikmu. Dia kalau luang
seperti biasa, pasti sudah bantu Bue. Ya sudah, Bue istirahat
dulu. Besok habis subuh baru akan Bue lanjutkan. Tinggal
sedikit saja kok. Ukh... ukh!" Ucap sang ibu menengahi
sambil bangkit.
Perempuan berjilbab cokelat yang tak lain adalah
Ayatul Husna, mengantarkan ibunya ke kamarnya. Sampai
di kamar ia menunggu ibunya rebahan. Lalu menyelimutinya
dengan penuh kasih sayang.
"Ibu mau Husna buatkan jahe tambah madu hangat.
Biar badan ibu hangat dan segar?"
Sang ibu mengangguk.
Husna beranjak ke dapur.
Sang ibu merasakan keharuan luar biasa. Tanpa bisa
ia cegah air matanya meleleh membasahi pipinya.
Sedemikian sayang dan perhatian kedua putrinya itu pada
37
dirinya. Lirih ia menyampaikan rasa syukur sedalamdalamnya
kepada Allah atas karunia yang sangat mahal
ini. Meski ia membesarkan anak-anaknya tanpa didampingi
sang suami , namun Allah selalu menurunkan
pertolongannya. Keempat anaknya ia rasakan sangat
berbakti dan sangat mencintainya.
Anak pertamanya, Khairul Azzam, sejak kecil telah
menunjukkan baktinya. Prestasi-prestasinya mengharumkan
nama orang tua. Saat kuliah di Al Azhar, ia juga meraih
nilai sangat baik di tahun pertamanya. Dan ketika sang
ayah tiada, Azzam menunjukkan tanggung jawabnya
sebagai anak sulung dan satu-satunya anak lelakinya.
Azzam bekerja keras di Mesir sana. Ia tahu anaknya itu
bekerja dan berwirausaha dengan membuat bakso dan
tempe di sana. Tiap bulan mengir imkan uang demi
menghidupi dan menyekolahkan adik-adiknya. Sebagai
ibu, ia sangat bangga pada anak pertamanya itu. Di saat
sang ayah tiada dan ia sakit-sakitan, nama keluarga tetap
terjaga. Seluruh adik-adiknya tetap lanjut kuliah.
Ia jadi sangat merindukan Azzam. "Segeralah pulang
Nak. Bue sangat rindu padamu. Bue ingin tahu seperti apa
wajahmu. Seperti apa baumu. Bue ingin memelukmu."
Lirihnya dalam hati didera kerinduan dan keharuan luar biasa.
Anak keduanya, Ayatul Husna, sangat halus tutur
bahasanya. Dan sangat mencintainya. Husna seolah tidak
pernah rela ada nyamuk sekalipun menyentuh kulit
ibunya. Ia dulu pernah merasa Husna adalah anak yang
nakal. Ia ingat anak keduanya itu sewaktu kecil paling
sering bikin ulah. Paling sering berkelahi dengan anak
tetangga. Paling sering merebut mainan temannya. Dan
saat kelas tiga SMP justru ikutan karate sebagai kegiatan
ekstra kurikuler. Ia ingat bagaimana dulu Husna pernah
memukul kakaknya dengan gagang sapu sekeras-kerasnya.
Gara-garanya Husna disiram kakaknya karena sampai
pukul enam pagi belum juga bangun pagi.
38
"Anak perempuan kok kebluk!2 Kau ini sudah akil
baligh Na! Dosa kalau kau shalat subuh selalu kesiangan
apalagi tidak shalat subuh!" Seru kakaknya dengan nada
marah saat itu. Husna sangat marah diperlakukan seperti
itu oleh kakaknya. Ia bangkit lalu mengambil sapu. Dan
memukul kakaknya dengan sekeras-kerasnya menggunakan
gagang sapu. Sampai gagang sapu itu patah.
Husna memukul tepat di pelipis. Tak ayal, pelipis Azzam
berdarah.
Azzam tidak membalas. Azzam diam dengan amarah
yang meluap-luap. Oleh ayahnya Azzam dilarikan ke
dokter terdekat untuk diobati. Sang ayah lalu menghukum
Husna dengan menghajarnya. Tapi Husna melawan,
Husna malah memukul dan menendang sang ayah. Sang
ayah kalap, Husna nyaris dipatahkan tangannya oleh sang
ayah, tapi Azzam mencegah,
"Jangan ayah! Mungkin tadi Azzam yang salah. Azzam
terlalu keras pada Dik Husna."
Sang ayah mengurungkan niatnya. Akhirnya Husna
dihukum dengan diikat di dapur satu hari penuh. Husna
berontak tapi tidak bisa. Kenakalan dan kebengalan Husna
saat itu dikenal hampir oleh semua orang di kampung.
Namun kenakalan itu perlahan hilang sejak Husna
masuk SMA dan Azzam terbang ke Mesir. Husna berubah
seratus delapan puluh derajat sejak ayahnya meninggal
dunia. Sejak itu Husna disiplin mengenakan jilbab. Sangat
santun. Penyabar dan penyayang. Ia tahu bahwa di antara
yang punya andil mengubah Husna adalah kakaknya,
Azzam. Hampir setiap bulan sejak di Mesir Azzam selalu
mengirimkan surat ke Indonesia. Husna dan Lia mendapat
surat khusus.
Sekarang Husna, sudah selesai S1. Bahkan sudah selesai
sekolah profesinya sebagai psikolog. Ia sekarang dipercaya
2 Kebluk (jw.): Bangun kesiangan/tidur di waktu pagi sampai siang.
39
untuk menjadi nara sumber tetap rubrik psikologi remaja
di Radio Jaya Pemuda Muslim Indonesia (JPMI) Solo. Juga
mengajar di UNS sebagai asisten dosen.
Husna sekarang bukanlah Husna yang badung seperti
dahulu. Husna sekarang adalah bidadari yang sangat
penyabar dan penyayang. Sangat berhati-hati dalam
berbicara dan berper i laku. Tidak mau sedikitpun
menyakiti orang.
Anaknya yang nomor tiga adalah Lia. Lengkapnya Lia
Humaira. Sudah selesai D3 PGSD dan sekarang mengajar
di SDIT Al Kautsar di Kadipiro Solo. Sambil mengajar Lia
melanjutkan pendidikannya untuk meraih S1 di STAIN
Surakarta.
Lia lebih cantik dari kakaknya. Sudah ada beberapa
orang yang melamarnya, tapi Lia menolak. Ia ingin
kakaknya duluan menikah. Memang Lia lebih putih
kulitnya dibandingkan kakaknya, Husna. Sebenarnya tidak
putih, tapi kuning langsat. Karena itulah banyak orang
mengatakan Lia lebih cantik dari kakaknya. Namun
sebenarnya Husna tidak kalah cantik. Kulit Husna sawo
matang seperti kulit ayahnya. Azzam dan Husnalah yang
warna kulitnya mengikuti ayahnya. Sedangkan Lia dan si
bungsu berkulit kuning langsat seperti ia, ibunya.
Lia tidak kurang baktinya. Sebisa mungkin ia berusaha
menyenangkan hati ibu. Lialah yang paling sering pergi
ke Kudus untuk menengok si bungsu yang sedang belajar
di sebuah pesantren Al Quran di Kudus.
Perempuan setengah baya itu kembali batuk.
Ia teringat si bungsu. Sedang apa si kecil Sarah malam
ini. Apakah ia sedang mengaji? Ataukah masih belajar?
Ataukan sedang lelap dalam tidurnya. Jika teringat si kecil
Sarah ia sering tidak bisa menahan rasa haru. Anak itu
baru berusia sembilan tahun sekarang. Sudah satu tahun
ini dia di pesantren. Di pesantren Al Quran untuk anak-
40
anak. Ia laksanakan sesuai dengan wasiat sang ayah
beberapa bulan sebelum meninggal. Sang ayah berwasiat
agar anak bungsunya dimasukkan ke pesantren Al Quran
supaya hafal Al Quran.
Beberapa waktu yang lalu ia, Husna dan Lia mengantarkan
si kecil kembali ke pesantren setelah beberapa hari
liburan. Saat itu sudah hafal juz 27, 28, 29 dan 30. Si kecil
begitu bahagia diantar oleh ibu dan kakak-kakaknya. Dan
saat diajak rekreasi ke pantai Kartini sebelum ke pesantren
si kecil sempat berkata,
"Kalau ada Mas Azzam pasti lebih lengkap bahagianya
ya Bue."
Ia hanya menganggukkan kepala.
Ia jadi kembali teringat Azzam. Ia tidak bisa mengingkari
bahwa Husna bisa selesai S1, Lia bisa selesai D3 dan si
kecil Sarah bisa masuk pesantren adalah karena kerja keras
Azzam, putra sulungnya yang sampai saat ini belum juga
lulus kuliah di Al Azhar.
Perempuan itu meneteskan air mata kembali. Sebuah
doa ia panjatkan,
"Ya Allah mudahkanlah semua uruasan putraku
Azzam. Aku titipkan keselamatannya pada-Mu ya Allah.
Engkau Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah
berkahilah umur dan langkahnya ya Allah. Amin."
Ia mengatupkan pelupuk matanya dan menangis. Ibu
mana yang tidak menangis bila teringat anaknya yang
sudah sembilan tahun tidak dilihatnya. Anaknya yang
selama bertahun-tahun memeras keringat, darah dan air
mata untuk kesejahteraan adik-adiknya. Ibu mana tidak
menangis dan lunak hatinya.
"Bue menangis ya?"
Suara Husna menyadarkannya. Ia mengusap air
matanya lalu membuka pelupuk matanya.
"Ah tidak kok Na."
41
"Maafkan jika ada kata-kata Husna dan Lia yang tidak
berkenan bagi Bue ya."
"Tidak kok Na. Tidak ada yang salah dari kalian. Ibu
teringat kakakmu di Mesir dan adikmu di Kudus."
"O begitu. Husna kalau teringat Kak Azzam juga sering
menangis kok Bu. Ia kakak yang sedemikian baik pada
adik-adiknya. Insya Allah sebentar lagi Kak Azzam pulang
Bu."
"Kapan Na?"
"Semoga bulan Agustus nanti. Makanya Bue jaga
kesehatannya ya. Biar nanti pas Kak Azzam pulang kita
bisa jalan-jalan bersama. Kak Azzam pasti akan sangat
bahagia melihat ibu sehat dan ceria."
"Ya baik Na. Aku tidak sabar menunggu hari itu. Hari
anak lelakiku pulang. Aku juga ingin melihat dia nikah
dan punya anak. Aku ingin menggendong cucu."
"Ah Bue ini terus ke mana-mana. Ya semoga dikabulkan
Allah. Amin."
"Bue mau tidur. Sudah sana teruskanlah pekerjaanmu
Na."
"Baik Bu."
Husna kembali ke ruang tamu. Ia kembali membaca.
Ia harus menuntaskan buku yang dibacanya. Ia sedang
mencari pengkayaan bahan yang akan ia gunakan untuk
mengajar mata kuliah psikologi dasar di Universitas Negeri
Sebelas Maret Surakarta.
Ruang tamu itu senyap. Husna tenggelam dengan
bacaannya dan Lia berkutat dengan tugas-tugasnya. Di luar
puluhan jangkrik mendendangkan lagu malam. Bersahutsahutan
di tengah kegelapan.
Rumah sederhana itu terletak di sebuah dusun kecil
bernama Sraten. Sebuah dusun yang berada di desa
Pucangan, Kartasura. Letaknya di sebelah barat jalan raya
42
Solo-Jogja. Tak jauh dari markas Kopasus, Kandang
Menjangan, Kartasura.
Sebuah dusun yang damai. Sawah-sawahnya mulai
disulap jadi perumahan. Posisi dusun itu sebenarnya sangat
strategis. Terlelak tak jauh dari pusat peradaban dan budaya.
Tak jauh dari pusat belanja dan pendidikan. Transportasi
juga mudah. Dari jalan raya besar letaknya hanya ratusan
meter saja. Ke jalan raya bisa jalan kaki. Dari pasar
Kartasura bisa dikatakan dekat. Kira-kira dua kilo saja. Dari
kampus STAIN Surakarta juga dekat. Ke bandara juga
dekat. Ke kampus UMS tidak terlalu jauh. Ke pusat kota
Solo sangat mudah.
Dusun Sraten sebuah dusun di pinggir kota yang
sebenarnya sudah mulai hidup dengan cara kota. Tidak
lagi menggunakan cara dusun yang sebenarnya. Dusun
yang sudah tidak orisinil dan perawan kedusunannya.
Gadis-gadis dan para pemudanya tidak lagi lugu dan polos.
Sudah banyak yang bertingkah mengada-ada dan sok kota.
Sebagian mereka bahkan tidak mau dicap sebagai orang
desa. Mereka ingin dianggap sebagai orang kota.
Memang beberapa perumahan yang menjadi ciri
perubahan masyarakat dari desa ke kota sudah mulai hadir
di samping mereka. Di sebelah barat mereka telah berdiri
Perumahan Pucangan I. Di desa Pucangan sendiri sudah
banyak perumahan bermunculan. Perumahan-perumahan
itulah yang menghadirkan cara hidup ala kota. Dimulai
dari bentuk rumah dan cara interaksi penduduknya yang
tidak lagi cara desa.
Dua gadis itu masih larut dengan pekerjaannya di
ruang tengah ketika tiba-tiba pengeras suara dari masjid
Al Mannar mengumumkan kabar yang mengagetkan
seluruh penduduk Sraten,
"Inna lillahi wa irina ilaihi raaji'un. Ngaturi kawuningan
dumateng bapak saha ibu sekalian.3 Telah menghadap Allah
3 Memberitahukan kepada bapak dan ibu sekalian.
43
Swt. pada malam ini tepat jam sembilan malam lebih
sepuluh menit Bapak Haji Masykur ketua RW sekaligus
bendahara takmir masjid Al Mannar. Jenazah insya Allah
akan dikebumikan besok pagi jam sembilan pagi ..."
Husna dan Lia kaget.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un." Hampir bersamaan
mereka berdua membaca istirja'4. Dua perempuan
kakak beradik itu beradu pandang dengan wajah kaget.
"Kita takziah ke sana sekarang Mbak?"
" Terus Bue bagaimana?"
"Kita bangunkan saja. Kita ajak ke sana sekalian."
"Beliau kelelahan, Dik. Kasihan. Biar istirahat saja."
"Kalau begitu kita berdua ke sana."
"Sebaiknya ada yang di rumah nungguin Bue. Kalau
tiba-tiba Bue bangun dan mencari kita bagaimana? Nanti
bikin beliau bingung dan cemas. Biar aku saja ya yang ke
sana malam ini. Kalau selesaikan saja kerjaanmu itu. Besok
baru kau ke sana bersama Bue."
"Iya. Begitu juga baik Mbak. Apalagi kerjaanku ini
belum rampung juga."
"Kalau begitu Mbak pergi dulu ya Dik."
"Jangan lama-lama ya Mbak."
"Ya."
Husna membuka pintu dan melangkah ke arah masjid.
Lia menutup dan mengunci kembali pintu. Masjid itu
hanya seratus meter dari rumah Husna. Dan rumah Pak
Masykur tepat ada di belakang masjid. Di jalan Husna
bertemu Bu RT dan Pak RT yang juga bergegas ke rumah
duka.
"Bu RT, kayaknya Pak Masykur sehat-sehat saja tho
ya Bu? Tadi pagi saya ketemu beliau di warung Bu War.
4 Istirja' adalah kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un.
44
Malah beliau pakai sepeda dan sempat berbincang sebentar
dengan saya." Tanya Husna pada Bu RT.
"Iya. Tadi siang juga masih sehat. Masih jamaah di
masjid dan sempat mampir ke rumah menanyakan
persiapan kegiatan tujuhbelasan." Jawab Bu RT.
"Saya tadi menjelang Isya' dapat sms dari Pak Mahbub,
Ketua Takmir Masjid, kata beliau Pak Masykur kena
serangan jantung dan dilarikan ke Solo." Pak RT ikut
nimbrung.
"Ya itulah kematian, Dik Husna. Kematian itu misteri.
Kita tak tahu kapan datangnya. Tak bisa diajukan. Dan
jika sudah datang tak bisa diundurkan." Tukas Bu RT.
"Dan kematian bisa datang pada siapa saja. Tidak pilihpilih.
Lha Mbah Hadi sekarang umurnya sudah sembilan
puluh delapan. Tapi masih segar dan masih bisa ke masjid
sendirian meskipun pakai tongkat. Sementara bulan lalu
Si Jasman yang baru lulus SMA mati karena demam
berdarah." Pak RT menyambung lagi.
Husna diam mendengarkan. Kematian selalu menjadi
ibrah baginya. Karena satu sebuah kematianlah ia berubah.
Kematian ayahnya delapan tahun yang lalu menjadi
pelajaran yang tak mungkin terlupakan baginya. Pelajaran
yang menjadikannya mengenal dirinya sebagai manusia,
ciptaan Allah Azza wa Jalla.
"Itu Pak Mahbub sudah ada di sana." Gumam Pak RT.
Husna melihat sudah banyak orang di rumah duka.
Suasana terasa menyedihkan. Ia mendengar raungan tangis
Bu Masykur dan anak-anaknya.
"Pak jangan tinggalkan aku Paak...! Kasihan anak-anak
Paak...! Bagaimana nanti aku membesarkan mereka tanpa
Sampean Paak...!"
Bu Masykur terus meraung. Bu Mahbub yang tak lain
adalah kakak kandung Bu Masykur mencoba menenangkan
dan menghibur. Tapi usaha Bu Mahbub seperti tak
45
ada gunanya. Bu Masykur terus meraung. Husna tertegun.
Ia berhenti melangkah. Sementara Pak RT dan Bu RT terus
masuk ke rumah duka.
Husna jadi teringat saat ayahnya meninggal karena
kecelakaan. Ibunya sempat menangis meskipun tidak
setragis Bu Masykur. Ia sendiri menangis. Saat itu ia
menangis karena sedih dan menangis karena penyesalan.
Sebuah penyesalan yang sampai saat ini masih bercokol
di hatinya. Sebab ia merasa dirinyalah penyebab kematian
ayahnya.
Saat itu ia ngambek kabur dari rumah karena minta
dibelikan sepeda motor tapi tidak dibelikan. Ayahnya
berkata, "Nak, ayah tidak bisa beli sepeda motor baru.
Kalau kamu mau sekolah memakai sepeda motor pakailah
motor ayah. Biar ayah kerja pakai sepeda saja." Ia masih
ingat betul apa yang ia katakan pada ayahnya saat itu,
"Aduh Yah, gengsi dong. Masak Husna pakai sepeda
motor butut tahun tujuh puluhan begitu. Apa kata temanteman
Husna nanti . Baiklah, kalau ayah tidak mau
membelikan maka Husna akan minggat!"
Ayahnya tetap tidak membelikan. Karena memang
tidak punya uang. Ia lalu minggat. Pergi dari rumah. Tiga
hari ia tidak pulang ke rumah. Ia tidur numpang dari
rumah teman ke rumah teman yang lain. Rupanya ayah
dan ibunya bingung dan terus mencarinya. Hari ke empat
ia tidur di rumah temannya yang paling jauh. Rumahnya
di desa Begajah yang terletak di sebelah selatan kota
Sukoharjo.
Ayahnya mendapat informasi dari seorang temannya
bahwa ia ada di Begajah. Sore itu di tengah hujan deras,
dengan mengendarai sepeda motor butut, ayahnya
menyusulnya ke Begajah. Di tengah jalan, satu kilometer
sebelum masuk kota Sukoharjo sebuah mobil sedan
berkecepatan tinggi menabrak ayahnya dari depan.
Rupanya sopir mobil sedan itu sedang stres dan mabuk.
46
Ayahnya terpelanting sejauh lima belas meter dan tewas
seketika.
Saat diberi tahu ayahnya meninggal mulanya ia tidak
percaya. Dan setelah melihat sendiri jenazah ayahnya ia
menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Ia merasa menjadi
anak paling durhaka di dunia. Ia merasa ialah sebenarnya
yang menabrak ayahnya hingga terpelanting lima belas
meter dan tewas seketika. Ia sangat menyesal. Tapi
penyesalannya tidak akan pernah mengembalikan nyawa
ayahnya. Satu hal yang pal ing membuatnya semakin
menyesal adalah ketika ia tahu bahwa sang ayah siangnya
baru saja pinjam uang di bank untuk membayar uang muka
membeli sepeda motor baru. Ayahnya ingin menjemputnya
dan keesokan harinya akan diajak ke dealer agar ia sendiri
yang memilih kendaraan yang ia inginkan. Selanjutnya
ayah akan membayar setiap bulan dengan cara kredit. Ia
sangat menyesal. Betapa sebenarnya ayahnya sangat
mencintai dan menyayanginya. Dan ia merasakan itu ketika
ayahnya sudah meninggal dunia. Sejak itu ia berubah.
Air mata Husna meleleh. Ia teringat dosa-dosanya.
"Ya Allah ampunilah dosa hamba-Mu ini."
Ia mengatupkan kedua pelupuk matanya.
"Dik Husna, ayo masuk, jangan berdiri di kegelapan
sendirian begitu. Cobalah ikut menghibur Bu Masykur
dan anak-anaknya. " Panggilan Bu RT membuatnya
tergagap sesaat. Ia mengusap lelehan air matanya.
Husna beranjak masuk. Bu Mahbub masih terus
menghibur adik kandungnya. Husna mendekati anakanak
Bu Masykur yang semuanya putri. Jumlah anak Pak
Masykur empat. Yaitu Zumrah, Zaimah, Zuhriah, dan
Zahrah. Husna hanya mendapati tiga dari mereka. Husna
tidak menemukan Zumrah.
Zaimah, Zuhriah dan Zahrah semuanya menangis
tersedu-sedu. Zaimah pingsan berkali-kali. Sementara si
47
bungsu Zahrah terus memanggil-manggil nama ayahnya.
Semuanya sudah dihibur para tetangga dan sanak saudara.
"Bu RT, saya kok tidak melihat Si Zumrah. Apa dia
belum diberi tahu kalau ayahnya meninggal?" Lirih Husna
bertanya pada Bu RT.
Bu RT mendekatkan mulutnya ke telinga Husna,
"Ssst! Kamu jangan membicarakan Zumrah. Sensitif.
Tadi saya tanya begitu sama Bu War. Ternyata Zumrah-lah
penyebab ayahnya kena serangan jantung. Menurut Bu
War tadi sore Zumrah pulang kuliah. Habis maghrib
katanya Zumrah cerita pada ayahnya sudah hamil. Dan
yang menghamili katanya pacarnya yang bukan seagama.
Dan katanya Zumrah sudah pindah agama. Zumrah
langsung diusir Pak Masykur. Seketika itulah Pak Masykur
jatuh kena serangan jantung."
"Astaghfirullah!" Desis Husna.
"Dan katanya Zumrah sedang diburu sama Si Mahrus
pamannya yang anggota Serse. Si Mahrus marah besar.
Katanya Zumrah mau didor!" Lanjut Bu RT sambil tetap
mendekatkan mulutnya pada telinga Husna.
"La haula wa laa quwwata illa billah! Harus dicegah
itu, jangan sampai hal itu terjadi Bu." Kata Husna setengah
berbisik,
"Karena itulah sekarang ini para pemuka sedang
musyawarah di rumah Pak Joyo. Pak RT sebentar lagi juga
mau ke sana!" Balas Bu RT.
Husna menghela nafas panjang. Gadis berjilbab cokelat
itu memejamkan mata. Ia merasakan betapa besar musibah
yang dirasakan Bu Masykur. Lebih-lebih jika anak sulungnya
itu benar-benar pindah agama, menjadi penyebab kematian
ayahnya, dan berakhir tragis di tangan pamannya sendiri
yang terkenal tegas dan tak kenal takut pada siapa.
Dalam hati Husna berharap bahwa semua yang ia
dengar tidak benar adanya. Ia tidak percaya bahwa Zumrah
48
yang sampai lulus SD menjadi teman mengajinya di masjid
sampai berbuat seperti itu. Zumrah yang oleh ayahnya
diharapkan akan menjadi isteri Azzam kakaknya jika sudah
pulang nanti. Ia belum bisa mempercayai apa yang baru
ia saja ia dengar. Ia berharap apa yang ia dengar sama sekali
tidak benar.
49
* * *
3
Pagi itu kira-kira pukul sepuluh jenazah Pak Masykur
dikubur. Warga dusun Sraten larut dalam duka. Pak
Masykur dikenal sebagai seorang takmir masjid yang ikhlas
dan penuh pengorbanan. la dikenal sebagai bakul buah
yang kaya dan dermawan.
Bukan hanya kematian Pak Masykur yang begitu tibatiba
yang membuat warga duka. Namun juga peristiwa
yang menjadi sebab kemat ian Pak Masykur yang
membuat hat i mereka terluka. Zumrah, putri Pak
Masykur memang benar-benar hami l . Hami l tanpa
memiliki suami yang sah. Itulah kemungkinan besar yang
membuat Pak Masykur begitu terpukul sampai kena
serangan jantung. Ditambah, bahwa Zumrah yang hamil
itu memang telah pindah agama. Demi mengikuti
kemauan sang pacar yang dicintainya.
Bisa dibilang Zumrah adalah kembang dukuh Sraten.
Untuk gadis seumurnya dialah yang pal ing jelita.
50
DEFINISI CINTA
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
Keindahan paras mukanya sering jadi obrolan para pemuda
saat ronda. la adalah teman Husna sejak kecil. Saat di SD
bahkan sering satu bangku dengan Husna.
Sampai lulus SD mereka berdua masih sering mengaji
Al Quran bersama di Masjid Al Mannar. Hanya saja, sejak
SMP mereka berpisah karena sekolah mereka sudah
berbeda. Husna sekolah di SMPN Kartasura, sementara
Zumrah sekolah di Ungaran. Zumrah ikut Budenya, sebab
saat itu ibunya sangat kerepotan mengurus ketiga adiknya
yang masih kecil-kecil. Saat itu Si Bungsu Zahrah belum
berumur satu tahun. Saat itu kondisi ekonomi orang tua
Zumrah sedang sulit-sulitnya. Sementara budenya hanya
punya satu anak saja.
Sejak itulah Husna tidak lagi banyak bertemu dengan
gadis yang saat ini banyak dibicarakan telah pindah agama.
Hanya sesekali ia bertemu dengan Zumrah. Biasanya
ketemu ketika Zumrah pulang karena liburan. Zumrah
sendiri pernah cerita, suasana di rumah Budenya itu
memang sangat longgar dan bebas. Budenya tidak ketat
dalam mengawal pergaulan anaknya, apalagi keponakannya.
Ia pernah dapat cerita, juga dari Zumrah sendiri,
bahwa anak Budenya pernah ditangkap polisi dalam kamar
sebuah hotel Melati di kawasan Kopeng karena perbuatan
asusila dan mengkonsumsi obat terlarang.
Sebenarnya Zumrah tidak betah tinggal di rumah
Budenya itu. Beberapa kali ia ingin pulang. Tapi ibunya
melarang. Ibunya minta agar Zumrah bertahan di rumah
Budenya sampai lulus SMA. Saat Zumrah lulus SMA dan
mulai kuliah perekonomian Pak Masykur mulai membaik.
Pak Masykur ingin Zumrah di Sraten saja sambil kuliah
di Solo. Namun Zumrah memilih kuliah di Jogja. Saat itu
Zumrah sudah bukan lagi Zumrah yang dikenal Husna
ketika masih SD. Setiap pekan Zumrah pulang ke Sraten.
Dan setiap pulang Zumrah hampir selalu membawa teman
pria yang berbeda. Hal itu menjadi gunjingan warga.
51
Namun Zumrah seolah tutup telinga. Berkali-kali ayahnya
mengingatkan dan menasehati, tapi Zumrah tak pernah
ambil peduli.
Sampai suatu sore warga digegerkan oleh perang
mulut yang terjadi antara Zumrah dan ayahnya. Ayahnya
marah besar karena Zumrah pulang ditemani oleh lelaki
yang beda agama. Lelaki itu terang-terangan memakai
simbol agamanya di hadapan ayahnya, Pak Masykur, yang
tak lain adalah takmir masjid Al Mannar. Pak Masykur
mengusir lelaki itu. Dan Zumrah membela pacarnya matimatian.
Terjadilah adu mulut yang sengit antara Zumrah
dan ayahnya yang didengar oleh sebagian besar warga.
Sejak itu hubungan Zumrah dengan keluarganya,
khususnya ayahnya benar-benar buruk. Zumrah jarang
pulang. Dan ayahnya sering marah jika Zumrah pulang.
Di mata sang ayah, ada saja kesalahan yang dilakukan
Zumrah. Sementara sang anak, Zumrah seolah tiada
pernah berhenti menteror ayahnya dengan hal-hal yang
menyesakkan dada. Puncaknya adalah terjadinya peristiwa
yang membuat luka dan duka banyak orang itu. Sembilan
puluh persen warga dukuh Sraten melihat Zumrahlah
penjahat yang membunuh ayahnya.
"Kalau aku punya anak seperti dia past i sudah
kusembelih!" Kata Bu War, pemilik warung kelontong di
desa itu dengan geram.
Pukul sebelas siang para pelayat sudah sampai di
rumahnya masing-masing. Matahari di atas dusun Sraten
panas memanggang. Udara dusun Sraten telah jauh
berubah. Telah berubah tiga kali lipat panasnya dari dua
puluh tahun yang lalu. Saat itu Husna sendirian di rumah.
Lia sedang mengajar di Kadipiro. Sementara ibunya masih
takziah di rumah Bu Masykur belum juga pulang. Husna
sedang merapikan jilbabnya bersiap ke radio ketika hand
phone bututnya berdering. Ada panggilan dari nomor yang
tidak dikenalnya. la angkat,
52
"Assalamu'alaikum. Ya hallo, siapa ini?"
"Husna, ini aku?" Suara di seberang agak serak-serak
basah.
"Aku siapa?" Tanya Husna.
"Aku! Zumrah!"
"Zumrah!?" Husna kaget.
"Ya benar."
"Kau di mana Zum?"
"Nanti kuberi tahu. Kau bisa menemuiku Na? Aku
butuh bantuanmu Na! Aku dalam masalah serius!"
"Bantuan apa?"
"Bisakah kau menemuiku, nanti aku ceritakan
semuanya."
"Kau di mana sekarang Zum? Hati-hati ya, aku dengar
pamanmu yang polisi itu mencar imu. Katanya mau
membunuhmu."
"Aku sudah tahu. Karena itu aku sembunyi. Aku butuh
pertolonganmu. Tolonglah Na. Kaulah satu-satunya orang
yang bisa aku ajak bicara."
"Akan aku usahakan."
"Bisa sekarang juga Na?"
"Maaf Zum, kalau sekarang tidak bisa. Sebab aku
sedang bersiap ke radio. Aku ada siaran siang ini. Habis
siaran aku langsung ke Pesantren Daarul Quran Wangen
Polanharjo, aku ada diskusi sastra dengan para santri di
sana. Bagaimana kalau kita ketemu di pesantren saja."
"Di pesantren?"
"Iya. Kenapa?"
"Tapi aku tak pernah ke pesantren Na. Aku..."
"Jangan takut. Biasa saja. Orang-orang pesantren
menyenangkan kok. Selepas shalat ashar kutunggu kamu
di Wangen ya? Rutenya dari Solo ke arah Klaten, sampai
53
di Pasar Tegalgondo belok kanan. Terus sampai Polanharjo.
Terus tanya saja mana pesantren. Gitu saja ya. Aku tergesagesa
nih."
"Ya baik Na. Terima kasih ya. Sampai ketemu nanti."
"Insya Allah."
"Eh sebentar Na."
"Ada apa lagi?"
"Kau sampai di pesantren kira-kira pukul berapa?"
"Insya Allah tepat jam satu. Acaraku setengah dua."
"Terus aku harus pakai kerudung?"
"Terserah kamu. Pakai kerudung lebih baik."
"Terima kasih Na."
"Sama-sama."
Husna menutup hand phonenya. Lalu beranjak ke
almari pakaiannya. Mengambil gamis panjangnya yang
masih terlipat rapi dan selembar jilbab. Ia bungkus koran
lalu ia masukkan ke dalam tas plastiknya. Ia lalu berangkat
ke radio JPMI Solo.
* * *
Selesai siaran di radio JPMI yang terletak tak jauh dari
GOR Manahan, Husna langsung memacu sepeda motornya
ke barat. Ia melaju menuju desa Wangen. Ia harus
menempuh jarak tak kurang dari dua puluh kilometer. Ia
melaju melewati tugu Kartasura. Lalu belok kiri ke arah
Klaten. Melewati markas Kopasus Kandang Menjangan.
Ia mengencangkan laju kendaraan. Setengah jam
kemudian ia sudah sampai di pasar Tegalgondo. Ia belok
kanan. Lalu melaju dalam kecepatan pelan. Empat puluh
kilometer perjam ke arah barat. Ke arah Janti.
Di sepanjang jalan yang ia lewati berjajar pepohonan,
sebagian di antaranya pohon-pohon besar seperti pohon
Asam, Randu, Akasia dan Waru. Sesekali ada juga pohon
54
Gayam. Juga pohon Mangga. Di samping kiri jalan ada
sungai kecil yang airnya jernih mengalir sepanjang tahun.
Di kanan kiri jalan sejauh mata memandang adalah
persawahan yang hijau. Sesekali terlewati juga beberapa
rumah penduduk.
Angin mengalir sepoi-sepoi. Udara di sepanjang jalan
itu jauh lebih nyaman dibandingkan dengan udara Solo
dan Kartasura. Sampai di Polanharjo Husna berhadapan
dengan pertigaan. Ada papan petunjuk yang menjelaskan
letak pemancingan Janti. Di situ memang banyak berdiri
rumah-rumah pemancingan yang sekaligus rumah makan.
Biasanya di dalamnya ada juga kolam renang. Orang-orang
Solo dan Klaten sering menjadikan tempat-tempat itu
sebagai tempat pil ihan untuk rekreasi keluarga dan
makan-makan.
Husna belok kiri. Terus melaju. Tak lama kemudian ia
sampai di Desa Wangen. Ada papan petunjuk yang
mengarahkannya ke arah pesantren. Kira-kira seratus
meter sebelum gerbang pesantren ia melintasi seorang
perempuan bercelana jeans biru kaos putih ketat.
Rambutnya tergerai ke kiri dan ke kanan ditiup angin. Ia
lihat mukanya. Perempuan itu juga melihat ke arahnya.
"Zumrah!" Teriaknya.
"Husna!" Perempuan itu juga berteriak memanggil
namanya.
Husna menghentikan sepeda motornya dan melepas
helmnya. Ia gantungkan helmnya di cantolan depan.
"Ayo naik Zum!"
Zumrah naik di boncengan. Husna kembali menjalankan
motornya.
"Kok jalan kaki Zum?"
"Tadi aku naik ojek. Aku ke Janti dulu tadi. Makan
siang. Terus aku jalan. Kau nggak malu memboncengkan
aku dengan pakaianku seperti ini?"
55
"Ah kalau aku sih tidak malu. Semestinya kan kamu
yang malu Zum. Bukan aku. Masak pakai pakaian ketat
begitu, pusermu kelihatan lagi. Apa nggak risih Zum."
Jawab Husna santai.
"Benar kamu tidak malu membongcengkan aku Na?"
"Kenapa malu? Apa dosaku boncengkan kamu? Justru
aku yang akan balik bertanya, apa kamu tidak malu. Nanti
ada ribuan santri lho Zum. Pasti kau akan jadi pusat
perhatian kayak artis. Kalau aku kan santai saja lha wong
pakaianku sama dengan mereka."
"Ah cuek aja!"
"Ya terserah kamu Zum. Jangan salahkan aku juga
misalnya kamu nanti tidak boleh masuk karena ada
peraturan pesantren yang mengharuskan tamu harus
berpakaian sopan."
"Wah kalau begitu pesantren memaksakan kehendak
ya Na. Tidak demokratis."
"Ya tidaklah Zum. Pesantren sama sekali tidak
memaksakan kehendak. Lha mereka tidak pernah
memberlakukan peraturan kecuali hanya dalam lingkungan
pesantren saja. Itu kan sama seperti kamu punya rumah.
Rumah kamu full karpet. Kamu punya peraturan yang
masuk rumahmu harus copot sepatu. Apalagi jika sepatunya
kotor belepotan lumpur lagi, pasti kamu melarang keras
sepatu itu menginjak-injak karpet rumahmu yang bersih
kan? Kamu akan marah besar jika ada tamu yang nekad
tetap memakai alas kaki kotor belepotan lumpur masuk
rumahmu, apalagi misalnya sampai nekad masuk kamarmu,
terus tidur di tempat tidurmu dengan tidak mencopot alas
kakinya yang belepotan lumpur. Iya tho? Apa kalau kamu
marah pada orang seperti itu lantas kamu tidak demokratis?"
"Ya itu wajar Na. Sudah jamak. Sepatu belepotan
lumpur tidak boleh menginjak karpet, kan mengotori. Ih
itu jorok namanya Na!"
56
"Ya sama saja tho Zum. Bagi kalangan pesantren,
mengumbar aurat itu mungkin lebih jorok dari sepatu
kotor yang belepotan lumpur. Hanya bedanya lumpur itu
joroknya tampak zahir, sedangkan mengumbar aurat
termasuk pusarmu itu joroknya kasat mata. Joroknya lebih
gawat sebab bisa meracuni jiwa."
"Aduh Na, aku turun di sini saja! Sejak dulu aku tidak
akan pernah menang debat sama kamu! Aku jadi tidak
enak kalau masuk pesantren dengan pakaian seperti ini."
Husna mengurangi kecepatan sepeda motornya.
"Kamu mau menunggu aku di sini? Acaraku sampai
jam empat lho. Sekarang baru jam satu!"
"Bisa nggak Na kita bicara sebentar di sini."
"Satu menit bisa Zum."
"Ya jangan satu menit lah Na. Sepuluh menit saja."
"Maaf Zum tidak bisa. Bukan apa-apa. Bukan aku
tidak menghormatimu. Tapi aku belum shalat dhuhur.
Dan acaraku tepat setengah dua. Sekarang pembukaan
acara mungkin sudah dimulai. Lagian janji kita kan habis
ashar di pesantren. Dan kau sepakat."
"Terus aku harus gimana Na? Aku tidak enak pakai
pakaian seperti ini ke pesantren. Biasanya aku sih cuek
saja. Tapi entah kenapa aku malu."
"Ya terserah kamu."
"Kok kamu cuek begitu sih Na sama aku?"
"Kamu sendiri yang cuek sama diri kamu. Aku mau
kau ajak ketemu masak dibilang cuek. Kalau aku cuek
pasti aku menolak kau ajak bicara. Aku masih Husna yang
dulu. Husna temanmu satu bangku di SD yang dulu."
"Na kalau begitu biar aku turun di sini. Aku akan balik
saja. Aku akan cari ojek ke pasar Tegalgondo. Aku akan
cari pakaian yang lebih sopan."
"Benar kau mau cari pakaian yang lebih sopan?"
57
"Iya Na."
"Gampang. Kalau gitu kau akan aku ampirkan dulu
ke tempat teman SMA-ku. Semoga dia di rumah, sekalian
aku numpang shalat dhuhur. Eh kau sudah shalat Zum?"
Husna mencoba meraba. Benarkah yang diomongkan
orang-orang bahwa Zumrah sudah pindah agama.
"Anu Na. Em... em... Aku lagi berhalangan." Jawab
Zumrah gugup.
Jawaban yang cerdas! Desis Husna dalam hati. Ya 'aku
lagi berhalangan' maknanya bisa berhalangan karena
sedang datang bulan. Bisa juga berhalangan karena sudah
pindah keyakinan. Keyakinan barunya itulah yang
membuatnya berhalangan dari shalat.
"O begitu, ya sudah. Kita mampir dulu ke rumah
teman SMA-ku ya."
"Boleh Na."
"Baiklah kalau begitu."
Husna tidak jadi mengambil jalan yang lurus ke
pesantren. la memutar kendaraannya lalu belok kiri ke
arah rumah penduduk. Beberapa jurus kemudian Husna
dan Zumrah sudah sampai di depan rumah tua. Dindingnya
separo bagian bawah tembok batu bata dilabur kapur
putih dan separo bagian atas papan kayu yang sudah
keropos di sana-sini. Seorang ibu setengah baya keluar.
Begitu melihat Husna langsung tersenyum.
"Oh Nak Husna. Monggo-monggo masuk Nak. Ada
acara di pesantren ya?" Sapa ibu itu.
"Iya Bu. Kok ibu tahu?" Husna balik tanya
"Diberi tahu Siti."
"Siti ada Bu?"
"Ada di belakang sedang dandan. Dia katanya juga lihat
acaramu di pesantren."
"Kalau begitu nanti bareng saja."
58
"Lha ini siapa?" Tanya ibu itu sambil memandangi
Zumrah.
"Ini Zumrah Bu, teman Husna." Husna mengenalkan,
"O ya Bu saya mau numpang shalat."
"Masuk saja Na. Wudhunya di belakang. Shalatnya di
kamar Siti saja. Sebelah kiri dapur."
Husna mengambil tas plastik ia cantolkan di bawah
stang motornya. Ia lalu masuk sambil menggandeng tangan
Zumrah. Husna langsung membawa Zumrah ke kamar
Siti. Siti kaget campur bahagia atas kedatangan Husna.
"Kau shalat di sini saja Na. Aku ke rumah sebelah ya
ada perlu sedikit nanti takut lupa." Kata Siti meninggalkan
Husna dan Zumrah.
"Zum, ini mungkin bisa kamu pakai. Semoga pas."
Husna mengulurkan tas plastiknya begitu Siti sudah hilang
di balik pintu.
"Terima kasih Na."
"Aku tidak maksa lho. Nanti kau anggap memaksakan
kehendak. Tidak kau pakai juga tidak apa-apa kok."
Zumrah hanya tersenyum. Husna mengambil air
wudhu. Lalu kembali ke kamar itu dan shalat. Selesai shalat
Husna tersenyum melihat Zumrah sudah berganti pakaian.
"Menurutku kamu malah lebih cantik pakai jilbab
Zum."
"Ah masak Na. Memuji-muji biar aku pakai jilbab ya.
Sorry Na!"
"Kamu itu Zum, kalau dipuji disalahkan arti. Tapi
kalau tidak dipuji nanti dianggap cuek. Ya terserah kamu
lah. Gitu aja kok repot. Ayo kita berangkat, jam setengah
dua kurang lima nih! Cepat sedikit, nanti terlambat!"
Mereka berdua bergegas keluar kamar. Di ruang tamu
Siti telah menunggu. Mereka bertiga pergi membelah
perkampungan menuju pesantren. Siti mengendarai
59
Jupiter Z-nya yang masih baru. Jilbab putihnya berkibaran
diterpa angin yang mengalir dari utara ke selatan.
* * *
Pesantren Daarul Quran terletak di jantung desa
Wangen. Karena terletak di desa Wangen seringkali
pesantren ini disebut juga Pesantren Wangen. Wangen
sendiri dalam bahasa Jawa bermakna harum. Pesantren
itu berdiri tak jauh dari masjid tua yang di zaman perang
kemerdekaan dikenal sebagai markas pasukan Hizbullah.
Masjid itu di zamannya sangat dikenal oleh hampir seluruh
pejuang kemerdekaan di daerah Karesidenan Surakarta.
Masjid itu sampai sekarang masih dipertahankan
keasliannya. Kini masjid itu terjepit di sela-sela rumah
penduduk yang rapat . Memang di desa Wangen,
penduduk membangun rumahnya saling merapat. Desa
Wangen sendiri dikelilingi oleh sawah yang hijau. Dulu
desa itu dikenal sebagai desa terpencil di tengah sawah.
Letaknya cukup jauh dari kota Solo maupun dari Klaten.
Jalan utama menuju Wangen dulunya adalah jalan dari
pasar Tegalgondo yang sekarang sudah beraspal.
Dari desa Wangen, panorama Gunung Merapi sangat
jelas dan memukau. Gunung yang kawahnya tiada henti
mengepulkan asap itu seperti terasa berat. Menurut cerita
orang-orang tua yang dulu pernah ikut berperang, jika
Hizbullah terdesak maka mereka akan mundur ke arah
hutan yang berada di kaki gunung Merapi. Mungkin
karena itulah maka dipilih sebagai markas Hizbullah. Tak
jauh dari masjid itu, tepatnya di sebelah selatan masjid itu
berdiri Pesantren Daarul Quran.
Pesantren itu telah ada sebelum Republik Indonesia
merdeka. Menurut orang-orang tua desa Wangen,
pesantren itu didirikan oleh Kiai Sulaiman Jaiz pada tahun
1925. Kiai Sulaiman dikenal sebagai Kiai pengelana. Kiai
pengembara yang sering berpindah tempat. Setiap kali
60
diam di sebuah daerah past i membuka pesantren.
Sebelum mendirikan pesantren, Kiai Sulaiman Jaiz telah
mendirikan pesantren di Susukan Salatiga. Pesantren itu
ia serahkan pada muridnya lalu pindah ke desa Wangen
dan mendirikan pesantren yang kini dikenal sebagai
Pesantren Daarul Quran Wangen.
Pesantren itu mulanya dibangun di sebelah selatan
pemukiman penduduk. Awalnya para santri masih
menggunakan. masjid tua itu sebagai tempat belajar
mengajar. Namun Kiai Sulaiman merasa pesantrennya
harus memiliki kedaulatan penuh berkegiatan selama dua
puluh empat jam akhirnya didirikanlah masjid pesantren.
Dengan tujuan agar kalau kegiatan malam tidak mengganggu
penduduk. Sebab masjid tua itu terletak di tengahtengah
pemukiman penduduk.
Setelah lima tahun berjalan, pesantren itu mulai
dikenal orang dan santrinya sudah berjumlah puluhan
orang. Karena dinilai cukup bisa mandiri, Kiai Sulaiman
menyerahkan pesantren itu pada seorang muridnya yang
paling ia anggap mumpuni. Namanya Mas Sahrun. Ia asli
putra desa Wangen. Anak carik desa Wangen, lahir di
Wangen, sejak kecil hingga dewasa tinggal di Wangen.
Begitu diamanat i memegang pesantren, Mas Sahrun
menikah dengan putri lurah Wangen yang terkenal kaya.
Namanya Lurah Pujo. Putri lurah Pujo itu namanya Dewi
Sukesih.
Menurut cerita yang masih diingat masyarakat desa
Wangen, Dewi Sukesih terkenal paras rupanya yang
menawan siapa saja yang melihatnya. Banyak pemuda anak
para pejabat mulai dari Lurah, Camat, Bupati dan Wedana
yang datang untuk menyuntingnya. Tapi tidak ada
satupun yang diterima. Lurah Pujo sampai bingung kenapa
putrinya itu menolak semua lamaran yang datang.
Setelah didesak, akhirnya sang putri mengaku terus
terang bahwa dia hanya mencintai seorang pemuda yang
61
namanya Mas Sahrun bin Carik Jaelan. Dan ternyata Dewi
Sukesih itu mencintai Mas Sahrun karena suaranya yang
indah jika mengumandangkan azan. Dari pernikahan Mas
Sahrun dengan Dewi Sukesih lahirlah Lutfi Hakim, yang
kini dikenal sebagai ulama paling di segani di Klaten. Beliau
adalah ayah dari Anna Althafunnisa, Pengasuh Pesantren
Daarul Quran yang alim berwibawa.
Adapun ihwal Kiai Sulaiman Jaiz setelah itu tidak
terlacak riwayatnya. Ada banyak cerita beredar tapi tidak
bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ada yang
mengatakan Kiai Sulaiman telah pergi jauh di ujung timur
pulau Jawa. Tepatnya di sebuah desa pinggir pantai
Banyuwangi. Ada yang cerita Kiai Sulaiman pergi ke daerah
Mranggen Demak. Di sana Kiai Sulaiman bersama dengan
seorang Kiai bernama Ibrahim Brumbung mengangkat
senjata melawan penjajah dan akhirnya mati syahid. Cerita
tentang Kiai Sulaiman jadi simpang siur tidak jelas.
Sejak meninggalkan Wangen, Kiai Sulaiman tidak
pernah sekalipun datang lagi ke Wangen. Tak terlacak
jejaknya. Namun yang selalu diingat oleh orang-orang Kiai
Sulaiman telah meninggalkan war isan yang sangat
berharga bagi penduduk desa Wangen dan sekitarnya.
Dalam buku sejarah Pesantren Wangen tertulis dengan tinta
emas bahwa Kiai Sulaiman Jaiz adalah sang pendiri
pesantren dan guru ilmu alat5 pertama di desa Wangen.
Keadaan pesantren Wangen sekarang sangat jauh
berbeda dengan saat didirikan Kiai Sulaiman. Jika dulu
santrinya hanya puluhan sekarang sudah ribuan. Jika dulu
ilmu yang diajarkan masih terbatas membaca Al Quran,
Fashalatan, dan ilmu alat, sekarang hampir semua cabang
kei lmuan Islam diajarkan. Di tambah wawasan sains
modern. Pengetahuan sastra budaya juga tidak ditinggalkan.
5 Maksudnya, ilmu alat membaca kitab-kitab berbahasa Arab. Yang dimaksud
ilmu alat adalah ilmu gramatikal bahasa Arab yaitu Ilmu Nahwu dan Sharaf.
62
Dan siang itu Pesantren Wangen menggelar acara besar
yang berbeda dari hari-hari biasa. Acara siang itu adalah
bedah buku kumpulan cerpen remaja terbaik nasional
berjudul Menari Bersama Ombak karya penulis muda
berbakat dari Kartasura.
Aula utama pesantren penuh sesak oleh ribuan
santriwan dan santriwati. Acara sudah dimulai. Lantunan
ayat-ayat suci Al Quran menyusup ke dalam relungrelung
hati. Pada saat sambutan dari pengasuh pesantren
usai, puluhan santriwati berebutan mencium tangan
Husna, Zumrah dan Siti. Panitia dengan sigap mengamankan
mereka bertiga dan langsung membawa ke kursi
di jajaran paling depan. Husna didudukkan tepat di
samping Anna Althafunnisa. Saat kenalan Anna menggunakan
nama penanya Bintun Nahl. Husna lalu
memanggilnya dengan Mbak Bintun. Anna tersenyum
senang mendengarnya.
Akhirnya tibalah acara inti yaitu acara bedah Menari
Bersama Ombak. Ketika nama Ayatul Husna dipanggil
tepuk tangan bergemuruh di aula itu. Husna maju ke kursi
pembicara diiring Anna Al thafunnisa. Sedangkan
moderatornya adalah Nafisah, santriwati yang dikenal
paling jago olah kata.
"Ini adalah hari yang sangat istimewa bagi kita. Kita
memiliki kesempatan untuk berdialog dan ber tukar
pikiran dengan seorang yang kita kagumi karya-karyanya.
Kita bisa sedemikian dekat dengan penulis muda paling
berbakat yang dimiliki Indonesia saat ini. Dia adalah Ayatul
Husna yang telah menulis puluhan cerpen dan telah
menerbitkan belasan kumpulan cerpen. Kumpulan cerpen
paling fenomenal hasil karyanya yang mengguncang jagat
sastra tanah air adalah Menari Bersama Ombak. Baiklah saya
tidak memperpanjang kata, kita akan dengarkan bersama
sedikit cerita dari Mbak Husna bagaimana mulanya dia
berkenalan dengan dunia tulis menulis. Apa yang men-
63
dorongya menulis karya. Serta apa inspirasinya menulis
cerpen Menari Bersama Ombak."
Nafisah membuka bedah buku itu dengan pengantar
yang cukup memukau hadirin. Aula senyap sesaat. Semua
mata tertuju pada Husna yang tampak begitu bersahaja.
Meskipun wajahnya tampak biasa saja dibandingkan
dengan Anna Althafunnisa yang duduk di sampingnya.
Namun wajah Husna tetap memancarkan aura yang
menyejukkan mata.
Sebelum memulai bicara Husna tersenyum pada
ribuan santriwan dan santriwati yang ada di hadapannya.
la memulai dengan memuji Allah dan membaca shalawat
kepada Rasulullah Saw. Lalu ucapan terima kasih kepada
semua pihak yang menyelenggarakan acara luar biasa itu.
Juga kepada seluruh pembaca yang mengapresiasi karyakaryanya.
"Jujur saya mengenal dunia tulis menulis secara serius
sejak kelas dua SMA. Ceritanya saya memiliki seorang
kakak yang kuliah di luar negeri. Tepatnya di Universitas
Al Azhar Mesir. Hampir tiap bulan kakak saya menulis
surat untuk saya dan adik-adik saya. Saat itu saya yang
paling tua jadi saya yang berkewajiban membalas suratsurat
kakak saya.
"Ternyata, tidak terasa itu jadi latihan yang sangat
efektif bagi saya. Sebab seringkali saya harus menulis surat
sampai belasan halaman saat menjawab surat kakak saya.
"Suatu hari kakak saya menulis surat kepada saya. Dia
bercerita bahwa dia sangat tersentuh membaca surat yang
terakhir saya tulis untuknya. Ada satu perkataan kakak
saya yang sampai sekarang masih saya ingat betul dan
masih membekas dalam hati saya. Kakak saya menulis
begini,
'Suratmu, Adikku, seolah menjadi oase bagiku. Di
tengah gersang dan panasnya padang sahara kerinduan
64
kepada kalian, suratmu adalah pelepas dahaga sekaligus
penyejuk jiwa. Bahasamu bukanlah bahasa anak SMA. Tapi
bahasamu adalah bahasa jiwa para sastrawan dan pujangga
yang orisinil lahir dari malakatun nafsi, bakat jiwa. Cobalah
adikku kau gunakan bakatmu itu untuk menulis karya
sastra. Semisal puisi, cerpen atau novel. Tulislah dengan
serius. Niatkan demi mensyukuri karunia pemberian
Allah. Dan niatkan untuk sedikit-sedikit mencari nafkah
demi membahagiakan ibu kita tercinta. Aku sangat yakin
jika kau serius kau akan jadi penulis yang cemerlang!'
"Kalimat dari kakak tercinta itulah yang sangat
memotivasi saya untuk kemudian belajar teknik menulis
secara serius. Lalu saya mulai menulis. Setelah perjuangan
berdarah-darah setengah tahun lamanya. Cerpen pertama
saya berjudul "Surat Cinta untuk Kakak" dimuat di
majalah remaja Karima. Lalu saya terus menulis dan
menulis. Dan akhirnya saya benar-benar dikenal sebagai
penulis.
"Kenapa kalimat kakak itu begitu memotivasi? Ada
satu cerita yang mungkin ada baiknya saya sampaikan.
Semoga jika ada hikmah di dalamnya bisa menjadi lentera
bagi kita semua.
"Kakak saya itu pergi ke Mesir saat saya masih kelas
tiga SMP. Saat kakak berangkat kami tiga bersaudara. Ibu
saya sedang mengandung. Ayah saya hanyalah seorang
guru MI swasta yang nyambi jualan soto di samping pasar
Kartasura. Ibu saya sering sakit-sakitan. Ayahlah tulang
punggung dan pelindung keluarga. Meskipun pas-pasan
kami bisa hidup dengan layak. Alhamdulillah kakak ke
Mesir karena mendapatkan beasiswa.
"Setahun setelah kakak di Cairo, ayah meninggal
dunia karena kecelakaan. Dunia seperti gelap bagi saya.
Ibu nyaris tidak berdaya, sering sakit, dan baru melahirkan
adik kami paling bungsu. Di saat seperti itulah kakak saya
di Cairo mengambil perannya sebagai tulang punggung
65
sekaligus pengayom keluarga dari jauh. Kakak saya bekerja
mati-matian di Cairo. Dia berjualan tempe di sana demi
menghidupi kami di Indonesia. Demi agar saya dan adikadik
saya tidak putus sekolah. Kami hidup mengandalkan
kiriman uang tiap bulan dari Cairo. Saya bisa selesai kuliah
juga mengandalkan kiriman kakak saya dari Cairo.
"Ketika kakak menuliskan suratnya di atas, hati saya
terlecut. Saya harus bisa menulis untuk membantu kakak.
Membantu ibu. Semampunya. Akhirnya dari menulis saya
bisa dapat honor dan sedikit-sedikit bisa membantu
keluarga, meskipun tetap saja mengandalkan kiriman dari
kakak di Cairo.
"Karena didorong untuk survive, untuk bisa sedikit
bernafas dalam himpitan ekonomi, maka saya berjuang
keras dengan menulis. Alhamdulillah, Allah meridhai
ikhtiar saya. Saat ini saya bisa bernafas lebih lega di
antaranya karena menulis.
"Adapun inspirasi cerpen 'Menari Bersama Ombak'
adalah ketegaran dan kesabaran kakak saya. Saya tahu
kakak saya siang malam bekerja membuat dan menjual
tempe juga menjual bakso di Cairo. Sampai dia mengorbankan
kuliahnya. Tapi saya justru menemukan sosok
yang saya kagumi, sosok yang seolah terus menari indah
bersama ombak kehidupan yang terus datang silih
berganti. Terkadang ombak itu datang menggunung sederas
tsunami. Namun kakak mampu mengatasinya dengan
tariannya yang indah. Ini yang bisa saya sampaikan."
Begitu Husna selesai bicara tepuk tangan ribuan santri
bergemuruh beberapa saat lamanya. Anna yang duduk di
sampingnya takjub dengan uraian Husna. Takjub dengan
cara penyampaian dan isinya. Dan diam-diam takjub
dengan kakak Husna yang menjadi matahari bagi adikadiknya.
Diam-diam ia penasaran siapa kakak Husna itu?
Apakah ia mengenalnya? Selama di Mesir ia belum pernah
dengar ada seorang yang bekerja membuat tempe untuk
66
menghidupi adik-adiknya di Indonesia. Setahunya ada
mahasiswa jualan tempe untuk menambah uang saku dan
belanja hariannya. Ingin rasanya Anna memperkenalkan
kepada Husna siapa dirinya. Tapi ia saat itu ia urungkan
niatnya, ia sudah terlanjur memakai nama penanya, Bintun
Nahl.
Ketika Anna masih hanyut dengan rasa penasarannya
pada tokoh kakak yang telah mampu mendidik seorang
adik menjadi sekualitas Ayatul Husna, sang moderator
mempersilakannya untuk angkat bicara.
Anna pun berbicara dengan bahasa lugas, tulus dan
bersahaja,
"Terus terang saya bukan pakar sastra, bukan kritikus
sastra, bukan pula orang yang bergelut dengan dunia sastra.
Saya hanya orang awam, yang bolehlah disebut pecinta
sastra.
Dalam pandangan saya yang awam sastra, cerpencerpen
Mbak Husna ini bisa digolongkan sastra bertendens.
Sastra yang mengajak pembacanya untuk sadar
sebagai manusia. Cerpen Menari Bersama Ombak mengajak
kita bersabar atas musibah yang menimpa dan bersyukur
atas apa saja yang diberikan oleh Allah kepada kita.
Saya awam sastra tapi cerita Mbak Ayatul Husna tadi
tentang bagaimana ia berjuang untuk survive dengan
menulis bagi saya adalah juga sebuah karya sastra. Bahkan
karya sastra yang dahsyat sebab itu adalah pengalaman nyata.
Bahkan sosok Ayatul Husna itu sendiri adalah karya sastra.
Senyumnya, sorot matanya, keteduhan wajahnya, gerak
tangannya dan tutur katanya. Semuanya adalah sastra!"
Spontan hadirin tersenyum dan bertepuk tangan
dengan gemuruh. Husna tersipu-sipu mendengar
perkataan Anna. Husna merasakan bahwa yang duduk di
sampingnya bukan orang yang awam sastra tapi orang
yang sepertinya sangat mengerti sastra.
67
Setelah itu acara disambung dengan dialog interaktif.
Puluhan santri mengacungkan tangan. Dua santri putra
dan dua santri putri terpilih untuk bicara dan bertanya.
Satu persatu keempat santri menyampaikan isi hatinya.
Ada yang menyampaikan kesannya saat membaca cerpen
Menari Bersama Ombak. Ada yang bertanya bagaimana
caranya mencari ide menulis? Ada juga yang bertanya tips
menuli s yang baik. Dan penanya terakhir, seorang
santriwati berjilbab merah marun berkata,
"Salah satu cerpen dalam buku ini berjudul Ketika
Naya Jatuh Cinta. Pertanyaan saya, orang kok begitu sering
berbicara tentang cinta. Pertanyaan saya apa sih sebenarnya
cinta menurut Mbak Husna dan menurut Mbak Bintun?
Dan pertanyaan saya kalau boleh jujur pernahkan Mbak
berdua jatuh cinta? Dan maaf kalau ini terlalu vulgar,
bolehkah kami tahu jatuh cinta sama siapa?"
Husna menjawab semua pertanyaan dengan baik dan
runtut. Untuk pertanyaan terakhir Husna menjawab,
"Menurutku,
cinta adalah kekuatan
yang mampu
mengubah duri jadi mawar,
mengubah cuka jadi anggur,
mengubah malang jadi untung,
mengubah sedih jadi riang,
mengubah setan jadi nabi,
mengubah iblis jadi malaikat,
mengubah sakit jadi sehat,
mengubah kikir jadi dermawan
mengubah kandang jadi taman
mengubah penjara jadi istana
mengubah amarah jadi ramah
mengubah musibah jadi muhibah
itulah cinta!6
6 Diadaptasi dengan banyak perubahan dari puisi Rumi dalam Masnawinya.
68
Mendengar puisi itu, sepontan para santri mengumandangkan
takbir dan bertepuk tangan penuh rasa
takjub. Puisi itu begitu indah menyihir perasaan mereka.
Sang moderator lalu beralih ke Anna Althafunnisa.
"Kalau menurut Mbak Bintun Nahl, cinta itu apa?"
Tanya moderator.
"Emm... apa ya?" Jawab Anna sambil berpikir. la diam
sesaat. Para santriwati diam. Mereka sangat penasaran apa
yang akan dikatakan putri Kiai mereka tentang cinta.
"Mmm... cinta! Menurutku,
Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang
lebar.
Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada
keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan
terang.
Namun tanpa lidah,
cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai
kepada cinta
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta
Dan percintaan!"7
Jawaban Anna terasa lebih dahsyat. Dan aula pesantren
itu kembali larut dalam gemuruh tepuk tangan sebagai
tanda rasa takjub, dan bahagia bercampur cinta. Acara
siang itu benar-benar terasa hidup. Para santri mendapat
pencerahan yang berbeda dari biasanya.
Sementara Zumrah yang duduk di bangku depan
deretan hadirin, tak bisa menahan air matanya. la kagum
7 Petikan puisi Rumi dalam Diwan Shamsi Tabriz diterjemahkan oleh Abdul Hadi
W.M.
69
sekaligus iri pada Husna, Bintun Nahl yang tak lain adalah
Anna Althafunnisa dan pada seluruh santri putri yang
sedemikian bergairah merajut masa depan. Mereka dalam
pandangannya ibarat mata air jernih yang menyejukkan
dan belum tercampur kotoran. Sementara ia rasa dirinya
ibarat comberan yang menjijikkan. Ia bertanya dalam hati
mungkinkah ia kembali bening seperti mereka?
* * *
70
4
TANGIS DUA SAHABAT
Begitu Anna Althafunnisa selesai menjawab pertanyaan
tentang cinta, moderator membuka termin kedua.
Ashar masih dua puluh menit lagi. Anna Althafunnisa
menyentuh bahu Husna. Spontan Husna mencondongkan
wajahnya ke arah Anna.
"Maaf Mbak Husna, saya tidak bisa mengikuti sampai
acara. Saya harus minta diri sebab ada janji. Sekali lagi
saya mohon maaf sebenarnya saya ingin berbincangbincang
dengan Mbak Husna panjang lebar. Insya Allah
saya janji akan berkunjung ke rumah Mbak Husna. Tolong
alamatnya di tinggal saja di panitia. Mohon maaf jika saya
dirasa kurang pantas mendampingi Mbak Husna.
Sebenarnya yang mendampingi seharusnya Ibu Nila
Kumalasari, M.Ed. Dosen Fakultas Tarbiah STAIN, tapi
mendadak beliau ada halangan. Saya dipaksa untuk
menggantikannya." Pamit Anna pada Husna setengah
berbisik.
71
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
"Aduh saya berterima sekali Mbak Bintun. Agaknya
saya harus banyak belajar sama Mbak. Puisi Mbak tentang
cinta luar biasa. Benar ya kapan-kapan main ke rumah."
Jawab Husna.
"Insya Allah." Jawab Anna. Lalu beranjak meninggalkan
aula. Husna sama sekali tidak tahu identitas gadis jelita
yang mendampinginya itu. la hanya itu dia adalah seorang
guru yang mengajar bahasa Arab di pesantren. Namanya
Bintun Nahl. Dalam hati Husna berkala, "Jika nanti Mas
Azzam pulang dan ternyata Mbak Bintun Nahl tadi belum
bersuami dan tidak ada yang punya, bisa jadi kakak ipar
saya. Orangnya cantik dan kelihatan cerdas."
Termin kedua tak kalah serunya dengan termin
pertama. Karena para santri mengetahui Anna juga seorang
psikolog, banyak juga yang bertanya tentang permasalahan-
permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari.
"Mbak Husna yang saya hormati. Saya punya satu
pertanyaan, maaf kalau keluar dari tema diskusi kali ini.
Saya ini sering sakit hati karena marah pada teman. Sering
marah pada orang lain yang berbuat salah pada saya.
Meskipun dia telah minta maaf tetapi hati saya sering masih
sakit. Ini kenapa ya Mbak? Apa yang harus saya lakukan."
Tanya seorang santri lelaki bernama Toni yang masih kelas
dua Madrasah Aliyah.
Dengan tenang Husna menjawab pertanyaan itu,
"Dik Toni, yang perlu kamu lakukan adalah membuka
pintu maafmu yang setulus-tulusnya pada orang yang
menyakitimu. Jika kamu masih merasa sakit hati padahal
dia sudah minta maaf maka itu berarti kamu belum benarbenar
memaafkannya. Salah satu ciri kita telah tulus
memaafkan orang lain adalah jika kita tidak lagi
terbelenggu oleh rasa sakit hati kita karena perbuatan
orang lain itu. Memberi maaf itu Dik mampu membuka
belenggu-belenggu sakit hati. Mampu menyingkirkan
kebencian. Dan memaafkan adalah kekuatan yang
72
sanggup menghancurkan rasa mementingkan diri sendiri!
Dan ingat Dik, ketika kamu memberi maaf itu tidak berarti
kamu lebih rendah atau kalah. Justru ketika kamu bisa
memberi maaf kamu telah menang dan kedudukanmu
lebih terhormat dibandingkan orang yang kau beri maaf!"
Acara bedah kumpulan cerpen itu selesai tepat saat
azan ashar dikumandangkan. Husna, Zumrah dan Siti
diajak panitia ke kantor pengurus pesantren. Para santri
bubar untuk bersiap shalat ashar.
"Silakan masuk Mbak Husna. Mbak wudhu saja di
kamar mandi yang ada di dalam kantor supaya tidak
berebutan dengan santriwati. Setelah ashar nanti ke sini
lagi. Anak-anak banyak yang ingin foto bersama dan minta
tanda tangan." Kata Nafisah pada Husna. Husna mengikuti
saja apa yang diminta panitia. Ia, Zumrah dan Siti masuk
kantor. Ia dan Siti lalu mengambil air wudhu. Sementara
Zumrah hanya duduk di sofa.
"Mbak Zumrah sedang tidak shalat ya? Sedang datang
bulan?" Tanya Nafisah.
Zumrah hanya menganggukkan kepala.
Ketika iqamat dikumandangkan, Husna diiringi Siti
dan Nafisah melangkahkan kaki ke masjid. Di depan pintu
masjid tiga orang santriwati yang bertemu Husna langsung
menyalami dan mencium tangan Husna. Husna jadi salah
tingkah. Husna ketinggalan satu rakaat.
Selesai ashar, Husna disibukkan meladeni par a
santriwati yang ingin berfoto bersama. Lalu ia sibuk
menandatangani ratusan buku kumpulan cerpennya milik
para penggemarnya. Di tengah-tengah kesibukannya
menandatangani kumpulan cerpen itu ia bertanya pada
Nafisah,
"Dik Nafisah, saya pernah dengar Pak Kiai Lutfi punya
anak perempuan yang kuliah di Mesir ya. Apa dia masih
kuliah di sana?"
73
Nafisah agak terkesiap mendengar pertanyaan itu. la
jadi merasa berdosa pada Husna, karena tidak menjelaskan
siapa sebenarnya Bintun Nahl. Tapi seperti itulah
permintaan Anna. Untuk menjawab pertanyaan Husna,
Nafisah tidak berani berbohong.
"Tadi itu putri Pak Kiai Mbak?" Jawab Nafisah.
"Yang jadi pembanding tadi?"
"Iya."
"Masya Allah. Kenapa kamu tidak mengenalkannya
kepadaku sebagai putrinya Pak Kiai?"
"Maafkan kami Mbak. Kami inginnya mengenalkan
begitu. Tapi putri Pak Kiai tidak mau. Dia malah minta
dikenalkan dengan nama pena yaitu Bintun Nahl."
Nafisah merasa sangat bersalah.
"O begitu. Ya nggak apa-apa. Siapa nama dia sebenarnya?"
"Kami memanggilnya Neng Anna. Lengkapnya Anna
Althafunnisa. Maafkan kami ya Mbak."
"Santai saja. Ini masalah kecil. Kalian tidak salah.
Hanya nanti sampaikan pada Neng Anna, dia berjanji mau
main ke rumah saya. Saya tunggu janjinya. Jika tidak dia
tepati dia munafik gitu ya."
"Iya."
Husna terus menandatangani buku-buku itu.
"Na, gimana rasanya memiliki banyak fans?" Tanya
Siti menggoda.
"Kamu pengin ya Ti? Makanya nulis!" Jawab Husna
santai.
"Mumet8 aku kalau disuruh nulis Na. Mending nanam
padi di sawah!" Tukas Siti.
8 Pusing.
74
"Aku kalau diminta menanam padi di sawah malah
mumetl Mending nulis. " Balik Husna sambil terus
mengambil buku, membukanya dan menandatanganinya.
Zumrah tidak bisa menahan diri.
"Kalau aku diminta nulis atau diminta menanam padi
mumet semua!"
Nafisah hanya tersenyum saja mendengar percakapan
tidak perempuan yang menjadi tamunya itu.
* * *
Sayup-sayup Husna mendengar lantunan bait-bait
syair yang dilantunkan bersama-sama dari gedung yang
ada di belakang kantor pengurus pesantren putri,
Alhamdulillahi al-ladzi qad waffaqa
Lil 'ilmi khaira khalqihi wa littuqa
Hatta nahat qulubuhum li nahwihi
"Itu bunyi syair apa Dik?" Tanya Husna pada Nafisah.
"Itu syair nadham 'Imrithi Mbak." Jawab Nafisah.
"Isi syair itu apa Dik?"
"Syair-syair itu memuat kaidah-kaidah kunci tata bahasa
Arab. Nadham Imrithi itu nama sebuah kitab berisi ilmu
nahwu Mbak. Ilmu nahwu itu ya ilmu tata bahasa Arab."
"O, begitu."
"Ini Mbak masih tiga." Nafisah menyodorkan tiga
buku yang langsung ditandatangani Husna satu persatu.
"Alhamdulillah sudah selesai." Husna mengambil
nafas lega.
"Kalau begitu aku bisa bicara Na?" Tanya Zumrah
dengan suaranya yang serak-serak basah. Sejak tadi
Zumrah memang diam saja. la merasa hari mulai sore dan
dia harus bicara dengan teman kecilnya itu.
Husna jadi teringat kenapa Zumrah sampai ikut
dengannya ke pesantren itu. Bahkan sampai mengganti
75
pakaiannya yang mengumbar aurat dengan gamis dan
jilbab yang menutup aurat.
"Oh iya Zum. Maaf ya. Kita bisa bicara sekarang."
"Tapi aku ingin hanya berdua."
Husna lalu minta ijin pada Nafisah untuk menggunakan
kamar pengurus itu hanya untuk dia dan Zumrah
saja. Sementara Siti pamitan minta diri,
"Terus menulis ya Na. Aku tunggu karya berikutnya.
Jangan pernah lupa aku pembaca setia karya-karyamu. Aku
adalah pecinta sastra meskipun aku seorang petani yang
kerjanya setiap hari belepotan lumpur di sawah."
"Iya. Terima kasih Ti ya. Salam buat ibu. Kalau pas
kamu ke Kartasura atau ke Solo mampir. Nanti aku bikinin
nasi goreng babat pete kesukaanmu. Okay?"
"Beres."
Maka tinggallah mereka berdua; Husna dan Zumrah
di kamar pengurus itu. Zumrah mengambil nafas lalu
bicara.
"Aku dalam masalah serius Na. Aku tak tahu lagi harus
bagaimana?"
"Masalah apa itu?"
"Aku sedang hamil Na?"
"Apa!?... Hamil!?"
"Ya, Na."
"Yang benar Zum!?"
"Benar Na. Aku sedang tidak bergurau."
"Kau sudah menikah?"
Zumrah menggelengkan kepala.
"Jadi!?" Husna kaget bukan kepalang. Berarti berita
yang tersebar di dukuh Sraten benar.
"Ya. Aku telah berzina Na. Aku perempuan kotor Na!"
"Tapi kamu tahu siapa ayahnya!?"
76
Zumrah kembal i menggelengkan kepala sambil
berkata lirih,
"Aku tak tahu persis Na. Aku perempuan kotor."
Lalu tangis Zumrah pecah. Perempuan itu menutup
kedua mukanya.
"Kau hamil karena diperkosa?"
"Tidak Na. Aku tidak diperkosa Na. Sudah kukatakan
aku ini perempuan kotor Na. Penuh borok dan dosa.
Aku ini perempuan yang buta mata dan buta hati sampai
mana ayah janin yang ada di perutku ini pun aku tidak
tahu. Aku harus bagaimana Na?"
"Aku tidak tahu Zum. Tapi kenapa kau lakukan ini
semua Zum? Kenapa kau tidak menikah secara baik-baik
saja?" Tanya Husna sambil menahan perih dalam hatinya.
"Itulah yang ingin aku lakukan Na. Tapi ayahku
menghalanginya. Aku frustasi akhirnya kuhancurkan
diriku sendiri!"
"Aku tak paham maksudmu. Kau harus menceritakan
dengan detil dan jujur, Zum. Baru kita akan cari jalan
keluarnya."
"Terima kasih Na. Kaulah temanku yang selalu bisa
kuajak bicara. Aku tidak kuat lagi menanggung ini !"
"Sudah ceritakanlah dengan cepat, jujur dan jelas. Kita
tidak punya banyak waktu di sini."
"Baik Na. Dulu entah kau masih ingat atau tidak, aku
pernah cerita kepadamu sebenarnya aku ingin selalu di
rumah. Di dukuh Sraten. Bersama kedua orang tua. Tapi
lulus SD aku dititipkan Budeku di Ungaran. Karena saat
itu ibuku sedang ribet-ribetnya ngurus anak. Dan ekonomi
keluarga sedang susah-susahnya. Aku manut sama orang
tua.
Aku tinggal tidak kurang suatu apa pun di rumah Bude
selain kasih sayang dan perhatian. Budeku dan Pakdeku
77
itu dua-duanya bisnismen. Jarang di rumah. Sebenarnya
pembantu Bude baik padaku. Tapi yang jadi sumber petaka
dan masalah adalah anak Bude. Hal ini belum pernah aku
ceritakan siapa pun sebelumnya.
Aku pernah cerita anak Budeku sangat bebas pergaulannya.
Pernah ditangkap polisi karena obat-obatan di
Kopeng. Anak Budeku inilah sebenarnya yang merusak
hidupku. Dia umurnya lebih tua tiga tahun di atasku. Saat
aku kelas dua SMP berar t i dia kelas dua SMA, dia
mengagahiku. Di rumahnya. Ketika tidak ada siapa-siapa."
"Innalillah!" Husna tersentak kaget.
Zumrah lalu menangis tersedu-sedu.
"Na saat itu aku tak punya tempat untuk mengadu.
Aku tak berani mengadu pada Pakde dan Bude. Juga tak
berani mengadu pada ayah dan ibuku. Aku takut
pengaduanku membuat ayah dan ibu akan bertengkar
dengan Pakde dan Bude. Aku diam saja. Aku hanya bilang
sama ayah bahwa aku ingin pulang saja kembali ke rumah.
Tapi ayah tetap memaksa agar aku kembali ke rumah Bude.
Ayah ingin aku menyenangkan Bude karena Bude sedang
memberi modal pada ayah untuk usaha jualan buah.
Akhirnya dengan terpaksa aku kembali ke Ungaran.
"Dan yang lebih menyakitkan lagi Na... kejadian itu
tidak hanya sekali, berulang kali menimpa diriku. Sampai
tak terhitung jumlahnya. Bahkan bisa dipast ikan ia
melakukannya setiap kali Pakde dan Bude ke luar kota.
Dan pada saat kelas dua SMA aku hamil. Aku gugurkan
kandunganku diam-diam. Tak ada yang tahu. Sampai
akhirnya aku kuliah di Jogja.
"Anehnya Na, aku justru tidak terlalu dendam pada
anaknya Bude itu. Aku tahu dia memang nakal dan jahat
sejak sebelum aku tinggal di sana. Tapi aku justru dendam
pada ayah dan ibuku. Aku tidak bisa memaafkan mereka
karena aku merasa ditelantarkan. Dibuang ke rumah Bude
78
yang menyebabkan aku jadi korban kejahatan. Sejak itu
aku selalu cari perkara untuk melampiaskan dendamku.
Jika banyak anak mencari tahu apa yang membuat senang
orang tua, aku sebaliknya. Aku mencari tahu apa yang
paling tidak disuka oleh orang tua. Pokoknya semua yang
membuat orang tua sakit hati pasti aku lakukan. Ini aku
katakan dengan jujur Na. Aku tidak pernah mengatakan
hal ini pada siapapun. Hanya padamu.
"Karena hampir set iap kali pulang aku selalu
menyakitkan ayah ibu, akhirnya mereka menyetop uang
kuliahku. Aku tak ambil pusing. Aku bisa mencari uang
sendiri dengan modal kecantikanku. Apalagi aku toh telah
menjadi gadis yang rusak karena diperkosa.
"Sampai klimaksnya satu bulan yang lalu Na. Aku
bilang pada ayahku aku mau nikah dengan pacarku yang
berbeda agama. Aku sudah tahu reaksi ayah dan ibuku
pasti akan marah besar. Memang itulah yang aku inginkan.
Saat mereka marah, aku pergi begitu saja sambil menutupi
dua telinga.
"Lalu aku teror kembali mereka dengan menunjukkan
hasil test Prodia bahwa aku telah hamil. Aku katakan
pada ayah dan ibu bahwa aku hamil dengan pacarku yang
beda agama. Padahal sesungguhnya tidak. Aku hamil
dengan orang yang tidak aku ketahui yang mana.
"Ayah marah besar. Dadanya sakit lalu jatuh. Mungkin
serangan jantung. Aku lari ketakutan. Sampai sekarang
Na. Aku dengar ayah meninggal dunia karena itu.Aku
tidak mengira hal itu akan terjadi. Kini aku sadar, aku khilaf
Na. Aku sudah sangat keterlaluan! Sekarang aku harus
bagaimana Na? Aku harus bagaimana? Sekarang semua
orang membenciku, membenci pelampiasan dendamku.
Aku harus bagaimana hu... hu..." Zumrah menangis
sesengukan.
Suasana menjadi hening seketika, mata Husna
berkaca-kaca. la pun tak menduga kalau sahabatnya
79
sampai mengalami perjalanan hidup seperti itu. Tangisnya
pun pecah, ia tidak kuasa mendengar cerita sahabatnya
itu. Ya, sebuah cerita yang benar-benar menyayat hatinya.
Cerita tentang rasa sakit hati yang luar biasa pedih dari
seorang sahabat. Ia merangkul sahabatnya itu. Keduanya
menangis berangkulan.
"Kau tidak pindah agama kan Zum? Ukh... ukh..." Tanya
Husna sambil terisak dengan tetap merangkul Zumrah.
"Tidak Na. Aku tidak pernah pindah agama. Aku
memang telah rusak. Aku jarang shalat, tapi aku tak pernah
menyatakan pindah keyakinan. Aku sadar hal itu Na."
Jawab Zumrah.
"Kau tetap sahabatku. Aku akan berusaha membantumu
semampuku Zum."
"Terima kasih Na. Apa yang harus aku lakukan Na?
Aku selalu mendengarkan rubrik psikologimu di radio.
Tolong beri aku saran!"
"Baiklah Zum. " Kata Husna sambil melepaskan
rangkulannya. Ia mengusap kedua matanya yang basah.
Husna lalu melanjutkan,
"Yang pertama kali harus kau lakukan adalah kau
memaafkan ayah dan ibumu. Maafkanlah mereka dengan
setulus hati. Barulah setelah itu kau akan bisa hidup. Jika
kau tidak bisa memaafkan mereka dengan tulus kau akan
terus terbelenggu. Tadi di acara bedah aku katakan
memberi maaf itu mampu membuka belenggu-belenggu
sakit hat i . Mampu menyingkirkan kebencian. Dan
memaafkan adalah kekuatan yang sanggup menghancurkan
rasa mementingkan diri sendiri!
"Karena selama ini kau tidak mau memaafkan. Kau
selalu mementingkan dirimu sendiri. Kau menganggap
dengan sikap diammu, dan memendam sakit hat imu
seorang diri akan menyelesaikan masalah waktu itu.
Memang benar, ayah ibumu dalam dilema waktu itu. Di
80
saat kesusahan ekonomi, ia harus tetap mempertahankan
kamu untuk tetap sekolah dan menjaga hubungan baik
dengan Pakde dan Bude. Tapi ayah dan ibumu tidak tahu
kalau anaknya Bude sekotor itu. Dan ketika permasalahan
semakin rumit, kau malah menganggap ayah dan
ibumu menjerumuskan kamu. Padahal mereka benarbenar
tidak tahu permasalahanmu itu. Kau tak pernah
peduli betapa sakitnya kedua orang tuamu dengan
perbuatan-perbuatanmu. Dan ketika ayahmu sudah
meninggal, yang jadi korban bukan hanya ibu kamu
bahkan yang jadi korban adalah juga ketiga adik kamu
yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ayah."
"Tapi rasanya sangat susah aku memaafkan mereka."
"Zum, mana ada orang tua yang ingin menelantarkan
anaknya? Kamu salah alamat Zum. Seharusnya kamu tidak
membenci dan mendendam pada mereka. Seharusnya
kalau kamu harus dendam ya dendamlah pada anak
Budemu yang jahat itu."
"Tapi ia sudah mati ditembak polisi Na."
"Kenapa dosa penjahat yang sudah mati kau lampiaskan
pada orang tuamu. Sebenarnya aku yakin tujuan ayah
dan ibumu saat itu baik. Kamu disuruh tetap di tempatnya
Bude agar kamu bisa sekolah dengan baik. Kalau kamu
saat itu cerita yang sebenarnya kamu alami pada ayahmu
mungkin akan lebih baik. Belum tentu ayahmu, ibumu,
Budemu dan Pakdemu akan marah padamu. Bisa jadi
mereka justru akan sangat sayang padamu dan mereka
akan mencari cara terbaik bagaimana mendidik anak
Budemu yang nakal itu. Karena kau diam saja, semuanya
jadi parah separah-parahnya dan tidak ada yang tahu. Tahu
mengalami nasib seperti ini. Anak Budemu tetap jadi
penjahat dan mati di tangan polisi. Dan ayah kamu mati
kena serangan jantung karena terormu."
"Apakah aku di matamu sudah terlalu kotor dan jahat
Na?"
81
"Sekotor-kotornya manusia dan sejahat-jahatnya
manusia, pintu ampunan Allah terbuka lebar. Selalu ada
pintu kembali ke jalan kesucian dan kebaikan."
"Benarkah Na?"
"Benar. Awalilah langkahmu dengan memaafkan
kedua orang tuamu yang kau anggap sudah tak termaafkan.
Maafkanlah mereka. Lalu maafkanlah dirimu sendiri.
Lalu melangkahlah di jalan orang-orang normal pada
umumnya!"
"Apa seperti ini aku tidak normal Na?"
"Tanyakanlah pada nuranimu. Pada hati kecilmu
sendiri Zum. Nuranimu lebih berhak menjawabnya.
Hanya itu yang saat ini aku sarankan Zum. Ini sudah sore.
Ayo kita minta diri."
"Aku sekarang tak tahu harus kemana melangkahkan
kaki Na. Aku bingung. Aku dengar pamanku yang polisi
itu sangat marah dan aku akan dibunuhnya. Aku takut
Na. Bagaimana ini?"
"Kita pamit dulu. Nanti aku akan coba berbicara
dengan pamanmu. Dan jika kau mau menjalankan
saranku tadi, aku akan membantu menjelaskan pada
ibumu dan warga agar adil memperlakukan kamu. Ayo
kita pamit. Hari sudah petang."
"Baik Na. Tapi aku mau cuci muka dulu."
"Benar, aku juga."
Keduanya lalu mencuci muka agar bekas-bekas tangis
hilang dari wajah mereka. Setelah cuci muka, wajah
keduanya tampak lebih segar dan bersih. Keduanya lalu
minta diri meninggalkan Pesantren Wangen yang damai.
Hati Zumrah sedikit lega setelah bisa menangis dan
menceritakan beban hidupnya pada Husna. la hayati betul
kata-kata teman kecilnya itu. la harus memaafkan. Harus
belajar memaafkan! Itu kuncinya.
82
Husna mengendari sepeda motornya meninggalkan
desa Wangen. la hanyut dalam diam. la tak pernah mengira
teman sebangkunya di SD itu sebenarnya mengalami
penderitaan batin yang sedemikian dalam. Jalan hidupnya
penuh semak belukar dan duri tajam.
Sementara itu, Zumrah yang membonceng di
belakang memandang lurus lekuk langit di kejauhan. Senja
perlahan turun. la dapat melihat di kejauhan sana betapa
sebagian besar kehijauan pepohonan telah menghilang di
bawah langit petang.
la merasakan satu hukum alam, saat cahaya hilang
maka kegelapan akan datang. la jadi bertanya apakah
cahaya dalam hatinya selama ini telah hilang, sehingga
yang ia rasakan hanyalah kegelapan dan kelam?
"Zum." Sapa Husna dengan tetap tenang mengendarai
sepeda motornya ke arah Tegalgondo
"Iya Na." Jawab Zumrah.
"Aku punya teman di Colomadu. Kau mau menginap
di sana sementara."
"Tak usah Na. Aku tak mau menyusahkan banyak
orang. Aku nanti turun di Tegalgondo saja."
"Kau mau menginap di mana?"
"Hidup tanpa arah seperti ini aku sudah biasa. Kau
tenang saja."
"Terserah kamu lah. Maaf aku tak bisa menemanimu.
Aku punya ibu dan adik yang harus aku temani."
"Diriku ini jangan terlalu kau ambil peduli. Kau mau
mendengar ceritaku saja aku sudah sangat berterima kasih
dan bahagia."
"Jika perlu aku kirim kabar ya. Kau boleh juga mampir
di radio. Kau pasti tahu jamnya."
"Baik Na. Terima kasih banget ya."
* * *
83
SEBUAH FIRASAT
Sudah lebih satu minggu sejak bertemu di pesantren,
Husna tidak mendapat kabar dari Zumrah. Seminggu yang
lalu Husna langsung menemui keluarga Zumrah dan
mencer i takan semua yang ia ketahui dari Zumrah.
Meskipun berat, ibu Zumrah telah memaafkan putri
sulungnya itu. Adik-adik Zumrah malah berharap
kakaknya itu kembali ke rumah.
Sebagian warga dukuh Sraten ada yang iba dan
kasihan sama Zumrah. Namun ada juga kalangan yang
tetap sinis dan menunjukkan rasa jijik set iap kali
mendengar nama Zumrah. Zumrah seolah-olah barang
najis yang pantang didengar sekalipun. Husna berusaha
menjelaskan kepada siapa saja yang membicarakan
Zumrah, bahwa gadis itu justru harus ditolong bukannya
dipinggirkan dan dihina. Malah, Mahrus paman Zumrah
yang anggota serse tetap bersikukuh akan menembak
84
5
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
keponakannya itu jika ketemu. la sama sekali tidak percaya
dengan apa yang disampaikan Husna.
Pagi itu Husna dan Lia sedang mencabuti rumput yang
tumbuh di samping rumah mereka ketika sebuah mobil
sedan Vios berhenti tepat di depan rumah mereka.
Matahari mulai meninggi di angkasa, menyinari dunia
dengan sinar keemasannya. Seorang gadis berjilbab putih
gading rurun dari mobil. Husna dan Lia bangkit melihat
siapa yang datang.
Ketika gadis berjilbab putih gading menghadap ke arah
pintu rumah Husna langsung kenal siapa yang datang.
"Cari siapa Mbak Bintun Nahl?" Sapa Husna dari
jarak agak jauh sambil melangkah mendekat diiringi Lia
adiknya. Anna yang masih menggunakan nama samaran
Bintun Nahl, menengok ke arah suara dan tersenyum
ceria.
"Assalamu'alaikum Mbak Husna, sedang berkebun
ya?"
"Wa 'alaikumussalam. Tidak. Ini sedang mencabuti
rumput. Mumpung ada waktu longgar. Sendirian?"
"Iya."
"Mengajar di Pesantren Wangen itu makmur ya. Guru
bahasa Arabnya saja punya mobil sedan. Baru lagi. Mau
dong aku daftar jadi guru di sana." Kata Husna dengan
nada bergurau.
"Itu mobil pinjam kok."
"Pinjam Abah ya. Kamu itu sungguh jahat kok Mbak
Anna. Tega-teganya lho menyembunyikan identi tas
dariku. Lha wong namanya Anna Althafunnisa, Lc. Putri
tunggal pengasuh pesantren Daarul Quran Wangen kok
ya pakai nama samaran Bintun Nahl. Tega-teganya. Ih!"
Ujar Husna sambil menjotos lengan Anna.
"Eit." Anna mengelak.
85
Mereka berdua terlihat begitu akrab meskipun baru
dua kali bertemu. Mereka berdua seperti dua orang sahabat
lama yang baru bertemu.
"Ayo masuk! Ini adikku, namanya Lia." Husna
mengenalkan adiknya pada Anna. Keduanya tersenyum,
lalu berjabat tangan.
"Namaku Anna Althafunnisa. Masih kuliah, Dik?"
Tanya Anna.
"Masih." Jawab Lia.
"Di mana?"
"Di STAIN."
"Fakultas apa?"
"Tarbiyah."
"Alhamdulillah sekarang dia sudah mengajar di SDIT."
Sela Husna.
"Alhamdulillah." Sahut Anna.
"Ayo masuk! Jangan di luar terus. Matahari semakin
menyengat!" Ajak Husna.
Mereka bertiga lalu masuk ke dalam rumah. Kursi di
ruang tamu itu adalah kursi jati tua yang sudah kusam
pliturnya. Namun kursi itu masih berfungsi dengan baik
untuk menerima tamu.
"Ibu kalian mana?" Tanya Anna setelah duduk.
"Beliau sedang mengikuti pengajian rutin di masjid."
Jawab Husna.
"Dengar-dengar Mbak Anna kuliah di Mesir ya?"
Tanya Lia.
"Iya. Alhamdulillah. Ini saya sedang pulang untuk
penelitian tesis S2." Jawab Anna.
"Masya Allah. Semoga diberkahi Allah." Sahut Husna.
"O ya Mbak Anna kenal nggak dengan kakak saya?
Dia juga kuliah di Cairo." Tanya Lia.
86
"Siapa namanya?" Anna balik bertanya. Ada rasa
penasaran dalam hatinya saat bedah buku dan Husna
menyebut-nyebut kakaknya yang kuliah di Cairo yang
sedemikian besar tanggung jawabnya. Dia ingin tahu siapa
orang itu. Mungkin ia mengenalnya.
"Namanya Azzam." Jawab Lia.
"Azzam siapa ya?"
"Lengkapnya Khairul Azzam."
"Sebentar, coba kuingat-ingat."Kata Anna. Dahinya
berkerut.
"Aduh, maaf, kelihatannya saya tidak kenal."
"Masak tidak kenal? Kakak saya sudah sembilan tahun
di Cairo. Sampai sekarang belum lulus SI. Dia di sana
belajar sambil bekerja. Atau kebalikannya ya bekerja sambil
belajar. Dikenal sebagai penjual tempe dan bakso. Lha ibuibu
KBRI saja banyak yang kenal. Tiga bulan lalu Pak Manaf
dan isterinya yang di konsuler datang ke sini mengantarkan
titipan Kak Azzam." Jelas Lia panjang lebar.
"Aduh, benar, saya tidak kenal. Penjual tempe yang
kukenal namanya itu ada Rio, Budi, dan Muhandis atau
Irul. Di antara mereka yang paling senior adalah Muhandis.
Tidak ada yang namanya Azzam. Tapi mungkin aku terlalu
kuper. Terus terang S1 aku kuliah tidak di Cairo."
"Di mana Mbak?"
"Di Al Azhar putri Alexandria. Baru kemudian S2-nya
di Cairo. Selama S2 terus terang aku juga tidak banyak
berinteraksi dengan teman-teman mahasiwa dari
Indonesia. Aku lebih banyak di perpustakaan."
"O. Kalau begitu ya maklum." Kata Lia.
"Kalau ketemu orangnya bisa jadi aku kenal.
Seringkali aku akrab dengan wajah orang Indonesia di
sana karena bertemu di bus atau di metro tapi aku tidak
tahu namanya."
87
Husna menyela, "Kebetulan minggu depan insya Allah
dia pulang. Semoga ada waktu untuk bertemu."
"Iya Mbak Anna. Mbak Anna sudah menikah?" Tanya
Lia santai.
"Belum."
"Wah kebetulan."
"Kebetulan bagaimana?" Heran Anna.
"Kebetulan kalau belum nikah. Nanti siapa tahu bisa
jodoh dengan kakak saya." Terocos Lia.
"Hus! Kamu ini Dik, ada-ada saja. Kok tidak mengukur
diri mengajukan kakaknya. Kakak kita ini cuma penjual
tempe yang kuliahnya tidak lulus-lulus. Kok kamu ajukan
ke putri Kiai yang mau selesai S2. Kamu ini." Sergah
Husna.
"Mm... aku memang belum menikah. Tapi sebentar
lagi insya Allah menikah. Doanya." Kata Anna.
"Lho iya tho, penjual tempe mana mungkin berjodoh
sama putri Kiai terkenal." Kata Husna.
"Jodoh, rizki, juga kematian sudah ada yang mengatur."
Pelan Anna.
"Tapi sungguh, jujur aku kagum dan hormat sama
kakak kalian. Aku salut pada pribadi seperti kakak kalian.
Jujur sebagai perempuan hatiku ada kecenderungan pada
pemuda yang sangat bertanggung jawab dan mandiri
seperti itu. Adapun jodoh itu lain lagi urusannya. Semua
Allah yang menentukan. Kebetulan tunangan saya juga
mahasiswa Cairo. Sudah selesai S2 dan sekarang sedang
proses S3." Tutur Anna penuh kejujuran.
"Lha ini lebih cocok. S2 layak dapat yang sudah selesai
S2. Sama-sama dari Cairo lagi. Nanti kami diundang ya
pada hari H? Masih lama?" Kata Husna.
"Rencananya dua bulan lagi. Ya kalian pasti aku
undang insya Allah."
88
"Boleh tahu nama calon suami Mbak Anna? Siapa tahu
kakak saya kenal. Nanti kalau dia pulang biar kami beritahu
dia." Tanya Lia.
"Boleh namanya Furqan Andi Hasan."
"Furqan?"
"Iya. Ada apa?"
"Seingat saya kakak saya pernah bercerita punya teman
namanya Furqan. Apa mungkin Furqan itu ya?"
"Bisa jadi. Tapi nama Furqan di Cairo juga banyak."
Jelas Anna.
Hampir dua jam lamanya Anna berada di rumah
Husna. Selama dua jam banyak hal dibicarakan. Banyak
cerita diriwayatkan. Terutama tentang Mesir, juga tentang
Furqan. Dari perbincangan dengan Husna dan Lia, ia jadi
semakin tahu siapa sosok Azzam sesungguhnya. Ia jadi
tahu bahwa Husna dan Lia semuanya dibiayai oleh
kakaknya. Kekagumannya kepada sosok bernama Azzam
semakin menguat . Namun ia selalu bisa meyakinkan
dalam hati bahwa Furqan tunangannya itu adalah lelaki
terbaik untuk menjadi pendamping hidupnya.
Pukul setengah sebelas Anna mohon diri. Saat ia
hendak keluar dari rumah, Bu Nafis memasuki halaman.
"Lha itu Bue baru pulang." Kata Lia.
"Bagaimana kalau Mbak Anna duduk lagi. Bincangbincang
dengan ibundaku sebentar. Beliau pasti senang."
Tukas Husna sambil memandang wajah Anna.
"Maaf, saya harus pulang sekarang. Sudah cukup
lama. Kebetulan mobilnya mau dipakai Abah ke Jogja. Jadi
aku harus segera pulang. Lain kali insya Allah." Jawab
Anna.
Anna menunggu Bu Nafis sampai beranda. Begitu Bu
Nafis mendekat Anna langsung meraih tangan perempuan
setengah baya itu dan menciumnya penuh rasa ta'zhim.
89
"Saya Anna Althafunnisa Bu. Temannya Husna." Anna
berkata halus mengenalkan diri.
"Kau cantik sekali Nak. Di mana rumahmu?" Tanya
Bu Nafis dengan mata berbinar.
"Wangen, Polanharjo Bu."
"Jauh dari pesantren?" Tanya Bu Nafis.
Belum sempat Anna menjawab, Husna mendahului,
"Dia putrinya Pak Kiai Lutfi Bu. Dialah yang punya
pesantren."
Bu Nafis terhenyak dan berkata, "Masya Allah.
Seharusnya ibu yang mencium tanganmu Nak. Bukan kau
yang mencium tangan ibu. Masya Allah, ayo masuk Nak,
akan ibu buatkan mendoan yang enak."
"Ah ibu. Sayalah yang harus mencium tangan ibu.
Tangan ibu yang telah mendidik putra dan putri yang
membanggakan seperti Husna, Lia dan juga Azzam.
Sungguh Bu saya ingin sekali berbincang-bincang. Saya
betah di sini. Tapi sayang saya harus pulang. Mobilnya mau
dipakai Abah pergi, Bu."
"O begitu. Matur nuivun ya Nak sudah berkenan
mampir."
"Saya pamit, Bu. Mohon tambahan doanya."
"Semoga Allah menyertaimu. Amin."
Anna kembali meraih tangan Bu Nafis dan menciumnya.
Ada kebahagiaan yang mengalir dalam hati perempuan
tua itu ketika kulit tangannya bersentuhan dengan
kulit tangan putri ulama terkenal dari Wangen. Dalam hati
pal ing dalam ada pengharapan yang sangat halus,
"Andaikan gadis ini jadi menantuku, alangkah bahagianya
diriku sebagai seorang ibu."
Anna melangkah masuk ke dalam mobil. Bu Nafis,
Husna dan Lia masih berdiri di beranda. Mobil itu mundur
perlahan. Lalu putar haluan. Anna melambaikan tangan.
90
Bu Nafis, Husna dan Lia membalas melambaikan tangan
dengan senyum mengembang. Tak lama kemudian sedan
Vios itu hilang di tikungan jalan.
"Kok ada ya gadis sejelita itu. Ibu pikir Si Zumrah itu
dulu paling cantik. Ternyata kalah jauh dengan putrinya
Kiai Lutfi." Bu Nafis berkomentar seraya masuk rumah.
"Kalau Anna tadi Bu, tidak hanya cantik. Dia juga
shalihah insya Allah dan dalam ilmu agamanya. Dia itu sudah
selesai S1-nya di Al Azhar Mesir lho Bu." Tukas Husna.
"Jadi dia kuliahnya di Al Azhar?" Bu Nafis bertanya
meyakinkan.
"Iya. Sekarang sedang merampungkan S2-nya."
"Berarti dia kenal kakakmu? Apa dia datang kemari
membawa titipan dari kakakmu Na?"
"Wah sayang, Bue. Dia tidak kenal Kak Azzam juga
tidak membawa titipan dari Kak Azzam. Dia kemari karena
kemarin ketika bertemu di acara bedah buku, dia berjanji
akan berkunjung ke sini. Dia memenuhi janjinya."
"O begitu. Sungguh aku senang ketemu sama gadis
seperti itu. Dalam hati tadi aku sempat berharap kalau dia
jadi menantu ibu. Jadi isteri kakakmu."
"Kayaknya harapan Bue hanya akan jadi harapan."
"Kenapa, apa tidak mungkin itu terjadi?"
"Ya mungkin saja sih. Tapi sangat sulit. Sebab dia sudah
tunangan. Bulan depan mau menikah."
"O begitu. Ya kalau begitu ya dia mungkin tidak rizki
kakakmu."
Lia yang hanya mendengarkan saja menyela,
"Aku yakin Kak Azzam akan mendapat jodoh seorang
bidadari dunia. Bidadari yang jadi penyejuk hati suami dan
keluarga."
"Amin." Lirih Bu Nafis.
* * *
91
Sedan Vios itu memasuki pelataran pesantren dan
berhenti tepat di halaman kediaman pengasuh. Anna
keluar dengan wajah cerah. Ada gelombang kebahagiaan
yang hinggap di dalam hatinya. Gelombang itu terasa kuat,
tajam, menakjubkan. Entah kenapa hatinya merasa sangat
bahagia bisa akrab dengan Husna dan keluarganya. Ketika
kulit tangannya bersentuhan dengan kulit tangan Bu Nafis,
ada getaran halus menyusup ke dalam hatinya. la merasa
sejak pertama mel ihat Husna jiwa dan hatinya telah
bertemu dengan jiwa dan hati Husna. Itulah yang ia
rasakan sebagai pangkal kebahagiaan yang berdesir dalam
hatinya. Entah kenapa ia merasa seperti sudah sangat dekat
dengan keluarga psikolog dan penulis muda itu.
"Dari mana saja kamu Nduk? Abahmu seharusnya
sudah berangkat seperempat jam yang lalu. Jika Abahmu
terlambat yang kasihan pasti jamaah pengajian. Mereka
akan menunggu lebih lama." Tegur Bu Nyai Nur, ibunda
Anna. Nama lengkapnya Nur Sa'adah.
"Ummi, maaf Anna terlambat. Anna tidak mampir ke
mana-mana kok. Anna hanya ke rumah Ayatul Husna.
Psikolog yang minggu lalu kita undang mengisi bedah
buku. Abah di mana Mi?"
"Beliau sedang membaca Al Quran di taman belakang.
Datangilah beliau agar segera berangkat."
"Baik Mi."
Anna lalu bergegas ke taman belakang. Sampai di
taman belakang Anna langsung menemui ayahnya dan
meminta maaf atas keterlambatannya. Kiai Lutfi langsung
bergegas berangkat. Setelah Kiai Lutfi berangkat Anna
langsung ke tempat kerjanya, menulis tesis di perpustakaan.
Namun ternyata Bu Nyai mengikuti putrinya itu ke
lantai dua. Anna kaget ketika tahu ibundanya mengikutinya.
"Ada apa Mi?"
92
"Ummi ingin mengajakmu bicara sebentar."
"Tentang apa Mi?"
"Tentang rencana pernikahanmu dengan Furqan."
"Ada apa Mi?"
"Apa kau telah benar-benar mantap?" Tanya Bu Nyai
dengan mimik serius. Seluruh mukanya menghadap muka
Anna.
"Ummi ini bagaimana? Masak itu ditanyakan lagi.
Kalau tidak mantap ya pasti aku tidak mau dikhitbah. Tidak
akan memilih Furqan dan tentu juga tidak mau ditunangkan
dengan Furqan."
"Entah kenapa sampai sekarang ibu belum mantap
seratus persen. Ibu sendiri tidak tahu. Masih ada sebersit
keraguan yang menyusup halus."
"Keraguan itu banyak dijadikan alat oleh setan untuk
menjauhkan manusia dari amal kebaikan. Sudahlah Mi,
yang Ummi tanyakan itu sudah tidak perlu ditanyakan
lagi."
"Kalau sudah mantap ya alhamdulillah. Itu yang
Ummi inginkan."
* * *
Sementara nun jauh di Jakarta sana. Tepatnya di sebuah
rumah mewah di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan
Furqan sedang berbaring di tempat tidurnya. Matanya
berkaca. la masih didera perang bat in yang masih
berkecamuk dengan dahsyat di dalam dada.
Ayah dan ibunya sangat bahagia dengan keberhasilan
studinya. Mereka juga sangat bahagia mengetahui siapa
calon menantu dan besan mereka. Terutama ibunya yang
asli Betawi sangat bahagia. Sebab menjadi bagian dari
keluarga besar seorang Kiai adalah harapan banyak orang.
Dan tak lama lagi setelah pernikahan itu dilangsungkan
maka keluarga Andi Hasan akan menjadi bagian tak
93
terpisahkan dari keluarga pengasuh Pesantren Wangen. la
sendiri juga bahagia. Cita-cita dan keinginannya menyunting
gadis yang menurutnya pal ing jelita di antara
mahasiswi Indonesia di Cairo tinggal satu langkah lagi
menjadi kenyataan. Yaitu ketika akad nikah telah
dilangsungkan.
Namun ia merasa ada ribuan paku menancap di
relung-relung hatinya. Ada rasa sedih dan rasa perih yang
terus menderanya. Juga rasa takut yang luar biasa. Ia takut
jika sampai keluarga Anna mengetahui apa yang
dideritanya, entah dari siapa saja sumber informasinya. Jika
mereka tahu ia telah mengidap HIV maka tamat lah
riwayatnya dan riwayat keluarganya. Selain itu dalam
relung hatinya yang paling dalam ia tidak tega menyakiti
Anna. Nuraninya sering berontak bahwa jika langkah ini
diteruskan sampai Anna menjadi isterinya, itu sama saja
membunuh Anna dengan cara paling keji di dunia.
Ia yakin ada penyakit dalam tubuhnya. Dan perkawinannya
dengan Anna nanti akan menularkan
penyakitnya pada Anna. Lalu pada anak-anak mereka. Ia
lalu membayangkan seperti apa murkanya Anna dan
marahnya keluarga besar Pesantren Wangen padanya. Lalu
di mana rasa takwanya kepada Allah? Bukankah apa yang
dilakukannya itu satu bentuk penipuan paling menyakitkan
ummat manusia?
Nuraninya memintanya untuk bersikap layaknya
orang-orang shaleh yang memiliki jiwa ksatria. Nuraninya
memintanya untuk membatalkan saja pertunangan
itu. Terserah alasannya yang penting tidak ada yang dizalimi
karena ulahnya. Namun nafsunya tidak menerimanya. Ia
sangat mencintai Anna. Ia merasa sangat berat memutus
begitu saja pertunangannya dengan Anna. Apakah ia akan
membuang begitu saja mutiara paling berharga yang paling
ia inginkan setelah ada dalam genggamannya?
Tidak!
94
Furqan memutuskan untuk tetap meneruskan
langkah. Ia tak peduli lagi pada apa yang akan menimpanya
dan apa yang akan menimpa Anna. Ia juga tidak peduli
pada apa yang akan terjadi jika akhirnya Anna dan
keluarganya tahu apa yang disembunyikannya.
"Jika aku memutuskan pertunanganku dengan Anna,
siapakah yang lantas akan peduli pada nasibku? Biarlah
aku menentukan nasibku sendiri!" Tekadnya dalam hati
dengan mata berkaca-kaca. Saat ia meneguhkan tekadnya
itu nuraninya menjerit tidak rela. Ia teguhkan untuk tidak
mendengar jeritan-jeritan protes nuraninya. Ia berusaha
membutakan mata batinnya sendiri.
Tiba-tiba ia menangis sendiri. Ia teringat hari paling
celaka dalam hidupnya. Yaitu saat ia bangun dari tidurnya
di Meridien Hotel Cairo dan mendapati dirinya dalam
keadaan sangat memalukan. Lalu teror gambar-gambar
dirinya bersama Miss Italiana. Lalu periksa darah. Lalu di
kantor intelijen. Ia tahu Miss Italiana yang menghancurkan
hidupnya adalah seorang agen Mossad. Dan terakhir ia
membaca hasil laboratorium yang menyatakan ia positif
mengidap HIV. Lalu janjinya pada Kolonel Fuad untuk
tidak menyebarkan virus yang dideritanya.
Ia tidak percaya kenapa semua ini terjadi pada dirinya.
Kenapa? Apa ia pernah melakukan dosa besar sehingga
harus dihukum sedemikian beratnya?
Dan kini ia merasa dunia begitu sepi dan sunyi. Ia seperti
sendirian. Tidak ada tempat berbagi, tidak ada tempat
melabuhkan nestapanya. Berkali-kali ia ingin menceritakan
apa yang dialaminya pada ayah dan ibunya, tapi selalu ia
urungkan. Ia tidak sampai hati menghancurkan rasa
bahagia yang kini sedang bermekaran dalam dada mereka.
Furqan kembal i menangis. Pada siapa ia harus
mengadu. Setiap malam ia terus bermunajat mengadu
kepada Allah, namun ia merasa belum juga mendapatkan
95
penyejuk nelangsa jiwanya. Tekanan batin yang terus
menderanya membuatnya ia selalu murung muka. Hanya
saat ia berada di rumah Anna dalam acara pertunangan
itulah mukanya tampak bercahaya. Begitu meninggalkan
pesantren Wangen mukanya kembali murung seperti
sebelum-sebelumnya.
Saat Furqan menyeka air matanya, hand phonenya
berdering. Satu sms masuk. Ia buka. Dari Abduh, teman
satu rumahnya di Cairo. Ia baca,
"Ass. Mas apa kabar? Ane kirim email. Dibaca ya. Abduh."
Furqan menghela nafas. Ia lalu bangkit mengambil
laptopnya. Sejurus kemudian ia sudah berlayar di dunia
internet. Ia buka inbox alamat emailnya. Benar, ada email
dari Abduh. Tidak hanya dari Abdul ada puluhan email
masuk yang belum ia baca. Ia membuka email Abduh
dengan perasaan tak menentu. Tidak seperti biasanya.
Biasanya ia selalu membuka email dengan perasaan bahagia
dan penasaran apa isinya. Sejak kejadian di Meridien Hotel
ia seperti tidak ingin berinteraksi dengan siapa saja.
Abduh menulis,
"Mas Furqan, assalaamu'alaikum wr wb. Dari Cairo kalau
boleh aku ingin mengucapkan selamat kepada Mas atas
pertunangannya dengan Anna Althafunnisa. Kabar itu
sudah menyebar ke seantero Cairo. Dan Cairo sedang
geger. Saya yakin banyak hati yang patah karena orang
yang didamba sudah di tunang orang. Sekal i lagi
selamat ya Mas. Semoga nanti sakinah, mawaddah wa
rahmah. Amin. Salam dari teman-teman."
Di bawah email Abduh, ada email singkat dari Eliana,
putri duta besar yang terus mengejar cintanya. Eliana
menulis singkat,
"Aku dapat kabar dari Abduh, kau sudah tunangan
dengan Anna. Selamat ya atas per tunangannya.
Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu cari
padanya. Eliana Alam."
96
Furqan kembali meneteskan air mata. Seharusnya ia
memang paling bahagia di antara mahasiswa Cairo. Ia
sudah selesai S2 dan siap menyunting gadis paling didamba
oleh mahasiswa Cairo. Email dari Abduh bukan menambah
dirinya bahagia, email itu justru semakin membuat
pedih hatinya. Ia tidak seperti yang disangka banyak orang.
Hatinya remuk redam, dan jiwanya telah hancur berantakan.
Berhari-hari ia merasa dirinya bagai mayat yang
berjalan.
"Fur!" Ia mendengar suara ibunya memanggil.
"Iya Bu." Jawabnya. Ia menghapus matanya yang
basah. Ia melihat cermin. Gurat wajahnya sama sekali tidak
ceria. Cepat-cepat ia ke kamar mandi membasuh muka.
Ia selalu berusaha tampak biasa di hadapan ibunya. Dan
tetap saja ibunya menganggapnya bermurung durja.
Setelah merasa wajahnya segar ia keluar dari kamarnya
yang mewah di lantai dua. Ia turun menemui ibunya. Ia
memang sangat mencintai ibunya.
"Ada apa Bu?" Tanya Furqan.
"Ibu tadi sudah ketemu Teh Vina, desainer busana
pengantin muslimah dari Bandung yang terkenal itu. Dia
bisa menyelesaikan gaun pengantin untuk calonmu.
Tinggal kau pilih harga dan warnanya. Teh Vina minta agar
bisa segera mengukur calonmu itu. Menurutku agar tidak
merepotkan Anna. Ajak saja Teh Vina ke Solo besok.
Berangkat pagi pakai Garuda. Langsung ke Wangen biar
Teh Vina langsung bertemu Anna. Sore bisa kembali ke
Jakarta. Bagaimana menurutmu?" Bu Maylaf, ibunda
Furqan bicara dengan penuh semangat dan wajah berseri.
"Saya sepakat Bu!"
"Kalau begitu kau telpon Anna dulu. Memastikan
besok dia di rumah dan tidak ke mana-mana. Jika sudah
pasti baru ibu akan telpon Teh Vina."
"Sekarang Bu?"
97
"Iya. Kapan lagi?"
"Baik Bu."
Furqan lalu kembali ke kamarnya mengambil hand
phonenya. Nomor Anna sudah tersimpan dan disetting
pada urutan pertama dalam hand phonenya. la langsung
menelpon tunangannya itu dari kamarnya. Saat mendengar
suara Anna di seberang sana, hatinya bergetar
hebat. Nyaris ia tidak bisa bicara dengan baik. Dengan agak
gagap ia menyampaikan apa yang diinginkan oleh ibunya.
Anna mengiyakan dan akan menunggu di rumahnya.
Furqan tersenyum. Ada sebersit bahagia menyusup dalam
hatinya. Ia semakin menekadkan hatinya untuk tetap maju.
"Yang penting maju dan mendapatkan Anna. Urusan
lainnya belakangan. Aku juga berhak merasakan bahagia."
Gumamnya pada diri sendiri.
* * *
"Siapa yang telpon Nduk?" Tanya Bu Nyai Nur pada
putrinya.
"Furqan, Mi." Jawab Anna dengan wajah tersipu.
"Ada apa dia nelpon Nduk? Apa dia sudah kangen
sama kamu?"
"Ya tidak tahu Mi. Dia tadi nelpon memberitahukan
bahwa dia dan ibunya besok mau datang ke sini."
"Ke sini lagi? Untuk apa?"
"Ibunya membawa desainer busana pengantin muslimah
dari Bandung. Desainer itu yang akan membuat
gaun pengantin Anna. Besok datang untuk mengukur
Anna."
"O begitu. Itu desainer terkenal ya Nduk?"
"Mungkin Bu. Anna kan tidak tahu dunia seperti itu."
"Iya orang-orang kota itu kalau nikah kok ada saja yang
disiapkan. Ya inilah, ya itulah. Ummi dulu waktu nikah
sama Abahmu kok ya biasa saja. Akad di masjid. Ayahmu
98
pakai sarung baru dan baju putih baru. Juga peci baru. Itu
saja. Ibu yang baru malah Cuma kerudungnya. Tapi kalau
sekarang, harus membuat gaun pengantin khusus."
"Ummi inginnya aku seperti Ummi?"
"Sebenarnya iya, pakaian sederhana saja. Tapi
bagaimana dengan mertuamu nanti. Pasti tidak setuju. Dia
kan konglomerat ibu kota. Ya ikuti saja keinginan mereka,
asal baik. Itu saja."
Belum apa-apa Anna sudah menemukan cara pandang
yang berbeda antara ibunya dengan ibu Maylaf, calon
mertuanya.
"Tapi ada satu hal yang harus kamu pertahankan matimat
ian lho Nduk!" Ibunya kembal i bicara padanya.
Nadanya tegas.
"Apa itu Mi?"
"Kau jangan pernah mau jika diminta tinggal di Jakarta
hidup bersama mereka! Ingat baik-baik ya!"
"Jangan khawatir Mi. Kan perjanjian waktu tunangan
kemarin memang Anna tidak tinggal di Jakarta setelah
menikah nanti. Tapi Anna akan tetap di sini. Furqan tinggal
di sini untuk ikut mengajar di pesantren. Itu sudah jadi
syarat yang harus Furqan penuhi. Jangan khawatir Mi!"
"Ummi khawatir suamimu nanti berubah pikiran.
Kalau kau dibawa ke Jakarta sana, lalu siapa yang akan
meneruskan pesantren itu. Kakakmu sudah menetap di
Magelang. Tinggal kau satu-satunya andalan Abahmu."
"Insya Allah Mi, Anna akan hidup terus bersama Abah
dan Ummi di sini."
"Sungguh?"
"Insya Allah, Mi."
"Alhamdulillah. Ummi pegang janjimu. Oh ya Ummi
mau tanya lagi, apa kau benar-benar sudah mantap
memilih Furqan?"
99
"Ih Ummi ini tanya itu lagi! Kenapa sih Mi?"
"Entah, Ummi juga bingung sendiri. Ada sesuatu
dalam hati Ummi. Apa ini sebuah firasat. Ah, Ummi tidak
tahu itu apa."
"Sudahlah Mi. Anna sudah mantap. Anna harus
bagaimana lagi Mi? Ummi jangan membuat Anna jadi raguragu."
"Iya Nduk. Maafkan Ummi ya."
"Ummi harus yakin bahwa Allah tidak akan menelantarkan
Anna. Bahwa Allah memberikan pendamping
hidup yang terbaik buat Anna. Ummi harus yakin itu.
Sebab Allah itu mengabulkan prasangka hamba-Nya
kepada-Nya. Anna minta, Ummi berprasangka yang baikbaik
saja."
"Iya Nduk."
100
* * *
DEWI-DEWI CINTA
Ini untuk pertama kalinya Husna pergi ke Jakarta. Ia
berangkat dari terminal Tirtonadi naik bus Cepat Jaya.
Meskipun ia seorang cerpenis yang kumpulan cerpennya
lerpilih sebagai kumpulan cerpen terbaik se-Indonesia,
namun ia masih juga bertanya-tanya seperti apakah
Jakarta? Apakah seperti yang ia imajinasikan ketika
melihatnya di televisi. Ini memang untuk pertama kalinya
ia pergi ke Jakarta. Waktu Azzam berangkat ke Mesir dulu
ia hanya mengantar sampai ke stasiun Balapan. Selanjutnya
ayahnyalah yang mengantarkan kakaknya ke Gambir,
Jakarta. Dari Gambir, menurut cerita ayahnya, baru naik
bus ke bandara. Ayahnya cerita dari stasiun Gambir tampak
Monas di depan mata.
Ia sebenarnya ingin naik kereta. Seperti cerita ayahnya.
Agar bisa melihat Monas segera. Namun jika naik kereta
ia berangkat sendirian. Tak punya teman. Jika naik bus
101
6
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
kebetulan ada seorang teman kuliahnya di UNS dulu yang
pulang ke Jakarta. Rumahnya tak jauh dari terminal Lebak
Bulus. Temannya itu bernama Rina. Ketika ia ketemu Rina
dan menceritakan akan pergi ke Jakarta untuk menerima
penghargaan dari Diknas, Rina berkata padanya,
"Na, naik bus saja bareng aku. Nanti ke rumahku dulu.
Baru nanti kamu aku antar ke Cikini."
Ia tak bisa menolak ajakan Rina. Baginya pergi ke
Jakarta bersama Rina lebih aman dan nyaman. Rina lebih
hafal medan dibandingkan dirinya. Rina juga seorang
teman yang enak diajak bicara.
Ini kali pertama ia pergi ke Jakarta, dan ini adalah detikdetik
yang ia nikmati dengan sangat bahagia. Selain ia akan
menerima penghargaan langsung dari menteri, ia juga akan
menjemput kakaknya tercinta di bandara.
Inilah kuasa Allah. Kakaknya akan sampai di bandara
satu hari sebelum acaranya menerima penghargaan di
Taman Ismail Marzuki, atau juga masyhur disebut TIM.
Rina juga akan menemaninya menjemput kakaknya
tercinta.
Tepat pukul empat. Bus eksekutif yang ia tumpangi
berangkat. Ia melambaikan tangan pada Lia. Lia sebenarnya
ingin ikut, tapi siapa yang akan menemani ibunya.
Jika Lia dan ibunya ikut ia rasa sangat besar biayanya. Dan
akan lebih repot nanti di Jakarta. Dari jendela bus ia
memandangi Lia yang tersenyum kepadanya. Ia membalas
dengan senyum serupa.
Bis melaju ke arah barat. Terus maju meninggalkan
kota Solo. Terus melaju beriringan dengan puluhan
kendaraan yang melaju ke arah yang sama. bus itu
melewati Boyolali, Ampel, Salatiga, Bawen, Ungaran dan
Semarang. Kira-kira jam sembilan malam bus itu berhenti
di sebuah rumah makan yang cukup besar di Weleri,
Kendal.
102
Para penumpang turun untuk rehat sebentar. Untuk
buang air, shalat dan makan. Husna dan Rina turun.
Mereka berdua shalat dulu baru makan.
"Pilih apa ya Rin enaknya?" Tanya Husna agak bingung
menentukan menu makanannya.
"Pilih apa saja. Tapi kamu jangan kaget ya, kalau agak
mahal. Namanya juga di jalan." Jawab Rina.
"Kamu pilih apa Rin?"
"Kalau aku suka yang panas. Aku pilih soto ayam saja."
"Aku sama aja."
Saat membayar harga makanannya Husna berseloroh
lirih, "Mahalnya."
Sang kasir rumah makan itu mendengar seloroh
Husna. Tapi diam saja. Wajahnya dingin. Ia seperti menyatu
dengan mesin penghitung uang di hadapannya. Mungkin
ia sudah sangat terbiasa mendengar perkataan itu. Dan ia
sudah menyiapkan mental untuk menghadapinya.
"Kan sudah kubilang jangan kaget kalau harganya
mahal." Kata Rina sambil memasukkan kecap ke dalam
mangkok sotonya.
"Harga semangkok soto di sini bisa untuk membayar
tiga mangkok soto di Kartasura Rin."
"Ah ini belum seberapa Na. Tahun lalu aku pergi ke
Hongkong. Di sana ada restoran Indonesia. Tahu nggak
kamu harga semangkok soto di sana bisa untuk membayar
enam mangkok soto di Kartasura. Udahlah, kita nikmati.
Makan kalau sambil mengingat kalau harganya mahal
malah tidak nikmat."
"Benar kau Rin."
Keduanya lalu makan dengan lahapnya. Deraan lapar
membuat soto ayam itu terasa nikmat rasanya. Selesai
makan mereka langsung naik bis, karena kondektur bus
sudah memanggil-manggil para penumpangnya.
103
Bis melanjutkan perjalanan. Kira-kira sepuluh menit
kemudian Husna diserang rasa kantuk habis-habisan. la
memang kurang tidur dan kelelahan. Kemarin malam ia
menjadi panitia kegiatan MABIT aktivis dakwah masjid
At Takwa yang terletak di samping stasiun radio tempatnya
bekerja. Ia nyaris tidak tidur semalam penuh. Paginya
sampai siang ia harus mengajar di UNS. Lalu siaran.
Menyiapkan bekal ke Jakarta. Dan selepas ashar ia harus
berangkat ke terminal.
Husna tidur dengan nyenyak. Rina yang duduk di
sampingnya agak kecewa. Sebenarnya ia ingin berbicara
banyak dengan temannya itu, ia ingin bercerita kesana
kemari dan berdiskusi apa saja. Tapi Husna malah tidur
mendahuluinya. Penumpang bus hampir semuanya pulas
dengan rnimpinya. Akhirnya Rina tidur juga.
Ketika bus sampai tol Cikampek Rina sempat
terbangun. Ia melongok ke jendela sebentar, memastikan
sudah sampai di mana. Tapi itu hanya beberapa saat saja.
Ia lalu tidur kembali menyusul Husna.
Pukul lima pagi bus Cepat Jaya itu memasuki terminal
Lebak Bulus. Hari masih gelap dan sisa-sisa fajar masih
tampak di langit. Begitu bus berhenti puluhan penumpang
turun teratur. Rina menunggu sampai seluruh penumpang
turun baru membangunkan Husna yang masih pulas di
kursinya.
"Na bangun! Sudah sampai!"
Husna mengucek kedua matanya.
"Sudah sampai Jakarta?"
"Iya. Kita sudah di Lebak Bulus. Ayo kita turun!"
Husna bangkit mengikuti Rina. Ia menenteng barang
bawaannya. Begitu ia turun belasan tukang ojek menyerbu,
"Mbak ojek Mbak! Ciputat Mbak!"
"Ke Bintaro Mbak? Diantar pakai ojek yuk!"
104
"Ke Cirendeu Mbak? Pakai ojek murah. Ayo!"
Rina menepis tawaran itu. Husna diam saja dan terus
mengikuti langkah Rina.
"Na kita ke mushala dulu ya? Kita shalat subuh gantian.
Kalau tak dijaga barang-barang kita bisa hilang."
"Ya. Mana mushallanya?"
"Itu, tak jauh dari pintu keluar."
Dua gadis itu bergegas ke mushalla. Husna melihat
jam tangannya. Sudah jam lima seperempat. la mempercepat
langkahnya. Begitu sampai di mushalla ia berkata
pada Rina.
"Rin, yang shalat aku dulu ya?"
"Iya. Tapi cepat ya. Waktunya mepet."
Husna dengan cepat mengambil air wudhu lalu shalat.
Setelah itu gantian Rina. Pagi telah menunjukkan
kesibukannya ketika mereka berdua keluar dari terminal.
"Wah, sepagi gini kendaraan sudah memenuhi jalan
Rin."
"Inilah Jakarta Na. Jika ingin sampai di tempat kerja
tepat pada waktunya. Jam empat harus bangun. Mandi
dan siap-siap. Begitu rampung shalat subuh langsung
berangkat. Terlambat setengah jam saja bangun maka
alamat sampai di tempat kerja akan kesiangan. Aku dulu
waktu SMA seperti itu Na harianku. Aku harus bangun
jam empat jika tidak ingin terlambat sekolah. Jakarta ini
kota paling macet sedunia!" Cerocos Rina menerangkan.
"Kita ada yang jemput Rin?"
"Seharusnya Papa yang jemput. Seharusnya beliau
sudah menunggu di mushalla. Tapi kok tidak ada. Coba
aku kontak ke rumah."
Rina lalu memanggil dengan hp-nya. Sesaat terjadi
pembicaraan antara Rina dengan ayahnya. Selesai
menelpon Rina berkata pada Husna,
105
"Aduh afwan ya Na. Ternyata mobil ayah lagi ngadat.
Maklum mobil tua. Jadi tidak ada yang menjemput. Kita
naik angkot ya? Nggak apa-apa kan Na?"
"Ah tidak apa-apa. Kebetulan nih, aku bisa tahu rasanya
naik angkot di Jakarta. Malah bisa jadi sumber inspirasi
kalau nanti nulis cerpen."
"Ah dasar penulis! Apa aja jadi sumber inspirasi."
* * *
Rumah Rina tidak besar juga tidak kecil. Berdiri di atas
tanah seluar seratus sepuluh meter persegi. Terletak di
tengah-tengah perumahan yang rapat di daerah Ciputat
Indah. Rumah itu tampak baru direnovasi. Tampilannya
terlihat modern dan minimalis.
"Baru lima bulan yang lalu selesai direnovasi. Memang
sudah seharusnya direnovasi. Sudah terlalu tua. Sudah
banyak titik-titik bocor kalau hujan. Untuk merenovasi
ini ayah harus merelakan hampir seluruh tabungannya
habis. Maklum pegawai negeri." Jelas Rina begitu masuk
rumah. Mereka berdua disambut oleh ibu Rina yang sangat
ramah.
"Sugeng rawuh Mbak." Sapa ibu Rina dengan bahasa
Jawa halus.
"Lha Ibu asli Jawa?" Tanya Husna setengah heran.
"Inggih, kulo saking Sragen."9
"Sudah berapa lama ibu tinggal di Jakarta?"
"Sejak Rina berusia satu tahun. Jadi sudah berapa
tahun ya Rin?" Akhirnya ibu Rina menjawab dengan
bahasa Indonesia.
"Ya berarti sudah dua puluh empat tahun Ma." Sahut
Rina.
_ lya saya dari Sragen.
________ _.
106
"Ya, sudah dua puluh empat tahun."
"Bu, Husna biar mandi ya?" Kata Rina pada ibunya.
"Ya. Masukkan dulu semua barangnya ke kamarmu.
Setelah mandi sarapan!"
Rina lalu mengajak Husna ke kamarnya.
Husna masuk kamar sahabatnya itu dan mengitarkan
pandangannya ke seantero kamar yang luasnya tiga kali
tiga. Kamar tidur Rina jauh lebih baik dibandingkan
kamarnya yang hanya berdinding papan di Sraten. Kamar
Rina berlantai keramik cokelat muda. Dindingnya biru
laut. Langit-langit kamarnya putih bersih. Kamar yang
cukup mewah di mata Husna. Sementara kamarnya
berlantai semen. Warnanya hitam. Dindingnya putih
kusam. Dan langit-langitnya adalah anyaman bambu yang
kusam dan di sana sini sudah bolong-bolong10.
Husna membuka tasnya mengambil handuk dan
peralatan mandinya. Rina menunjukkan kamar mandi.
Sebuah kamar mandi yang dalam pandangan Husna juga
cukup mewah. Setengah dindingnya berkeramik hijau tua.
Ada shower dan wastafel di dalamnya.
Pagi itu, setelah mandi, Husna sarapan dengan nasi
rawon. Husna makan dengan lahap dan bersemangat.
"Wah rawonnya mantap Bu." Kata Husna memuji.
"Yang masak itu Si Luna, adiknya Rina." Jawab ibu
Rina ringan.
"Mana dia Bu?"
"Sudah berangkat kerja."
"Di mana dia kerja?"
"Di sebuah penerbit buku di Ciganjur."
"Berarti dia penulis Bu?"
"Tidak. Dia akuntan."
"O. Anak ibu semua berapa?"
107
"Semua empat. Rina nomor dua. Nomor satu Adam.
Dia masih kuliah di Bandung. Lalu Rina. Lalu Luna. Dan
terakhir Rendra."
"Rendra?"
"Iya."
"Kenapa dinamakan Rendra Bu. Suka ya sama Rendra,
penyair terkenal itu."
"Iya. Terutama ayahnya. Ayahnya sangat suka sajaksajak
yang ditulis W.S. Rendra."
"Renda sekarang kelas berapa Bu."
"Baru kelas empat SD."
"Juga sudah berangkat sekolah."
"Iya bareng sama ayahnya. Kalau Dik Husna berapa
bersaudara?"
"Saya empat bersaudara juga Bu. Saya juga anak
nomor dua. Sama dengan Rina. Kakak saya juga masih
kuliah. Dia kuliah di Cairo. Terus saya. Adik saya Lia dan
yang ragil Sarah masih di pesantren."
"Kakakmu kuliah di Cairo?"
"Iya."
"Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki."
"Sudah menikah?"
"Belum."
"Sudah punya calon?"
"Belum. Kenapa ibu menanyakan itu?"
"Ya namanya juga ikhtiar. Kau tahu kan Dik. Saya
punya dua anak gadis yang belum nikah. Rina dan Luna.
Siapa tahu bisa berjodoh dengan kakakmu." Ibunya Rina
berterus terang tanpa basa-basi lagi.
Rina merah padam mendengarnya.
108
"Ah Mama ini. Apa saya pantas untuk kakaknya
Husna? Kakaknya seorang penulis cerpen terbaik di
Indonesia. Saya ini gadis bodoh dan tidak cantik lagi. Apa
saya pantas?" Sahut Rina merendah.
"Rin, kalau memang berjodoh maka kita tidak bisa
mengatakan pantas atau tidak pantas. Seorang muslimah
yang baik selalu pantas untuk seorang muslim yang baik."
Kata Husna
"Benar, Dik Rina. Seperti saya inilah contohnya.
Saya ini kan dulu datang ke Jakarta awalnya bekerja
sebagai pembantu rumah tangga. Lalu pindah kerja
sebagai pelayan Warteg. Di antara pelanggan warteg itu
seorang pemuda tampan yang bekerja di Diknas.
Mungkin orang berkata saya tidak pantas berjodoh
dengan pemuda itu. Tapi ternyat a Al lah memper -
temukan kami dalam ikatan suci . Pemuda itu ya
ayahnya Rina itu." Terang Ibu Rina.
"Cerita yang menarik untuk dijadikan cerpen Bu."
"Boleh." Sahut Ibu Rina.
"Jangan lupa nanti royaltinya ya." Canda Rina sambil
tersenyum.
"Jadi kamu tidak keberatan misalnya kakak kamu
dapat Rina atau Luna?" Tanya Ibu Rina.
Husna tersenyum pada Rina. Rina merah padam.
"Sama sekali tidak Bu. Selama kakak saya suka saya
juga suka. Kebetulan besok pagi kakak saya datang dari
Cairo. Dan saya akan menjemputnya di bandara. Rina
katanya mau ikut."
"Kalau perlu kami sekeluarga ikut menjemput." Ibu
Rina semangat.
"Janganlah Ma. Biar saya saja yang menemani Husna."
Sergah Rina.
"Ya terserah mana baiknya." Jawab Ibu.
109
"Ikut semua sekeluarga juga tidak apa-apa. Malah
ramai." Husna berempati pada Ibunya Rina. la merasa jika
mereka sekeluarga ikut sama sekali tidak merugikannya
atau merugikan kakaknya. la yakin kakaknya malah akan
merasa bahagia.
* * *
Selesai makan Rina mengajak Husna jalan-jalan ke Mall
Bintaro. Lalu melihat kampus UIN. Jam dua siang mereka
kembali ke rumah Rina dan tidur siang. Jam empat sore
Husna bangun. Mandi. Shalat ashar lalu membaca buku
yang sempat ia beli di samping kampus UIN. la membeli
sebuah buku tua berjudul Capita Selecta, yang ditulis oleh
M. Natsir saat masih muda. Ia baca halaman perhalaman.
Ia begitu menikmati sajian pemikiran di dalamnya.
Di tengah asyiknya membaca, ia mendengar seseorang
mengetuk pintu kamar. Ia buka. Seorang gadis muda
berjilbab cokelat muda.
"Luna ya?" Tebak Husna.
"Iya Mbak. Saya sering dengar nama Mbak dari cerita
Mbak Rina. Saya juga sudah baca buku-buku Mbak.
Salut!"
"Kerja di penerbit apa Dik?"
"Itu Mbak di Penerbit Ciganjur Mediatama."
"Katanya besok mau ke bandara ya Mbak?"
"Iya. Mau ikut?"
"Wah maaf saya tidak bisa Mbak. Besok saya ada rapat
penting."
"Santai saja, nggak ikut nggak apa-apa."
"Mbak aku punya tulisan. Ceritanya aku sedang latihan
membuat cerpen. Tapi masih jelek rasanya. Bisa tidak
Mbak membacanya lalu aku diberi masukan-masukan
begitu. Aku ingin juga bisa menulis karya seperti Mbak."
"Oh boleh. Bawa saja kemari!"
110
"Terima kasih ya Mbak. Tulisannya masih di komputer.
Besok saya print dulu. Nanti saya kasih Mbak dalam
bentuk print out saja."
"Oh ya itu lebih baik."
"Mbak, maaf mbak, boleh aku tanya sedikit."
"Boleh."
"Tapi ini agak bersifat pribadi banget."
"Tidak apa-apa."
"Begini Mbak, aku punya kakak lelaki. Namanya
Adam. Mungkin Mbak Rina sudah cerita. Tapi yang ini
dia pasti tidak cerita. Kakakku sekarang dosen di Bandung.
Sekarang mengajar sambil melanjutkan S2-nya. Dia itu
belum menikah. Beberapa waktu yang lalu dia lihat
albumnya Mbak Rina. Saat itu Mbak Rina di Solo jadi ia
tidak tahu. Lha dalam albumnya Mbak Rina itu ada foto
Mbak Rina sama Mbak Husna. Kelihatannya Bang Adam
itu tertarik sama Mbak Husna. Kira-kira bagaimana
Mbak?" Jelas Luna panjang lebar.
Husna diam. Ia heran. Ini satu keluarga bicaranya
ceplas-ceplos terus terang begitu. Tak ada basa-basinya.
Iya ibunya, iya anaknya sama saja. Ibunya menginginkan
kakaknya. Malah anaknya yang ini menginginkan dirinya.
"Allahu a'lam Dik. Jika jodoh tak ada yang bisa
menolak. Jika tidak jodoh tak ada yang bisa mempertemukan."
"Iya benar Mbak. Tapi boleh dong kakakku masuk
dalam kriteria Mbak?" tanya Rina sambil senyum.
Husna pun menjawab dengan senyuman, tanpa
sepatah kata.
"Oh ya Mbak. Ngomong-ngomong sering mengikuti
sinetron _______ _______ tanya Rina melanjutkan
pembicaraan.
"Yang mana ya Dik?"
111
"Itu Iho yang tayang seminggu sekali tiap malam
minggu, pukul delapan malam. Sinetron yang dibintangi
Eliana Pramest i Alam, artis cantik jebolan
Prancis itu lho."
"O itu, sinetron tentang perjuangan guru muda cantik
anak konglomerat di pedalaman Kalimantan Tengah?"
"Iya Mbak. Wuih itu sinetron bagus lho Mbak. Temanteman
kerjaku seringnya ya diskusi sinetron itu. Tapi apa
ada ya Mbak, anak seorang konglomerat seperti yang
diperankan Eliana itu yang memilih mengabdi jadi guru
di pedalaman?"
"Ya kita berdoa saja semoga ada agar jadi teladan bagi
generasi muda."
"Nanti malam nonton sinetron itu ya Mbak? Setelah
itu kita diskusi."
"Boleh."
Dan benar. Jam delapan malam sampai jam sembilan
Husna nonton sinetron Dewi-dewi Cinta. la menyaksikan
sang guru cantik bernama Hilma harus menempuh jarak
belasan kilometer dengan menggunakan sampan demi
mengajar anak-anak didiknya di pedalaman. Dalam
sinetron yang ia saksikan ia melihat guru itu nyaris
tenggelam ketika sampannya terbalik akibat hujan yang
disertai badai yang kencang. Guru itu berjuang keras
untuk tetap hidup dengan sekuat tenaga berenang. Husna
kagum dengan akting Eliana yang begitu menjiwai
perannya. Ia juga senang dengan isi ceritanya yang tidak
kacangan.
"Aku baca di sebuah tabloit mingguan, saat ini Eliana
sedang membintangi sebuah film remaja yang disutradarai
oleh sutradara nomor satu di negeri ini. Katanya sih di
antara tempat yang digunakan syuting itu Kota Barat Solo.
Mbak Husna tahu Kota Barat Solo?" Tanya Luna.
"Tahu. Hanya belasan kilo saja dari rumah Mbak."
112
"Kalau begitu Mbak bisa lihat syutingnya dong.
Katanya sih seperti yang kubaca di tabloit itu syutingnya
di Solo tiga bulan lagi. Ih senang bisa bertemu sama Eliana.
Bahagianya kalau aku bisa bertemu terus foto bareng dia."
"Kalau begitu main saja ke rumah Mbak Husna. Nanti
Mbak antar ke Kota Barat biar ketemu sama bintang pujaan
hatimu itu."
"Ih dia itu bukan pujaan hatiku saja lho Mbak. Dia itu
pujaan hati jutaan umat manusia di Indonesia."
"Benarkah?"
"Iya."
* * *
Malam itu Husna tidur di kamar Rina. Ia sendirian.
Rina tidur bersama Luna. Rendra punya kamar sendiri.
Belum genap satu hari di rumah itu, ia telah akrab
dengan semuanya. Rendra berbicara dengannya seolah
kakak kandungnya sendiri. Rendra bercerita tentang
Guru Matemat ikanya yang galak. Ia jadi tidak suka
dengan matemat ika karena gurunya galak dan membosankan.
"Dulu saat diajar Bu Farida, Rendra suka Matematika.
Sebab Bu Farida itu menyenangkan. Nilai Matematika
Rendra selalu sembilan dan sepuluh. Tapi sekarang setelah
Bu Farida pergi, Rendra tidak suka sama Matematika.
Gurunya galak dan membosankan. Dulu Matematika itu
mudah, sekarang rasanya susah." Adu Rendra pada Husna
yang baru dikenalnya. Husna hanya bisa menjawab dengan
senyum. Ia tak tahu harus memberi solusi apa pada anak
empat SD itu.
Semua orang di keluarga Rina ini terbuka dan familiar.
Ia merasa tidak menjadi orang asing di situ. Orang yang
paling banyak cerita tentu saja Bu Harti, ibundanya Rina.
Selepas shalat Isya Bu Harti ke kamarnya dan bercerita
ngalor-ngidul, kesana kemari tentang masa mudanya. Juga
113
tentang keinginannya memiliki menantu yang tahu
agama.
"Benar ya Dik Husna, tolonglah kenalkan Rina pada
kakakmu. Semoga dia tertarik. Rina wajahnya memang
biasa-biasa saja. Kecantikannya pas-pasan. Tapi ibu jamin
dia bisa menjadi isteri yang baik. Kelebihan Rina adalah
sifat qana'ahnya. Sifat nrimonya. Kekurangan dia sih
banyak. Di antaranya kalau dia marah lama redanya. Tapi
ia sesungguhnya orang yang tidak mudah marah. Kalau
misalnya setelah melihat Rina kakakmu tidak suka ya tidak
apa-apa. Tapi cobalah juga kau ketemukan dengan Si Luna.
Dia lebih cantik dari kakaknya. Cuma agak manja. Dan
jika sudah melihat mereka berdua kakakmu tidak suka
dua-duanya ya berarti bukan jodohnya. Iya tho." Pinta Bu
Harti dengan penuh harap pada Husna.
"Tapi kakak saya itu hanya penjual tempe lho Bu.
Selama di Cairo profesinya jualan tempe. Apa mau ibu
punya menantu penjual tempe." Terang Husna.
"Ya nggak apa-apa jualan tempe. Itu namanya ulet. Ibu
malah suka pada tipe lelaki seperti itu. Lelaki yang ulet."
Bu Harti berkata mantap.
Husna tersenyum mengingat perbincangan itu. Ia
tersenyum membayangkan jika kakaknya misalnya punya
isteri Rina atau Luna. Ia akan punya keluarga di Jakarta. Ia
kenal baik dengan Rina. Memang Rina tidak cantik.
Kulitnya kuning langsat. Badannya cukup besar. Tapi
mukanya tidak bisa dikatakan cantik. Mukanya bulat.
Hidungnya agak besar. Juga tidak bisa orang mengatakan
Rina itu jelek. Benar kata Bu Harti, "Rina wajahnya
memang biasa-biasa saja. Kecantikannya pas-pasan."
Namun ia tahu Rina itu baik dan cekatan.
Sedangkan Luna, ia tidak tahu banyak. Luna lebih
cantik dari Rina. Tapi ya tidak cantik sekali. Hanya sudah
masuk standar untuk dikatakan cantik. Ia lihat cara
berpakaiannya sangat teliti dan rapi. Memang, dari bahasa
114
dan gerak tubuhnya agak sedikit manja. Tapi ia bisa hidup
mandin. Usai shalat maghrib ia lihat Luna membaca Al
Quran dengan suara pelan di ruang tamu. Menurutnya
itu sudah bisa jadi tanda bahwa Luna cinta pada Al Quran.
Satu kelebihan Luna yang ia tahu, yaitu Luna pandai
memasak. Untuk makan malam Luna membuat spagheti
yang sangat enak rasanya. Kakaknya, Azzam, akan cepat
gemuk memiliki isteri seperti Luna.
Dari Bu Harti, ia tahu satu kekurangan Luna. Yaitu ia
baru saja putus dengan pacarnya yang keempat. Artinya
Luna sudah empat kali ganti pacar. Ini yang ia kurang suka
pada Luna. Untuk masalah ini ia yakin Luna bisa
disadarkan.
Husna tersenyum bahagia. Besok ia akan ke bandara
menjemput kakaknya. Ia akan bertemu dengan orang
yang sangat dicintainya. Bertemu dengan pahlawan yang
dir indukannya. Seperti apa wajah kakaknya setelah
sembilan tahun tidak pernah bersua? Apakah ia semakin
putih? Ataukah malah jadi bertambah hitam? Apakah
kakaknya itu kurus, ataukah malah gemuk.
Husna semakin tak sabar menanti pagi tiba. Hatinya
seolah telah hadir di bandar a menanti kedatangan
kakaknya. Ia berpikir apa kira-kira yang akan ia ucapkan
ketika pertama kali bertemu dengan kakaknya?
Husna terus berpikir dan pelan-pelan tanpa ia rasakan
akhirnya ia terlelap dalam mimpinya. Mimpi bertemu
kakaknya, Khairul Azzam tercinta.
Sementara nan jauh di Sraten, Kartasura sana, Lia dan
ibunya juga merasakan hal yang sama. Yaitu perasaan
bahagia dan ingin segera bertemu dengan Azzam mereka
tercinta.
* * *
115
PERTEMUAN CINTA
"Sepuluh menit lagi kita akan mendarat di Bandara
Soekarno Hatta." Kata Eliana pada Azzam yang duduk di
sampingnya. Azzam diam menikmati gelombang keharuan
dan kebahagiaan dalam hatinya. Kedua matanya
berkaca-kaca. la hampir-hampir tidak percaya bahwa
akhirnya ia bisa pulang juga. Pulang ke tanah air tercinta
untuk ber temu dengan orang-orang yang sangat dirindukannya.
"Kau menangis Mas Irul?"
Azzam mengangguk. Di pelupuk matanya ada ibu dan
ketiga adiknya. Kemarin sebelum meninggalkan Cairo ia
sempat kirim sms kepada Husna bahwa ia akan sampai
hari ini di Jakarta. Ia tidak minta sang adik menjemputnya.
Namun ia berharap ketika ia sampai di bandara ada yang
menjemputnya.
"Apa yang membuatmu menangis Mas?" Eliana lagi.
116
7
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
Azzam menyeka air matanya. la memandang wajah
Eliana sesaat seraya berkata,
"Sudah sembilan tahun aku meninggalkan tanah air.
Sudah sembilan tahun aku berpisah dengan ibuku dan
adik-adikku. Aku terharu bahwa akhirnya aku bisa
pulang ke Indonesia. Aku akan bertemu dengan keluarga.
Apakah aku tidak boleh menangis karena haru dan
bahagia? Apakah aku tidak boleh menangis karena
bersyukur bahwa aku akan kembali menginjak tanah air
tercinta?"
"Kau benar. Aku baru tahu kalau selama itu kau
meninggalkan Indonesia dan selama itu pula kau tidak
pernah bertemu keluarga. Kau sungguh orang yang sabar
dan tabah."
"Aku tidak sesabar dan setabah yang kau kira."
"Paling tidak kau membuatku salut."
Pesawat semakin rendah. Semakin mendekati bumi.
Akhirnya siang itu, tepat jam dua siang pesawat yang
ditumpangi Azzam mendarat di landasan Bandara
Internasional Soekarno Hat ta dengan selamat. Arus
kebahagiaan merasuk ke dalam hatinya dengan deras, kuat
dan tajam. Berkali-kali ia memuji kebesaran Allah atas
limpahan nikmatnya.
"Aku datang Indonesia tercinta! Aku datang ibunda
tercinta! Aku datang adik-adikku tercinta!" Pekiknya dalam
hati dengan mata berkaca-kaca.
Azzam berjalan beriringan dengan Eliana.
"Mas Irul ada yang jemput?" Tanya Eliana.
"Tidak tahu pasti. Mungkin saja ada." Jawab Azzam.
"Kalau tidak ada yang menjemput bareng aku saja.
Istirahat saja dulu di rumahku. Baru besok pulang ke Solo.
Bagaimana?"
"Tak tahu. Nanti sajalah jika sudah di luar sana."
117
Mereka berdua melangkah menuju loket imigrasi, lalu
mengambil bagasi. Barang bawaan Azzam jauh lebih
banyak dibandingkan Eliana. Eliana hanya membawa tas
kecil dan kopor ukuran sedang yang bisa ditarik dengan
santai. Setelah melewati bea cukai hati Azzam berdebar,
jantungnya berdegup kencang. Syaraf-syarafnya bergetar.
Ia sangat yakin ada yang menunggunya di luar.
Azzam keluar dengan hati bergetar. Ia melangkah
sedikit di depan Eliana. Ia melihat banyak orang bawa
kamera. Seperti memb i d i k dir inya. Ia mendengar
seseorang memanggil-manggil namanya. Suara anak
perempuan. Ia mencari-cari asal suara. Matanya bertemu
dengan mata gadis manis berkerudung hijau muda.
Gadis itu adalah Husna. Azzam menghambur ke arah
adiknya. Sang adik juga bergegak menghampur ke arah
kakaknya. Keduanya berpelukan sambil menangis
penuh haru. Sembilan tahun tidak bertemu akhirnya
ber temu.
Husna meraih terisak-isak dalam pelukan kakaknya
tercinta. Kakak yang sangat dirindukannya siang dan
malam. Kakak yang menjadi pahlawan baginya yang telah
membiayai hidup dan sekolahnya. Juga sekolah adikadiknya.
Tubuh kakaknya itu begitu kurus. Wajahnya lebih
tua dari umurnya.
Eliana menyaksikan adegan itu dengan hati haru. Ia
juga meneteskan air mata, tapi segera ia hapus dengan sapu
tangannya. Belasan wartawan terus membidikkan gambar
ke arahnya. Seorang pria setengah baya datang mengawalnya.
Sejurus kemudian ia sudah dikepung belasan
wartawan yang ternyata sudah menunggu sejak pagi untuk
mewawancarainya.
Azzam melepaskan pelukannya pada adiknya.
"Sendirian Dik?" Tanya Azzam sambil menyeka air
matanya.
118
"Iya, Husna ke Jakarta sendiri. Tapi ke sini Husna
ditemani dua orang teman. Itu, mereka berdiri di sana
memandangi kita. Mereka kakak beradik Rina dan Luna."
"Bue dan adik-adik tidak ikut kenapa?"
"Jakarta itu jauh Kak. Takut ibu malah sakit. Lia harus
mengajar, di samping juga harus menemani Bue. Si Sarah
di pesantren."
"Ya sudah tidak apa-apa. Terima kasih Dik ya, sudah
menjemput kakak."
"Tidak perlu berterima kasih atas sebuah kewajiban
Kak."
"Kapan kau sampai ke Jakarta?"
"Kemarin pagi. Terus tadi malam Husna menginap di
rumah Rina."
"Ini kita mau ke mana?"
"Kita ke Cikini Kak. Ke hotel yang disediakan panitia
untuk Husna. Kan nanti malam acara penganugerahan
penghargaan itu seperti yang pernah Husna ceritakan di
surat. Ayo kita temui Rina dan Luna."
"Ayo."
Azzam mendorong barang bawaannya mengikuti
langkah Husna ke arah dua gadis yang berdiri tenang.
Eliana masih sibuk dengan wawancaranya.
"Rin, Lin, ini kakakku yang aku ceritakan itu. Kak
Khairul Azzam."
Azzam menelungkupkan kedua tangannya di dada
sambil mengangguk pada Rina dan Luna. Kedua gadis itu
melakukan hal yang sama seraya berkata,
"Selamat datang kembali di Indonesia!"
"Terima kasih." Jawab Azzam.
"Mbak Husna, itu yang dikerubuti wartawan kelihatannya
Eliana Alam deh." Ujar Luna yang sangat ngefans
sama Eliana.
119
"Wah aku kok tidak begitu memperhatikan ya." Jawab
Husna sambil melongok ke arah keramaian orang yang
membawa kamera.
"Maklum, konsentrasinya sepenuhnya pada sang
kakak yang sudah sembilan tahun tidak bertemu." Tukas
Rina sambil tersenyum.
"Memang benar." Jawab Husna ringan.
"Yang dimaksud Eliana Pramesti Alam?" Tanya Azzam.
"Betul Mas. Itu lho bintang sinetron Dewi-dewi ______ Mas Azzam kenal dia? Tadi satu pesawat ya?" Seru Luna
heboh.
"Iya itu memang Eliana Pramesti Alam. Saya kenal baik
dengan dia. Tadi bahkan duduk satu bangku dengannya."
Jawab Azzam santai.
"Hebat! Mas Azzam pacarnya ya?" Timpal Luna tanpa
dosa.
"Hus! Kau ada-ada saja!" Rina membentak adiknya
yang menurutnya sudah keterlaluan. Husna dan Azzam
tersenyum saja mendengarnya.
"Mas bisa tidak, aku dikenalkan sama dia? Aku ingin
foto bareng sama dia. Biar heboh teman-teman di kantor."
"Bisa. Kita temui dia saja sekarang, nanti dia keburu
pergi!" Ajak Azzam.
"Mbak Rina di sini saja ya. Nunggu barang-barang.
Kalau tidak ditunggu nanti hilang." Seru Luna riang.
Dengan muka agak cemberut Rina menjawab, "Ya.
Fotolah sepuas-puasnya!"
Azzam, Husna dan Luna melangkah ke arah kerumunan.
Sambil berjalan Luna menyerahkan ____ _!_" kameranya pada Husna. la menjelaskan bagaimana caranya
mengambil gambar.
Azzam menerobos kerumunan diikuti Husna dan
Luna. Begitu sampai di samping Eliana Azzam berkata,
120
"Mbak, kenalkan ini adikku Husna dan temannya
Luna."
"Oh ya. Saya Eliana."
Husna dan Luna menjabat tangan Eliana. Luna
langsung menggeser tubuhnya dan berdiri di samping
kanan Eliana. Dan Azzam ada di samping kiri Eliana.
Sementara Husna sedikit mundur. Eliana mau mengatakan
sesuatu pada Azzam, tiba-tiba seorang wartawan televisi
bertanya,
"Saat ini kalau boleh tahu siapa pria paling dekat
dengan Eliana?"
Eliana agak terhenyak menjawab pertanyaan itu.
"Apa tadi?" la pura-pura kurang dengar.
"Siapa pria paling dekat dengan Eliana saat ini?"
Wartawan itu mengulang dengan suara lebih keras.
"Em... siapa ya. Yang paling dekat saat ini seorang
mahasiswa di Cairo namanya Khairul Azzam!" Jawab Eliana
sekenanya.
Husna dan Luna kaget. Keduanya berpandangan.
Azzam lebih kaget. la tidak percaya apa yang didengarnya.
"Orang itu sekarang ada di mana?" Kejar wartawan itu.
"Ini di samping saya." Jawab Eliana santai, ia benarbenar
sang penguasa keadaan saat itu.
Seketika moncong kamera dan belasan alat perekam
mengarah ke Azzam.
"Sejak kapan Anda kenal Eliana?" Tanya seorang
wartawan.
"Aduh, ini apa-apaan!" Seru Azzam panik.
"Santai saja Mas. Kita kooperatif saja jadi enak. Sejak
kapan Anda kenal Eliana?"
"Aduh, gimana ini. Mbak Eliana, bicara dong. Wah kok
jadi rumit begini sih!" Kata Azzam pada Eliana.
121
"Dia tidak biasa menghadapi wartawan. Kami kenal
sejak satu tahun yang lalu." Sahut Eliana dengan tenang.
"Benar kamu dekat dengan Eliana?" Cerocos seorang
wartawan koran ibu kota.
"Kebetulan tadi kami satu pesawat dan tempat
duduknya berdekatan. Saya di 15 F, dia di 15 E. Jadi kami
memang dekat." Jawab Azzam juga sekenanya.
"Apa profesi Mas saat ini?"
"Jualan bakso."
"Ah, jangan bergurau Mas."
"Sungguh. Tanya saja pada Eliana!"
Wartawan itu langsung bertanya pada Eliana,
"Benarkah dia berjualan bakso?"
"Ya benar. Para diplomat adalah para pelanggannya."
Jawab Eliana.
"Wah seorang entrepreneur! Keren ya Mbak?"
Wartawan itu berkomentar.
"Iya dong. Dia pria paling keren yang pernah aku
temui. " Kata Eliana santai menanggapi komentar
wartawan itu. Eliana lalu mencondongkan kepalanya ke
arah telinga Azzam dan berbisik, "Hei, Mas, jadinya
bagaimana? Mau ikut ke rumahku?"
Azzam menggelengkan kepala.
"Kenapa?" Tanya Eliana berbisik. Kepalanya masih
condong ke arah Azzam.
Puluhan kamera mengabadikan peristiwa itu. Eliana
cuek saja. Azzam tak tahu harus bagaimana.
"Aku sama adikku ada hotel." Jawab Azzam juga
setengah berbisik.
"Ya sudah kalau begitu. Nanti kalau aku ke Solo boleh
mampir?"
"Boleh." Jawab Azzam sambil mengangguk.
122
Beberapa war tawan mencatat dialog lirih Eliana
dengan Azzam. Mereka mencatat beberapa kalimat yang
mereka dengar lalu mengembangkan dengan imajinasi
mereka.
Azzam pamit pada Eliana. la hanya menelungkupkan
tangan di dada. Lalu beranjak pergi.
"Tidak ada cipika cipiki11 Mas?" Tanya seorang
wartawan usil.
Azzam tidak menjawab, yang menjawab malah Eliana,
"Dia itu mahasiswa Al Azhar Cairo, masak cium pipi
kanan pipi kiri. Kan belum halal! Ngerti!?"
"Wah sekarang pacar Eliana 'alim ya. Bisa jadi berita
menarik ini." Komentar seorang wartawan.
"Boleh saja. Okay, teman-teman wartawan semua. Aku
pamit dulu. Terima kasih ya semuanya."
Eliana melangkah pergi. Beberapa wartawan masih
mengabadikan wajah Eliana yang tampak lelah namun
tetap cantik di kamera mereka. Pria setengah baya yang
datang untuk menjemput dan mengawal Eliana langsung
mengambil peran. Dengan sekuat tenaga ia menyibak jalan
dan membawa Eliana ke mobil Toyota Camry yang telah
siap menunggu. Begitu Eliana dan pria setengah baya itu
masuk, Camry itu langsung meluncur tergesa.
Azzam melangkah bersama Husna dan Luna ke tempat
Rina menunggu. Husna belum bisa memahami apa yang
baru saja dilihatnya. Bagaimana mungkin kakaknya begitu
dekat dengan Eliana. Seolah tidak ada jarak. Ia ingin
langsung banyak bertanya, tapi ia lihat muka kakaknya
sedang benar-benar lelah. Ia tidak tega. Dua orang
wartawan datang minta wawancara. Dengan tegas Husna
mengamankan kakaknya. Seorang sopir taksi menawarkan
jasanya, Azzam langsung mengiyakan. Dengan sigap
11 Cium pipi kanan, cium pipi kiri
123
ia memasukkan barang bawaannya dibantu sopir taksi
yang kekar dan muda.
Azzam lalu masuk duduk di depan. Husna, Rina dan
Luna duduk di belakang.
"Ke mana Bang?" Tanya sopir taksi sambil menghidupkan
argo kepada Azzam.
"Ke mana Dik?" Tanya Azzam pada Husna.
"Ke Hotel Sofyan Cikini Bang, yang dekat dengan TIM
ya Bang." Jawab Husna.
"Baik."
Taksi itu lalu meluncur perlahan meninggalkan Bandara.
Luna diam-diam kagum pada Azzam. Rasa kagumnya
pada Azzam sama dengan rasa kagumnya pada Eliana.
"Ternyata kakak Mbak Husna selebritis juga ya. Nanti
aku minta foto bareng ya." Celetuk Luna.
"Ah kamu ini foto melulu yang dipikir. Udah ah, jangan
mengganggu orang dong!" Ujar Rina setengah membentak
pada adiknya.
"Saya ini bukan selebritis kok Dik. Saya ini cuma
penjual tempe dan bakso di Cairo. Sungguh. Kebetulan di
antara yang sering pesan bakso saya ayahnya Eliana dan
Eliana sendiri. Ayahnya Eliana itu kan Dubes Indonesia di
Mesir. Jadi saya kenal baik dengan Eliana. Tadi itu kan
Eliana tidak serius. Dia main-main. Dia mengerjain saya!
Wah punya kenalan artis ini jadi repot!" Jelas Azzam
panjang lebar. Ia tahu adiknya dan dua gadis temannya
itu pasti mengira yang bukan-bukan pada dirinya.
"Tapi aku yakin besok pagi wawancara tadi bakal jadi
head line surat kabar dan akan jadi berita dan gosip tidak
ada habis-habisnya di infotainment." Ujar Luna.
"Biarin saja. Kayak gitu tidak udah diurus, hanya
menghabiskan umur saja." Sahut Azzam tenang.
* * *
124
Sampai di hotel Husna mengajak ke kamar yang telah
ia pesan untuk kakaknya. Kamar kakaknya berdampingan
dengan kamarnya Ia sudah check in di hotel itu sejak pagi
sebelum berangkat ke bandara. Ia memilih hotel yang
pal ing dekat dengan tempat acaranya. Rina yang
memilihkan Hotel Sofyan.
"Kakak istirahat saja dulu. Nanti selepas maghrib kita
berangkat ke TIM. Acaranya nanti jam tujuh malam." Ujar
Husna sambil menata barang-barang bawaan kakaknya.
"Iya Dik. Kau pun kelihatannya juga lelah. Istirahatlah
dulu!"
"Baik."
"Eh, Dik, dua temanmu itu sudah pulang?"
"Belum, mereka ada di kamar. Mereka juga mau lihat
acara nanti Malam. Usai acara baru mereka akan pulang.
Oh ya itu Si Luna tetap ingin foto bareng Kak Azzam,
bagaimana?"
"Ya nggak apa-apa asal nanti kamu ikut foto."
"Baik Husna akan sampaikan. Dia itu penggemar berat
Eliana. Wah dia merasa seperti mimpi katanya bertemu
Eliana. Awalnya tadi pagi Luna tidak mau ikut tapi dipaksa
sama Rina. Jadilah dia ikut. Tadi pagi selama perjalanan
dia uring-uringan terus sama kakaknya, sampai Husna
tidak enak dibuatnya. Sekarang ia berterima kasih berkalikali
sama kakaknya. Oh ya Kak, ayah dan ibu mereka titip
salam. Sebenarnya ayah dan ibunya Rina mau ikut jemput,
tapi tidak jadi karena ternyata mereka punya janji dengan
kolega. Ibunya Rina itu ingin sekali bertemu kakak. Baiklah
Kak, Husna ke kamar dulu ya?"
"Eh, nanti jam setengah lima aku dibangunkan ya
Dik?"
"Iya kak."
Husna pergi ke kamarnya. Azzam menutup pintu lalu
rebahan. Husna yang ia temui sekarang sudah sangat
125
berbeda dengan Husna sembilan tahun silam. Sekarang
tampak lebih anggun dan dewasa. la jadi semakin
penasaran seperti apa Lia? Juga ibunya. Seperti apa dukuh
Sraten sekarang? Apakah masih seperti sembilan tahun
silam? Ataukah telah banyak perubahan? Dan Pak
Masykur yang dulu pernah memarahi dirinya dan temantemannya
karena bergurau saat shalat Jumat, bagaimanakah
kabar beliau sekarang?
Akhirnya rasa lelah membawa Azzam tidur pelan-pelan.
* * *
Usai shalat maghrib mereka berempat berjalan kaki
ke TIM. Pusat budaya yang ada di jantung kota Jakarta itu
tak pernah sepi dari karya cipta. Pertunjukan seni, diskusi,
pagelaran budaya, dan peluncuran karya hampir selalu ada
tiap bulannya.
Malam itu, Diknas menggelar acara penganugerahan
penghargaan kepada karya-karya terbaik di bidang sastra.
Diknas menggolongkan penghargaan dalam tiga kategori.
Kategori pertama, karya sastra untuk anak-anak. Kedua,
karya sastra untuk remaja. Dan ketiga, karya sastra untuk
dewasa. Masing-masing dipilih sepuluh terbaik nasional.
Jadi semuanya ada tiga puluh orang yang mendapat
penghargaan.
Kumpulan cerpen Menari Bersama Ombak yang ditulis
Husna meraih penghargaan karya terbaik nomor 1 kategori
karya sastra untuk remaja. Buku Husna itu mengalahkan
seratus lima puluh tujuh judul buku yang diseleksi oleh
Diknas.
Mereka berjalan santai. Sepuluh menit kemudian
mereka sampai di gerbang TIM.
"Ini tho yang namanya Taman Ismail Marzuki yang
terkenal itu." Ujar Azzam dengan perasaan gembira yang
meluap. la sudah lama mendengar nama TIM. Tapi baru
malam itu sampai di gerbangnya. Gerbang TIM tampak
126
semarak. Belasan warung tenda berjejer menyambut siapa
saja yang datang ke sana.
"Acaranya di gedung apa Na?" Tanya Rina.
"Di Graha Bhakti Budaya." Jawab Husna.
"Kita langsung ke sana saja. Gedung itu muat untuk
sekitar delapan ratus orang. Kalau malam ini pengunjungnya
membludak kita bisa tidak dapat tempat kalau
terlambat. Ayo!" Seru Rina.
"Iya, apalagi akan ada beberapa artis ibu kota yang
akan membaca puisi." Sahut Husna
"Pasti membludak!" Yakin Rina sambil mempercepat
langkah. Husna, Azzam, dan Luna mengikuti iramanya.
"Wah, kalau banyak artis yang datang, ini acara seru
juga." Seloroh Luna.
"Apa kalau tidak ada artis yang datang tidak seru?"
Tanya Rina dengan nada tidak sepakat.
"Ya bukan begitu. Maksudnya semakin seru dengan
datangnya artis. Wah susah menjelaskan." Sengit Luna.
"Apa-apa kok timbangannya artis. Memang artis itu
nabi apa, kok selalu dijadikan timbangan?" Imbuh Rina
dengan sinis.
"Tak tahu ah. Yang penting nanti akan aku abadikan
Mbak Husna saat mener ima penghargaan sebaikbaiknya.
" Ujar Luna sambil mel irik Husna yang
melangkah tenang.
Graha Bhakti Budaya hampir penuh terisi orang.
Husna dan rombongannya menemui panitia. Mereka
berempat lalu dicarikan tempat agak depan. Tepat pukul
sembilan belas malam acara dimulai. Ada sesuatu yang
membuat mereka berempat terkesima, yai tu sang
pembawa acaranya, yang tak lain adalah Eliana Pramesti
Alam. Artis muda yang sedang naik daun dan paling
diminati para pemirsa televisi di tanah air.
127
Eliana tampak begitu anggun dalam balutan kebaya
ala Betawi. Puluhan kamera langsung mengambil
gambarnya begitu ia berdiri di tengah panggung. Acara
disiarkan secara langsung di dua stasiun televisi swasta
terkemuka. Eliana membuka acara itu dengan bersamasama
membaca Al Fatihah.
Kemudian ia mempersilakan ketua panitia memberikan
sambutannya. Setelah itu Eliana langsung meminta
Bapak Menteri Pendidikan untuk menyampaikan pidato
kebudayaannya. Bapak Menteri berpidato hanya lima belas
menit . Eliana langsung memanggil seorang penyair
perempuan untuk membacakan puisinya.
Seorang perempuan berjilbab maju ke panggung.
Berjalan anggun. Dan berdiri di panggung dengan anggun.
Setelah salam, perempuan itu membuka kalimatnya,
"Perkenankan aku membaca sebuah puisi, yang aku
tulis dikertas ini dengan tetesan air mata. Sebuah puisi
untuk anak-anak Irak yang teraniaya. Judulnya Pohon
Zaitun Masih Berbunga."
Seluruh hadirin diam. Graha Bhakti Budaya sesaat
senyam. Semua mata tertuju pada gerak gerik sang penyair
di depan. Penyair perempuan itu lalu membaca puisinya
dengan segenap penghayatan. Suara emasnya menyihir
siapa saja yang mendengarkan,
Di kota Basrah
Seorang ibu melagu
Di depan ayunan bayinya
Mendendangkan lagu sayang
Tidurlah nak, malam masih panjang
Pohon zaitun di halaman masih berbunga
Katakan pada dunia kita masih ada
Seribu satu cerita masih aku punya
Untuk mengantarkan kau dewasa
Syahrazad mungkin habis cerita
128
Tak menyangka di ujung umur dunia
Seorang durja memporak porandakan negeri kita
Namun doa Rabiah
Membuka pintu Tuhan
Pintalah apa yang bisa kau pinta
Pintalah Zaitun tetap berbunga
Pintalah darah syuhada menjadi pupuknya
Pintalah negeri kita tetap ada
Pintalah apa yang bisa kau pinta
Pintalah nak
Pinta
Tuhan menjaga.12
Semua yang hadir terkesima.
Azzam menghayati kandungan puisi itu dengan hati
basah dan mata berkaca-kaca. Demikian juga Husna yang
halus perasaannya. Begitu sang penyai r itu selesai
membacakan puisinya, gedung itu luruh dalam gemuruh
tepuk tangan hadirin yang tersentuh hatinya. Beberapa
orang malah meneriakkan takbir secara spontan dan tibatiba.
"Selanjutnya untuk membacakan lagi, sebuah puisi
saya panggilkan seorang artis papan atas Indonesia. Seorang
artis berbakat yang sudah go international. Kita panggil
Emira Giza Humaira!"
Kalimat Eliana langsung disambut tepuk tangan
hadirin dengan semeriah-meriahnya. Seorang artis yang
tidak asing, yang biasa dipanggil Giza maju memakai gaun
malam panjang hijau tua. Tanpa sebuah pengantar ia
membacakan sebuah puisi pendek berjudul "Tuhan
Mabukkanlah Aku" dengan penuh penghayatan,
Tuhan mabukkanlah aku
Dengan anggur cinta-Mu
12 Puisi karya Fatin Hamama, diambil dari Antologi Puisi Perempuan Penyair
Indonesia 2005, KSI, Des 2005, hal 27
129
Rantai kaki erat-erat
Dengan belenggu penghambaan
Kuraslah seluruh isi diriku
Kecuali cinta-Mu
Lalu recai daku
Hidupkan lagi diriku
Laparku yang maha pada-Mu
Telah membuatku
Berlimpah karunia.13
Giza membaca penuh penghayatan dan mengakhirinya
dengan setetes air mata. Sebuah akting yang
nyaris sempurna. Diam-diam Eliana memperhat ikan
dengan seksama segala kelebihan akting Giza yang lebih
senior darinya. la memperhatikan untuk belajar darinya.
Lalu tibalah acara inti. Pengumuman dan penganugerahan
penghargaan karya sastra terbaik tingkat
nasional. Para pemenang dipanggil berurutan perkategori.
Dan pemenang pertama perkategori diminta memberi
sambutannya. Akhirnya sampailah nama Ayatul Husna
diucapkan oleh bibir Eliana. Husna bangkit dan maju
diiringi gemuruh tepuk tangan. Lalu sembilan nama
menyusul di belakangnya.
Sampai di depan panggung Eliana agak terkejut
melihat Husna. la tahu yang berdiri di panggung sebagai
pemenang pertama adalah adiknya Azzam. Matanya
mencari-cari sosok Azzam. Akhirnya ketemu juga. la
melihat Azzam, tapi Azzam sedang memusatkan perhatiannya
pada adiknya. Hatinya dipenuhi gelombang bahagia
yang membuncah-buncah luar biasa. Setelah menerima
piala penghargaan, Husna memberikan sambutan.
"Piala ini aku hadiahkan yang per tama untuk
kakakku. Dialah pahlawanku yang mati-matian membiayai
13 Puisi karya penyair sufi dari Persia bernama Anshari, diterjemahkan oleh
Abdul Hadi W.M.
130
hidup dan kuliahku ketika ayah telah tiada. Kakakku yang
membanting tulang dengan jualan tempe dan bakso di
Cairo demi adik-adik yang dicintainya. Untuk kakakku
yang baru tiba di Indonesia setelah sembilan tahun
lamanya tidak bisa pulang ke Indonesia demi memperjuangkan
nasib adik-adiknya, aku hadiahkan penghargaan
ini. Dan di hari bahagia ini menyambut kepulangannya,
perkenankan aku membacakan puisi yang baru tadi sore
aku tulis untuknya. Judulnya "Kau Mencintaiku."
Kau mencintaiku
Seperti bumi
Mencintai titah Tuhannya.
Tak pernah lelah
Menanggung beban derita
Tak pernah lelah
Menghisap luka
Kau mencintaiku
Seperti matahari
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Membagi cerah cahaya
Tak pernah lelah
Menghangatkan jiwa
Kau mencintaiku
Seperti air
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Membersihkan lara
Tak pernah lelah
Menyejukkan dahaga
Kau mencintaiku
Seperti bunga
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
131
Menebar mekar aroma bahagia
Tak pernah lelah
Meneduhkan gelisah nyala
Azzam tidak bisa menahan harunya. la meneteskan
air mata bahagia di tempat duduknya. Acara itu disiarkan
langsung ke seluruh Indonesia. Sambutan Husna itu
disaksikan oleh jutaan manusia, termasuk ibu dan adiknya
Lia di Kartasura. Anna Altafunnisa dan keluarganya di
Wangen. Furqan dan keluarganya di Jakarta. Juga temanteman
kerjanya di UNS dan radio JPMI Solo. Sambutan
dan puisi Husna begitu menggugah dan bermakna.
Dan diam-diam, Eliana harus merasa kagum pada
Azzam dan adiknya. la tidak mengira akan sedahsyat ini
hasil jerih payah Azzam. la tidak bisa lagi meremehkan
Azzam hanyalah seorang pemuda pembuat bakso dan
tempe. la merasa Azzam pemuda yang langka di persada
nusantara. Dan dengan sangat halus sekali ada rasa kagum
menyusup ke dalam hati Eliana. Kagum pada pemuda
kurus bernama Khairul Azzam.
Eliana teringat apa yang tadi siang ia lakukan pada
Azzam. Ia memang murni mengerjai Azzam dan para
wartawan. Ia jadi malu karenanya. Namun ia merasa tidak
akan menyesal jika digosipkan oleh siapa saja kalau dirinya
dekat dengan pemuda itu. Ia tidak akan menyesal. Sebab
ia kini telah tahu kualitasnya. Azzam, secara akademik
memang kalah dengan Furqan yang beberapa waktu terus
dikejarnya. Namun dalam ujian hidup nyata Azzam sudah
menunjukkan karakternya.
Dalam hati, Eliana meneguhkan selesai acara ia akan
mengajak Azzam dan adiknya makan malam bersama. Ia
merasa malam itu benar-benar salah satu malam yang
berbeda baginya.
132
* * *
8
KECERDASAN ELIANA
Dukuh Sraten Kartasura gempar!
Husna dan Azzam masuk televisi! Hampir seluruh
penduduk Sraten menyaksikannya. Husna tampak sesaat
di berita infotainment seputar selebritis. Yaitu saat Eliana
diwawancarai di Bandara. Penduduk dukuh Sraten seolah
tidak percaya bahwa Azzam dekat dengan bintang film
terkenal Eliana Pramesti Alam. Mereka terhenyak ketika
Eliana mengaku bahwa pria paling dekat dengannya adalah
Azzam. Di tambah dengan opini narasi berita yang
menggiring pembaca bahwa Azzam adalah pacar Eliana.
Tayangan kedua adalah acara di Graha Bhakti Budaya
TIM yang disiarkan secara live se-Indonesia. Meskipun
banyak bintang dan artis, namun bintang sesungguhnya
adalah Ayatul Husna. Kata sambutannya dan puisinya yang
ditujukan untuk sang kakak membuat Husna menjadi
latunya para artis dan bintang malam itu. Usai acara Husna
133
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
dan Azzam diwawancarai. Lalu tampak Eliana mengucapkan
selamat pada Husna. Keduanya berpelukan akrab. Hal
itu semakin mengukuhkan, bahwa Eliana seolah sudah
sangat kenal dengan keluarga Azzam. Bahkan sudah sangat
akrab dengan adiknya.
Pagi harinya beberapa Koran ibu kota dan daerah
mengulas berita itu. Profil Husna dimuat di sebuah Koran
yang bernuansa islami di ibu kota. Foto Azzam tampak
berdua dengan Eliana muncul di beberapa koran.
Tak terkecuali Ibu Nafis, Ibu kandung Azzam juga
menyaksikan itu semua dari televisi bersama Lia.
Perempuan setengah baya itu matanya berkaca-kaca. Haru
dan bahagia. Dua anaknya sudah masuk televisi. la sempat
waswas Azzam diberitakan sebagai pacar Eliana. Tapi ia
sangat yakin dengan kualitas akhlak putranya itu. Ia jadi
bangga. Ia akan merestui jika putranya itu misalnya
menikah dengan Eliana. Ibu mana yang tidak suka
putranya menikah dengan gadis yang sedemikian
cantiknya. Gadis yang menjadi pujaan pemuda se-
Indonesia. Begitulah cara berpikir Bu Nafis. Sederhana saja.
* * *
Matahari menuju tengah petala langit.
Lia sudah pulang dari mengajar. Ia pulang jam setengah
sebelas. Ia ijin pada kepala sekolah unruk pulang lebih awal
hari itu. Sampai di rumah ia langsung menyalakan televisi.
Dan kembali ia menyaksikan wawancara Eliana saat tiba di
Bandara. Dalam dua hari ini, entah sudah berapa kali
wawancara itu ditayangkan di televisi. Tapi anehnya ia tidak
bosan-bosan juga menontonnya. Entah kenapa, meskipun
ia tidak suka dengan perempuan yang tidak memakai jilbab,
tapi ia merasa bangga kakaknya dekat dengan Eliana.
Lia memperhatikan serius wawancara itu,
"Siapa pria paling dekat dengan Eliana #$% ini?"
&'()$*+,$)%,$*-')%$*.$/134
"Em... 0123425 Yang paling 67829029 ini 07:;2<= >2?01@26A1;:<2><42b?21;cd>GH I@J Eliana.
K2DC87D1?29<@2L?EF2>42<=82=795 HM;2<=19C0782;<=2661>2 panik.
HO2<9102ls205b1928:37;291t02l2617<285o7l28>19J7=1<01?g">36Eliana.
"Dia 91628J120>7<=?2631@2;9@2<5 67="2<97<2=">73296C8<42>1>7= 95HI2@JEF2>5 "Apa 3;:T701S20291putrinya sambil membawa sepiring mendoan14
"Iya. Kak Azzam jadi terkenal sekarang Bu. Eh Bue...
Bue... apa benar ya, Kak Azzam itu pacarnya Eliana? Kok
bisa ya? Aku kok belum ketemu nalarnya?" Cerocos Lia.
"Bue kok tidak yakin. Besok saja kita tanyakan
langsung pada kakakmu. Mereka katanya akan sampai di
Kartasura jam enam pagi besok." Jawab Bu Nafis.
Sepiring mendoan goreng itu masih mengepulkan
asap. Bu Nafis baru saja mengangkatnya dari dapur.
Aromanya merasuk hidung Lia yang sedang lapar. Air
liurnya seperti mau keluar. Wajah Bu Nafis tampak cerah.
Ia meletakkan mendoan itu di meja tepat di hadapan Lia.
Karena memang itulah satu-satunya meja di ruang tamu.
Meja serbaguna.
Lia tersenyum pada ibunya. Lesung pipinya membuatnya
lebih mempesona. Mendoan goreng yang masih panas
atau hangat memang kesukaannya sejak kecil. Seminggu
paling tidak tiga kali ia membuat mendoan. Ibunya juga
suka mendoan seperti dirinya. Dalam anggapannya, di
dunia ini tak ada makanan ringan yang lebih nikmat dari
mendoan.
"Bue, Bue... ingat nggak makanan apa yang paling
disukai Kak Azzam?" Tanya Lia sambil mencomot
mendoan satu
"Ingat."
"Apa coba?"
"Mendoan."
"Salah!"
"Masak salah?"
"Iya salah. Kak Azzam memang suka mendoan, tapi
ada yang lebih ia sukai."
14 MendoanZ[\]^e yang digoreng dengan dibalut adonan tepung yang diberi
bumbu.
136
"Apa itu?"
"Bakwan."
"O ya benar Bakwan, sama seperti ayahmu dulu. Suka
sekali mereka sama Bakwan."
"Bue kalau Kak Azzam benar dekat sama Eliana. Terus
nanti mau menikahi Eliana, Bue setuju tidak?"
"Kalau Eliana itu musl imah. Mau mengaji. Mau
menutup aurat dengan baik dan taat pada suami ya ibu
setuju saja. Siapa tho yang tidak ingin punya menantu
cantik dan kaya seperti Eliana?"
"Kalau Eliana tidak mau menutup aurat dengan baik.
Terus kalau main film cium-ciuman sama lawan mainnya,
bagaimana Bu?"
"Wah kalau seperti itu ya lebih baik menikah dengan
gadis tetangga yang baik dan shalehah. Apa gunanya punya
menantu yang suka ciuman sama lelaki lain. Ih, itu tidak
bisa menjaga kehormatan namanya."
"Tapi artis sekarang rata-rata begitu Bu."
"Semoga Eliana tidak seperti itu."
* * *
Sementara itu, di sebuah kamar hotel Sofyan Azzam
mengingat puisi yang dibaca adiknya untuknya. Puisi yang
begitu tulus. Husna sekarang bukanlah Husna si anak nakal
yang dulu memukul pelipisnya sampai berdarah. Bukanlah
Husna yang sering membuat onar dan membuat jengkel
banyak orang. Husna sekarang adalah penulis cerpen yang
baik, psikolog dan dosen di UNS yang dicintai temanteman
dan anak didiknya.
Manusia bisa berubah. Demikian juga Husna. la telah
berubah setelah melewati proses yang sangat panjang.
Seorang nabi sekalipun menjadi matang sehingga mampu
memikul risalah setelah melalui proses panjang. Setelah
melalui tempaan-tempaan. Sebelum menjadi nabi, seorang
137
Yusuf harus dibuang di dalam sumur. Lalu dijual sebagai
budak. Diuji fitnah Zulaikha. Dipenjara. Barulah
dimuliakan oleh Allah.
Sebelum menjadi manusia yang dijamin masuk surga,
Umar bin Khattab pernah jahiliyyah. Pernah melakukan
perbuatan keji, membunuh anak perempuannya yang
baru lahir dengan menanamnya hidup-hidup. Ia juga
memusuhi dakwah Nabi. Bahkan berniat membunuh
Nabi! Namun Umar terus berproses dengan mengikuti
nuraninya yang fitri. Umar terus berusaha lebih baik dari
hari ke hari dengan mengikuti petunjuk nabi.
Ia teringat satu baik puisi adiknya yang sangat
menyentuhnya itu.
Kau mencintaiku
Seperti matahari
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Membagi cerah cahaya
Tak pernah lelah
Menghangatkan jiwa
Ingin rasanya membalas puisi adiknya itu. Tapi ia
bukanlah seorang penyair yang pandai memintal katakata
indah penuh makna. Ia ingin mengatakan kepada
adiknya bahwa ia memang benar-benar mencintainya
dengan sepenuh jiwa. Adik-adik dan ibunya adalah
segalanya baginya. Dengan bahasa seadanya, akhirnya ia
goreskan pena untuk menulis puisi pendek yang akan ia
sampaikan pada Husna. Ia menulis beberapa kalimat saja,
aku mencintaimu
seperti bumi
mencintai
mataharinya
Selesai menulis puisi itu, Azzam jadi teringat janjinya
pada Hafez. Ia telah menyanggupi untuk memberi tahu
138
139
Fadhil tentang keinginan Hafez mengkhitbah Cut Mala.
Kesanggupannya adalah amanah. Amanah yang sangat
penting sebab berkai tan dengan cinta anak manusia.
Alangkah bahagianya jika seseorang bisa menikah dengan
orang yang dicintainya. Dan alangkah bahagianya jika
setelah menikah itu cintanya terus berkembang dari masa
ke masa.
Azzam memutuskan untuk menulis surat kepada
Fadhil saat itu juga. Mumpung ada waktu dan semuanya
tersedia. Setiap hotel biasanya menyediakan surat dan
amplop surat di tiap-tiap kamarnya. Azzam menulis surat
di atas kertas berkop Hotel Sofyan. Dengan penuh
khidmat Azzam menulis dengan penanya,
140
la melipat surat itu hati-hati dan memasukkan amplop
yang juga berkop Hotel Sofyan. la berniat mengirim surat
itu siang itu juga. la akan bertanya pada resepsionis apakah
hotel juga bisa membantu pengiriman surat sebagaimana
lazimnya hotel berstandar Internasional.
Telepon di kamarnya berdering. la yakin itu Husna,
adiknya. la angkat.
"Hallo?"
"Ya hallo. Ini siapa?"
"Ini Eliana, Mas."
"Oh Mbak Eliana. Ada apa Mbak?"
"Bisa ngobrol sebentar."
"Mbak ada di mana?"
"Saya ada di lobby hotel. Bareng paman saya. Mas ada
waktu untuk turun?"
"Ada. Tunggu sebentar ya?"
"Baik."
Hatinya bertanya-tanya ada urusan apa siang-siang
Eliana datang menemuinya. Tadi malam selesai acara di
TIM Eliana sempat mengajak makan malam bersama. la
dan Husna menolak tidak bisa. Sebab selain sudah cukup
malam, Husna ingin makan malam di hotel berdua saja
dengan dirinya. Husna ingin memuaskan diri ngobrol
dengannya. Maka selesai semuanya ia dan Husna kembali
ke hotel. Sementara Rina dan Luna pulang ke rumah
mereka dengan taksi. Husna mengajak mereka tidur di
kamarnya beramai-ramai. Tapi mereka menolak. Mereka
merasa harus pulang malam itu juga.
Azzam menghubungi kamar Husna. Langsung diangkat.
"Kakak ya?"
"Iya Dik."
"Ada apa Kak?"
"Di bawah ada Eliana. Kita turun yuk nemui dia."
"Ayuk."
Sejurus kemudian mereka berdua turun bersama.
Eliana menyambut dengan senyum menawan di bibirnya.
Siang itu putri Dubes Indonesia di Mesir itu memakai kaos
panjang merah jambu yang dipadu dengan celana jeans
merah tua. Rambutnya dia kucir kuda. Apa saja yang
dipakai Eliana dan apa saja gaya rambutnya selalu saja
menjadikannya tampak jelita.
"Sudah lama?" Sapa Azzam.
"Ah tidak. Baru sampai terus telpon Mas Irul melalui
resepsionis. Oh ya kenalkan ini pamanku. Namanya Pak
Marjuki. Lengkapnya Marjuki Abbas. Di Indonesia
beliaulah yang selalu mengawalku." Eliana mengenalkan
pamannya. Lelaki setengah baya itu mengulurkan
tangannya pada Azzam sambil tersenyum ramah.
141
"Saya Azzam, Pak. Dan ini adik saya Husna."
"Ya. Saya sudah tahu sejak kemar in ketemu di
bandara." Kata Paman Eliana.
"Mbak Eliana tidak ada kegiatan siang ini, kok sempatsempatnya
datang ke sini?" Tanya Husna.
"Siang ini kebetulan kosong. Baru jam tiga nanti ada
acara ketemu sutradara." Jawab Eliana.
"Katanya Mbak mau syuting di Solo ya?"
"Iya. Eh, kapan rencana kalian pulang?"
"Nanti sore."
"Mau naik apa?"
"Awalnya sih mau naik bis. Tapi setelah dipikir-pikir
kayaknya lebih nyaman naik kereta. Karena Gambir kan
dekat dari sini. Jadi rencana naik kereta dari Gambir ke
Balapan Solo. Dari Balapan baru naik taksi ke Kartasura."
Husna menjelaskan.
"Bagaimana kalau aku ikut?"
"Mbak Eliana ikut?"
"Iya. Aku ingin melihat-lihat kota Solo dan setting yang
akan digunakan untuk syuting. Sekalian aku mau
bersilaturrahmi menemui Bude di Gemolong."
"Mbak Eliana punya Bude di Gemolong?"
"Iya. Sudah dua puluh tahun beliau di sana. Dia guru
SMP. Bagaimana aku boleh ikut?"
"Boleh saja. Iya Kak?" Ucap Husna sambil menengok
wajah kakaknya.
"Iya boleh saja. Kenapa tidak." Jawab Azzam sambil
mengangkat alisnya.
"Tapi jangan naik kereta ya. Aku sering mabuk kalau
naik kereta." Pinta Eliana.
"Lha terus naik apa? Kalau pesawat maaf kami tidak
bisa." Azzam berterus terang.
142
"Naik mobil pribadiku saja ya. Kita pakai mobil ke
Solo. Biar aku nanti juga mudah kalau mau jalan-jalan di
Solo. Bagaimana?"
"Boleh." Sahut Azzam.
"Kalau begitu kalian tunggu saja di sini sampai aku
datang. Aku ketemu sutradara cuma setengah jam. Setelah
itu aku jemput kalian. Terus kita ke rumahku sebentar.
Baru kita jalan." Terang Eliana bersemangat.
"Sebentar El, kalau menurutku tidak begitu." Pak
Marjuki mengajukan pendapat. Azzam jadi tahu kalau
Eliana juga bisa dipanggil "El".
"Nanti kalian akan terjebak macet. Sebaiknya begini.
Itu sutradara kita samperin sekarang saja. Terus kamu
pulang ke rumah berkemas. Terus ke sini lagi. Dan kirakira
jam tiga kita sudah meluncur meninggalkan kota
Jakarta ke Solo. Jadi kita berangkat lebih siang supaya tidak
terjebak macet." Lanjut Pak Marjuki memberi usul yang
menurutnya lebih baik.
"Ya benar Paman. Tapi bagaimana kalian? Siap
berangkat jam tiga?" Tanya Eliana memandang Azzam dan
Husna.
"Siap saja." Jawab Azzam singkat.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu nemui sutradara.
Jam tiga aku kemari. Kuharap kalian sudah siap."
"Insya Allah." Sahut Husna.
* * *
Sore itu tepat jam tiga Eliana menjemput dengan
Toyota Fortunernya. Eliana hanya ditemani sang paman.
Azzam dan Husna telah siap di lobby hotel. Barang-barang
dinaikkan. Azzam duduk di depan menemani Pak
Marjuki. Husna dan Eliana di belakangnya. Doa safar
dipanjatkan, mereka berempat memulai perjalanan
panjang.
143
"Kenapa tidak pakai Camry Pak?" Tanya Azzam sambil
memandang ke depan. Sesekali ia melihat kiri dan kanan.
Fortuner itu meluncur di tol dengan kecepatan di atas
seratus kilometer perjam.
"Kebetulan itu Camry sudah saatnya diservis dan
belum diservis. Kalau tadi nyervis dulu ya tidak cukup
waktunya. Dan saya lebih mantap pakai Fortuner kalau
keluar kota." Jelas Pak Marjuki.
"O iya Pak, kira-kira kita sampai di Solo pukul berapa
ya. Biar Husna sms adiknya?"
"Insya Allah, sekitar pukul empat pagi."
Sementara belakang Husna nampak asyik berdiskusi
dengan Eliana. Putri Dubes Mesir itu ternyata tahu banyak
tentang teori psikologi. Husna sangat menikmat i
berdiskusi dengan mahasiswi jebolan EHESS Prancis itu.
Di mata Husna Eliana sangat berbeda dengan artis pada
umumnya. Eliana benar-benar memiliki kelas tersendiri.
Cerdas dan berwawasan luas.
"Menurut Mbak Eliana, kenapa ada negara lebih maju
dari negara lain. Dan ada negara yang ketinggalan dari
negara lain." Tanya Husna.
"Sejarah mencatat bahwa prestasi-prestasi besar
dilahirkan oleh mereka yang hampir tidak punya waktu
untuk istirahat. Mereka yang bekerja keras dengan pikiran
cerdas. Kenapa ada negara lebih maju dari negara lain, dan
ada negara yang ketinggalan dari negara lain? Jawabannya
menurutku sederhana saja. Suatu negara lebih maju dari
negara lain karena negara itu lebih hebat kerja kerasnya
dari negara lain. Dan jika ada suatu negara ketinggalan
jauh di belakang negara lain, itu karena negara itu sangat
parah malasnya.
"Benyamin Franklin mengatakan bahwa malas adalah
pangkal kemiskinan. Sedangkan Leonardo Da Vinci
mengisyaratkan bahwa malas adalah pangkal kebodohan.
144
Da Vinci pernah mengatakan, 'Sama seperti besi yang bisa
berkarat karena jarang digunakan, maka berdiam diri bisa
merusak kesehatan.'
"Jika bangsa kita masih dikategorikan bangsa yang
ket inggalan dari bangsa lain menurutku ya karena
mayoritas penduduk kita adalah para pemalas. Lihatlah
para pelajar yang malas-malasan. Pegawai negeri yang
banyak bermalas-malasan. Aku pernah menjenguk seorang
kerabat yang sakit di sebuah rumah sakit umum di kota
S. Pelayanannya sangat buruk. Para perawat acuh tak
acuh. Ketika pasien mengerang kesakitan, para perawat itu
malah asyik nonton televisi. Jika kita bandingkan dengan
Jepang misalnya sangat jauh. Di Jepang, tidak ada kursi di
ruang perawat, apalagi televisi. Dan perawat di sana itu
malu kalau terlihat menganggur tidak melakukan apa-apa.
"Kau tahu apa yang terjadi akibat malasnya perawat
itu? Pasien lebih lambat sembuhnya. Padahal tidak sedikit
pasien yang sangat diperlukan tenaga dan pikirannya
untuk membangun negara. Misalnya kerabatku itu, dia
seorang dosen di sebuah perguruan tinggi di sana. Di kota
S. Seharusnya mungkin dia cuma dirawat di rumah sakit
selama tiga hari. Gara-gara perawatnya yang malas dan acuh
tak acuh dia harus dirawat selama lima hari. Jadi ada dua
hari yang hilang sia-sia.
"Hari adalah kumpulan waktu. Dan waktu adalah
modal paling berharga yang dimiliki oleh ummat manusia.
Dua hari yang sia-sia itu jika diproduktifkan akan sangat
besar andilnya dalam memajukan bangsa. Kita jangan
melihat waktu sia-sia dari satu orang saja. Kita bayangkan
jika yang mengalami nasib seperti kerabatku itu jumlahnya
dua juta orang dari total jumlah penduduk Indonesia. Jadi
dua kali dua juta. Berarti empat juta hari yang terbuang
sia-sia karena malas.
"Coba renungkan empat juta hari ini kalau dimanfaatkan
secara optimal akan menghasilkan apa? Oh, jadi tak
145
terbayang betapa ruginya kita karena malas. Bukan saja
kita rugi karena malasnya diri kita, tapi kita juga sering
dirugikan karena kemalasan orang lain. Ini baru kita lihat
yang terjadi di rumah sakit. Belum di pasar. Belum di jalan
raya. Belum di lembaga pendidikan. Belum di instansiinstansi
pemerintahan dan Iain-lain."
Eliana menjawab panjang lebar. Husna terperangah
dibuatnya. Husna diam sesaat lalu kembali bertanya,
"Aku punya tetangga yang menurutku sangat giat dan
rajin. Jam tiga sudah bangun untuk menyiapkan
dagangannya sampai subuh tiba. Setelah subuh dia
langsung menata dagangannya di pinggir jalan. la jualan
nasi sambel tumpang. Pukul sembilan ia selesai jualan. Lalu
pulang dan menyiapkan dagangannya yang lain. Yaitu
ayam goreng. Pukul dua siang dagangannya itu baru siap.
Ia istirahat kita-kita satu jam. Lalu jam tiga sudah mulai
membuka warungnya sampai jam sepuluh malam. Begitu
setiap hari. Tapi kenapa dia kok tetap miskin dan banyak
hutang. Ini cara menganalisanya bagaimana Mbak?"
"Menurutku begini," Jawab Eliana, "Rajin dan giat saja
tidak cukup. Ada yang lebih penting sebelum rajin dan
giat, yaitu alasan kenapa harus rajin dan giat. Ada giat yang
lebih banyak menimbulkan letih saja namun ada giat yang
melahirkan hasil luar biasa. Banyak orang tidak dapat
membedakan antara sibuk dan produktif. Mereka yang
hanya sibuk tapi tidak produktif dalam bahasa Caroline
Donnelly adalah ibarat kincir angin berwujud manusia.
Bekerja keras tapi sedikit hasilnya."
Mobil itu terus melaju kencang meninggalkan kota
Jakarta. Terbersit dalam benak Husna jika gadis yang ada
di sampingnya itu berjilbab dan pikiran cerdasnya
digunakan untuk membel a agama Allah alangkah
dahsyatnya. Ia berdoa kepada Allah semoga suatu saat nanti
hal itu benar-benar terjadi.
* * *
146
Sebelum sulur cahaya fajar mekar, Toyota Fortuner itu
sudah sampai Tugu Kartasura. Jalanan masih sepi dan
lengang. Hanya sesekali satu dua mobil dan bus Sumber
Kencono melesat memecah keheningan. Fortuner itu
mengambil jalan ke kanan, ke arah Jogja, melaju dengan
tenang. Sebelum sampai markas Kopasus belok kanan
masuk dukuh Sraten yang masuk dalam wilayah Pucangan,
Kartasura.
Rumah-rumah masih rapat menutup pintu dan
jendelanya. Hanya beberapa rumah saja yang sudah
membuka pintunya tanda sang penghuninya sudah siap
beraktifitas. Mereka yang telah membuka pintu di hari
masih gelap seperti itu biasanya adalah para bakul yang
harus sampai di pasar sebelum subuh tiba. Kecuali sebuah
rumah tak begitu jauh dari masjid Al Mannar. Itu adalah
rumah kelahiran Khairul Azzam. Sejak jam tiga Lia dan
147
BERTEMU IBU
9
MR. Collection's
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
a
ibunya telah bangun dan menyiapkan segalanya menyambut
kepulangan Azzam.
Hati Azzam bergetar. Rumahnya masih seratus meter lagi,
tapi ia seperti telah mencium bau wangi ibunya. Ibu yang
sangat dicintainya, telah sembilan tahun berpisah lamanya.
Matanya basah. Diujung dua matanya air matanya meleleh.
Saat cahaya fajar perlahan mulai mekar, fajar keharuan
luar biasa mekar di hati Azzam. Fortuner itu berhenti di
halaman rumahnya. Bu Nafis dan Lia sudah berdiri di
beranda. Azzam turun dengan derai air mata yang tak bisa
ditahannya.
"Bue...!"
Ia bergegas mencium tangan ibunya lalu memeluk
ibunya penuh cinta. Tangis bahagia Azzam tak tertahan
lagi. Tangis pertemuan seorang anak dengan orang yang
telah melahirkan, merawat dan mengajarkannya kebaikan,
setelah sekian tahun lamanya ditinggal pergi.
Ibunya juga menangis bersedu-sedan. Tangis kerinduan
yang memuncak dan tertahan ber tahun-tahun
lamanya. Azzam sesengukan dalam pelukan ibunya. Lia,
Husna, Eliana bahkan Pak Marjuki menitikkan air mata.
"Kau akhirnya pulang juga Nak."
"Iya Bu."
"Kau kurus Nak."
"Tidak apa-apa Bu. Alhamdulillah Azzam sehat."
"Iya Alhamdulillah."
Azan subuh memecah keheningan. Sesaat lamanya
Azzam berpelukan dengan ibunya. Setelah cukup lama,
ia melepaskan pelukan ibunya dan memeluk Lia dengan
penuh kasih sayang. Lia tak kuasa menahan tangis. Air
mata Azzam terus mengalir.
"Kau sudah besar Dik." Ujar Azzam sambil menatap
wajah Lia yang basah dengan air mata.
148
Lia hanya mengangguk. Karena keharuan luar biasa
Lia tidak mampu berkata-kata. Setelah mencium ubunubun
kepala adiknya yang dibalut jilbab biru tua Azzam
melepas pelukannya. Husna dan Eliana menyalami dan
mencium tangan Bu Nafis. Sementara Azzam dan Pak
Marjuki menurunkan barang-barang.
Mereka semua lalu masuk ke dalam rumah. Azzam
mengamat-amati keadaan rumahnya dengan hati penuh
bahagia. Tak ada yang berubah, masih seperti semula saat
sembilan tahun lalu ia tinggalkan. Hanya saja rumah itu
semakin tampak kusam dan tua.
"Inilah rumah kami Mbak Eliana. Rumah orang desa,
gubuk reot, tak seperti rumah orang kota." Kata Husna.
Ketika Husna menyebut Eliana, Bu Nafisah mendongakkan
kepala. Ia baru sadar kalau yang ada di hadapannya
adalah Eliana yang terkenal itu. Sejak jam tiga konsentrasinya
hanyalah pada Azzam saja.
"Jadi ini tho yang namanya Eliana. Masya Allah, terima
kasih ya Nak sudi mampir ke gubug reot ini." Kata Bu Nafis.
"Iya Bu, saya Eliana. Keluarga saya biasa memanggi
saya El. Mm... kebetulan dari Cairo saya bareng sama Mas
Irul. Iya di Cairo ia lebih dikenal dengan sebutan Irul atau
Khairul. Terus kemarin kok ya di Graha Bhakti Budaya
bertemu lagi. Saya sangat terhenyak ternyata salah seorang
peraih penghargaan bergengsi itu Husna, adiknya Mas Irul.
Terus saya punya agenda ke Solo. Akhirnya ya bareng saja
kan lebih enak. Oh ya kenalkan ini paman saya. Pak
Marjuki Abbas namanya." Jelas Eliana tenang.
Lia keluar membawa nampan berisi wedang jahe.
Husna membantu meletakkan wedang jahe itu ke meja.
Lia masuk lagi dan mengeluarkan mendoan hangat dan
tape goreng hangat.
"Wah, ini pas sekali. Yang seperti ini nih yang saya
kangeni." Ujar Pak Marjuki.
149
"Iya Pak monggo, silakan. Ya namanya juga kampung.
Adanya ya cuma makanan seperti ini." Sahut Bu Nafis.
"Agenda apa di Solo Mbak, kalau boleh tahu?" Tanya
Lia pada Eliana.
"Pertama ingin melihat-lihat kota Solo. Saya kan belum
pernah ke Solo. Kalau paman ini sudah hafal. Lha dulu
SMA dia di Solo. Lebih spesifik lagi saya ingin melihat
tempat untuk shuting. Kedua saya punya Bude di daerah
Gemolong. Saya ingin bersilaturrahmi ke rumah Bude.
Sebab belum sekalipun saya bersilaturrahmi ke sana.
Padahal Bude dan anak-anaknya sudah beberapa kali ke
Jakarta. Ya alhamdulillah saya juga bersilaturrahmi ke
rumahnya Mas Irul ini." Jelas Eliana.
"Oh ya Mbak. Mumpung bertemu saya mau klarifikasi
langsung saja. Saat ini penduduk di kampung ini sedang
geger Iho Mbak. Ini gara-gara wawancara Mbak dengan
para wartawan di bandara itu Iho. Wawancara itu kan
diputar berulang-ulang di hampir semua televisi swasta.
Di situ Mbak kan bilang pria paling dekat dengan Mbak
adalah Mas Khairul Azzam. Opini yang berkembang di
masyarakat adalah Mas Azzam itu pacarnya Mbak. Apa
benar itu Mbak?" Tanya Lia dengan ceplas-ceplos dan
gamblang.
Eliana tersenyum. la memandang Azzam yang duduk
agak di dekat dengan pintu.
"Tanya aja sama dia. Kalau dia ngaku pacar saya ya
bagaimana lagi. Kalau tidak ya bagaimana lagi." Jawab
Eliana diplomatis sambil memberi isyarat ke arah Azzam.
Azzam diam saja.
"Bagaimana Kak sesungguhnya?" Desak Lia pada
Azzam.
"Ah kayak begitu kok dibahas. Ya mudahnya begini
saja. Saat di wawancara itu nggak apa-apalah saya ini
pacarnya Eliana. Ya hitung-hitung saya sedekah menjaga
150
nama baik dalam tanda petik pamor Eliana. Kan di dunia
artis itu seolah-olah aib kalau tidak punya pacar. Kayaknya
kok tidak laku begitu. Jadi saya ini ya bemper lah saat itu.
Kalau di luar wawancara ya biasa saja. Tidak ada hubungan
apa-apa. Kamu apa tidak lihat tho Dik, apa sudah gila Eliana
punya pacar kayak saya. Artis-artis atau pengusaha yang
ganteng-ganteng dan kaya kan masih banyak." Azzam
menjelaskan dengan tenang.
"Ah Mas Irul, jangan segitunya merendah tho Mas.
jujur ya saat di bandara itu memang saya menjawab
pertanyaan wartawan asal saja. Habis bagaimana, kan saat
itu masih lelah. Pusing amat dengan wartawan. Tapi
sesungguhnya saya melihat ada sesuatu dalam diri Mas
Irul yang saya kagumi Mas. Jujur saya ini sedang dalam
proses mencari makna hidup. Dan saya paham hidup tidak
mungkin sendirian terus. Pendamping hidup itu penting.
Saya sedang mencari, terus terang pendamping hidup yang
bisa saya ajak hidup sampai tua. Saya, jujur, sudah bosan
bergonta-ganti pacar. Sudah saatnya saya mencari
pasangan hidup, atau belahan jiwa. Bukan pacar. Maka
dalam wawancara kemarin saya tidak menyebut pacar. "
Eliana menjelaskan pandangannya sedikit tentang apa yang
sedang ia cari.
Iqamat dikumandangkan. Azzam mengajak Pak
Marjuki ke masjid. Husna mempersi lakan Eliana
mengambil air wudhu. Sementara Bu Nafis masih duduk
menikmati rasa bahagianya. Ia merasakan kebahagiaan
yang tidak bisa dihargai dengan seluruh isi dunia sekalipun.
Kebahagiaan itu adalah kebahagiaan kembalinya Azzam
setelah sembilan tahun tak pernah bertemu kecuali lewat
surat, mimpi dan telepon.
* _ *
Pagi seperti bergetar. Selesai shalat subuh puluhan
tetangga berdatangan. Awalnya ibu-ibu dan bapak-bapak
jamaah subuh masjid Al Mannar. Tak lama kemudian para
151
tetangga yang tidak shalat subuh berjamaah. Kabar Azzam
telah pulang langsung menyebar. Dan kabar Eliana yang
mengantar Azzam membuat pagi itu seperti bergetar.
Puluhan orang ingin membuktikan dengan mata dan
kepala sendiri bahwa kabar itu benar. Banyak ibu muda
yang datang bukan semata karena menjenguk Azzam yang
pulang. Tapi karena ingin bertemu dan berfoto bareng
Eliana.
Sebenarnya, selesai shalat Subuh Eliana langsung ingin
jalan. Tapi Bu Nafisah menahan, "Ibu tidak ridha kalau
pergi sebelum mandi di rumah ini dan belum sarapan di
sini." Akhirnya Eliana mengalah. Ia akhirnya terpaksa
mandi dan sarapan di rumah Azzam. Eliana ganti pakaian
di kamar Husna. Kamar yang sederhana. Tapi rapi, bersih
menebar rasa cinta siapa saja yang masuk ke dalamnya.
Meskipun sederhana tapi kamar itu membuat betah siapa
saja yang memasukinya. Demikian juga Eliana.
"Ini kamar penulis besar." Desis Eliana pada dirinya
sendiri. Ia jadi merasa malu pada Husna. Ia merasa hanya
menang popularitas dan mungkin menang cantik belaka.
Ia belum memiliki karya buah pikiran dan tangannya.
Sementara Husna sudah melahirkan puluhan cerpen. Di
rumah Azzam ia seperti melihat dunia dari sisi yang lain.
Ia melihat rumah Azzam adalah rumah prestasi. Dan
rumah prestasi tidak harus mewah dan megah.
Ketika para tetangga berdatangan dan kaum lelakinya
merangkul Azzam dengan penuh haru dan penuh kasih
sayang, Eliana diam-diam iri pada Azzam. Iri pada ikatan
persaudaraan yang sedemikian kuatnya di kampung itu.
Itu yang tidak ia dapat i di lingkungan perumahan
mewahnya di Jakarta. Tak ada yang peduli ia mau apa,
dari mana dan sedang apa. Tak ada yang peduli ia sedih
atau bahagia.
Tapi di sini, kepulangan Azzam tidak hanya milik
keluarganya yang telah menunggu sekian tahun lamanya.
152
Bukan hanya kebahagiaan dan haru keluarga ibu Nafis saja,
melainkan kebahagiaan seluruh masyarakat sekitar rumah
Azzam. Azzam adalah bagian dari mereka. Cara hidup
yang penuh persaudaraan seperti itulah yang sebenarnya
didambakan Eliana.
Pagi itu, orang-orang silih berganti berdatangan ke
rumah Azzam. Tidak hanya rasa haru dan bahagia yang
mereka rasakan. Ada sedikit rasa penasaran di hat i
mereka. Mereka selalu menanyakan kabar Azzam dan
seseorang yang menyertainya saat keluar dari bandara,
yaitu Eliana. Jadilah Eliana menemani Azzam menemui
para tetangganya. Husna ikut menemani. Sementara Bu
Nafis dan Lia sibuk membuat minuman dan menyiapkan
sarapan. Pak Marjuki minta diri tidur di kamar Azzam.
Semalam suntuk dia tidak tidur. la mengendarai mobil
kira-kira dua belas jam. Tiap tiga jam istirahat. Begitu terus
sampai akhirnya sampai Solo. Maka selepas dari masjid
ia langsung tidur.
"Maaf Mbak Eliana, saya pengagum Mbak lho.
Sinetron Dewi-dewi Cinta tak pernah saya lewatkan. Kalau
boleh tahu kapan rencana pernikahan Mbak Eliana dengan
Mas Azzam?" Seorang perempuan muda dengan mata
berbinar-binar. Perempuan itu seolah tidak percaya kalau
Eliana ada di hadapannya.
Mendengar pertanyaan itu Eliana dan Azzam berpandang-
pandangan. Azzam mengangkat kedua bahunya
dan berekspresi yang mengisyaratkan ia tidak tahu
jawabannya, ia minta Eliana saja yang menjawab. Eliana
sendiri bingung harus bagaimana menjawabnya. Husna
tahu kebingungan dua orang itu, maka ia mencoba
membantu dengan berkata,
"Ya ini kan baru ikhtiar Mbak. Belum final. Kalau jodoh
ya pasti akan ditemukan Allah. Pokoknya jangan khawatir
nanti kalau Mas Azzam menikah Mbak kami beri tahu
dan kami undang."
153
Eliana langsung menimpal i kata-kata Husna itu
dengan mengatakan, "Iya benar." Perempuan muda itu
lalu minta foto bareng Eliana dan Azzam. Ia juga minta
tanda tangan di buku agendanya. Lalu pergi dengan rasa
puas di hati.
* _ *
Jam sembilan sarapan siap. Bu Nafis dan Lia menghidangkan
nasi rojolele yang pulen wangi. Lauknya pecel,
rempeyek, tempe goreng, lele goreng dan ______15 goreng
yang renyah.
"Mbak Eliana, ini ______ asli waduk Cengklik. Sangat
gurih rasanya. Sangat pas untuk laut pecel. Coba rasakan
pasti nanti ketagihan." ujar Lia sambil menuang teh ke
dalam cangkir.
Eliana tersenyum. Aroma nasi rojolele itu membuat
nafsu makannya terbit. Pak Marjuki yang lebih duluan
mengambil dan menikmati nasi pecel dan ______ goreng
langsung menikmati.
"Wah kalau ini benar-benar beda. Uenak betul!"
Bu Nafis tersenyum mendengarnya. Eliana mengambil
nasi, pecel, _______ dan tempe. Suapan pertama ia langsung
mengacungkan jempol pada Lia. Azzam paling banyak
mengambil nasi. Ia sangat rindu dengan masakan ibunya.
Rasanya ia ingin menghabiskan semua itu sendirian saja.
Azzam makan dengan sangat lahap seperti orang
kelaparan.
"Wah yang paling menikmati kayaknya Mas Irul ini."
Ucap Eliana sambil mengunyah ______ gorengnya.
"Mm... iya, soalnya ini masakan ada bumbu cinta dan
rindunya. Jadi sangat nikmat ." Jawab Azzam sambil
mencomot tempe goreng di depannya.
15 Cethol adalah sebutan untuk ikan kecil-kecil sebesar jari kelingking atau jari
telunjuk tapi bukan ikan __. ___k ditemukan di waduk Cengklik, _____.
154
Di tengah-tengah asyiknya sarapan, sebuah sedan
datang dan parkir di belakang mobil Fortuner. Melihat
mobil itu Husna langsung berseru,
"Itu Anna datang!"
Mendengar nama Anna, dada Azzam sedikit bergetar.
Entah kenapa. Meskipun ia tidak yakin kalau yang datang
Anna Althafunnisa. Maka Azzam langsung bertanya pada
adiknya, "Anna siapa?"
"Anna Althafunnisa. Dia mahasiswi Cairo. Mungkin
kakak kenal."
"Ya. Aku kenal." Sahut Azzam menahan getar di
hatinya. Tiba-tiba ia teringat lamarannya untuk Anna yang
ia sampaikan lewat Ustadz Mujab ditolak. Bukan ditolak
oleh Anna, tapi ditolak Ustadz Mujab karena Anna sudah
dilamar oleh Furqan, sahabatnya sendiri. Memang apa
yang dilakukan Ustadz Mujab benar. Sebab seorang
muslim tidak boleh melamar seseorang yang telah dilamar
oleh saudaranya.
"Wah kok kebetulan ya. Orang-orang Cairo pada
ngumpul di sini. Aku dengar Anna sudah mau menikah
dengan Furqan ya?" Kata Eliana sambil memandang Azzam.
"Aku tak tahu pasti. Coba saja nanti kita tanya." Jawab
Azzam.
Anna melangkah ke beranda. Husna berdiri menyongsongnya.
"Assalamu'alaikum." Suara Anna menimbulkan
desiran halus dalam hati Azzam. Azzam berusaha kuat
melawannya.
"Wa'alaikumussalam. Mbak Anna, kebetulan kami
sedang sarapan ayo masuk. Kok pas banget. Ayo silakan!"
Jawab Husna ramah.
Semua kursi sudah terisi. Husna member ikan
kursinya pada Anna. Ia lalu pergi ke belakang mengambil
kursi plastik di dapur.
155
"Ini Eliana, putri Pak Dubes kan?" Tanya Anna pada
Eliana. Ia kaget, ada apa gerangan seorang putri Dubes
sampai ke rumah Husna.
"Iya benar. Wah surprise kita bisa bertemu di sini.
Rumah Anna dekat dari sini?"
"Mungkin sekitar empat belas kilo dari sini."
"Wah selamat ya. Di Cairo sudah beredar kabar kamu
tunangan sama Furqan. Itu benar kan ya?"
"Iya benar. Kami memang sudah tunangan. Mohon
doanya. Akad nikah insya Allah awal bulan depan." Jelas
Anna pada Eliana. Ia belum sadar kalau di sebelahnya itu
adalah Azzam atau yang ia kenal dengan nama Abdullah.
Karena pusat perhatiannya tertuju pada Eliana. Sementara
Azzam mendengar penjelasan itu dengan hati yang
ditabah-tabahkan.
"Wah sudah dekat ya. Tinggal dua minggu lagi dong."
Timpal Lia.
"Iya. Mohon doanya."
"Mbak Anna, ini Azzam kakakku yang aku ceritakan
itu. Bagaimana tidak kenal juga?" Husna mengenalkan
Azzam pada Anna. Anna memandang Azzam, Azzam
memandang Anna. Saat pandangan keduanya bertemu,
Anna kaget, benarkah ini orangnya? Kakaknya Husna?
Anna berusaha menyembunyikan kekagetannya. Keduanya
lalu menunduk. Anna teringat dengan pemuda
bernama Abdullah yang menolongnya saat ia dan Erna
belanja kitab ke Sayyeda Zaenab. Dompet Erna kecopetan.
Ia berusaha mengejar copet sampai lupa dengan kitabnya.
Kitabnya tertinggal di bis. Ia kehabisan uang. Lalu seorang
mahasiswa yang naik taksi menolongnya. Bahkan meminta
sopir taksi mengejar bis. Dan akhirnya ia mendapatkan
kembal i kitab-kitab yang baru dibelinya. Ia sempat
menanyakan nama pemuda itu. Dan pemuda itu
menjawab namanya Abdullah. Ia tidak bisa melupakan
156
wajah pemuda baik itu. Wajah pemuda itu sama persis
dengan pemuda yang kini duduk tak jauh darinya.
Bukankah ini Abdullah itu? Pikirnya. la yakin, tak
mungkin salah lagi, pemuda yang duduk tak jauh darinya
adalah Abdullah yang dulu menolongnya.
Hati Anna hampir-hampir terkoyak. Seseorang yang
pernah ia harapkan, kini benar-benar ada di pelupuk kedua
matanya. Tak pernah terpikirkan sedikitpun bahwa suatu
saat ia akan bertemu dengannya. Perasaan Anna yang
sudah benar-benar terpendam jauh semenjak lamaran
Furqan diterima, hampir muncul kepermukaan. Hampirhampir
ia tak kuasa menahan perasaannya itu. Namun ia
segera mengukuhkan hatinya untuk orang yang telah resmi
menjadi tunangannya, yaitu Furqan. Ia beristighfar.
Ia harus meneguhkan diri, bahwa lamaran Furqan
telah diterima, dua keluarga telah mempersiapkan
segalanya, dan akad nikah akan dilangsungkan segera.
Inilah kenyataan yang harus ia syukuri. Ia harus bisa
melawan keinginan semunya yang telah lampau. Ia juga
harus membuang jauh perasannya.Perasaan yang hanya
akan membuatnya gamang. Boleh jadi perasaan itu
sebenarnya hanyalah godaan setan kepada orang yang akan
mengikuti sunnah rasul, yaitu membangun rumah tangga
sesuai tuntunan syariat yang mulia.
Anna kembali menenangkan hatinya dan bersiap untuk
menjawab per tanyaan Husna. Namun Eliana malah
mendahulinya dengan kalimat yang bernada mencercanya,
"Ah masak Mbak Anna tidak kenal sama Mas Khairul
Azzam. Mahasiswa Indonesia di Cairo, saya yakin sebagian
besar mengenalnya. Dikenal sebagai pembuat tempe dan
bakso. Ah yang benar saja Mbak Anna!"
"Namanya penjual tempe itu tidak akan masuk dalam
kamus elit mahasiswa. Penjual tempe juga tidak perlu
dikenal sosoknya, yang penting dikenal tempenya enak."
Sambung Azzam santai sambil promosi tempenya.
157
"Wah, iya bener juga. Itu kalimat yang indah lho Mas.
Penjual tempe tidak perlu dikenal sosoknya yang penting
dikenal tempenya enak." Husna mengapresiasi kalimat
kakaknya.
Anna merasa tidak enak hati, seolah ia tidak mau
mengenal mahasiswa yang pangkatnya jualan tempe. Maka
ia pun angkat bicara,
"Maaf, bukannya saya tidak kenal. Kemarin waktu
kenalan sama Mbak Husna, yang disebut adalah Azzam.
Katanya jualan tempe. Terus saya bilang kalau Azzam saya
tidak kenal. Saya mengenal beberapa nama penjual tempe.
Saat itu saya sebut beberapa nama yaitu Rio, Budi, dan
Muhandis atau Irul. Saya jelaskan yang paling senior adalah
Muhandis. Saya tidak tahu kalau Muhandis atau Irul itu
sebenarnya adalah Mas Azzam. Dan kalau tidak salah saya
pernah kenalan dengan Mas Azzam saat pulang dari
Sayyeda Zaenab. Saat itu temanku Erna kecopetan di bis.
Aku berusaha mengejar copetnya yang menyebabkan
kitabku ketinggalan. Mas Azzam membantu mengejarkan
bus yang membawa kitabku itu akhirnya ketemu. Dan
saat itu Mas Azzam mengaku namanya Abdullah. Coba
jika saat itu mengaku bernama Khairul Azzam."
Azzam tersenyum. Ia pun jadi ingat kejadian yang
nyaris ia lupakan. Ia memang pernah menolong Anna. Saat
itu pun ia belum tahu namanya. Anna memakai jilbab biru
seingatnya. Dan ia memang mengaku bernama Abdullah.
Sebab nama panjangnya sebenarnya ketika kecil adalah
Abdullah Khairul Azzam.
"Yang disampaikan Anna benar. Saya memang dikenal
dengan nama Muhandis atau Irul, atau Muhandis Irul.
Hanya orang-orang dekat saja yang memanggil saya Azzam.
Hampir seluruh mahasiswa mengenal saya sebagai Irul.
Terus saya memang sering berkenalan dengan orang
memakai nama Abdullah. Itu nama depan saya. Alhamdulillah,
yang penting bisa ketemu di sini, iya kan? Oh ya,
158
bagaimana kabar Furqan? Apa jadi lanjut S3?" Di ujung
kal imatnya Azzam memandang Anna sekilas. Anna
mendongakkan kepalanya.
"Alhamdulillah, dia baik. Ya insya Allah dia mau lanjut
S3. Nanti datang ya di acara pernikahan." Jawabnya.
"Insya Allah, kalau tidak ada halangan."
"Oh ya Mbak Eliana sama Mas Azzam, kapan kalian
menikah? Aku lihat di televisi kemarin katanya kalian
pacaran!?" Anna memandang ke arah Eliana.
"Aduh kasihan Mas Irul..." Kata Eliana yang langsung
diputus Anna, "Lho memanggilnya Irul kan bukan Azzam.
Sebab di Cairo memang dikenal dengan nama Irul. Maaf
Mbak saya potong."
"Iya jadi kasihan Mas Irul. Semua orang nanti akan
nanya dia begitu. Jujur saja sebenarnya itu murni ulah saya.
Begitu sampai di bandara saya diberondong pertanyaan
sama wartawan ya saja jawab sekenanya. Sebenarnya jujur
saja saya tidak ada apa-apa dengan Mas Irul. Ya hanya kenal
biasa. Kecuali, ya kecuali kalau Mas Irul berani minta saya
sebagai calon isterinya! He... he... he..."
Semua yang ada di ruangan itu tersenyum mendengar
perkataan Eliana. Azzam tidak mau kalah begitu saja, ia
langsung angkat suara,
"Ah Mbak Eliana bisa saja candanya. Nanti kalau saya
lamar betulan terus kayak Rorojongrang dilamar Prabu
Bondowoso, gimana? Karena saya buruk rupa tidak sesuai
dengan standar yang diinginkan lalu disyaratkan membuat
seribu candi dalam waktu semalam agar dengan sendirinya
sama saja mundur teratur. Iya tho?"
Dengan nada bercanda Eliana menjawab, "Iya!"
Husna menimbal, "Hayoh kapokmu kapan."16
1_ Hayoh jeramu kapan.
159
Matahari semakin tinggi. Sinarnya semakin panas
menyengat. Satu dua orang masih berdatangan menjenguk
Azzam yang pulang. Tepat pukul sepuluh Eliana pamitan.
Demikian juga Anna Althafunnisa. Sebelum Eliana dan
Anna pergi, Lia minta agar foto bersama.
Anna pergi duluan sebab mobilnya tepat di belakang
mobil Eliana. Anna melambaikan tangan dengan senyum
mengembang. Kepada Azzam ia menganggukkan
kepala. Azzam kembali merasakan desiran halus dalam
hatinya.
"Mas Azzam selamat ya sudah berada di tengah-tengah
keluarga." Kata Eliana.
"Terima kasih ya atas tumpangannya." Jawab Azzam.
"Sama-sama."
"Ini langsung ke Gemolong?"
"Tidak. Kami mau check in hotel dulu."
"Rencana menginap di mana?"
"Di Novotel. Mungkin nanti sore jalan-jalan keliling
kota Solo. Besok baru ke Gemolong. Kata Pak Marjuki
tidak jauh."
"Selamat jalan ya Nak. Hati-hati. Kalau ada waktu
mampir lagi kemari." Kata Bu Nafis yang berdiri di
samping Azzam.
"Iya Bu. Terima kasih atas pecelnya. Sungguh, enak."
Jawab Eliana sambil masuk mobil. Sejurus kemudian
mobil itu telah berjalan meninggalkan halaman.
"Dua gadis yang sama-sama cantik." Ujar Lia lirih.
"Siapa?" Tanya Husna.
"Ya Anna sama Elianalah. Mbak kira siapa?"
"Aku sama kamu."
"Ih geernya. Memang Mbak cantik?"
"Apa Mbak tidak cantik?"
160
Mendengar percakapan dua adiknya itu Azzam
langsung menengahi,
"Sudah ayo masuk. Kalian berdua cantik. Di mata
kakak, kalian berdua lebih cantik dari mereka berdua.
Kakak ada oleh-oleh buat kalian. Kakak belikan kalian
jilbab Turki dari sutera. Ayo kita lihat."
"Ayo." Sahut Lia dan Husna nyaris bersamaan dengan
senyum mengembang.
Mereka kembali masuk rumah. Angin bertiup dari
Timur ke Barat menggoyang daun-daun pohon mangga
yang mulai berbunga di depan rumah. Bunga matahari di
dekat jalan bergoyang-goyang indah. Bu Nafis sudah
mengambil air wudhu untuk shalat Dhuha. Tak lama
kemudian perempuan yang rambutnya sudah memerak
sebagian itu larut dalam sujud kepada Tuhan Yang Maha
Pengasih dan Penyayang. Bertasbih dan bertahmid atas
pulangnya sang putra kesayangan.
161
* * *
10
BELAJAR DARI JALAN
Azzam tidak perlu waktu lama untuk menyatu dengan
masyarakat. Tujuh hari di rumah ia telah kembali akrab
dengan hampir semua orang di kampungnya. Ia menyatu
dengan mereka. Tak ada jarak antara dirinya dan mereka
Ia tidak pernah merasa berbeda dengan mereka. Tidak
sedikitpun terbersit dalam hatinya bahwa ia adalah seorang
mahasiswa dari Mesir yang lebih baik dari mereka. Azzam
merasa ia sama dengan mereka. Profesinya tidaklah
berbeda dengan orang-orang di sekelilingnya.
Hikmah yang ia dapat dari bertahun-tahun jualan
tempe dan bakso adalah bahwa ia merasa hanyalah seorang
penjual tempe yang tidak boleh merasa lebih atau lebih
baik dari orang lain. Kang Jarwo yang jualan ketoprak
keliling. Kang Birin yang buka salon pangkas rambut di
pojok pasar Kartasuro. Pak Huri yang buka bengkel motor
di depan STAIN. Semua ia anggap sama bahkan lebih baik
162
MR. Collection's
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
a
dari dirinya. Mereka ia anggap lebiKmemiliki pengalaman
hidup.
Juga Kang Paimo yang waktu kecil dulu sering
bermain gobak sodor dengannya kini menjadi sopir truk.
la merasa dirinya dengan Kang Paimo sama saja. Kang
Paimo sering ke luar kota. Paling sering ke Jakarta. Ia
pernah jadi sopir truk ikan di Demak. Majikannya seorang
juragan ikan.
Pernah suatu malam, sambil minum kopi panas di
gardu ronda Azzam mendengarkan cerita Kang Paimo.
Ada empat orang yang ronda malam itu Kang Paim
Kang Qadir, Si Badrun dan Azzam. Kang Paimo bercerita
dengan penuh semangat. Sementara Azzam, Kang Qadir,
dan Si Badrun diam mendengarkan dengan seksama.
"Zam, kamu tahu nggak sopir yang benar-benar sopir
adalah sopir truk ikan. Kalau orang belum pernah jadi sopir
truk ikan belum menjadi sopir sejati. Orang yang pernah
jadi sopir truk ikan berarti ia pernah jadi raja jalanan.
Bayangkan Zam, dulu tiga tahun jadi sopir truk ikan. Tiga
kali aku kecelakaan, tapi alhamdulillah selalu selamat."
"Apa hebatnya sopir truk ikan Kang?" Tanya Azzam.
Kang Paimo menjawab,
"Hebatnya, sopir truk ikan itu harus selalu cepat dan
ngebut sepanjang jalan. Harus selalu mendahului dan
menyalip mobil lain. Jalan raya ibarat medan lomba
balapan. Dan sopir truk ikan harus menang. Sebab
mengejar waktu. Bayangkan saya dulu jadi sopir truk ikan
milik juragan ikan di Demak. Saya berangkat dari Demak
habis shalat maghrib dan harus sampai Pasar Minggu
Jakarta pukul tiga pagi. Tidak boleh terlambat. Kalau
lerlambat ikannya bisa layu, tidak segar lagi, dan para
pembeli sudah pada pergi. Sepanjang jalan itu saya ngebut.
Selalu tancap gas. Belok sekalipun saya tetap tancap gas.
Dan itu memerlukan nyali yang besar. Saya harus jadi raja
163
o,
di jalan. Jika ada mobil di depan saya harus membuatnya
minggir. Saya per intah minggir dengan lampu dan
klakson. Bus jurusan Surabaya-Jakarta saja kalau lihat truk
saya pasti minggir!
"Dulu saat masih megang truk ikan, saya sering
ditemani minuman. Agar berani tancap gas terus ya harus
dibantu minum. Dengan setengah mabuk saya merasa
melayang tidak takut apa-apa! Itu dulu. Untung Gusti
Allah masih sayang pada saya. Tiga kali kecelakaan saya,
dan itu karena kondisi saya benar-benar mabuk. Tidak
lagi setengah mabuk. Tiga kali kecelakaan dan saya
selamat. Yang dua kali menghantam pohon asam di
Pemalang. Yang sekali masuk sawah di Brebes. ______ dulillah saya selamat. Akhirnya saya insyaf. Saya cari
kerjaan lain. Susah! Tidak dapat-dapat. Saya pengangguran
setengah tahun. Lalu saya nekad jual tanah warisan
untuk beli truk. Ya truk itulah sekarang yang jadi andalan
saya. Alhamdulillah tiap minggu selalu ada order kirim
barang."
Azzam akrab dengan siapa saja. Karena akrab dengan
Kang Paimo, ia ditawari belajar mengendarai truk. la
sambut tawaran itu dengan penuh antusias. Kepada tokoh
masyarakat ia sangat hormat. Ia sangat dekat dengan Pak
Mahbub, teman seperjuangan ayahnya dulu saat merintis
pendirian Masjid Al Mannar. Kini Pak Mahbub jadi ketua
takmir sekaligus imam masjidnya. Setiap kali shalat
berjamaah dan ia diminta Pak Mahbub menjadi imam.
Tapi ia menolak. Ia merasa Pak Mahbub lebih berhak dan
layak. Kecuali kalau Pak Mahbub tidak ada dan jamaah
memaksanya maka ia baru maju ke depan.
Karena tidak banyak yang dikerjakannya ia merencanakan
mau berwirausaha. Ia mau mencoba membuka
warung bakso. Ia telah mengelilingi Kartasura dan Solo
mencari tempat yang tepat untuk membuka usahanya.
Yang berjualan bakso telah banyak jumlahnya. Namun ia
164
yakin akan jaya usahanya. Ia yakin dengan inovasi ia akan
mampu meraih pelanggan sebanyak-banyaknya.
Namun setelah ia pikir dengan seksama lebih baik
memulai usaha itu setelah ia benar-benar cukup menguasai
medan. Ia harus lebih matang melakukan penelitian.
Dengan penelitian yang mendalam ia akan mampu melihat
peluang-peluang bisnis yang lain.
* * *
Hari menjelang petang. Azzam baru pulang dari
Pabelan. Ia baru saja mengakses internet untuk membuka
emailnya. Persis seperti yang ia perkirakan. Dua hari lagi
kontainer Pak Amrun Zeinu datang. Sebelum pulang ke
Indonesia, ia telah membuat kesepakatan bisnis bahwa ia
akan menjadi penanggung jawab pendistribusian bukubuku
mahasiswa Indonesia yang dikirim lewat Pak Amrun.
Ia bertanggung jawab untuk wilayah Jawa Tengah, Jogja
dan Jawa Timur.
Dari email yang ia baca, ia harus mengirim buku ke
tiga puluh satu alamat. Sore itu setelah mandi ia langsung
ke masjid. Habis shalat ia langsung ke rumah Kang Paimo.
la mengajak Kang Paimo ke Jakarta untuk mengambil dua
ratus sepuluh kardus berisi buku dan kitab, dua hari lagi.
Lalu mengantarkannya ke tigapuluh satu alamat. Kang
Paimo sangat bahagia mendapat tawaran Azzam. Apalagi
Azzam membayarnya dengan profesional.
Dan benar. Dua hari berikutnya Azzam bersiap untuk
pergi ke Jakarta. Kepada ibu dan adik-adiknya Azzam pamit
untuk empat hari lamanya. Kang Paimo datang menjemput
Azzam dengan ditemani Si Kamdun. Si Kamdun adalah
teman kerja Kang Paimo yang paling giat dan andal. Si
Kamdun juga bisa mengendarai truk, sehingga apabila Kang
Paimo capek Si Kamdun bisa menggantikannya.
Mereka bertiga berangkat selepas shalat Ashar. Kang
Paimo mengemudikan truknya sambil memberi pengara-
165
han kepada Azzam cara mengendarai mobil yang baik.
Azzam yang sudah beberapa kali berlatih semakin paham.
"Yang penting praktik bukan teori Zam. Nanti suatu
ketika ada kesempatan kau harus praktik langsung." Kata
Kang Paimo.
Azzam menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Kang Paimo mengendarai truk itu dengan kecepatan
sedang. Karena jalan dari Solo ke Jakarta cukup padat.
Banyak sekali bus yang beriringan menuju Jakarta. Ketika
truk sampai di Batang, Kang Paimo minta Si Kamdun
gantian yang duduk di kursi sopir. Truk melaju delapan
puluh kilometer perjam. Sampai di Indramayu istirahat
di sebuah warung kopi setengah jam. Lalu berjalan lagi.
Gantian Kang Paimo yang mengemudi. Kali ini Kang Paimo
mengemudi dengan kecepatan tinggi seperti orang
kesetanan.
"Kang tidak usah ngebut! Ini bukan truk ikan!" Protes
Azzam
"Oke Zam. Sorry." Sahut Kang Paimo sambil
mengurangi gasnya.
Truk itu sampai di rumah Pak Amrun pukul enam
pagi. Dua ratus sepuluh kardus ukuran kecil dan besar
dinaikkan. Sebelum menata ratusan kardus buku itu Kang
Paimo minta daftar alamat yang akan dikirim. la berkata
kepada Azzam
"Mana Zam alamat-alamatnya?"
Azzam lalu menyerahkan daftar alamat yang dituju.
Kang Paimo memperhatikan dengan serius. Setelah sesaat
lamanya menganalisa, Kang Paimo berkata,
"Setelah kulihat maka kita akan mengambil rute
seperti ini: Tegal, Purwokerto, Cilacap, Jogja, Klaten,
Sragen, Ngawi , Madiun, Jombang, Surabaya, Tuban,
Rembang, Kudus, Kendal, baru pulang ke Kartasura.
Bagaimana Zam?"
166
"Aku ikut saja, Kang Paimo kan lebih paham."
"Kalau begitu cara menyusunnya alamat paling akhir
kita masukkan dulu. Sehingga letaknya paling dalam sana.
Begitu seterusnya. Dan alamat yang rencananya paling awal
kita datangi kita letakkan di depan. Sehingga kita enak
nanti ketika menurunkan."
"Wah benar itu Kang. Cerdas juga sampeyan."
"Lho Paimo itu sejak dulu cerdas Zam. Hanya karena
nasib saja putus sekolah. Kalau Paimo ini dibiayai sampai
lulus kuliah mungkin sudah jadi dosen sekarang. Bukan
sopir truk."
"Memang sudah diatur oleh Allah Kang. Kalau
sampeyan jadi dosen lha siapa yang akan aku ajak jalanjalan
mengantar buku-buku ini? Kang selama kita
bersyukur apa pun pekerjaan kita insya Allah diridhai
Allah. Dengan ridha Allah jadi barakah. Yang mahal itu
barakahnya itu lho Kang."
"Pukul tujuh truk itu kembali berjalan. Kang Paimo
membawa truknya ke tempat seorang teman akrabnya di
Bekasi Barat. Mereka sampai di sana pukul sembilan.
"Kita mandi, makan dan istirahat di sini. Siang ini
harus tidur. Nanti sore baru kita lanjutkan. Azzam jadi
tambah mengerti dunia para sopir. Siang itu Azzam tidur
pulas. Jam dua siang ia bangun. la shalat dengan menjamak
dan mengqashar. Lalu tidur lagi. Jam setengah empat
bangun mandi dan memulai perjalanan panjang.
Tengah malam mereka sampai di Tegal. Saat melewati
kantor polisi Kang Paimo turun dan menanyakan dua buah
alamat yang ada dalam daftar itu. Seorang polisi yang
sedang berjuang melawan kantuk menjelaskan rute
menuju dua alamat itu dengan menguap berkali-kali.
Pukul setengah satu mereka tiba di alamat pertama.
Terpaksa membangunkan pemilik alamat yang sedang
tidur. Tapi begitu yang punya rumah bangun dan
167
mengetahui yang datang adalah mahasiswa dari Cairo yang
mengantar buku-buku anaknya yang masih di Mesir
mereka senang. Mereka terus banyak bertanya tentang
Mesir. Tentang keadaan anaknya kira-kiranya. Azzam
menjelaskan dengan penuh kesabaran. la membayangkan
seperti itulah kira-kiranya ibunya dulu bertanya kepada
teman-temannya yang ia titipi sesuatu untuk disampaikan
pada ibunya.
Pukul setengah dua sampai di alamat kedua. Lalu
tancap gas ke Purwokerto dan Cilacap. Mereka sampai di
Cilacap saat subuh tiba. Mereka shalat subuh dahulu
sebelum menurunkan barang di alamat yang dituju. Kang
Paimo sudah tidak kuat maka digantikan oleh Si Kamdun.
Langsung tancap gas ke Jogjakarta. Baru sampai Kebumen,
Kang Paimo minta berhenti istirahat.
"Kita berhenti dulu Zam, istirahat. Di depan ada rumah
makan besar yang ada mushallanya. Kita bisa tidur di
mushalla itu beberapa jam saja."
Azzam mengiyakan usul Kang Paimo. Lebih baik
istirahat dulu agar tubuh kembali fit dan segar, daripada
memaksakan diri yang bisa berakibat fatal. Mereka
istirahat cuma dua jam. Kang Paimo dan Si Kamdun bisa
tidur begitu nyenyak dan tenang. Mereka bangun, makan,
dan melanjutkan perjalanan.
Pukul tiga sore mereka sampai di Jogja. Ada tiga
alamat yang harus mereka datangi. Yaitu di Kotagede,
Krapyak, dan Kalasan. Mereka langsung menuju
Klaten.
"Coba kau tengok Zam. Klaten berapa tempat?" Ujar
Kang Paimo sambil memindah gigi truk agar melaju lebih
cepat.
"Cuma satu Kang."
"Di mana?"
"Pesantren Daarul Quran, Polanharjo."
168
"Oh aku tahu. Itu pesantrennya Kiai Lutfi. Aku dulu
sering diajak Pak Mahbub mengaji pada Kiai Lutfi kalau
hari Rabu."
"Mengaji apa Kang?"
"Kitab Al Hikam."
"Sekarang masih sering ke sana Kang?"
"Jarang. Aku sering luar kota sih Zam."
"Ya kalau pas di rumah mbok ya disempatkan ngaji
Kang."
"Insya Allah, masak ngejar dunia terus ya Zam."
"Oh ya Zam. Aku dengar putrinya Kiai Lutfi kan kuliah
di Cairo juga tho. Kau kenal?"
"Kenal Kang."
"Kalau belum punya calon, kau lamar saja Zam. Orangorang
bilang, putrinya Pak Kiai Lutfi itu cantik lho Zam."
"Aku tahu itu Kang. Tapi dia sudah tunangan. Minggu
depan dia nikah."
"Wah berarti bukan rizkimu Zam."
"Kang Sampeyan tahu tidak jumlah anak Kiai Lutfi.
Semuanya berapa?"
"Setahuku cuma dua. Yang pertama laki-laki dan
sekarang diambil menantu oleh Kiai Hamzah Magelang. Dan
tinggal di Magelang. Yang kedua ya yang kuliah di Cairo itu."
Pukul setengah delapan malam, truk itu sampai di
Pasar Tegalgondo. Kang Paimo belok kiri ke arah Janti.
Kang Paimo lalu tancap gas. Jalan sepi. Di depan tampak
sebuah mobil sedan. Azzam kenal dengan mobil itu.
"Pelan Kang. Kalau tidak salah itu mobilnya Anna,
putri Kiai Lutfi." Kata Azzam.
Kang Paimo agak teliti melihat ke depan. Truk itu
berjalan hanya sepuluh meter di belakang sedan. Sangat
jelas sekali sedan itu Toyota Vios.
169
"Yang mengendarai kelihatannya perempuan berjilbab
Zam."
"Aku yakin itu Anna, Kang."
Sedan itu sampai di pertigaan Polanharjo ambil kiri.
Truk terus mengikuti. Sedan Vios itu terus berjalan sampai
di pertigaan lagi, ambil kiri. Dan truk itu juga mengikuti.
Masuk di perkampungan desa Wangen. Hati Azzam entah
kenapa berdesir, jantungnya berdegup lebih kencang.
Sedan itu masuk gerbang pesantren. Truk juga masuk.
Truk parkir tak jauh dari sedan.
Pengemudi sedan keluar. Perempuan tinggi semampai
berjilbab biru muda. Azzam terperanjat. la seperti melihat
gadis yang ia tolong di Cairo. Perempuan itu menoleh ke
arah truk. Dalam terang cahaya lampu truk tampak benar
pesona kecantikannya. Perempuan itu memang Anna
Althafunnisa. Azzam turun, lalu dengan hati bergetar
melangkah ke arah Anna. Putri Kiai Lutfi itu terhenyak
melihat siapa yang datang.
"Assalamu'alaikum, maaf saya mau mengantar bukubuku
dari Cairo yang dikirim lewat kontainer Pak Amrun."
Kata Azzam pada Anna.
"Wa... wa... wa'alaikum salam. Oh ya Mas Azzam.
Turunkan saja di rumah." Anna agak gugup dan tidak
percaya kalau yang mengantar buku-bukunya adalah
Azzam.
Anna bergegas masuk rumah. Ia membuka pintu
ruang tamu selebar-lebarnya. Anna lalu bergegas ke
masjid memberi tahu ayahnya yang saat itu sedang
membacakan kitab Fathul Wahhab pada para pengurus
dan santri senior.
Azzam membantu Kang Paimo dan Si Kamdun
menurunkan kardus-kardus berisi buku dan meletakkannya
di ruang tamu kediaman Kiai Lutfi. Anna dan Kiai
Lutfi sampai di samping truk. Mereka berdua melihat
170
kesibukan tiga orang itu. Anna mengamati Azzam dengan
seksama. Ada rasa kagum bercampur heran masuk dalam
hatinya. Kagum ada pemuda yang ulet dan pekerja keras
seperti Azzam. Pemuda yang tidak malu untuk mengangkat
kardus-kardus seperti itu demi ibu dan adikadiknya.
Dan heran, Azzam sama sekali tidak canggung
menyatu bersama dengan kedua orang temannya, yang ia
pastikan adalah seorang sopir dan kernetnya.
Begitu melihat Pak Kiai Lutfi, Azzam menurunkan
kardusnya lalu beranjak menjabat dan mencium tangan
ayahanda Anna itu. Apa yang dilakukan Azzam diikuti dua
temannya.
"Azzam ya?" Sapa Pak Kiai.
"Inggih Pak Kiai."
"Aku sudah tahu banyak tentangmu. Ayo kita masuk
dulu. Kita duduk dan ngobrol-ngobrol dulu."
"Maaf Pak Kiai, ini biar kami selesaikan dulu."
"Oh ya. Saya tunggu di ruang tamu sana ya?"
"Baik Pak Kiai."
Kiai Lutfi dan Anna masuk rumah. Pak Kiai menghitung
jumlah kardus yang telah dimasukkan ke ruang
tamu. Sementara Anna ke dapur membuat minuman dan
mencari makanan yang bisa dikeluarkan. Tak lama
kemudian seluruh kardus milik Anna selesai diturunkan.
Keringat Azzam berkucuran, demikian juga dua temannya.
Mereka duduk-duduk di beranda.
"Ayo Zam, masuk! Ajak teman-temanmu itu masuk!"
Perintah Pak Kiai.
"Kami masih keringatan Pak Kiai." Jawab Azzam pelan.
"Tidak apa-apa ayo, jangan duduk di situ. Ini sudah
ada tempat duduk. Nanti AC-nya aku hidupkan biar sejuk."
Desak Pak Kiai.
"Baik Pak Kiai."
171
Azzam dan kedua temannya masuk. Azzam membuka
topinya. Rambut dan wajahnya tampak sedikit kusut dan
awut-awutan.
"Sudah dari mana saja Zam?" Tanya Pak Kiai.
Azzam lalu mencer i takan perjalanannya. Sejak
berangkat sampai ke Jakarta. Lalu ke Tegal, Purwokerta,
Cilacap dan Jogja. Pak Kiai Lutfi mengangguk-anggukkan
kepala.
"Terus setelah dari sini mau ke mana lagi Zam?"
"Wah masih banyak lagi Pak Kiai. Perjalanannya masih
panjang. Yang kami tempuh baru sepertiga perjalanan. Ada
tiga puluh satu alamat. Kami baru mengantarkan di sebelas
alamat termasuk sini. Jadi masih ada dua puluh alamat lagi."
"Yang sudah mana saja?" Tanya Pak Kiai lagi.
"Tegal dua. Purwokerto tiga. Cilacap dua. Jogja tiga.
Dan Klaten, sini, satu." Jawab Azzam "Dan yang belum
tersebar di Sragen, Ngawi, Madiun, Jombang, Surabaya,
Tuban, Rembang, Kudus, dan Kendal Pak Kiai." Lanjut
Azzam menjelaskan rute yang akan ditempuhnya sekalian.
"Wah kau hampir keliling seluruh Jawa Zam."
"Begitulah Pak Kiai, demi mengais rizki Allah."
"Semoga Allah memberkahi."
Anna keluar membawa nampan berisi empat gelas
minuman segar berwarna kuning. Gadis itu meletakkan
gelas ke meja satu per satu dengan hati-hati. Azzam
menunduk, tapi kedua matanya tidak bisa untuk tidak
memperhatikan jari-jari Anna mengambil dan meletakkan
gelas. Jari-jari itu putih bersih dan lancip. Jari-jari yang
indah. Azzam beristighfar dalam hati, ia merasa telah
melakukan dosa dengan menikmati keindahan jari-jari
lentik itu. Anna kembali masuk ke belakang.
"Silakan diminum Nak Azzam. Kalau tidak salah ini
sirup Markisa asli Brastagi Medan. Kemar in yang
172
membawa kakaknya Anna yang di Magelang. Dia kan
pergi ke Medan mengunjungi adik isterinya yang kuliah
di USU. Pulang bawa sirup Markisa ini. Segar lho. Ayo!"
Azzam, Kang Paimo, dan Si Kamdun mengambil gelas
yang ada di hadapannya dan meminumnya. Minuman itu
dingin. Mereka yang kehausan dan kegerahan sangat
merasakan kenikmatannya.
"Oh ya ngomong-ngomong kalian sudah makan
belum?" Tanya Pak Kiai Lutfi.
"Mm... mm..." Azzam merasa kikuk mau menjawab.
"Aku tahu kalian belum makan. Paling terakhir kalian
makan tadi siang. Kalau tidak di Jogja mungkin di
Kebumen."
Azzam diam. Pak Kiai Lutfi bisa menebak kekikukannya.
"Nduk, Anna! Siapkan makan yang enak!" Seru Kiai
Lutfi sambil menoleh ke belakang.
"Inggih Bah." Jawab Anna pelan, tapi jelas sampai ke
ruang depan.
"Aduh tidak usah repot-repot Pak Kiai." Ucap Azzam
basa-basi.
"Tidak. Kalian tidak boleh keluar dari rumah ini kecuali
sesudah makan. Biar Anna yang menyiapkan. Aku juga
ingin tahu seperti apa masakan putriku. Biasanya kan ada
khadimah dan Umminya, jadi dia santai, tidak perlu masak.
Katanya sih kalau di Cairo masak sendiri. Aku ingin tahu
seperti apa yang akan ia hidangkan. Ini kebetulan dua
khadimah yang biasanya membantu sedang tidak ada. Yang
satu sedang pulang dan yang satunya ikut sama Umminya
Anna ke Magelang, ke rumah kakaknya." Kiai Lutfi
menjelaskan dengan santai ceplas-ceplos pada ketiga
tamunya. Suara Kiai Lutfi itu agak keras, sehingga
terdengar sampai ke belakang. Anna mendengarnya
dengan perasaan malu dan tertantang. Malu seolah-olah
173
selama ini ia hanya anak Ummi, tidak berbuat apa-apa.
Semua telah disediakan. Meskipun kenyataannya begitu.
Tapi hal itu, entah kenapa membuat dirinya malu. Sebab
di sana ada Azzam. Dan ia tertantang, ia akan membuktikan
pada ayahnya bahwa ia adalah putri ayahnya yang
bisa memasak enak.
"Abah belum tahu kalau aku bisa masak nasi
goreng ala Pattani Thailand!" Desis Anna dalam hati
sambil tersenyum. Ia belajar membuat nasi goreng yang
unik itu dari Jamilah, gadis asli Pattani saat masih di
Alexandria. Tadi sore ia melihat di nasi rice cooker masih
penuh dan kulkas ada bahan yang lengkap untuk
masak nasi goreng ala Pat tani. Ia memang sudah
merencanakan membuat nasi goreng untuk dirinya
sendiri malam ini.
Lima belas menit kemudian Anna keluar dengan
membawa hasil masakannya. Anna mengeluarkan tiga
piring yang isinya tampak sebagai telur dadar berbentuk
segi empat. Kiai Lutfi mengenyitkan keningnya.
"Silakan Mas Azzam!" Anna mempersilakan.
"Apa ini Nduk, cuma telur dadar begini?" Ucap Kiai
Lutfi. Anna hanya tersenyum dan kembali masuk. Ia tidak
menjawab pertanyaan Abahnya.
"Setahu saya ini namanya nasi goreng Pattaya. Nasi
goreng khas muslim daerah Pattani di Thailand." Justru
Azzam yang menerangkan. Azzam mengambil piring itu
dan menyendok dadar telur persegi empat. Ternyata di
dalamnya ada nasi goreng yang ada cacahan daging
ayamnya. Pak Kiai Lutfi jadi takjub.
"Nasinya dibungkus telur ya. Kok bisa ya?" Heran Kiai
Lutfi.
Azzam menyantap dengan lahap. Ia harus mengakui
masakan Anna lezat. Ia jadi iri pada Furqan, ia merasa
Furqan benar-benar pria paling beruntung di dunia. Anna
174
tidak hanya cerdas, dan berprestasi secara akademik. Gadis
itu ternyata juga jago masak.
Kang Paimo dan Si Kamdun juga makan dengan lahap.
"Wah, luar biasa. Ini enak betul. Gurih! Dan unik Pak
Kiai!" Komentar Kang Paimo sambil mengacungkan
jempolnya pada Kiai Lutfi. Kiai Lutfi menelan ludahnya.
la sangat penasaran pada masakan putrinya itu. Kenapa
cuma tiga piring? la malu mau minta pada putrinya.
Sementara Anna tersenyum di belakang, mendengar
perkataan-perkataan yang memujinya di depan. la sengaja
membiarkan Abahnya melihat tamunya makan. la sedikit
ingin 'mencandai' ayahnya. Ketika ia yakin ayahnya berada
di puncak penasaran dan nafsu makannya, ia keluarkan
bagian untuk Abahnya.
"Lha yang ini untuk Abah! Ini namanya nasi goreng
Pattaya Bah!" Kata Anna pelan sambil tersenyum. Abahnya
tersenyum lalu mencicipi nasi goreng bikinan putrinya. Ia
masih penasaran, bagaimana meletakkan nasi dalam
balutan telur dadar ini. Ini memang baru kali pertama ia
menemukan penyajian masakan seperti itu.
"Ini cara memasukkan nasinya bagaimana ya Zam?"
Tanya Kiai Lutfi.
Azzam tersenyum. Azzam mau menjawab, tapi
sebelum ia menjawab dari dalam suara Anna terdengar
menyahut, "Nanti Anna ajarin cara membuatnya Bah!"
Kiai Lutfi tersenyum. Malam itu putrinya membuat
kejutan untuknya.
Selesai makan Azzam dan kedua temannya berpamitan
pada Kiai Lutfi. Azzam dan dua temannya turun
ke halaman. Kiai Lutfi mengikuti di belakang. Malam
terang. Bulan perak sebesar semangka seperti bertengger
di langit, di kelilingi bintang-bintang. Azzam melangkah
tenang.
"Nak Azzam." Kiai Lutfi memanggil.
175
Azzam menghentikan langkah. Anna memperhatikan
dari beranda dengan seksama.
"Iya Pak Kiai."
"Kalau ada waktu senggang sering mampir ke sini ya?
Itu anak-anak santri perlu mendengar banyak hal dari
orang yang punya pengalaman lebih sepertimu."
"Aduh saya ini juga masih bodoh Pak Kiai. Mohon doa
restunya."
"Benar ya sering datang?"
"Insya Allah."
"Oh ya satu lagi. Rabu depan kamu sudah selesai kan
mengantarkan buku-bukumu itu?"
"Insya Allah."
"Datang ke sini ya. Pengajian Al Hikam. Untuk umum.
Biar kamu srawung dengan banyak orang. Biar nanti
dengan silaturrahmi tambah jaringan dan koneksi. Di
antara yang ngaji itu banyak juga lho pebisnis-pebisnis
muda Solo dan Klaten."
"Iya Insya Allah."
"Terakhir."
"Jangan lupa hari Jumat datang. Itu hari pernikahan Anna."
"Insya Allah."
"Ingat semua insya Allah yang kamu ucapkan itu aku
tagih lho."
"Doanya bisa memenuhi Pak Kiai."
Cahaya bulan menerangi halaman. Rumput-rumput
Jepang di sela-sela paving tampak hijau keperakan. Angin
malam mengalir pelan. Azzam naik truk dengan mengucap
salam.
* * *
Truk yang dinaiki Azzam menderu dan hilang dari
pandangan. Kiai Lutfi mengambil nafas panjang. Kiai Lutfi
176
naik ke beranda. Anna masih berdiri di sana. Lalu sambil
berjalan masuk rumah ia berkata pada putrinya,
"Abah suka dan kagum pada pemuda itu. Sayang baru
tahu dan bertemu sekarang."
Ada rasa dingin masuk dalam relung-relung hati Anna.
"Jujur, pemuda seperti Azzam itu kalau boleh Abah
berterus terang adalah pemuda yang jadi idaman Abah.
Sayang baru bertemu sekarang. Jika Abah masih punya
anak putri pasti akan Abah pinta Azzam jadi menantu.
Abah tak akan menyia-nyiakan kesempatan. Abah tahu
tentang perjuangannya membesarkan adik-adiknya. Dia
sungguh pemuda luar biasa!"
Ada gemuruh cemburu luar biasa dalam hati Anna.
Lalu perasaan sedih perlahan menyusup ke dalam hatinya.
Mata Anna basah mendengar perkataan Abahnya. Ingin
rasanya ia katakan pada Abahnya, bahwa Azzam itulah
ternyata pemuda yang dulu menolongnya. Pemuda yang
menundukkan pandangannya dan mengatakan namanya
Abdullah. Azzam itulah juga pemuda yang dulu sangat
mengesan di hatinya. Bukan hanya dulu, bahkan sampai
sekarang. Tapi takdir telah memilihkannya jalan. Furqanlah
jalannya.
Anna masuk kamarnya. Dan di kamarnya ia menangis.
Kata-kata Abahnya terus terngiang-ngiang dalam hatinya,
"Jika Abah masih punya anak putri, pasti akan Abah
pinta Azzam jadi menantu. Abah tak akan menyia-nyiakan
kesempatan."
* * *
Di jalan Kang Paimo dan Si Kamdun tiada hentihentinya
memuji Anna Althafunnisa. Mereka juga tiada
henti-hentinya memuji keramahan Pak Kiai Lutfi.
"Aku tidak mengira Pak Kiai ternyata ramah sekali dan
bisa sangat cair dengan tamunya. Selama ini kalau aku
177
ikut pengajian Al Hikam beliau kan tampak berwibawa
sekali." Kata Kang Paimo.
"Tapi kukira ini semua karena berkahnya Azzam.
Kalau tidak bareng Azzam mungkin lain ceritanya. Karena
bareng Azzam kita dapat mencicipi masakan putrinya Pak
Kiai segala. Tidak sembarang orang lho bisa mendapatkan
kemuliaan seperti ini. Memang berkumpul dengan orang
baik seperti Azzam ini banyak berkahnya. Sering-seringlah
kau ajak kami ya Zam kalau ada acara apa saja, atau kalau
jalan ke mana begitu. Biar kami kecipratan berkahnya."
Sahut Si Kamdun.
"Ah kamu ini ada-ada saja Dun. Ini semua karena
berkah silaturrahmi. Begitu saja." Azzam meluruskan.
Truk itu melaju kencang ke Solo. Ketika masuk
perbatasan Kartasura Kang Paimo bertanya, "Mau pulang
dulu tidak Zam?"
Azzam menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
"Nanti malah tidak selesai-selesai. Kalau saya pulang
dulu pasti saya akan ditahan ibu dan adik-adik saya. Baru
boleh berangkat lagi besok pagi. Itu pun pasti agak siang
jika sudah sarapan. Sudah lurus saja. Jika belum saatnya
pulang ya tidak usah pulang!" Tegas Azzam.
"Wah kau bakat jadi pemimpin besar Zam. Kau punya
disiplin yang bisa diandalkan!" Sahut Kang Paimo.
Truk itu terus melaju melewati Solo, lalu ke Sragen.
Sampai di Sragen pukul sebelas malam. Kemudian
melanjutkan perjalanan dan mengantarkan buku-buku itu
ke Ngawi, Madiun, Jombang, Surabaya, Tuban, Rembang,
Kudus, dan Kendal.
Azzam dan kedua temannya pulang kembali ke
rumahnya di Sraten, Kartasura, dua hari setelahnya. Azzam
memasuki rumahnya dini hari jam empat. la disambut
ibu dan kedua adiknya dengan penuh cinta dan kerinduan.
178
Husna langsung menyiapkan air hangat untuk mandi
kakaknya. Melalui perjalanan mengantar buku-buku itu
Azzam banyak belajar dan mengambil pelajaran.
Azzam juga sudah benar-benar bisa mengendarai truk
itu karena mengantarkan buku-buku. Dalam perjalanan
dari Sragen dan Ngawi Kang Paimo kelelahan, dan Si
Kamdun tak kuasa menahan kantuk. Kang Paimo
memaksa Azzam untuk mengemudikan. Pertama ia
mengemudikan dengan pelan. Lama-lama tambah
kecepatan. Dan akhirnya bisa mengemudikan truk itu
dengan baik dari Sragen bahkan sampai Madiun. Ia jadi
banyak belajar dari jalan.
* * *
179
11
Azzam meminjam sepeda motor butut milik Husna. la
harus shalat Ashar di Wangen. la telah berjanji pada Kiai Lutf i
bahwa dirinya akan ikut pengajian Al Hikam. la tidak mau
mengingkari janji yang telah terlanjur ia ucapkan. Meskipun
saat itu lelah dari tubuhnya belum benar-benar punah.
Ia pacu sepeda motor tua itu sekuat-kuatnya. Tapi
lajunya maksimal tetap enam puluh kilometer perjam.
Menjelang sampai Polanharjo ia melihat sawah yang
terhampar. Sejenak ia hentikan motornya. Sudah lama ia
tidak menikmati pemandangan sawah seperti itu.
Di kejauhan ia melihat orang-orang sedang bekerja.
Mereka mencangkul bergelut dengan lumpur. Dari jauh
mereka kelihatan seumpama kayu hidup, tak berbaju.
Terik matahari memanggang mereka. Tubuh mereka hitam
dan berkilauan karena keringat . Keringat mereka
merembes dari setiap pori-pori lalu jatuh dan jadi pupuk
180
UJIAN TAK TERDUGA
MR. Collection's
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
a
penyubur padi yang kelak mereka tanam. "Mereka para
pahlawan, karena keringat merekalah jutaan orang bisa
makan." Gumam Azzam.
Setelah puas menikmati pemandangan yang menggugah
itu ia melanjutkan perjalanan. Lima belas menit
sebelum ashar Azzam sampai di masjid pesantren.
Masyarakat yang hendak mengikuti pengajian Al Hikam
telah banyak berdatangan. Azzam melihat di antara yang
hadir ada Pak Mahbub, imam masjid di kampungnya. Pak
Mahbub tampak sedang asyik berbincang dengan seorang
kakek berbaju hitam. Azzam tidak ingin mengganggu
keasyikan mereka.
Ia lalu melihat Kiai Lutfi berjalan dari rumah ke
masjid. Kiai itu berbincang dengan seorang santri. Lalu
mengitarkan pandangannya ke arah jamaah yang ada
di dalam masjid. Azzam terus memperhat ikan gerakgerik
Kiai itu. Dan saat kedua matanya dan kedua mata
Kiai Lutfi bertemu, ulama kharismatik itu tersenyum
padanya. Ia kaget ketika Kiai Lutfi berjalan ke arahnya.
"Kau memenuhi janjimu Zam?"
"Janji memang harus dipenuhi Pak Kiai."
"Kebetulan kau datang. Aku mau minta tolong, tapi
maaf mendadak."
"Apa itu Pak Kiai."
"Sepuluh menit yang lalu aku dapat kabar Kiai Rosyad
Teras Boyolali wafat. Dia kakak kelasku di Sarang. Aku
harus ke sana. Sebab mau dikubur bakda ashar ini juga.
Lha ini kok kebetulan Si Hamid yang biasa jadi badal
sedang di Jogja. Kasihan kalau pengajian diliburkan. Aku
minta kamu yang mengantikan ya."
Mendengar kalimat terakhir Kiai Lutfi Azzam bagai
disambar petir. Ia sama sekali tidak siap dan tidak menduga
hal ini akan menimpanya. Seketika keringat dingin keluar
dari pori-porinya.
181
"Menggantikan Pak Kiai menjelaskan isi Al Hikam!?"
Tanya Azzam.
"Iya."
"Aduh Pak Kiai saya tidak bisa. Sungguh!"
"Kamu jangan terlalu merendah. Alumni Al Azhar
pasti bisa."
"Tapi saya datang untuk belajar Pak Kiai."
"Ini juga belajar."
"Saya tidak bawa kitabnya Pak Kiai."
"Pakai kitabku."
"Sungguh Pak Kiai, jangan saya!"
"Tak ada yang lain. Kalau kamu tidak mau namanya
menyembunyikan ilmu."
"Jujur Pak Kiai, saya tidak siap."
"Sudah, kamu jangan mbulet-mbulet. Ayo ikut aku
mengambil kitab. Aku jelaskan sampai di mana. Ayo Nak!"
Dengan hati bergetar Azzam bangkit mengikuti Kiai
Lutfi. Saat berpapasan dengan beberapa santri, tampak
para santri memperhatikannya dengan penuh tanda tanya.
la tidak memakai sarung lazimnya para santri. Tapi ia pakai
celana. Untungnya ia memakai baju panjang dan kopiah
putih. Jadi masih tidak terlalu menarik perhatian. Kiai Lutfi
memintanya duduk di kursi yang ada di beranda. Kiai Lutfi
lalu masuk untuk mengambil kitabnya. Di ruang tengah
Kiai Lutfi bertemu Anna.
"Jadi ke Boyolali Bah?"
"Iya."
"Yang mengajar ngaji Al Hikam siapa?"
"Tadi rencananya Si Hamid seperti biasa. Tapi ia
ternyata pergi ke Jogja. Tapi alhamdulillah ada pengganti
lain yang semoga lebih baik."
"Siapa Bah?"
182
"Azzam."
"Azzam siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan temanmu itu. Yang ngantar
kitab ke sini"
"Dia? Dia ada di sini?"
"Iya mau ikut pengajian. Untung Abah lihat, jadi
kupaksa saja dia."
"Abah ini, itu namanya zalim Bah! Kasihan dia, kalau
tidak siap bagaimana?"
"Abah tidak zalim insya Allah. Ini akan jadi pelajaran
penting bagi dia insya Allah. Dia akan sadar kalau alumni
Timur Tengah itu harus siap mengabdi pada ummat kapan
saja. Harus selalu siap."
"Terserah Abah lah."
Kiai Lutfi mengambil kitab Al Hikamnya. Lalu
memberi tahu Azzam di halaman berapa Azzam harus
membacakan. Kitab itu sudah ada di tangan Azzam.
Pemuda kurus itu menerima dengan dada panas dingin.
la tidak tahu apa nanti yang akan ia sampaikan pada sekitar
tujuh ratus orang yang sore itu telah datang untuk
mengambil cahaya dari Al Hikam.
"Tenang nanti begitu selesai shalat ashar aku akan
memberi sedikit pengantar memperkenalkan kamu pada
jamaah. Kamu langsung naik mimbar menguraikan Al
Hikam." Kata Kiai Lutfi. Kaki Azzam terasa begitu berat
untuk melangkah. Baginya ini adalah ujian yang lebih
menegangkan dari ujian di Al Azhar.
Azan ashar dikumandangkan. Jantung Azzam
berdegup kencang. Ia menenangkan diri dengan mengambil
air wudhu meskipun ia masih punya wudhu.
Azzam shalat sunnah qabliyah. Dalam sujud Azzam
memohon pertolongan kepada Allah. Selesai shalat sunnah
Azzam membaca bab yang harus ia jelaskan nanti.
183
Tak lama kemudian iqamat dikumandangkan. Kiai
Lutfi maju ke depan. Dengan sangat teliti ia menata
barisan. Masjid itu penuh oleh santri dan masyarakat
umum. Takbiratul ihram menggema sampai ke relungrelung
jiwa seluruh makmum. Azzam shalat dengan hati
bergetar.
Selesai shalat ashar setelah istighfar Kiai Lutfi langsung
naik ke mimbar,
"Assalamu'alaikum wr. wb. Jamaah sekalian, bapakbapak
dan ibu-ibu yang mulia. Sore ini Kiai Rosyad,
seorang ulama dari Boyolali dipanggil Allah. Inna lillahi
wa inna ilahi raaji'un. Mohon maaf, saya harus takziyah
ke sana. Pengajian Al Hikam insya Allah akan digantikan
oleh Ustadz Khairul Azzam. Ustadz muda yang baru pulang
dari Mesir. Sebelum pengajian mari kita shalat ghaib
dahulu bersama. Menshalat i jenazah Kiai Rosyad
rahimahullah Ta'ala."
Kiai Lutfi kembali ke pengimaman untuk memimpin
shalat ghaib. Setelah shalat beliau langsung keluar masjid
dan masuk ke mobilnya meluncur ke Boyolali. Beberapa
jamaah mengikuti Pak Kiai takziyah. Namun 99 persen
jamaah tetap khidmat di dalam masjid.
Di lantai atas, Anna dan Bu Nyai Nur juga duduk
khidmat. Anna sangat penasaran apa yang akan disampaikan
oleh kakaknya Husna. Hatinya khawatir Azzam
akan mengecewakan jamaah. Bukan karena tidak bisa
menyampaikan, tapi karena tidak ada persiapan sama
sekali. Ia tahu ayahnya suka main todong saja. Kalau ia
yang ditodong seperti Azzam pasti akan ia tolak mentahmentah.
Bahkan pada orang yang menodong seenaknya
seperti itu ia pasti akan marah.
Azzam naik ke mimbar. Dari lantai dua Anna
memperhatikan. Azzam tidak tahu kalau putri Kiai Lutfi
itu memperhatikannya. Kalau tahu bisa kacau suasana
hatinya. Azzam membuka dengan salam, lalu mengajak
184
para jamaah membuka pengajian dengan bacaan Al Fatihah
bersama. Hati Azzam bergetar ketika lantunan fatihah
menggema begitu dahsyat. Dilantunkan bersama oleh
ratusan orang di rumah Allah yang mulia.
Kemudian Azzam membaca hamdalah dan shalawat
kepada Rasulullah. la telah menguasai keadaan. Barulah
Azzam berkata dengan suara yang tenang dalam bahasa
Jawa yang halus,
"Jamaah sekalian yang dirahmati Allah, jujur, saya ini
sebenarnya juga masih bodoh. Maka saya datang ke
pesantren ini untuk mengaji. Jujur, saya datang untuk
mengaji, untuk menimba ilmu. Bukan untuk mengajar.
Bukan untuk membacakan kitab. Tapi Romo Kiai Haji
Lutfi Hakim memaksa saya untuk naik ke mimbar ini.
Saya tidak bisa berkutik apa-apa kecuali menjalankan titah
Pak Kiai. Sebab saya ini santri.
"Jamaah yang mulia, anggap saja saya ini sedang
latihan. Jadi kalau nanti banyak khilaf mohon dimaafkan.
Maklum masih bodoh dan sedang latihan.
"Baiklah jamaah yang mulia. Kita akan lanjutkan apa
yang sebelumnya telah dibacakan oleh Romo Kiai Lutfi.
Terakhir kita sampai pada kalimat hikmah yang ditulis Ibnu
Athaillah As Sakandari: Man atsbata li nafsihi tawadhuan
fahuwa al mutakabbiru haqqan! Yaitu siapa yang yakin
bahwa dirinya merasa tawadhu' maka berarti dia benarbenar
telah takabbur. Tentu Romo Kiai telah menjelaskan
panjang lebar masalah itu."
Kalimat-kalimat yang disampaikan Azzam itu terasa
ringan masuk kalbu para jamaah. Anna yang ada di atas
mulai yakin Azzam akan menyelesaikan tugasnya dengan
baik. Anna tidak ingin Azzam gagal dalam menyampaikan
isi hikmah Ibnu Athaillah As Sakandari pada ratusan jamaah
tetap pengajian Al Hikam.
Anna mendengar Azzam melanjutkan pengajiannya:
185
"Kali ini kita hayati bersama kalimat Ibnu Athaillah
yang berbunyi:
'Laisa al Mutawadhi'u al-ladzi idza tawadha'a ra'a
annahu fauqa ma shana'...' Artinya, bukanlah orang yang
tawadhu' atau merendahkan diri, seorang yang jika
merendahkan diri merasa dirinya di atas yang dilakukannya.
Misalnya, contoh sederhananya ada orang merasa tawadhu'
dengan duduk di belakang suatu majelis, tapi pada saat
yang sama ia merasa tempat yang pantas bagi dirinya adalah
di atas itu yaitu duduk di bagian depan majelis itu. Maka
orang seperti ini menurut Ibnu Athaillah As Sakandari
bukanlah orang yang tawadhu'. Bahkan sejatinya orang
yang sombong.
'Atau misalnya ada orang merasa tawadhu', merasa
telah merendahkan diri dengan datang ke suatu tempat
menggunakan sepeda ontel, tapi dia merasa dirinya
sebenarnya pantas di atas itu yaitu menggunakan motor.
Maka orang seperti ini bukan orang yang merendahkan
dirinya, tapi orang yang sombong.
"Lantas siapakah orang yang benar-benar ______ ! Orang yang benar-benar merendahkan diri?
"Ibnu Athaillah mengatakan di baris selanjutnya:
'Wa lakin _"#______$ _%_______ &_'_(___ __(_ ma )__( *Artinya, tetapi orang yang benar-benar
merendahkan diri adalah orang yang jika merendahkan
diri merasa bahwa dirinya masih berada di bawah sesuatu
yang dilakukannya. Misalnya, ada orang yang dipaksa
duduk di bagian agak depan suatu majelis, ia akhirnya
duduk di bagian agak depan, tapi ia merasa sesungguhnya
dirinya lebih pantas duduk di belakang. Atau misalnya di
masyarakat ada orang yang dimuliakan dan dihormati
banyak orang, ia selalu merasa dirinya, sejatinya belum
pantas menerima penghormatan seperti itu. Itulah orang
yang ______ *+ 186
Azzam berhenti sejenak memandang ke wajah
beberapa hadirin. Di lantai dua tanpa sepengetahuan
Azzam, Anna menyimak semua kalimat Azzam dengan
seksama. Azzam merasa beruntung bahwa bagian kitab
Al Hikam yang ia jelaskan ini pernah ia dapatkan
penjelasannya dari Imam Muda bernama Adil Ramadhan.
Dia adalah imam di masjid tak jauh dari apartemennya di
Cairo. Imam muda itu sebenarnya adalah kakak kelasnya
di Fakultas Ushuluddin, dan usianya sama dengannya. Adil
Ramadhan lulus S.l. dengan predikat terbaik di angkatannya,
dan sekarang sudah diangkat sebagai asisten dosen di
Universitas Al Azhar. Azzam merasa beruntung bahwa ia
telah mengkhatamkan Al Hikam dibimbingan Imam Adil
Ramadhan.
Azzam menambah penjelasannya,
"Jamaah yang mulia, tawadhu' adalah sifat orang-orang
mulia. Tawadhu' adalah sifat para nabi dan rasul. Kebalikan
dari tawadhu' adalah takabbur, sombong. Ulama sepakat
bahwa takabbur itu diharamkan dalam Islam!
"Sombong adalah sifat milik Allah saja, yang berhak
memiliki hanya Allah. Tidak boleh ada satu makhlukpun
yang menyaingi Allah dalam hal ini. Siapa yang menyaingi
Allah dan merasa berhak memiliki sifat takabbur maka
dia berarti merasa menjadi Tuhan manusia. Orang yang
seperti ini pasti mendapat murka dari Allah. Dalam sebuah
hadits Qudsi, Allah berfirman, 'Sombong adalah selendangku,
dan agung adalah pakaianku. Siapa yang menyaingi-
Ku dalam salah satu dari keduanya maka akan Aku lempar
dia ke dalam neraka Jahannam.'17
"Karena rasa sayang dan cinta Allah memerintahkan
Rasulullah Saw. untuk tawadhu'. Lalu karena rasa sayang
dan cinta juga Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk
tawadhu'. Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya Allah Swt.
17 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ahmad, dan Muslim
187
memerintahkan aku agar tawadhu', jangan sampai ada salah
seorang yang menyombongkan diri pada orang lain, jangan
sampai ada yang congkak pada orang lain.'18
"Rasulullah adalah teladan bagi orang berakhlak mulia.
Beliau makhluk Allah paling mulia namun juga orang
paling tawadhu' dalam sejarah ummat manusia. Sejak
muda Rasulullah selalu merendahkan' dirinya.
"Contoh yang menggetarkan jiwa kita, adalah beliau
sama sekali tidak risih menjadi pengembala kambing.
Dengan mengembal a kambing bel iau tidak hanya
merendahkan diri pada manusia juga pada binatang. Beliau
tidak canggung hidup di tengah-tengah kambing yang bau
dan kotor. Beliau menjaga dan melayani kambing dengan
penuh kasih sayang. Jika ada kambing yang melahirkan
beliau membantu persalinannya. Tidak ada jarak antara
beliau dengan kambing yang digembalakarmya. Rasulullah
tawadhu' tidak hanya pada manusia juga pada binatang
ternak yang digembalakannya.
"Contoh sifat tawadhu' Rasulullah yang lain adalah
beliau masih mau memakan makanan yang jatuh ke tanah.
Dapat kita baca dalam Sirah Nabawiyyah bahwa setiap ada
makanan jatuh ke tanah, Rasulullah Saw. tidak membiarkannya.
Beliau past i mengambilnya dan membersihkannya.
Beliau membuang kotoran seperti debu
yang menempel padanya lantas memakannya. Beliau selalu
menjilati jari-jarinya setelah makan. Beliau tidak merasa
risih akan hal itu sama sekali.
"Anas bin Malik ra., pembantu Rasulullah Saw.,
menjelaskan jika Rasul makan beliau menjilati jari-jarinya
tiga kali. Anas meriwayatkan: Rasulullah Saw. bersabda,
'Jika makanan kalian jatuh maka buanglah kotorannya dan
makanlah dan jangan meninggalkannya untuk setan!'19
18 Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ibnu Majah dan Abu Daud
,- Diriwayatkan oleh Imam Muslim.
188
"Para sahabat nabi juga menghiasi dirinya dengan sifat
merendahkan diri. Suatu hari Ali bin Abi Thalib membeli
kurma satu dirham dan membawanya dalam selimutnya.
Saat itu Ali bin Abi Thalib adalah khalifah yang memimpin
ummat Islam seluruh dunia. Ada seorang lelaki melihatnya
dan berkata padanya, 'Wahai Amirul Mu'minin, tidakkah
kami membawakannya untukmu?' Ali menjawab dengan
merendahkan diri, 'Kepala keluarga lebih berhak
membawanya.'20
"Jamaah yang mulia, sejarah membuktikan hancurnya
seseorang juga hancurnya suatu bangsa di antaranya adalah
kesombongan dan kecongkakan yang dilestarikan.
Seorang ulama menjelaskan hakekat sombong adalah jika
seseorang merasa pantas dibesarkan padahal sejatinya tidak
pantas. Jika seseorang merasa pantas menempati suatu
derajat padahal ia belum pantas.
"Bangsa kita ini akan bisa binasa jika masih banyak
orang-orang yang sombong. Bahkan sombong yang telah
membudaya. Misalnya, ada seorang yang masuk Fakultas
Kedokteran dengan membayar uang yang berjuta-juta
rupiah jumlahnya kepada pihak universitas. Ia tetap
memaksakan diri masuk Fakultas Kedokteran, ia merasa
pantas. Padahal sejatinya ia tidak pantas. Nilainya masih
kurang. Tapi ia merasa pantas karena memiliki uang.
Kepantasan itu bahkan ia beli dengan uang. Ia tidak hanya
sombong. Lebih sombong lagi, ia membiayai kesombongannya
itu. Maka yang akan jadi korban selain dirinya
sendiri ya bangsa ini. Akan muncul di negeri ini nanti
ribuan dokter yang tidak tahu apa-apa. Sehingga
malpraktek ada di mana-mana.
"Ada juga maskapai penerbangan yang sombong.
Sebenarnya tidak pantas dan tidak layak terbang. Tapi
merasa layak terbang. Merasa layak dibesarkan. Ia
20
.l Bidayah wan Nihayah 8/5.
189
mempropagandakan perusahaannya sedemikian menyilaukan.
Padahal pesawatnya adalah barang rongsokan.
Pilotnya belum lulus jam terbang. Tapi ia sombong. la
merasa layak terbang. Akibatnya jika demikian kebinasaanlah
yang datang berulang-ulang.
"Juga, banyak orang merasa layak jadi pemimpin. Merasa
layak jadi negarawan yang mengatur bangsa. Padahal
mengatur diri sendiri saja tidak bisa. Mengatur keluarganya
saja tidak bisa. Tapi ia merasa layak ditinggikan sebagai
pengatur negara. Sesungguhnya yang mendorong itu semua
adalah kesombongannya. Maka, jika sudah demikian
hukuman dari Allah tinggal ditunggu kapan datangnya."
Sore itu Azzam hanya membaca dua baris saja dari
kitab Al Hikam. Namun penjelasannya cukup panjang dan
mendalam. Bu Nyai Nur tersihir oleh uraian Azzam.
Sementara Anna diam-diam semakin kagum pada pemuda
itu. Anna kembali ingat perkataan ayahnya. Dan benarlah
perkataan Abahnya malam itu:
"Jika Abah masih punya anak putri, pasti akan Abah
pinta Azzam jadi menantu. Abah tak akan menyia-nyiakan
kesempatan."
Begitu turun dari mimbar ratusan jamaah menyalaminya.
Para santri berebutan ingin mencium tangannya.
Setiap kali mau dicium dengan cepat Azzam menarik
tangannya. Ia merasa sangat tidak pantas dicium
tangannya. Dosanya masih menggunung dan aib dirinya
tak terhitung jumlahnya. Ia yakin jika yang ingin mencium
tangannya melihat dosa dan aibnya, pasti akan menjauh
darinya, tak akan sudi mencium tangannya.
Pak Mahbub ikut menyalaminya dan memeluknya
erat-erat dengan mata berkaca-kaca, "Semoga ilmumu
barakah Zam. Aku bangga padamu, Anakku. Aku jadi
teringat ayahmu, teman seperjuangan Bapak. Semoga
manfaat ilmumu menjadikan ayahmu diangkat derajatnya
disisi Allah."
190
"Amin. Doanya Pak Mahbub. Dan mohon bimbingannya,
saya masih harus banyak belajar." Lirih Azzam.
Seorang bapak-bapak setengah baya dengan batik biru
keemasan datang menyalami Azzam dengan menyungging
senyum, 'Aku bahagia ada anak muda sepertimu Nak. Pak
Kiai Lutfi tidak salah memi l ihmu. Kalau boleh tahu
Nakmas sudah menikah?"
Bahasa lelaki itu halus dan santun.
"Belum Bapak."
"Kebetulan kalau begitu. Siapa tahu jodoh. Saya punya
anak perempuan masih kuliah. Nama saya Ahmad Jazuli.
Ini kartu nama saya. Nakmas boleh dolan bila ada waktu
luang."
Azzam menerima kartu nama yang diulurkan bapak
itu dengan dada bergetar.
* * *
Sepulang dari takziyah Kiai Lutfi langsung bertanya
pada Bu Nyai,
"Bagaimana Mi tadi pengajiannya?"
Kiai Lutfi duduk meletakkan punggungnya di sofa.
Di luar senja mulai turun. Sinar matahari yang kekuningkuningan
perlahan mulai pudar. Para santri ada yang sibuk
mandi, ada yang sudah rapi, ada yang sibuk menata bajubajunya
dan memasukkan ke dalam almari.
Mendengar pertanyaan itu spontan Bu Nyai Nur
menjawab dengan penuh semangat,
"Wah luar biasa Bah! Pemuda itu bahasa Jawanya enak.
Penjelasannya runtut dan dalam. Cuma dua baris saja dari
kitab Al Hikam yang dia bacakan. Tapi penjelasannya masya
Allah Bah. Haditsnya ia sampaikan. Seolah-olah dia itu hafal
ratusan hadits. Terus contoh-contohnya mulai dari yang
kecil-kecil, contoh tawadhu'nya Rasulullah, ada juga contoh
sahabat. Terus itu Bah, bagusnya penjelasannya itu lho,
191
masuk juga untuk keadaan bangsa saat ini. Jujur Bah ya,
tapi Abah jangan marah lho!"
"Apa itu Mi?"
"Pertama, penjelasan Azzam dan cara menerangkannya
lebih aku suka daripada caranya Abah. Menurutku
Abah terlalu membuat tasawuf angker. Terus contohcontoh
yang Abah sampaikan seringnya cuma Mbah Kiai
ini begini, Mbah Kiai itu begini, Syaikh ini begini, Syaikh
itu begini. Langsung saja Bah kayak Azzam tadi, langsung
induk-induknya yang diambil. Langsung Rasulullah, baru
yang Iain-lain sampai masuk keadaan sekarang ini."
Anna mendengar perbincangan kedua orang tuanya
itu dari dapur. la tersenyum Abahnya dikritik Umminya.
Dalam hati Anna berkata, "Bagus Mi, ayo terus kritik Abah.
Biar semakin maju dan tercerahkan." la ingin tahu apa
jawaban Abahnya. Apakah akan marah dan tinggi hati atau
sebaliknya. Kalau marah maka ia akan sarankan kepada
Abahnya agar tidak usah membacakan kitab Al Hikam
saja. Kalau marah berarti Abahnya sombong. Dan
sebaiknya Abahnya belajar tidak sombong baru mengajarkan
Al Hikam.
"Iya maklum Mi. Azzam itu kuliah sampai Mesir, lha
Abah kan cuma pesantren lokal. Kalau Azzam Ummi lihat
lebih baik dari Abah alhamdulillah, Abah bersyukur, akan
terus ada penerus perjuangan menegakkan kalimat Allah.
Itu kan yang pertama Mi. Yang kedua apa?"
Anna tersenyum mendengar jawaban Abahnya.
Abahnya sungguh lapang dada. Tapi Anna senyum Anna
hilang begitu mendengar perkataan Umminya,
"Maaf Bah, entah kenapa hati Ummi sebenarnya kok
cenderung pada pemuda itu setelah tadi mendengarkan
uraiannya. Ummi merasa pemuda itu cocok jadi anak
Ummi ."
"Maksudmu jadi menantumu."
192
"Iya Bah."
"Sudahlah Mi. Ummi ini panutan. Ummi harus
bersyukur atas segala pemberian Allah. Semua manusia
ada kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Anna
sudah memilih Furqan. Insya Allah itu pilihan terbaik.
Abah yakin Furqan juga punya kelebihan yang tidak
dimiliki oleh pemuda itu. Jangan mengatakan hal ini sama
Anna. Nanti dia malah sedih. Kita harus dukung apa yang
dipilih Anna, meskipun kita sebenarnya punya pilihan dan
kriteria yang berbeda." Jawab Kiai Lutfi.
Di belakang tanpa mereka ketahui Anna mendengarkan
itu semua. Anna berusaha menahan tangisnya.
Pelan-pelan ia naik ke lantai atas. Dan masuk ke kamarnya.
Di kamar ia kembali menangis. Ia tak kuasa menahan sesak
di dalam dada.
* * *
193
Edited by : Bon Bon-q97 204
12
PERNIKAHAN
Dini hari, kira-kira jam dua, tepat di hari Anna akan melangsungkan
akad nikah, Kiai Lutfi bermimpi. Sebuah mimpi yang menakjubkan.
Dalam mimpinya itu ia melihat gugusan bintang. Lalu ada bintang
paling terang turun dan bersinar di atas mimbar masjid pesantren.
Kiai Lutfi melihat beberapa tunas pohon kelapa yang menakjubkan
yang tumbuh tepat di halaman pesantren. Lebih menakjubkan lagi
dalam mimpinya itu ketika ia ke kamar putrinya ia melihat sorban
putih wangi ada di sana. Entah kenapa sepertinya ia yakin sorban
putih itu adalah milik Kiai Sulaiman Jaiz, yang tak lain sebenarnya
adalah pendiri pesantren Wangen.
Kiai Lutfi terbangun dengan rasa takjub masih menyelimutinya. Ia
bangunkan Bu Nyai Nur, isterinya. Ibunda Anna Althafunnisa itu
membalikkan badan dengan sedikit menggerutu, ”Ada apa Bah.
Tidak tahu apa aku masih sangat ngantuk. Tadi aku tidur jam satu.
Abah mau besok aku pucat di hari yang paling bersejarah bagi
Anna!”
Edited by : Bon Bon-q97 205
”Ummi, tolong sebentar saja. Aku bermimpi sangat menakjubkan!
Mimpi baik yang luar biasa indahnya.” Bisik Kiai Lutfi tepat di
depan telinga isterinya. Bu Nyai Nur langsung membuka matanya
dan bangkit perlahan. Ia dibangunkan oleh rasa penasaran.
”Mimpi apa Bah?”
”Ini mimpi yang paling indah yang pernah aku lihat Mi. Aku
bermimpi melihat gugusan bintang. Terus ada bintang yang sangat
terang cahaya. Paling terang di antara lainnya. Bintang itu turun dan
bersinar di atas mimbar masjid pesantren kita. Tidak hanya itu, aku
juga melihat beberapa tunas pohon kelapa yang menakjubkan yang
tumbuh tepat di halaman pesantren. Dan lagi aku menemukan sorban
Kiai Sulaiman Jaiz yang sangat wangi di kamar Anna. Apa ya Mi
takwilnya?”
”Pasti baik Bah.” Jawab Bu Nyai Nur mantap. ”Ya tapi kira-kira apa
ya?”
”Menurutku itu petunjuk baik Bah. Petunjuk penting di hari
pernikahan Anna. Bintang itu menurutku adalah Furqan. Karena ia
nanti yang akan menggantikan Abah. Dialah bintang di mimbar itu.
Lalu tunas-tunas pohon kelapa itu adalah anak-anak hasil pernikahan
mereka. Dan sorban itu, bisa jadi menunjukkan kepada kita Furqan
mungkin ada pertalian darah dengan Kiai Sulaiman Jaiz. Tapi ya
Allahu a’lam Bah. Namanya juga takwil. Yang penting kita
takwilkan yang baik-baik saja.”
”Kurasa takwilmu sangat masuk akal Mi. Wah ini sangat
membahagiakan. Anna harus diberi tahu biar dia semakin bahagia.”
”Kita bangunkan dia sekarang?”
”Tidak usah. Nanti selepas shalat subuh kita beri tahu dia.”
Edited by : Bon Bon-q97 206
Dan benar, selesai shalat subuh Kiai Lutfi dan Bu Nyai Nur
memberitahukan mimpi itu kepada Anna. Bu Nyai Nur berkata,
”Aku yakin kau akan bahagia Nduk.”
”Amin.” Sahut Anna dengan hati berbunga-bunga. Ia semakin
mantap menghadapi detik-detik bersejarah yang tinggal beberapa jam
saja akan dilaluinya.
Hari itu Pesantren Daarul Quran Wangen lain dari biasanya. Gerbang
pesanten dihiasi janur melengkung. Di sepanjang jalan dari pertigaan
Polanharjo sampai pesantren dipasang umbul-umbul berwarnawarni.
Para santri libur, namun tetap berpakaian rapi. Sebagian besar dari
mereka membantu menyiapkan acara bersejarah bagi keluarga besar
pesantren itu. Yaitu hari akad nikah dan walimah Anna Althafunnisa.
Panggung pengantin disiapkan di halaman rumah menghadap masjid.
Panggung itu terasa mewah. Mahligainya bernuansa Islam
Andalusia. Sementara tempat untuk tamu undangan juga terasa
mewah. Halaman rumah Kiai yang sekaligus halaman masjid itu
bagai di sulap dijadikan tempat seperti dalam dongeng seribu satu
malam. Yang menggarap dekorasinya adalah para profesional yang
didatangkan dari Jakarta.
Sejak jam enam pagi Anna sudah bersiap-siap. Jam tepat pukul
setengah tujuh ia sudah siap dengan gaun pengantin yang dipesan
oleh Ibu Maylaf, ibunya Furqan pada desainer terkenal. Anna tampak
begitu segar dan bernas. Pesona jelitanya bagai putri dalam dongeng.
Tepat pukul tujuh Furqan dan rombongan datang. Mereka disambut
dengan lantunan Thala’al Badru dan irama rebana yang begitu padu.
Furqan tampak gagah lalu ia masuk masjid.
Edited by : Bon Bon-q97 207
Pagi itu ribuan orang akan menyaksikan akad nikah yang sudah lama
terdengar gaungnya. Para santri dan masyarakat sekitar memenuhi
masjid. Tetamu undangan yang berbondong-bondong datang pelanpelan
memenuhi kursi yang disediakan.
Di antara tamu yang hadir adalah Azzam sekeluarga. Ia menyewa
mobil yang ia kendarai sendiri untuk datang. Ibunya sangat takjub
dengan pesta yang sedemikian megahnya.
”Namanya juga yang punya gawe orang besar Bu. Ya wajar.” Kata
Azzam pada ibunya. Ibunya hanya manggut manggut sambil terus
melihat ke panggung pengantin yang belum pernah ia lihat
sebelumnya. Sementara Husna meletakkan kado pada tempatnya.
Azzam dan keluarganya memilih tempat yang agak di belakang.
Seorang lelaki setengah baya memakai batik cokelat keemasan
dengan peci tinggi datang. Serta merta Pak Kiai Lutfi yang
melihatnya mempersilakan lelaki itu ke kursi paling depan.
”Itu yang datang adalah Bapak Bupati!” Bisik Husna pada kakaknya.
”Berarti banyak orang penting yang datang?” Gumam Azzam.
”Tentu Kak. Termasuk kakak kan orang penting. Kakak kan artis,
teman dekatnya Eliana.”
”Sst! Jangan bahas Eliana lagi ya. Bosan aku mendengarnya.”
”Iya ya Kak. Husna tak akan bahas lagi.”
Tamu-tamu terus berdatangan. Azzam melihat arlojinya. Jam
delapan kurang lima menit. Ada seorang anak muda tinggi kurus,
kulitnya agak hitam, berkoko dan berkopiah putih datang dan
memilih duduk di samping Azzam.
Edited by : Bon Bon-q97 208
”Kosong?” Tanya pemuda itu.
”Iya. Silakan duduk!” Jawab Azzam.
”Dari mana Mas? Dari Jakarta?”
”Tidak. Dari dekat sini saja. Saya dari Sraten, Kartasura.”
”Teman pengantin putra atau teman pengantin perempuan?”
”Teman keduanya. Kebetulan adik saya ini akrab dengan pengantin
perempuannya.”
”Memang adik Mas kuliah di Mesir juga?”
”Tidak. Di UNS. Katanya kenal saat bedah buku di sini. Dia jadi
pembicaranya dan Anna jadi pembandingnya.”
”Sebentar, apa berarti adik Mas ini Ayatul Husna yang cerpenis itu?”
”Iya. Benar.”
Husna yang di sampingnya diam mendengarkan. Manusia memang
bermacam-macam, pikirnya. Ada juga yang seperti pemuda ini. Baru
duduk langsung memberondong dengan banyak pertanyaan.
”Di samping Mas ini ya orangnya?”
”Benar.”
”Sampaikan padanya saya selalu membaca cerpen cerpennya.”
”Sampaikan sendiri saja langsung. Mumpung orangnya ada di sini.”
Edited by : Bon Bon-q97 209
”Saya malu Mas.”
”O ya gantian, kalau Masnya dari mana?” Azzam gantian bertanya.
”Saya juga dari Klaten, tepatnya daerah Pedan.”
”Kerja di mana Mas?”
”Kerja tetap belum punya. Ini kan saya liburan. Ikut bantu mengajar
di pesantren Pak Kiai Lutfi ini. Saya masih kuliah Mas.”
”Kuliah di mana kalau boleh tahu? S1 apa S2?”
”Saya sedang mengambil master di Aligarh India. Dulu S1 di
Madinah.”
”Masya Allah. Oh ya kok belum tahu nama Mas.”
”Nama saya Muhammad Ilyas.”
”Saya Khairul Azzam. Oh lagi, kalau boleh tahu, di India ada nggak
ya kuliah S2 yang langsung menulis tesis begitu?”
”Saya persisnya kurang tahu. Setahu saya ya pasti ada kelasnya. Tapi
kalau S2 langsung by research, artinya langsung nulis tesis, di
Malaysia ada.”
”Malaysia?”
”Iya. Mas S1 di mana?”
”Di Al Azhar.”
” Wah, orang Mesir rupanya. Minat S2?”
Edited by : Bon Bon-q97 210
”Kalau S2 langsung nulis tesis, saya ada minat. Tapi kalau S2 masih
harus masuk kelas seperti biasa, mending saya bisnis saja. Saya
sudah malas ujian.” Kata Azzam dengan intonasi sedikit dikuatkan.
Husna tersenyum mendengar perkataan kakaknya itu. Ia tahu jiwa
kakaknya. Kakaknya masih ingin melanjutkan kuliah lagi. Itu pasti.
”Ya di Malaysia. Kalau mau saya ada teman yang sekarang kuliah di
sana.” ”Boleh.”
”Ini kalau mau dicatat nomor hp saya. Nomor hp Mas?”
”Oya, ini nomor hp saya, via adik saya Husna.”
”Wah nomor cantik ya.”
”Alhamdulillah.”
Para tamu terus berdatangan. Dari pengeras suara diumumkan bahwa
acara akad nikah sebentar lagi akan dilangsungkan. Tepat jam
delapan akad nikah dilangsungkan. Furqan menjawab qabiltu21
dengan lancar tanpa keraguan. Anna yang menyaksikan dan
mendengar dari lantai dua masjid meneteskan air mata. Statusnya
kini telah berubah. Ia telah resmi menjadi isteri Furqan Andi Hasan,
MA. Ia berikrar dalam hati akan mencintai suaminya sedalamdalamnya.
Dan akan membaktikan hidupnya untuk suaminya
seikhlas-ikhlasnya.
Furqan juga menangis. Ia menangis bahagia sekaligus menangis
sedih. Bahagia karena ia telah resmi menjadi suami Anna
Althafunnisa. Bahagia karena ia telah menyunting gadis yang
diidam-idamkannya.
21 Qabiltu: Aku terima.
Edited by : Bon Bon-q97 211
Dan bahagia karena ia telah membahagiakan ayah dan ibunya.
Namun di saat yang sama ia juga sangat sedih. Sedih karena ia
merasa telah membohongi semua. Ia merasa telah mengkhianati
dirinya sendiri. Dan ia telah mengkhianati Anna dan keluarganya.
Tidak hanya mereka saja. Namun juga seluruh keluarga besar
pesantren Wangen semuanya.
Tak jauh dari situ. Meskipun Azzam tersenyum, ada rasa kecewa
yang halus menyusup dalam hatinya. Yang berhasil menikahi gadis
shalehah itu bukan dirinya, tapi temannya. Akad nikah yang baru
dilangsungkan benar benar menjadi benteng yang menghalanginya
untuk memiliki gadis itu selamanya. Anna bukan rezekinya. Ia harus
mencari yang lain. Meskipun dulu ia pernah menasihati Fadhil
ternyata untuk sama sekali tidak kecewa luar biasa susahnya. Tapi
Azzam berusaha untuk menepis kekecawaan itu.
Azzam menghibur dirinya, dalam hati ia merasa pernikahan Anna
dengan Furqan kini membuat dirinya benar-benar merdeka. Dirinya
merdeka dari harapan menyunting Anna, meskipun harapan itu tipis.
Harapan yang selama ini masih sesekali datang begitu saja ke dalam
hatinya tanpa ia pinta. Sekarang harapan itu telah sirna. Dan ia bisa
lebih berkonsentrasi untuk meraih cita-citanya yang pernah ia
sampaikan sambil bercanda pada Eliana, yaitu: jadi orang paling
kaya se-pulau Jawa. Azzam tersenyum.
Ada yang lebih dalam rasa kecewanya melebihi Azzam, yaitu
Muhammad Ilyas. Yang duduk tepat di samping Azzam. Ilyas yang
lamarannya ditolak oleh Anna. Namun hari itu juga, meskipun
kecewa, Ilyas merasa sudah merasa menemukan pengganti Anna.
Pengganti Anna yang ia yakin secara kualitas tak akan kalah jauh
dari Anna. Dalam hati ia sangat bersyukur hadir di acara pernikahan
itu, sebab ia telah berkenalan dengan kakaknya Ayatul Husna.
Sebenarnya sebelum nekat melamar Anna ia sudah terpesona dengan
cerpen-cerpen yang ditulis Ayatul Husna. Dan dalam hati ia juga
Edited by : Bon Bon-q97 212
tertarik dengan penulisnya. Ia berharap bahwa gadis itu belum ada
yang melamarnya.
Selesai akad nikah, pesta walimah langsung digelar. Acara digelar
mengikut adat Surakarta. Ada upacara kecil serah terima pengantin.
Yang lazimnya adalah pengantin putri diserahkan kepada keluarga
pengantin putra. Tapi dalam upacara kali ini dibalik. Yaitu keluarga
pengantin putra menyerahkan sang pengantin putra kepada pengantin
putri. Lalu dari pengantin putri menerima pengantin putra.
Untuk berbicara mewakili keluarga pengantin putra, keluarga Pak
Andi Hasan menunjuk KH. Abdul Hadi seorang ulama besar dari
Sukoharjo untuk mewakili. Dan dari pihak keluarga KH. Lutfi
meminta KH. Salman Al Farisi dari Batur Klaten untuk mewakili.
Upacara berlangsung begitu khidmat. Ratusan ulama dan tokoh
penting sekabupaten Klaten dan sekitarnya datang memenuhi
undangan. Bahkan ada tiga wartawan yang datang.
Setelah acara serah terima pengantin. Pengantin putra dan pengantin
putri disandingkan. Sebenarnya Anna tidak mau disandingkan seperti
itu. Ia tidak mau jadi tontonan. Furqan juga berpendapat yang sama.
Tapi Bu Maylaf dan Bu Nyai Nur bersikukuh harus ada panggung
untuk pengantin, harus ada pelaminan dan harus dirias dan
disandingkan. Anna dan Furqan tidak bisa berkutik.
Hal lagi yang Anna tidak sepakat, dalam pesta walimah itu tempat
duduk tamu undangan antara pria dan wanita tidak semuanya
dipisahkan. Hanya kursi-kursi bagian depan saja yang tampak jelas
lelaki dan perempuan terpisah. Sementara yang agak belakang sudah
campur tidak karuan.
Selama duduk di pelaminan Anna terus menunduk ke bawah. Ia
berbuat demikian karena rasa malunya pada banyak orang.
Edited by : Bon Bon-q97 213
Di tengah-tengah acara ada taushiyah yang disampaikan oleh KH. A.
Mujiburrahim Noor dari Semarang. Kiai muda yang sangat
digandrungi kawula muda di Jawa Tengah ini menyampaikan
taushiyahnya dengan penuh humor-humor segar. Di tengah-tengah
tausiyahnya itu Kiai muda itu mengatakan, ”Kalau boleh saya ingin
menyampaikan satu hikmah yang disampaikan oleh Agatha Christie,
seorang penulis novel terkenal, pernah mengatakan, ’Suami paling
baik bagi seorang perempuan adalah seorang arkeolog. Makin tua
sang perempuan itu, makin cinta dan tergila-gila suaminya itu
padanya.’ Saya sarankan kepada Mas Furqan untuk berjiwa seorang
arkeolog pada Mbak Anna. Jadi semakin lama umur perkawinan
akan semakin bahagia. Kenapa? Karena Mas Furqan memandang
isterinya semakin bernilai, semakin mahal. Kan menurut arkeolog
semakin berumur dan semakin tua barang itu akan semakin antik dan
mahal. Demikian juga Mbak Anna saya sarankan untuk berjiwa
arkeolog wanita, jadi semakin tua sang suami akan semakin tergilagila
dan semakin mencintainya!”
Para hadirin yang hadir bertepuk tangan dan tersenyum bahagia
mendengarnya. Nasihat itu sejatinya oleh Kiai Mujib tidak hanya
disampaikan kepada pengantin berdua. Tapi juga disampaikan untuk
seluruh hadirin, agar semakin mencintai pasangan hidupnya.
Acara ditutup dengan doa. Yang dipimpin langsung oleh ayah Anna
Althafunnisa, yaitu KH. Lutfi Hakim. Saat doa dibacakan jiwa Anna
bergetar. Furqan menangis kepada Allah agar dibukakan jalan
bahagianya. Tak jauh dari situ Azzam berdoa semoga Allah
menemukan pasangan hidup yang terbaik untuknya.
Setelah doa ditutup, hidangan penutup dikeluarkan. Barulah setelah
itu para hadirin mohon diri pulang. Azzam sekeluarga menemui Kiai
Lutfi dan Bu Nyai. Kiai Lutfi berkata kepada Azzam, ”Aku doakan
kau mendapatkan pasangan yang terbaik menurut Allah Nak.”
Azzam mengamini pelan. Setelah itu Azzam menemui Furqan.
Edited by : Bon Bon-q97 214
Kedua sahabat lama itu berangkulan erat, Azzam mengucapkan,
”Baarakallahu laka wa baaraka ’alaika wajama’a bainakuma fi
khair.” Furqan mengamini. Lalu Azzam menelungkupkan kedua
tangannya di depan dada di hadapan Anna. Spontan Anna melakukan
hal yang sama.
”Terima kasih sudah datang. Juga terima kasih dulu pernah
menolong.” Lirih Anna.
”Tak perlu berterima kasih untuk sebuah kewajiban.” Jawab Azzam
sambil tersenyum.
Ketika Azzam turun dari panggung, Anna sempat mengikutinya
dengan ekor matanya sesaat. Ia teringat kata kata Abahnya saat
Azzam mengantarkan buku,
”Jika Abah masih punya anak putri, pasti akan Abah pinta Azzam
jadi menantu. Abah tak akan menyia-nyiakan kesempatan.”
Dalam hati Anna mengatakan, ”Kaulah sejatinya dambaan Abahku
dan juga dambaan diriku.” Anna langsung beristighfar. Ia merasa
melakukan kesalahan besar. Sambil menyalami tetamu putri yang
minta diri ia terus beristighfar. Ia mencoba menghapus bayangan
Azzam dengan mimpi Abahnya semalam. Juga takwil mimpi
Umminya. Bahwa bintang itu menurut Umminya adalah Furqan.
Karena ia nanti yang akan menggantikan Abah. Dialah bintang di
mimbar itu. Dan tunas-tunas pohon kelapa dalam mimpinya
Abahnya itu adalah anak anak hasil pernikahannya dengan Furqan.
Hari akad nikah itu hari Jumat. Karena waktunya akan diputus shalat
Jumat, maka acaranya benar-benar diringkas dan dipercepat.
Pulang dari acara pernikahan Anna, Azzam mengajak Husna, Lia dan
ibunya keliling kota Solo. Azzam menyewa mobilnya satu hari
penuh. Ia merasa harus menggunakannya dengan sebaik-baiknya.
Edited by : Bon Bon-q97 215
Selain untuk jalan jalan ia bertujuan untuk semakin memperbanyak
jam terbang mengemudi, meskipun dengan mobil sewaan.
Sejak kepulangan Azzam, Bu Nafis tampak lebih segar dan
kesehatannya semakin membaik. Batuknya jauh berkurang. Melihat
anaknya bisa mengemudikan mobil Bu Nafis merasa bahagia sekali.
Bu Nafis berkata, ”Aku doakan kamu bisa beli mobil Nak. Terus
nanti kalau punya isteri bisa kau ajak ke mana-mana dengan
mobilmu.” Azzam, Husna dan Lia langsung menyahut, ”Amin.”
”Ngomong-ngomong kakak sudah punya calon belum?” Tanya
Husna.
”Katanya calonnya Eliana.” Sahut Lia.
”Kalau Eliana jangan dibahas, dia itu cuma main-main. Kalau
ngikutin dia bisa sakit jantung kita!” Tukas Husna.
”Iya Nak, kau sudah ada pandangan?” Tanya Bu Nafis.
”Belum, Bu. Jujur saja ya. Selama ini perempuan yang aku kenal
cuma tiga. Bue, Husna dan Lia. Belakangan kenal Eliana dan Anna.
Itu saja.” Jawab Azzam.
”Kalau Sarah adik kita?” Sahut Lia.
”Ya kenal. Tapi kakak belum pernah ketemu dia kan. Waktu kakak
berangkat dulu kan Sarah masih di kandungan.”
”Kakak sudah ingin nikah?” Ujar Husna
”Lha tentu lah Na. Kakak ini sudah tua. Itu tetangga kita Si Pendi
sudah punya anak tiga. Si Pendi itu kan teman SD kakak dulu.”
”Husna punya teman Kak, mau coba Husna temukan dia?”
Edited by : Bon Bon-q97 216
”Boleh saja.”
”Kak Azzam sebenarnya sudah ketemu sama dia.”
”Siapa?”
”Itu Si Rina Jakarta.”
”Itu yang ikut jemput di bandara?”
”Ya. Dia itu baik akhlaknya. Husna jaminannya.”
”Boleh.”
”Wah kalau dia akan sangat cepat prosesnya Kak. Besok pagi
menikah juga bisa. Sebab dia sudah bilang ke saya suka sama kakak.
Dan kedua orang tuanya juga mengharapkan menantu lulusan Cairo.
Kalau begitu besok saya hubungi Rina.” Husna bersemangat.
Tapi Bu Nafis tiba-tiba menyela,
”Bue tidak setuju!”
Husna menoleh ibunya dengan pandangan heran.
”Kenapa Bu? Rina itu berjilbab dan baik. Dia teman baik Husna.”
Pelan Husna.
”Ibu tidak setuju punya menantu Rina!” Tegas Bu Nafis.
”Iya tapi kenapa?”
”Entah ibu tidak tahu. Yang jelas ibu tidak cocok! Rina sudah pernah
ke rumah kan? Ibu tidak cocok!” Kata Bu Nafis sengit.
Edited by : Bon Bon-q97 217
”Tenang Bu. Kita nanti akan cari yang ibu cocok.” Kata Azzam
meredakan. Azzam tahu persis watak ibunya sekali bilang tidak
cocok maka akan sangat sulit dilunakkan hatinya. Bagi Azzam,
ibunya tidak cocok dengan Rina ia tak kehilangan apa-apa. Nanti
Rina pasti akan ketemu jodohnya. Hanya saja saat ibunya tidak
cocok dengan Rina berarti ia harus ikhtiar untuk mencari jodoh yang
benar benar cocok baginya dan bagi ibunya. Sebab ia ingin menikahi
perempuan yang benar-benar diridhai ibunya.
Azzam membawa mobilnya ke Masjid Agung. Ia sudah rindu dengan
masjid legendaris di Kota Solo itu. Masjid yang banyak memberikan
kenangan indah padanya. Di antaranya dulu waktu masih SD ia
pernah menjuarai Lomba Tartil Al Quran tingkat anak-anak
seKaresidenan Surakarta yang diadakan oleh MUI Surakarta. Di
Masjid Agung itulah ia lomba dan di masjid itulah ia menerima
pialanya. Dan itu adalah piala pertama yang ia terima dalam
hidupnya.
Dengan susah payah akhirnya Azzam bisa memarkir mobilnya di
halaman masjid. Karena jam terbangnya belum banyak, ia sampai
keringatan saat memarkir mobilnya. Baginya yang belum mahir
benar, memarkir mobil adalah kesulitan terbesarnya. Apalagi
tempatnya begitu padat. Ia harus ekstra hati-hati.
Azan pertama dikumandangkan. Ia memandang masjid kenangan.
Masih sama dengan sembilan tahun silam. Sementara ia ke masjid
untuk shalat Jumat, Ibu dan dua adiknya melangkah ke Pasar Klewer.
Ia sempat berpesan pada Husna, ”Lihat-lihat saja dulu, jangan
mengadakan transaksi jual beli dulu ya. Nanti kita belanja setelah
kakak selesai shalat Jumat. Okay Dik?”
Husna mengangguk paham.
Edited by : Bon Bon-q97 218
13
PERTEMUAN DI KLEWER
Ada yang mengatakan, bahwa Pasar Klewer adalah pasar tekstil
terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Sebagian orang-orang
Solo meyakini hal itu. Meskipun orang-orang Jakarta selalu bilang
pasar tekstil terbesar adalah Tanah Abang Jakarta.
Yang jelas Pasar Klewer sebagai pasar batik dan lurik terbesar di
Indonesia hampir tidak ada yang membantahnya. Dan pasar Klewer
dikenal sebagai pasar aneka sandang terlengkap di Jawa Tengah juga
diakui siapa saja.
Pasar Klewer adalah urat nadi perekonomian masyarakat Solo.
Terletak tepat di sebelah barat Keraton dan tepat di selatan Masjid
Agung. Tiga tempat itu seolah satu kesatuan yang tidak bisa
dipisahkan. Karena letaknya yang sangat strategis Pasar ini tak
pernah sepi dari hiruk pikuk pembeli dan pedagang. Bahkan
pelancong.
Edited by : Bon Bon-q97 219
”Semakin padat saja ya Na Klewer sekarang?” Kata Azzam pada
Husna. Ia sudah berada di sebuah lorong Pasar Klewer. Depan
belakang dan kiri kanannya adalah kios pedagang sandangan. Mulai
dari pakaian bayi, anak anak, sampai kakek-kakek dan nenek-nenek
dijual di situ. Mulai yang murah sampai yang mahal. Mulai batik
sampai jeans. Mulai baju pesta sampai baju takwa. Semua ada.
”Sangat padat Kak. Menurut data yang saya ketahui jumlah pedagang
resminya saja tak kurang dari 1467 pedagang. Dari pedagang
sebanyak itu transaksi yang berjalan tak kurang dari lima sampai
enam milyar setiap harinya.” Husna menjelaskan.
”Kau mau beli apa Na?”
”Beli jaket dan jilbab buat Si Sarah Kak. Oh ya kapan ya kita ke
Kudus Kak? Dia belum kita beri tahu kalau Kakak sudah pulang.”
”Bagaimana kalau Ahad depan. Kakak akan sewa mobil lagi satu
hari.”
”Boleh.”
”Ibu dan Lia mana?”
”Di atas Kak. Ibu lagi milih mukena dan Lia lagi mencari seprai
untuk kado pernikahan temannya.”
”Wah kok menikah terus ya di mana-mana.”
”Memang lagi musimnya Kak. Mumpung tidak musim hujan.”
”Ayo kita temui mereka.”
”Ayo.”
Edited by : Bon Bon-q97 220
”O ya kalian sudah shalat zuhur?”
”Sudah. Tadi kita mampir ke kios temannya Lia. Dan kita shalat di
sana.”
Azzam dan Husna bergegas menemui ibunya. Di sepanjang lorong
Azzam banyak menjumpai pedagang kaki lima yang dagangannya
memenuhi lorong, sehingga cukup mengganggu para pengunjung,
termasuk dirinya. Di lantai dua, di Kios Sumber Rejeki, Azzam
menemui ibunya yang sedang memilih-milih kemeja.
”Zam Bue pilihkan kemeja buat kamu.”
”Wah yang mana Bu?”
”Ini. Bue suka warnanya.”
”Kalau Bue suka Azzam juga suka.”
”Coba kau lihat ukurannya.”
Azzam mengambil kemeja dari tangan ibunya. Ia melihat ukurannya
dan mengukur ke badannya.
”Kurang besar sedikit Bu.” Ujar Azzam pada ibunya.
”Ukuran di atasnya Mbak!” Pinta Bu Nafis pada penjaga kios
Sumber Rejeki. Penjaga itu perempuan yang masih sangat muda
mungkin masih gadis. Penjaga itu berjilbab sangat rapi dan modis.
”Iya Bu, ini.” Penjaga itu mengulurkan kemeja yang berwarna sama.
”Coba ini Zam.”
Azzam melihat dan mengukurkan ke badannya.
Edited by : Bon Bon-q97 221
”Lha kalau ini pas.”
”Ada lagi yang kau inginkan Nak?”
”Sudah Bu.”
”Kalau begitu Bue mau total semua. Berapa semuanya Mbak?”
”Seratus enam puluh lima Bu.”
”Dipaskan saja Mbak?”
”Aduh ibu, tadi kan masing-masing sudah dikorting. Sudah dipaskan.
Jujur saya cuma mengambil untung sedikit kok Bu. Kalau dikorting
lagi saya dapat apa?”
”Dipaskan seratus lima puluh saja ya Mbak semuanya.”
Aduh nyuwun sewu sanget22 Bu, tidak bisa.” Azzam menengahi,
”Sudahlah Bu, dibayar saja. Rasulullah itu suka pada penjual yang
mempermudah dan juga suka pada pembeli yang mempermudah.
Sudah dibayar saja semoga barakah.”
Perkataan Azzam didengar sang penjaga. Spontan ia berkata, ”Baik
untuk ibu saya diskon lagi lima ribu. Jadi seratus enam puluh Bu.”
”Baik. Terima kasih ya Mbak.” ”Sama-sama Bu.”
Sebelum meninggalkan kios itu ketika Husna, Azzam dan Bu Nafis
sudah berjalan, Lia iseng bertanya pada penjaga kios itu,
”Eh maaf Mbak, Mbak sudah menikah belum?”
22 Mohon maaf sekali
Edited by : Bon Bon-q97 222
”Kenapa memangnya?” Jawab Mbak itu.
”Cuma mau nanya aja. Penampilan Mbak menarik sih.”
”Kebetulan saya belum menikah. Kalau Mbak?”
”Sama. Saya juga belum.” Jawab Lia.
”Eh, itu kakakmu ya?”
”Iya Mbak. Mbak tertarik?”
”Boleh juga. Kerja di mana?”
”Masih menganggur Mbak.”
”Suruh kerja di sini saja sama aku.”
”Ih, Mbak ini ada-ada saja. Kalau bukan mahram kan tidak boleh
berduaan di kios sempit seperti ini.”
”Ya dihalalkan dulu biar tidak dosa.” Ucap gadis penjaga kios itu
santai.
”Mbak bisa saja. Eh kalau boleh tahu siapa nama Mbak.”
”Kartika Sari. Panggil saja Tika. Kalau Mbak?” ”Lia.”
* * *
”Mau makan di mana kita Bu?” Tanya Azzam. ”Bue kangen sama
nasi Timlo Mbok Yem yang ada di dekat Sriwedari itu. Banyak
kenangan dengan ayahmu disana.
”Kalau begitu kita ke sana.”
Edited by : Bon Bon-q97 223
Azzam membawa mobilnya ke barat ke arah Coyudan. Azzam
berkeringat, kelihaiannya mengemudi benar-benar diuji. Jalan dari
Klewer ke Coyudan begitu padat dan semrawut. Tukang becak
memarkir becaknya sembarangan. Angkutan umum ngetem
seenaknya memotong jalan. Mobil box bongkar pasang muatan.
Kendaraan bermotor yang jalan pelan namun tiba-tiba berzigzag
dengan cepat tanpa perhitungan. Hampir saja Azzam menabrak
becak yang tadinya parkir, tiba-tiba nylonong masuk jalan.
”Hati-hati Kak.”
”Itu tukang becak nyawanya rangkap kali. Nylonong sembarangan.
Dasar!” Umpat Azzam spontan.
”Nak, kalau ngomong jangan kasar begitulah. Tidak enak didengar.”
Tegur Bu Nafis.
”Astaghfirullah. Iya Bu. Kadang setan memang ada di mulut juga.”
Azzam melewati kawasan Singosaren. Dan terus ke barat, hingga
akhirnya sampai Pasar Kembang. Husna memandang para pedagang
yang duduk menunggu pembeli datang. Ada seorang ibu tua yang
duduk termangu, pandangan matanya kosong. Husna merasa iba.
Entah apa yang sedang dilamunkan ibu tua itu. Tiba-tiba kedua mata
Husna menangkap sosok yang ia kenal.
”Kak pelan Kak!”
”Ada apa?”
”Itu seperti Zumrah. Dik Lia coba lihat itu Zumrah kan?”
Lia memandang ke arah yang ditunjuk Husna.
Edited by : Bon Bon-q97 224
”Iya benar Mbak.”
”Kak Azzam berhenti sebentar!”
Husna sendirian. Ia berjalan cepat menuju sebuah kios penjual
kembang. Zumrah tampak duduk di sana melamun. Di sampingnya
seorang ibu setengah baya yang gemuk badannya sedang makan
jagung godog dengan lahapnya.
”Hei Zum!” Sapa Husna. Zumrah ternganga. Kaget. ”Husna! Lia!”
”Hei, assalamu’alaikum.” ”Wa ’alaikumussalam.”
”Sedang apa kau di sini? Kamu aku cari-cari ke mana mana!”
”Aku tak tahu harus bagaimana. Aku...”
”Sudah ayo ikut kami makan siang. Kau sudah makan?”
”Belum.”
”Ayo. Sekalian ketemu kakakku. Dia sudah pulang. Dulu waktu
kecilkan kau selalu bilang mau jadi manten sama kakakku.”
”Ah, kamu Na. Semua kenangan masa kecil kau ingat semua. Jadi
Mas Azzam sudah pulang?” ”Iya. Itu di mobil.” ”Wah keren sudah
punya mobil.” ”Itu mobil orang. Ayo!” Husna setengah memaksa.
”Yuk.”
Zumrah dan Husna menyapa ibu gemuk itu lalu bergegas ke mobil.
”Assalamu’alaikum Bu Nafis, Lia dan Mas Azzam.” Sapa Zumrah
pelan.
Edited by : Bon Bon-q97 225
”Wa ’alaikumussalam.” Jawab Bu Nafis, Lia dan Azzam hampir
bersamaan.
Mobil kembali berjalan. Dari kaca spion di dalam mobil sekilas
Azzam melihat wajah Zumrah. Wajah yang murung dan
mengguratkan kesedihan. Azzam membawa mobilnya terus ke barat
sampai di perempatan Baron. Lalu belok kanan. Sampailah di
kawasan Sriwedari. Azzam lalu membawa mobilnya ke arah jejeran
toko-toko buku loakan. Di sela-sela toko buku loakan ada sebuah
warung makan kecil. Warung itu milik ibu tua namanya Mbok Yem.
Tepat di depan warung itu mobil Azzam berhenti dan semua
penumpangnya turun. Azzam mengamati took toko loakan dengan
hati bahagia luar biasa. Rasa bahagia yang tidak bisa dilukiskan
dengan kata-kata. Ia juga punya kenangan indah di sebuah toko buku
itu. Dulu waktu masih SD ia memang sering diajak ayahnya ke toko
loakan itu untuk mencari buku-buku pelajaran bekas yang masih bisa
dipakai. Ia sangat bersemangat memilih buku-buku pelajaran bekas.
Dengan buku-buku bekas itulah ia bisa meraih prestasi yang baik.
Tak hanya itu, ia juga sering minta pada ayahnya untuk membeli
majalah Bobo. Untuk buku dan masalah baca membaca ayahnya
memang tidak pernah berpikir panjang mengeluarkan uang. Sejak
SD ia sudah keranjingan membaca. Lain dengan Husna, waktu SD
sampai SMP ia lebih suka main dan dolan dengan teman-temannya.
Itu dulu, sekarang Husna sudah 180 derajat berubah. Sekarang Husna
adalah predator buku, pelahap buku yang dahsyat. Hampir buku apa
saja yang diberikan kepada Husna pasti habis dibacanya. Kecuali
buku berbahasa Arab yang Husna tidak tahu artinya.
”Warung ini tempat aku dan ayahmu dulu sering makan bersama
ketika ayahmu beli buku-buku loakan untuk dibaca-baca. Sering kali
dulu juga mengajak anak anak.” Kata Bu Nafis mengenang masa
lalunya.
Edited by : Bon Bon-q97 226
”Iya Bu saya masih ingat.” Sahut Azzam.
”Semoga tempat penuh kenangan ini tidak hilang.”
”Ya nggak lah Bu. Masak hilang.”
”Bisa saja Zam, kalau dibuang sama pemerintah kan bisa hilang.”
”Iya bener juga.”
”Kau mau pesan apa Zam?”
”Aku ikut ibu saja.”
”Semua ikut ibu?”
Husna, Lia dan Zumrah menganggukkan kepala.
”Timlo lima Mbok. Es Tehnya juga lima.” Kata Bu Nafis pada Mbok
Yem yang duduk seperti menunggu aba aba. Mbok Yem langsung
bangkit dari duduknya dan meracik pesanan pembelinya.
”Mungkin aku bunuh diri saja!” Kata Zumrah serak. Semua yang
mendengar kaget dibuatnya.
”Aduh Nduk, jangan! Itu dosa besar! Bisa masuk neraka selamanya
kamu nanti!” Ucap Bu Nafis seketika.
”Apa yang bisa kami bantu untuk menghilangkan keputusasaanmu
Zum?” Lirih Husna.
”Aku tak tahu. Aku seperti tidak punya siapa-siapa Na. Aku merasa
seluruh keluargaku membenciku, menginginkan kematianku! Hiks...
hiks...” Serak Zumrah tersedu.
Edited by : Bon Bon-q97 227
”Kau punya kami Zum. Aku kan sudah bilang sama kamu agar jika
ada apa-apa temuilah aku di radio. Kau malah menghilang entah ke
mana. Zum, aku sudah cerita ke ibumu. Ibumu sudah memaafkanmu
dan juga adik adikmu. Mereka menginginkan kamu kembali Zum.
Hanya pamanmu saja yang masih marah. Itu kalau kau mohon maaf
dan menangis di kakinya juga pasti akan luluh.” Dengan penuh cinta
Husna menenangkan dan membesarkan hati Zumrah.
”Benarkah ibu sudah memaafkanku?”
”Demi Allah Zum. Iya.”
”Tapi aku tak pantas dimaafkan Na. Aku khilaf lagi. Aku sepertinya
sangat susah keluar dari lumpur setan ini. Setelah ketemu denganmu
di pesantren aku ke Jogja. Dan di sana, maaf, aku kepergok germoku
lagi. Aku tak berkutik. Aku dipaksanya melakukan maksiat lagi.
Meskipun aku sedang hamil Na. Sudah kujelaskan dia tidak ambil
peduli. Aku diancam akan dibunuhnya jika tidak mau Na! Aku harus
bagaimana?”
”Kalau kau ingin bersih, kau harus tidak lagi dekat-dekat dengan
dunia itu Zum! Kenapa pula kau ke Jogja? Pasti kan juga ke daerah
yang dikenal mereka dan kau kenal tho?”
”Iya Na. Aku memang bingung saat itu. Aku akhirnya ke kos-kosan
temanku. Kok pas germo itu ada di sana!”
”Begini saja Zum. Aku sarankan kau pulang saja ke Sraten. Hidup
sama keluargamu itu lebih aman.”
”Aku malu Na.”
Edited by : Bon Bon-q97 228
”Terserah kamu Zum kalau begitu! Mau bunuh diri ya bunuh diri
sana! Dulu kamu melakukan maksiat itu tak pernah malu! Ini untuk
kebaikanmu, yang ini tidak maksiat malah malu!” Husna jengkel.
Zumrah diam. Ia tahu Husna marah.
”Zum anakku, kalau kamu mau, ibu akan menemanimu menemui
ibumu. Dia pasti senang menerima kedatanganmu. Orang-orang
Sraten masih banyak yang sayang padamu kok Nduk.”
Zumrah menghela nafasnya. Ia memandang Bu Nafis yang
mengelus-elus kepalanya. ”Aku khawatir jika kedatanganku
menerbitkan kembali amarah ibuku. Aku tahu dosaku terlalu besar.”
Menu yang dipesan sudah siap. Mbok Yem mengeluarkan nasi Timlo
lima pasang. Nasi putih dan sayur Timlonya yang mantap rasanya. Di
Solo, selain nasi Timlo, makanan khas yang juga sangat dikenal di
antaranya adalah nasi liwet, thengkleng, soto lembu, sate buntel,
bakso Solo, garang asem, cabuk rambak, pecel ndeso, gado-gado,
tahu kupat, nasi gudangan dan nasi sambal tumpang. Itu semua
adalah jenis makanan yang sangat dirindukan oleh Azzam. Karena
yang seperti itu di Cairo tidak ada. Kalau pun ada yang mencoba
membuatnya rasanya pasti beda. Sebab bumbunya tidak sama.
Sesaat masalah Zumrah tidak dibicarakan. Semua diam menikmati
hidangan masing-masing. Azzam masih bingung dengan apa yang
baru saja didengarnya. Ia sama sekali tidak tahu apa masalah yang
mendera Zumrah sebenarnya. Husna tidak cerita banyak padanya.
Dan ketika ia sholat di masjid atau ronda orang-orang juga tidak
banyak membicarakannya. Yang ia tahu Kang Paimo pernah cerita
Pak Masykur ayah Zumrah meninggal karena serangan jantung
akibat bertengkar dengan Zumrah. Dan Zumrah diusir dari rumah.
Setelah itu tidak pernah kembali. Bahkan di hari pemakaman
ayahnya juga tidak kembali.
Edited by : Bon Bon-q97 229
”Bagaimana Zum?” Tanya Husna selesai makan.
Zumrah diam. Ia gamang mau mengambil jalan yang mana. Jalan
pulang atau jalan pengembaraan panjang yang gelap dan tidak tahu
mana ujungnya. Jalan pulang adalah jalan yang ia inginkan, tapi
entah kenapa jalan yang gelap itu seperti telah begitu akrab
dengannya. Jalan yang selama ini ia lalui dengan darah dan air
matanya.
”Mbak Zum, sebagaimana orang untuk jahat dan berbuat dosa perlu
keberanian, perlu nyali, maka orang untuk baik dan berbuat benar
juga perlu keberanian, perlu nyali yang kuat!” Lia menguatkan.
Azzam yang mendengar kata-kata adiknya itu jadi kagum. Ia heran
dari mana adiknya itu mendapat ilham untuk mengatakan kalimat
yang dalam maknanya itu.
”Baiklah akan aku coba untuk pulang. Aku ikut kalian!” Ucap
Zumrah serak. Husna langsung maju memeluk sahabatnya itu.
”Bantu aku untuk kuat ya Na. Aku masih sangat rapuh Na.” Pinta
Zumrah.
”Tenanglah Zum, jika kau merasa tidak punya siapa siapa, maka kau
masih punya Allah.”
Mereka lalu naik mobil dan bergerak ke dukuh Sraten, Kartasura.
Azzam bertemu kembali dengan Zumrah. Teman Husna waktu masih
kecil. Zumrah yang dulu bersama Husna sering main ke rumah dan
sering main petak umpet dengannya. Zumrah yang dulu oleh anak
anak yang ngaji di masjid sering dijodohkan dengannya. Zumrah
yang pernah bilang ke ibu-ibu di Warung Bu War bahwa ia mau jadi
manten dengan kak Azzam saja. Ah masa kecil yang indah itu telah
berlalu!
Edited by : Bon Bon-q97 230
Ia kini bertemu Zumrah dalam keadaan yang jauh dari bayangannya.
Dari pembicaraan di warung Mbok Yem tadi sedikit banyak ia bisa
meraba apa yang dilakukan dan dialami Zumrah selama ini. Namun
ia tidak mau berprasangka yang tidak-tidak. Sampai di rumah ia
yakin Husna akan menjelaskan semuanya.
Edited by : Bon Bon-q97 231
14
MALAM PERTAMA
Meskipun malam itu bulan tertutup awan, namun keindahannya bagi
Furqan sulit dilukiskan. Setelah satu hari penuh menerima tamu yang
datang pergi bergantian, akhirnya ia dan Anna bisa masuk kamar
pengantin yang telah disiapkan tepat jam sembilan.
Ia melepas peci dan jas putihnya yang ia pakai sejak jam tiga. Anna
melepas gaun pengantin putihnya perlahan. Ia memperhatikan
isterinya melepas gaun pengantinnya itu dengan jantung berdegup
kencang. Setelah jilbab dilepas tampaklah Anna dengan rambut
hitamnya yang tergerai berkilauan. Di balik gaun pengantin Anna
temyata masih memakai rangkapan kaos putih ketat dan bawahan
putih tipis. Anna tersenyum tipis pada Furqan.
Kedua kaki Furqan bagai terpaku di tempatnya. Seluruh syarafnya
bergetar. Hatinya dingin. Ada gelombang kebahagiaan luar biasa
yang bagai memusat di ubun ubun kepalanya.
Edited by : Bon Bon-q97 232
Anna meraih parfum, bau wangi yasmin nan suci merasuk ke hidung
Furqan. Merasuk ke seluruh aliran darah Furqan. Anna menyibakkan
rambutnya dan mengulurkan kedua tangannya sambil duduk di tepi
ranjang yang bertabur bunga kebahagiaan.
”Ayolah sayang, peganglah ubun-ubun kepalaku. Dan bacalah doa
barakah sebagaimana para shalihin melakukan hal itu pada isteri
mereka di malam pertama mereka yang bahagia.” Kata-kata Anna
bening dan bersih.
Furqan tergagap, ia kikuk, ia lupa pada dunia. Ia lupa pada perasaan
sedihnya yang selama ini menderanya. Ia melangkah, ia ingat sunnah
itu. Sunnah memegang ubun ubun kepala isteri di malam pertama
ketika pertama kali bertemu. Tapi ia lupa doanya. Ia lupa apa doanya.
Ia mengingat-ingat tapi tidak juga ingat. Yang penting ia maju dan
mencium kening isterinya.
Furqan duduk di samping Anna. Bau wangi yasmin dan bau tubuh
Anna begitu kuat ia rasa. Anna memejamkan mata. Furqan
memegang ubun-ubun isterinya dengan dada bergetar. Ia tidak bisa
berdoa apa-apa. Ia hanya mengatakan, ”Bismillahi, Allahumma.”
Seterusnya tidak jelas. Anna larut dalam perasaan bahagianya. Ia
sudah menyerahkan jiwa dan raganya seutuhnya pada suaminya.
Anna membaca ’amin’ dengan mata berkaca-kaca. Lalu dari pojok
kedua matanya, aliran hangat meleleh ke pipi.
Furqan mengusap air mata yang mengalir di pipi isterinya. Ia lalu
mengusap rambutnya isterinya yang halus. Lalu perlahan Furqan
mencium pipi isterinya. Ciuman yang membuatnya bagai melayang
karena bahagia.
Anna membuka matanya. Furqan memandangi wajah isterinya
dengan penuh kasih sayang dan cinta. Kedua mata suami isteri itu
Edited by : Bon Bon-q97 233
bertemu. Hati Furqan berdesir saat melihat bibir Anna yang ranum.
Saat ia hendak menciumnya, Anna berkata,
”Mari kita shalat dulu dua rakaat Mas. Kita bersihkan jiwa dan raga
kita dari segala kotoran. Agar apa yang kita lakukan mulai saat ini
sebagai suami isteri bersih, ikhlas semata-mata karena Allah. Bukan
karena syahwat atau pun birahi. Bukankah itu yang dilakukan para
shalihin sejak awal mereka berumah tangga?”
Furqan menarik dirinya. Ia jadi malu pada Anna. Kenapa ia begitu
tergesa-gesa. Kenapa ia hanya memperturutkan nafsunya. Furqan
beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kamar itu
memang dilengkapi dengan kamar mandi di dalam kamar. Setelah
Furqan wudhu gantian Anna yang wudhu. Furqan kembali memakai
jas dan pecinya. Sedangkan Anna langsung memakai mukena yang
telah dipersiapkannya.
Furqan menjadi imam. Ia membaca surat Al Insyirah dan An Nasr.
Anna makmum di belakangnya dengan khusyu’. Dalam sujudnya
Anna memohon agar ia diberi barakah dan kebaikan di dunia dan di
akhirat. Agar rumah tangganya sakinah, mawaddah dan rahmah.
Usai shalat Furqan berdoa secara umum untuk kebaikan dunia dan
akhirat. Anna mencium tangan suaminya dengan penuh cinta. Furqan
memandangi isterinya yang bercahaya dibalut mukena putihnya.
”Kenapa Mas Furqan membaca doa umum, bukan doa khusus untuk
kita sebagai pasangan yang baru menikah?” Pelan Husna sambil
tersenyum pada Furqan.
”Mas gugup Dik. Jadi lupa. Nanti kita bisa berdoa lagi kan?” Jawab
Furqan diplomatis.
”Nggak apa-apa? Mas mau melakukan itu sekarang?”
Edited by : Bon Bon-q97 234
”Iya.”
”Apa Mas tidak letih?”
”Tidak.”
”Baiklah. Tapi Anna ambil air minum ke bawah dulu ya Mas?
Sebentar saja. Anna haus.”
”Mas tunggu.”
Anna melangkah keluar kamar tetap dengan memakai mukenanya.
Furqan melepas kembali jas dan pecinya. Ia juga melepas kemejanya.
Ia bersiap untuk melalui detik detik paling membahagiakan dan
paling bersejarah dalam hidupnya. Ia mendengar handphonenya
berdering. Ada sms masuk. Ia ambil han phonenya yang ada dalam
saku jasnya. Ia buka. Ada tiga sms dari Ustadz Mujab, Cairo. Ia
tersenyum. Ia baca.
”Akhi, selamat ya. Barakallahu laka wa baaraka ’alaika wa jama’a
bainakuma fi khair. Semoga rumah tangga kalian sakinah,
mawaddah wa rahmah. Sakinah maknanya pasangan suami isteri itu
menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi perasaan, berbagi suka
dan duka. Mawaddah artinya benar-benar saling mencintai. Dan
rahmah artinya saling mengasihi, saling merahmati, saling
menyayangi. Rahmah di sini menurut ulama berarti pasangan suami
isteri tidak ada tindakan saling menyakiti sedikitpun. Suami tidak
menyakiti isteri. Baik ragawi maupun rohani. Dan sebaliknya.
Jagalah isterimu. Perlakukan dengan sebaik-baiknya. Jangan kau
sakiti sedikitpun. Bertakwalah kepada Allah. Selamat menempuh
hidup baru. Mujab.”
Ia bahagia membaca sms itu. Namun juga tersentak bagai tersengat
aliran listrik. Ia sangat mencintai Anna. Namun ia tidak boleh
Edited by : Bon Bon-q97 235
menyakitinya. Sedikitpun. Tanpa ia minta ia kembali teringat virus
yang ia rasa bercokol dalam dirinya. Virus HIV. Jika ia melakukan
itu sekarang, apakah ia tidak menyakiti Anna. Bagaimana kalau
Anna tertular HIV?
Kesedihan dan nestapa tiba-tiba mendera dirinya. Ia tidak mau
mengkhianati dirinya sendiri. Ia sangat mencintai Anna, ia tidak mau
menyakitinya. Keinginannya untuk melakukan ibadah biologis
perlahan-lahan surut.
”Assalamu’alaikum.” Sapa Anna pelan membuka pintu. Senyum
putri Kiai Lutfi itu mengembang. Anna datang membawa gelas berisi
air agak kuning kecoklatan.
”Mas minumlah ini dulu. Ini madu. Biar lebih fres dan bugar.”
Kata Anna sambil mengulurkan gelas yang ia bawa pada Furqan
yang duduk di tepi ranjang. Furqan menerimanya dengan tangan
bergetar. Ia paksakan untuk tersenyum pada isterinya. Anna balas
tersenyum. Furqan meminum air madu itu teguk demi teguk sampai
habis. Lalu meletakkan di meja rias dekat ranjang. Anna melepas
mukenanya, lalu duduk di samping Furqan.
”Aku siap beribadah Mas. Aku sudah siap untuk menyerahkan jiwa
dan raga. Aku siap untuk menjadi lempung di tangan seorang
pematung. Dan Mas Furqanlah sang pematung itu.” Kata Anna
sambil perlahan hendak melepas kaos putih ketat yang menempel
tubuhnya. Dada Furqan berdesir kencang. Ia ingin memeluk tubuh
isterinya itu dengan penuh cinta. Namun ia teringat virus HIV yang
bercokol dalam tubuhnya. Dengan mata berkaca kaca ia memegang
tangan isterinya.
”Dik, jangan sekarang ya? Letih. Besok saja.” Lirihnya pada Anna.
Edited by : Bon Bon-q97 236
”Benar besok? Tidak sekarang?” Tanya Anna.
”Iya besok saja. Kita istirahat saja dulu. Tak usah tergesa-gesa ya.”
”Anna ikut Mas saja. Tapi kenapa Mas menangis?” ”Mas sangat
terharu akan ketulusanmu. Mas juga menangis karena sangat
bahagianya. Mas seperti mimpi bisa memiliki isteri sepertimu.”
”Anna juga sangat bahagia Mas. Mas adalah imam Anna, pelindung
Anna, Murabbi Anna, juga insya Allah ayah dari anak-anak Anna
kelak. Tahu tidak Mas. Kemarin malam Abah bermimpi yang
menurut Ummi adalah mimpi tentang Mas. Mimpi yang sangat
menakjubkan.”
”Mimpi apa itu Dik?”
”Abah bermimpi melihat gugusan bintang. Terus ada bintang yang
sangat terang cahaya. Paling terang di antara lainnya. Bintang itu
turun dan bersinar di atas mimbar masjid pesantren. Terus Abah juga
melihat beberapa tunas pohon kelapa yang menakjubkan yang
tumbuh tepat di halaman pesantren. Dan Abah menemukan sorban
Kiai Sulaiman Jaiz yang sangat wangi di kamar Anna ini.
”Menurut Ummi mimpi itu adalah sebuah petunjuk penting
menjelang pernikahan ini. Bintang itu menurut Ummi adalah Mas.
Karena Mas-lah nanti yang insya Allah akan menggantikan Abah.
Mas-lah bintang di mimbar pesantren itu. Lalu tunas-tunas pohon
kelapa itu adalah anak-anak hasil pernikahan kita. Dan sorban itu
menurut Ummi bisa jadi menunjukkan kepada kita Mas bertalian
darah dengan Kiai Sulaiman Jaiz.”
”Siapa itu Kiai Sulaiman Jaiz Dik?”
Edited by : Bon Bon-q97 237
”Pendiri pesantren ini, yang sampai sekarang tidak diketahui
rimbanya.”
”Apa Kiai Sulaiman pernah ke Betawi.”
”Allahu a’lam.”
”Semoga takwil ibumu itu benar.”
”Semoga. Amin.”
Malam itu Furqan tidak tidur sepicing pun. Meskipun matanya
memejam tapi pikiran dan hatinya terus terjaga. Sesekali ia membuka
matanya lalu memandangi isterinya yang tidur di sampingnya. Wajah
isterinya begitu bersih jelita. Ia ingin menciumnya tapi ia urungkan
karena khawatir membangunkannya.
Di dalam dadanya seperti ada bara yang membara. Bara cinta, juga
bara nafsu pada isterinya. Pada saat yang sama juga ada bara
kemarahan yang ia tidak tahu dari mana datangnya. Ia marah pada
dirinya sendiri. Marah pada virus HIV yang ia rasa bercokol dalam
seluruh sel dan aliran darahnya. Malam ini ia berkukuh untuk tidak
menyakiti isterinya. Tapi ia bertanya sendiri pada dirinya, kalau
setiap hari bertemu dan tidur satu ranjang dengan isterinya yang
begitu jelita apakah ia akan selalu mampu menahan diri.
Terus harus bagaimana?
Anna telah sah jadi isterinya. Sah untuk ia apa-apakan. Bahkan Anna
sudah menyerahkan seluruh jiwa raganya padanya. Dengan tulus
Anna tadi berkata padanya, ”Aku siap beribadah Mas. Aku sudah
siap untuk menyerahkan jiwa dan raga. Aku siap untuk menjadi
lempung di tangan seorang pematung. Maslah sang pematung itu.”
Maka alangkah ruginya jika ia tidak menikmati kebahagiaan ini
Edited by : Bon Bon-q97 238
setuntas tuntasnya. Kenapa memperdulikan virus HIV? Sudah
menjadi risiko Anna karena menikah dengannya terkena virus HIV.
Semua orang toh punya risiko terkena penyakit. Tak terkecuali Anna.
Begitulah suara rasionya bergemuruh menghasutnya.
Namun dengan sangat halus dan lembut nuraninya mengingatkan
bahwa alangkah zalimnya ia jika menyakiti Anna. Apa dosa Anna,
sampai tega harus hidup sengsara terkena virus HIV? Mana itu
takwa? Mana iman? Mana rasa percaya kepada Tuhan? Mana
keimanan kepada hari kemudian? Dan apa dosa Kiai Lutfi sampai
putri dan keluarganya dihancurkan? Apa dosa pesantren Wangen
sampai dikotori dengan kelaliman? Apa nanti pandangan para santri
dan masyarakat jika putri Kiai dan menantu Kiai terkena HIV?
Apakah demi syahwat dan nafsu semua dijadikan korban? Alangkah
bahagianya iblis dan setan?
Sampai tengah malam batinnya terus berperang. Malam itu ia merasa
sebagai manusia paling berbahagia di dunia, namun juga merasa
sebagai manusia paling nelangsa di dunia. Ia tidak tahu harus
bagaimana lagi menata hidupnya? Ia seperti berada di tengah-tengah
padang pasir yang gersang, yang sangat sepi, tak ada jejak apa pun di
sana. Dan ia tidak tahu harus berbuat apa dan harus kemana?
Jam setengah tiga ia mendengar Anna mendesah lalu memanggil
namanya. Ia memejamkan mata pura-pura tidur. Ia merasakan Anna
bangkit. Turun dari ranjang. Lalu ia merasakan kedua tangan Anna
memegang kepalanya dan isterinya itu mengecup keningnya.
Dadanya berdebar debar. Ia merasakan kesejukan luar biasa. Ia
merasa benar benar dicintai isterinya sepenuh jiwa.
Sejurus kemudian ia mendengar gemericik air dari kamar mandi. Ia
membuka kedua matanya. Saat Anna ia dengar mematikan kran dan
keluar dari kamar mandi ia pura-pura tidur kembali. Anna
mengambil sesuatu. Ia sedikit membuka matanya. Remang-remang ia
Edited by : Bon Bon-q97 239
melihat isterinya itu memakai mukenanya. Lalu mengambil sajadah
dan shalat.
Ia tetap rebah di tempatnya. Ia bingung sendiri harus berbuat apa? Ia
malu pada Anna. Ia malu pada kebersihan gadis itu. Apakah tega ia
menyakitinya? Apakah tega ia merusaknya dengan virus HIV hanya
karena ambisi nafsunya. Ia malu. Apakah ia sudah benar-benar tidak
punya nurani dan jiwa? Nuraninya menghujatnya. Matanya berkacakaca.
Ia mendengar isterinya terisak-isak berdoa. Doa yang sangat panjang.
Ia sangat faham isterinya. Di antara orang yang didoakan isterinya
adalah dirinya. Isterinya meminta kepada Allah, agar dirinya
dijadikan sebagai suami yang shalih yang selalu menjadi penolong
meraih kebaikan di dunia dan di akhirat, bukan sebaliknya. Dia
mendoakan agar dirinya diberi hidayah selalu, dan dikaruniai rasa
takwa selalu di mana pun dia berada.
Isterinya mendoakan dirinya dalam shalat malamnya. Isterinya begitu
mencintainya dengan sepenuh jiwa dan raga.
Apakah ia akan tega merusaknya?
Nuraninya bertanya. Dan ia hanya bisa merasakan pilu dan nestapa
yang luar biasa. Ia memejamkan matanya kuat kuat. Air matanya
meleleh.
”Mas, tahajjud!” Isterinya membangunkannya pelan.
Ia membuka matanya dan bangkit. Isterinya menatapnya lekat-lekat.
”Mas menangis lagi? Kenapa?”
Edited by : Bon Bon-q97 240
”Aku mendengar doamu Dik. Terima kasih ya. Semoga Allah
meridhaimu.”
”Amin. Mas, shalat tahajjud dulu. Nanti keburu subuh.”
”Baik Dik.”
Edited by : Bon Bon-q97 241
15
PAGI YANG MENEGANGKAN
Zumrah belum menemui ibunya. Ia tidur di rumah Husna. Ia
bersikukuh tidak bertemu ibunya. Berulang-ulang Bu Nafis, Husna
dan Lia membujuknya. Tetap saja ia kukuh dengan sikapnya. Selepas
shalat subuh Zumrah bersiap untuk pergi. Ia merasa harus pergi
sebelum hari terang.
”Terus kau mau kemana Zum? Tanya Husna
”Aku tak tahu Na.” Jawab Zumrah
”Apa kau tak kasihan sama janinmu. Perutmu sudah besar. Dia butuh
ketentraman. Dia butuh rasa aman. Dia butuh kesehatannya terjamin
sementara kau terus menggelandang begitu, terus juga masih
menemui germomu itu alangkah malangnya janin dalam
kandunganmu.”
”Aku juga berpikir begitu Na. Tapi apa boleh buat.”
Edited by : Bon Bon-q97 242
”Terserah kau Zum. Aku ingin membantu tapi kau sendiri yang tidak
mau.”
”Terima kasih atas segalanya Na. Semoga aku tidak lagi
menyusahkanmu.”
Mereka berdua berbincang di ruang tamu. Azzam masih di masjid.
Bu Nafis keluar membawa minuman dan mendoan goreng.
”Aduh, kok repot-repot Bu. Saya sudah mau pergi.” Kata Zumrah.
”Minum teh hangat dulu dan cicipi dulu mendoannya baru kau boleh
pergi.” Sahut Bu Nafis.
”Na, apa tidak ada kos-kosan yang murah. Yang kira kira aman
untuk Zumrah, sehingga ia bisa tenang sampai melahirkan?” Tanya
Bu Nafis pada Husna.
”Oh ya benar. Kau mau kalau kos di Nilasari. Aku ada teman di sana.
Satu bulan lalu bilang cari teman. Kamar dia besar. Harga kamar itu
sebulannya seratus tujuh puluh. Kalau mau kau cuma bayar tujuh
puluh ribu saja.” Terang Husna.
”Mau. Tapi aku dapat uang dari mana ya?” Lirih Zumrah merana.
”Kalau kau mau, tiga bulan pertama biar aku yang bayar. Setelah itu
kau bayar sendiri, bagaimana?”
”Terima kasih Na. Kau baik sekali.””Masih mau pergi
sekarang?””Iya tetap pergi sekarang. Nanti siang aku ke radiomu
saja,”
”Terserah kau.”
Edited by : Bon Bon-q97 243
Zumrah mengambil gelas yang ada di hadapannya dan menyeruput
isinya. Setelah itu ia bangkit dan minta diri.
Zumrah mencium tangan Bu Nafisah, bersalaman dengan Lia dan
memeluk Husna. Zumrah membuka pintu, tiba tiba...
”Mau ke mana lagi, Lonte!”
Seorang berjaket hitam membentak keras sambil menodongkan
pistolnya tepat di jidat Zumrah. Bu Nafis gemetar ketakutan. Husna
dan Lia merinding. Sementara Zumrah saking takutnya tanpa ia
sadari mengeluarkan air kencing. Pria berjaket hitam itu baginya
bagaikan malaikat pencabut nyawa yang siap mencabut nyawanya.
Gigi pria itu bergemeretak menahan amarah. Matanya merah marah.
”Am... ampun paman! Ampuni Zum, pa... paman!” Zum terbata-bata
serak.
”Tak ada ampun untuk lonte murtad yang membunuh ayahnya
sendiri! Pagi ini tamat riwayatmu!”
”Mahrus, dia tidak murtad. Dia masih Islam. Tadi subuh dia shalat di
rumah ini!” Husna yang dulu pernah nakal terbit kembali
keberaniannya.
”Diam kau Husna! Jangan ikut campur kau! Ini urusanku dengan
lonte tengik ini!”
”Tidak ikut campur bagaimana? Dia tamuku! Dan kau seperti
perampok yang masuk rumah tanpa kulon nuwun23 dulu!”
23 Minta ijin.
Edited by : Bon Bon-q97 244
”Baik, maafkan kelancanganku. Biar aku tembak lonte ini di jalan
saja. Biar dia tidak jadi hantu di rumah ini. Biar dia jadi hantu yang
mengelayap ke mana-mana! Ayo jalan!” Mahrus menggertak
Zumrah.
”Tidak, jangan!” Zumrah berontak.
Buk!
”Ah!”
Mahrus memukul pelipis Zumrah dengan gagang pistol. Zumrah
mengaduh. Pelipis Zumrah berdarah. Husna mau bergerak menolong
Zumrah tapi dicegah Bu Nafis. Bu Nafis tahu kenekatan Mahrus
sejak kecil. Ia tidak ingin Husna celaka dengan konyol.
”Mahrus anakku!” Ucap Bu Nafis dengan lembut.
”Iya Bu Nafis.” Jawab Mahrus sambil menengok ke wajah Bu Nafis.
”Apa tidak bisa dirembug dengan baik-baik tho. Dia itu
keponakanmu sendiri. Seharusnya kau sayang padanya.”
”Apa ibu kira aku tak sayang padanya. Sejak kecil aku sayang
padanya Bu. Dulu waktu SD kalau dia diganggu orang akulah orang
pertama yang membelanya. Tapi dia tidak tahu diri. Semua orang di
keluarga menyayanginya. Tapi dia membalas kasih sayang itu dengan
kebencian. Ayah dan ibunya sendiri mau dia buat mati berdiri!
Ayahnya sudah mati dibunuhnya! Dan dia akan membunuh ibunya!
Sebelum itu terjadi dia harus dihentikan! Dia ini penjahat yang harus
dihentikan, penyakit yang harus dienyahkan! Ibu diam saja ya, ibu
tak tahu apa-apa!” Jawab Mahrus dengan marah. Anggota serse itu
kalau marah hilang sopan santunnya, tak pandang dengan siapa ia
bicara.
Edited by : Bon Bon-q97 245
Dada Husna panas mendengar Mahrus berbicara dengan suara keras
dan membentak-bentak ibunya.
”Hai Bung, bisa nggak sopan sedikit sama orang tua!” Lia
mendahului Husna membentak Mahrus. Husna heran sendiri,
adiknya yang biasanya halus ternyata bisa garang juga.
”Kau juga diam anak kemarin sore! Aku dor mulutmu nanti!” Sengit
Mahrus sambil memandang ke arah Lia. Melihat mata yang merah
dan wajah yang sangar itu Lia jadi mengkeret.
”Ayo keluar!” Bentak Mahrus sambil menyeret Zumrah.
”Ampun paman!”
”Tak ada ampun untukmu!”
”Beri Zumrah kesempatan untuk berbuat baik paman.”
”Kesempatan itu sudah kau sia-siakan!” ”Beri kesempatan sekali saja
Paman!” ”Bangsat sepertimu sudah saatnya dienyahkan!” ”Auh!
Sakit paman!” ”Diam!”
Dengan segenap kekuatan Mahrus menyeret Zumrah ke halaman.
Mahrus terus menyeret sampai akhirnya ke jalan. Sampai di jalan
Zumrah berontak dengan sengit. Sekali lagi Mahrus memukulkan
gagang pistolnya ke kepala Zumrah. Zumrah langsung terjengkang
kesakitan. Mahrus sudah bersiap menembak kepala Zumrah. Niatnya
sudah bulat bahwa keponakannya harus dihabisi. Ia tinggal
merekayasa laporan kejahatannya saja. Sebuah kejahatan yang layak
untuk dienyahkan dari muka bumi.
Husna, Lia dan Bu Nafis gemetar di beranda rumah. Beberapa orang
berdatangan mendengar ada keributan. Tapi Mahrus langsung
mengultimatum agar semuanya diam di tempat masing-masing.
Edited by : Bon Bon-q97 246
Sebelum pistol itu memuntahkan peluru sekonyong-konyong Azzam
datang. Azzam sudah tahu duduk persoalannya dari cerita Husna. Ia
juga tahu seperti apa bencinya sama Zumrah. Dengan suara tenang
Azzam menyapa,
”Hai sobat lama apa kabar?”
Mahrus mengendurkan tangannya dan menurunkan pistolnya yang
siap dia letuskan. Ia memandang ke asal suara. Ia lihat yang datang
adalah Azzam.
”Hei kau Zam, sudah pulang rupanya.”
”Iya. Kau ngapain bawa pistol segala, Rus? Nakut nakutin anak kecil
saja!”
”Ini Zam aku mau mengenyahkan si Lonte Murtad ini. Aku sudah
bersumpah di hadapan mayat Kang Masykur, ayah Lonte ini, aku
akan memburu Lonte durhaka ini dan menghabisinya.”
”Iya tapi apa kamu tidak malu menumpahkan darah di hadapan
sahabat lamamu. Kau masih punya hutang yang belum kau lunasi
padaku lho.”
”Apa itu Zam, kok aku lupa?”
”Ingat waktu kelas 6 SD dulu, uang SPP-mu kau gunakan untuk
mentraktir Si Murni yang sekarang jadi isterimu. Dan untuk
menutupi SPP-mu kau pinjam tabunganku. Kalau tidak aku pinjami
kamu mungkin tidak akan lulus SD, karena kau bisa dikeluarkan.
Kau nunggak saat itu tiga bulan. Kalau kau tidak lulus SD mana
mungkin kau bisa jadi polisi yang gagah bawa pistol seperti
sekarang. Kau hutang padaku Rus!”
Edited by : Bon Bon-q97 247
”Kenapa kau ungkit-ungkit masa laluku Zam, aku jadi malu didengar
orang-orang!”
”Hei, apa aku bohong sobat?”
”Tidak. Tapi tak usah lah kau bawa-bawa masa lalu.”
”Kau sendiri kenapa kau bawa-bawa masa lalu orang lain?”
”Siapa?”
”Itu keponakanmu sendiri.”
”Zumrah maksudmu?”
”Iya.”
”Dia pezina dan murtad Zam.”
”Dia tidak murtad Rus. Tidak. Dia masih shalat. Sedangkan
kekhilafannya itu masa lalunya. Dia sedang mencari jalan kembali
yang benar kenapa kau halang halangi?”
”Aku telah bersumpah di depan jenazah almarhum Kang Masykur
Zam?”
”Sumpah yang salah itu tak boleh dilaksanakan!” ”Terus aku harus
bagaimana Zam?”
”Kau berhutang padaku. Kalau tidak aku hutangi kau mungkin tak
akan lulus SD. Mungkin kau tidak akan jadi polisi. Turunkan
pistolmu. Ayo masuklah ke rumahku. Jadilah tamuku. Kita cari jalan
terbaik untuk semuanya. Dan akan aku anggap lunas hutangmu.
Edited by : Bon Bon-q97 248
Kalau tidak maka hutangmu padaku, tak akan aku anggap lunas
kecuali setelah kau tinggalkan jabatan kepolisianmu!”
Azzam tahu watak Mahrus. Pria itu hanya bisa dijinakkan dengan
kalimat yang menundukkan keangkuhannya. Dan ia tahu pria itu tak
akan sudi terus berhutang pada orang lain. Termasuk pada dirinya.
”Baiklah! Aku akan masuk bertamu ke rumahmu, dan kita bicara di
sana!”
Azzam langsung minta Husna untuk membawa Zumrah yang
berdarah. Azzam juga minta kepada Lia untuk membuat minuman.
Orang-orang bernafas lega. Pagi itu benar-benar pagi yang
menegangkan. Pak Mahbub dan Pak RT tergopoh-gopoh terlambat
datang.
”Untung ada Azzam Pak RT, kalau tidak, otak Zumrah mungkin
sudah keluar dari tengkorak kepalanya dan berhamburan.” Kata
Kang Paimo dengan menggigilkan badan.
”Mana Mahrus?” Tanya Pak RT.
”Sedang bicara sama Azzam. Sebaiknya tidak usah diganggu Pak
RT. Biar Azzam saja yang rembugan dengan serse edan itu.” Sahut
Pak Jalil yang memang kurang suka dengan Mahrus yang
menurutnya terlalu sombong karena tak mau mendengarkan
omongan orang.
”Kau sudah mendengar cerita tentang Zumrah dari Husna kan?”
Tanya Azzam pada Mahrus.
”Iya tapi aku tidak percaya.” Jawab Mahrus. ”Kalau aku yang bilang,
apa kamu percaya?” ”Sejak dulu kau tidak bohong padaku.” ”Berarti
kau percaya?” ”Ya.”
Edited by : Bon Bon-q97 249
”Baiklah aku akan cerita padamu tentang keponakanmu. Dan aku
sangat yakin cerita ini adalah benar dan tidak bohong. Jadi kau harus
percaya.”
”Baik akan aku dengarkan.”
Azzam lalu menceritakan kepada Mahrus apa yang sebenarnya
terjadi pada Zumrah. Cerita yang sama dengan yang disampaikan
Zumrah kepada Husna di Pesantren Wangen. Mahrus mendengarkan
dengan seksama.
”Jadi begitu ceritanya. Dia tidak murtad?”
”Benar.”
”Awalnya dia diperkosa?”
”Benar. Sebagai paman seharusnya kamu melindungi dia. Sekarang
dia ingin kembali ke jalan yang benar. Ingin benar-benar taubat. Tapi
ia terus diuber-uber sama germonya. Kau harus bantu dia. Kau harus
cari itu para hidung belang yang menistakan dia. Yang harus kamu
dor itu ya hidung belang-hidung belang itu Rus. Bukan dia!”
”Kau benar Zam. Kalau kamu tidak datang mungkin peluruku ini
salah memecahkan kepala orang.”
”Ada beberapa hal yang harus kau perbaiki pada sikapmu Rus. Jika
kau perbaiki maka kau akan menjadi pria jantan sejati dan kau akan
dicintai banyak orang.”
”Apa itu Zam?”
”Pertama, cobalah kau latihan senyum. Kau ini susah sekali senyum.
Ketemu teman lama saja tidak senyum.”
Edited by : Bon Bon-q97 250
”Ah kau ini ada-ada saja Zam. Hah... hah... hah... ha...!” Mahrus
malah terbahak-bahak tidak hanya senyum.
”Lha begitu Rus. Biar dunia ini cerah. Banyak senyum itu bikin awet
muda katanya.”
”Masak tho Zam?”
”Iya.”
”Terus apa lagi Zam?”
”Kau harus memperhalus kata-katamu. Kau sering berkata kotor.
Hilangkanlah kebiasaan burukmu itu. Masak ponakanmu sendiri kau
kata-katai seperti itu!”
”Nanti aku minta maaf sama dia. Masih ada lagi Zam?”
”Masih. Kau lebih sopanlah sama orang lain. Dengarkanlah orang
lain. Aku sering dapat cerita saat ronda kau ini paling susah
mendengarkan orang. Ingat Rus, Tuhan menciptakan telinga dua
sementara mulut cuma satu. Artinya kita diminta untuk lebih banyak
mendengar daripada bicara apalagi membentak-bentak orang!”
”Akan aku usahakan Zam. Mana tadi Si Zumrah Zam?”
”Mau kau apakan lagi?”
”Aku mau minta maaf padanya. Juga sekalian aku mau minta data
para hidung belang itu. Aku ingin menggulungnya secepatnya.”
Azzam lalu memanggil adiknya,
”Husna, bawa Zumrah kemari!”
Edited by : Bon Bon-q97 251
Zumrah datang dengan kening dan pelipis diperban putih.
”Kemarilah Nduk!” Kata Mahrus, kali ini dengan mata berlinang air
mata. Zumrah melihat perubahan wajah Mahrus. Wajah yang sudah
bersahabat. Wajah yang berkaca-kaca.
Zumrah maju mencium tangan pamannya. ”Maafkan Paman ya
Nduk?”
”Iya paman. Juga maafkan kesalahan Zumrah. Sampaikan pada ibu
Zumrah belum bisa pulang. Nanti kalau Zumrah sudah lebih baik
insya Allah Zumrah pulang.”
”Seperti itukah perjalanan nasibmu Nduk? Terperangkap dalam jerat
lumpur hitam?”
”Iya Paman. Tolong bantu Zumrah paman.”
”Tolong berikan semua data para penjahat yang telah menistakanmu
itu!”
”Baik paman.”
Zumrah lalu menyebut nama-nama orang yang sering memaksanya
juga menyebut nama-nama germo di Jogja dan Solo. Ia juga
menyebut nama-nama lelaki hidung belang yang sering memangsa
gadis-gadis muda tidak hanya dirinya. Zumrah menjelaskan dengan
detil alamat rumahnya dan tempat yang biasa digunakan mangkal
mereka.
”Kau mau tinggal di mana Nduk kalau tidak pulang?”
”Aku mau indekos di Nilasari Paman. Husna akan membantuku.”
Edited by : Bon Bon-q97 252
”Jika perlu bantuan paman jangan sungkan hubungi paman di kantor
paman.”
”Iya paman.”
”Hati-hati ya Zum. Paman pergi dulu.”
Mahrus lalu minta diri pada Azzam dan keluarganya. Pada Bu Nafis,
Husna dan Lia lelaki tinggi besar dan kekar itu mohon maaf atas
segala khilafnya. Bu Nafis, Husna dan Lia bersyukur kepada Allah
dan memaafkan dengan lapang dada. Zumrah menatap pamannya
yang melangkah keluar rumah dengan mata berkaca-kaca.
Meskipun pamannya itu nyaris membunuhnya, tapi ia merasakan
betapa besar sesungguhnya rasa sayang adik bungsu ayahnya itu
padanya. Benar, waktu kecil dulu pamannya itulah yang selalu
menjadi pelindungnya. Jika ada anak yang nakal jahil padanya,
pamannyalah yang akan menindaknya. Pamannya bahkan rela
berkelahi mati matian demi menjaga agar kulitnya tidak disentuh
oleh anak-anak yang jahil. Pamannya itu seumur dengan Azzam,
kakak Husna. Dan ia sendiri seumuran Husna. Jadi pamannya itu
kira-kira lebih tua tiga atau empat tahun di atasnya.
Zumrah sedikit merasa lega, masalahnya dengan pamannya telah
selesai. Ia merasa mulai ada setitik cahaya. Ia mulai merasa kembali
mendapatkan secuil kasih sayang. Ia berharap pamannya bisa
menindak nama-nama orang jahat yang menistakannya. Harapannya
ia bisa hidup dengan tenang. Kembali ke jalan yang lurus.
Membesarkan anaknya. Dan jika sudah rasa ia layak menemui
ibunya ia akan menemui ibu yang selama ini disakitinya.
Edited by : Bon Bon-q97 253
16
BAKSO CINTA
Sudah dua bulan Azzam di rumah. Azzam sudah benar-benar
menyatu dengan masyarakat. Ia sudah aktif di masjid. Sejak ia
diminta menjadi badal Pak Kiai Lutfi mengisi pengajian Al Hikam,
Pak Mahbub dan warga masyarakat dukuh Sraten sangat percaya
padanya. Ia diminta untuk mengisi jadwal khutbah Pak Masykur
yang belum ada gantinya.
Hanya saja, di mata warga masyarakat Azzam dianggap masih
menganggur. Ia sebenarnya sudah mulai usaha membuka warung
bakso di samping kampus UMS dekat Fakultas Farmasi. Tapi itu
oleh masyarakat dianggap sebagai pekerjaan yang tidak bergengsi.
Ibu-ibu jika berkumpul di warung Bu War tanpa sadar sering
membicarakan Azzam.
”Sayang ya sembilan tahun di Mesir masih menganggur. Aku kira
begitu pulang dari luar negeri langsung ditarik jadi dosen di IAIN
atau STAIN. E... malah jualan bakso. Kalau hanya jualan bakso
Edited by : Bon Bon-q97 254
ngapain jauh-jauh kuliah ke Mesir. Itu Si Tuminah tidak lulus SD
juga jualan bakso!” Kata Bu Sarjo yang terkenal suka menilai orang.
”Iya kasihan Azzam ya. Aku malah mengira dia pulang dari Cairo
langsung diambil menantu Pak Kiai. E... sampai sekarang juga belum
laku. Aku kira langsung memimpin pesantren.” Sahut Bu Agus.
”Itu kemarin aku sangat kaget, ketika diberitakan pacaran sama
Eliana. Kukira dia sudah jadi konglomerat di Mesir. Ternyata beli
motor saja tidak bisa. Mana mungkin bintang film seperti Eliana
mau.” Kata Bu Marto
”Ya masih untung masih bisa mengajar majelis taklim di masjid,
hitung-hitung buat kegiatan dia.” Sahut Bu Hariman
Angin itu ternyata bisa menyampaikan perkatan perkataan kaum ibu
itu ke telinga Bu Nafis sekeluarga. Bu Nafis paling sedih dan resah.
Husna juga, ia tidak rela kakaknya yang menjadi pahlawannya
dijadikan gunjingan. Pengangguran memang sangat tidak nyaman.
Akhirnya Bu Nafis tidak bisa menahan keresahannya. Suatu pagi ia
berkata pada Azzam,
”Nak, terserah bagaimana caranya agar kamu tidak tampak
menganggur. Kalau pagi pergilah, berangkatlah kerja bersama orangorang
yang berangkat kerja. Dan kalau sore atau malam pulanglah ke
rumah. Supaya kau tidak jadi bahan ocehan. Ibu juga malu kau
lulusan luar negeri cuma jualan bakso!”
Bu Nafis menyampaikan hal itu dengan mata berkaca kaca. Husna
yang mendengarnya juga trenyuh hatinya.
”Bue, perkataan orang lain jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati.
Yang penting ibu percayalah pada Azzam. Azzam bisa mandiri.
Edited by : Bon Bon-q97 255
Azzam bisa makan dengan kedua tangan dan kaki Azzam sendiri.
Ibu kan juga tahu di Cairo dulu Azzam juga jualan bakso.”
”Terserah kamu Nak. Tapi pikirkanlah bagaimana caranya supaya
kamu aman dari gunjingan masyarakat.”
”Masyarakat kita memang paling hobi menggunjing kok Bu. Tapi
baiklah Azzam akan ikuti permintaan ibu. Pagi berangkat kerja, sore
pulang kerja.”
* * *
Azzam terus memutar otaknya. Ia harus segera menemukan cara
untuk mendapatkan cashflow dengan cepat. Ia melihat usaha warung
baksonya biasa-biasa saja. Malah bisa dibilang ia rugi sebab
keuntungannya perhari hanya sepuluh ribu rupiah. Ini tidak
sebanding dengan kerja kerasnya.
Ia memang masih sendiri belum dibantu siapa-siapa. Demi
memenuhi harapan ibunya ia menyewa satu kamar kos di dekat pasar
Kleco. Jam delapan pagi ia sudah sampai di kamar kosnya. Ia lalu
belanja. Setelah itu meracik bahan bahan baksonya. Jam dua
semuanya sudah siap. Tepat jam setengah tiga ia buka warung. Ia
buka sampai jam sembilan malam.
Demikian rutinitasnya setiap hari. Kepada para tetangga ibunya
bilang Azzam sudah punya kantor di Solo. Pagi kerja di kantornya
dan sorenya ia jualan bakso. Ya jika kantor maknanya adalah tempat
kerja maka kamar kos yang ia gunakan untuk membuat pentol bakso
adalah kantor. Kantor hanyalah istilah mentereng untuk menyebut
tempat kerja. Di mana di tempat itu ada arsip dan berkas. Di kos
Azzam juga ada arsip dan berkas. Yaitu catatan dan bon belanjanya.
Edited by : Bon Bon-q97 256
Azzam terus memutar otaknya bagaimana caranya usahanya sukses.
Jika ia tetap menjual produk yang sama dengan yang lain, maka di
pasar ia telah kalah. Ia harus punya produk yang inovatif, yang
berbeda dengan yang lain. Sama-sama baksonya tapi harus ada sisi
unik yang membedakan baksonya dengan bakso yang lain.
Ia ingin agar pembeli baksonya mendapat sesuatu selain rasa nikmat
di lidah, kenyang dan gizi. Ia terus berpikir. Sampai akhirnya ia
menangkap sebuah ide yang menurutnya brilian. Ia akan membuat
bakso cinta.
Ya, ia akan membuat bakso cinta.
Dalam benaknya ia akan membuat cetakan khusus untuk baksonya.
Bentuk baksonya tidak bulat tapi berbentuk cinta, love atau hati.
Terus ia akan mengubah suasana warungnya. Meskipun warung
tenda, suasananya harus ceria dan romantis. Lalu ia akan menyiapkan
instrumen musik khusus yang mengiringi pelanggannya makan.
”Yup! Ini baru ide!” Teriaknya dalam hati.
Azzam lagi bekerja keras mencari cetakan dari besi berbentuk hati. Ia
tidak menemukan di toko-toko penjual barang pecah belah. Ia
akhirnya pesan cetakan yang ia inginkan ke Batur, Klaten yang
dikenal sebagai pusat besi, baja dan alumunium. Cetakan itu
akhirnya jadi juga.
Azzam mencoba membuat bakso cinta dengan cetakannya. Pertama
kurang menarik. Lalu ia buat lagi dan hasilnya sangat mempesona.
Ia lalu menyiapkan suasana warungnya. Gerobak baksonya ia cat
pink semuanya. Tendanya juga ia cat pink. Meja dan kursinya juga
pink. Ia cari mangkok khusus berwarna merah hati jadi pas dengan
meja pink.
Edited by : Bon Bon-q97 257
Ia juga mengubah jam buka warungnya. Sebelumnya dari jam
setengah tiga sore sampai jam sembilan kini dari jam sepuluh pagi
sampai jam enam sore. Sebelum membuka warung baksonya, ia
promosi dengan membuat brosur dan menyebarkannya di hampir
seluruh Solo. Di hari pembukaan perdana ia minta adiknya Lia dan
Husna ikut membantu. Sekali itu saja.
Sambutan dari pelanggan luar biasa. Di hari pembukaan, hanya
dalam waktu empat jam baksonya telah habis. Husna dan Lia sangat
bahagia dibuatnya. Azzam sangat yakin baksonya akan laris.
Akhirnya Azzam memutuskan untuk cari seorang karyawan yang
akan membantunya menyuguhkan bakso dan minuman ke langganan.
Adapun yang meracik bakso tetap ia sendiri. Azzam mengajak Si
Kasmun yang hanya lulus SMA dan sekarang jadi pengangguran.
Pagi hari sebelum Azzam berangkat ke Kleco, Husna berkata pada
Azzam,
”Kak sebaiknya bakso cinta kakak dipatenkan. Agar nanti tidak ada
yang meniru. Jika ada yang meniru tanpa ijin kakak punya kekuatan
hukum yang kuat untuk menuntutnya. Husna yakin bakso kakak
nanti akan mendapatkan hati pengunjungnya.” ”Cara mematenkan
bagaimana?” ”Kita datang ke kantor yang mengurusi hak paten.
Nanti mereka yang akan mengurusi hak paten kita sampai ke menteri
kehakiman.” Jelas Husna. ”Baik kita patenkan secepatnya.” Hari
berikutnya warung bakso cintanya terus penuh pengunjung. Jam tiga
sore sudah kehabisan. Bakso dengan bentuk hati memang belum ada
di Surakarta. Dan yang datang kebanyakan anak-anak muda. Mereka
memang mencari sesuatu yang beda.
Belum genap satu bulan ia sudah merasa bahwa tenda warung bakso
cinta harus ditambah besarnya. Ia menyewa tanah di samping bakso
cintanya, agar tendanya bisa dilebarkan. Pengunjungnya agar tidak
kecewa karena tidak dapat tempat duduk. Setelah sukses di kampus
Edited by : Bon Bon-q97 258
UMS, maka Azzam melebarkan sayap membuka cabang pertama di
dekat UNS. Ia melihat Si Kasmun bisa dipercaya untuk memegang
yang di UMS, maka ia sendiri yang memegang cabang UNS. Ia
mengangkat dua karyawan baru. Satu untuk menemaninya dan yang
satu untuk menemani Si Kasmun.
Cabang baru di UNS mendapat sambutan hangat dari kalangan
mahasiswa. Seorang mahasiswa usul pada Azzam agar warung bakso
cinta menjadi semacam warung apresiasi seperti warung apresiasi di
Jakarta. Di situ dibuatkan satu tempat bagi mahasiswa atau seniman
atau siapa saja yang akan menampilkan karya seninya. Usul itu
direspon baik oleh Azzam. Azzam lalu meminta mahasiswa itu
untuk merancang tempat yang digunakan untuk apresiasi seni yang
diusulkannya. Setelah Azzam melihat dengan dibangunnya tempat
itu akan semakin memperkokoh ikon bakso cintanya, maka tempat
apresiasi segera diadakan.
Dan hasilnya sangat di luar dugaan. Warung bakso cinta jadi tempat
mangkal para mahasiswa, seniman dan masyarakat luas. Untuk
menjaga citra warung baksonya, ia meminta naskah atau teks yang
akan ditampilkan. Jika misalkan ada musisi yang menampilkan jenis
musik yang isinya bertentangan dengan moral dan dakwah tidak
segan segan ia untuk melarangnya. Atau memberikan alternatif lagu
lain yang isinya baik.
* * *
Tak terasa sudah tiga bulan Azzam membuka warung bakso
cintanya. Omsetnya perbulan bisa mencapai dua puluh juta. Kini ia
bisa membeli mobil sederhana tapi layak pakai. Ke mana-mana ia
memakai mobil itu. Untuk bakso ia bertahan untuk dua warung dulu.
Otaknya terus berputar, ia mencari peluang bisnis yang lain.
Edited by : Bon Bon-q97 259
Ia membaca nasihat seorang pengusaha sukses di sebuah buku
panduan bisnis agar tidak meletakkan semua telur dalam satu
keranjang. Sebab jika suatu ketika keranjang itu jatuh maka telur
akan pecah semua. Dan akibatnya akan sangat fatal. Maka yang baik
dalam bisnis adalah meletakkan banyak telur di keranjang yang
berbeda. Agar jika ada satu keranjang yang jatuh masih ada telur lain
yang selamat. Dan telur yang selamat itu masih akan bisa menetas
menjadi ayam dan bisa mendatangkan telur baru. Azzam melirik
bisnis foto kopi. Ia tahu memang banyak pesaing. Tapi bisnis foto
kopi di pinggir kampus hampir bisa dikatakan tak bisa mati. Caranya
sederhana saja, ia melihat warung baksonya di UMS dan UNS selalu
penuh pengunjung. Ia menyewa tempat tak jauh dari warung bakso
cinta yang ia gunakan mendirikan pusat foto copy. Ia membeli dua
mesin foto copi bekas. Pusat foto copynya ia namakan ”Foto Copy
Cinta”. Brosur dan promosi ia gencarkan lewat warung bakso.
Hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Bisnis foto copynya berjalan
bagus. Meskipun tidak secepat Bakso Cinta.
* * *
Suatu malam, sepulang dari warung bakso, Lia berkata, ”Kak ada
tamu.” Saat itu ia sudah rebah di kamarnya karena letih. Ia bangkit
menuju ruang tamu. Ternyata Furqan. Ia bahagia sekali teman
lamanya datang. Sudah lama memang ia tidak ke pesantren Wangen.
Terakhir ke pesantren itu ya tepat saat acara pernikahan Anna dengan
Furqan dilangsungkan. Ia fokus dengan bisnisnya. Untuk pengabdian
ke masyarakat sementara ia mencukupkan diri dengan mengisi
pengajian di masjid kampung sendiri.
”Ada tamu istimewa rupanya. Pak Kiai Furqan. Sendirian?”
”Iya sendirian. Jangan memanggil Pak Kiai tho Zam. Aku malu.”
”Lha kamu kan sudah jadi Kiai sekarang. Kan pengasuh pesantren.”
Edited by : Bon Bon-q97 260
”Jika aku Kiai, maka sesungguhnya kau kan Kiaiku. Dulu awal-awal
di Mesir kau yang sering aku jadikan tempat bertanya. Kau yang
sering menjelaskan isi diktat kuliah tho sehingga aku lulus.”
”Sudah. Ini ada apa tho kok tiba-tiba datang membuat kaget saya.”
”Saya datang atas nama pesantren Zam. Ini Pak Kiai Lutfi, mertuaku,
sering sakit akhir-akhir ini. Beliau memang agaknya harus banyak
istirahat. Lha untuk pengajian Al Hikam, banyak masyarakat yang
meminta engkau yang mengisi. Terus terang sekarang Pak Kiai Lutfi
hanya mengajar Subulus Salam saja. Lha aku sendiri diminta
mengganti Tafsir Jalalain. Untuk Al Hikam, minta engkau. Terus
terang ibu mertuaku juga cocok yang mengisi engkau. Sebab Al
Hikam kan untuk masyarakat umum. Kau lebih bisa berbahasa Jawa
yang baik daripada aku.”
”Aduh gimana ya? Terus terang aku sibuk Fur. Sungguh. Gimana ya,
waktuku sudah penuh Fur.” Jawab Azzam. Tiba-tiba ada suara yang
menyahut dari arah dalam.
”Tidak! Kau harus menyeimbangkan duniamu dengan akhiratmu
Zam! Kau harus punya waktu untuk mengamalkan ilmumu dan
menegakkan ajaran agamamu. Ya bisnis, ya juga mengajarkan ilmu!
Kalau kau hanya memusatkan perhatianmu pada bisnismu, Bue tidak
ridha!”
Azzam kaget mendengar kalimat dari ibunya. Ia tahu apa yang
dikehendaki ibunya. Sebelum Azzam berkata, Furqan duluan angkat
suara,
”Iya apa yang dikatakan ibu benar Zam. Toh itu cuma satu pekan
satu kali saja.”
”Baiklah kalau begitu. Salamku buat Pak Kiai Lutfi dan Bu Nyai.”
Edited by : Bon Bon-q97 261
”Terima kasih Zam. Pekan depan langsung mulai ya Zam.”
”Insya Allah. Oh ya ngomong-ngomong sudah ada tanda-tanda mau
dapat momongan belum?” Tanya Azzam sambil tersenyum. Furqan
tergagap mendengar pertanyaan itu. Entah sudah berapa kali ia
mendengar pertanyaan itu dan banyak orang. Keluarga besar Anna
setiap kali bertemu dengannya juga menyinggung hal itu. Ibunya
sendiri dari Jakarta sering menelpon dan menanyakan hal itu. Dan ia
harus menjawab dengan hati getir, ”Belum.”
Edited by : Bon Bon-q97 262
17
IKHTIAR MENCARI CINTA
”Bue sudah ingin menimang cucu Zam. Bisnis kamu sudah berjalan
baik. Kapan kamu menikah?” Kata Bu Nafis suatu malam.
Perempuan itu membuka gorden jendela ruang tamu. Matanya
memandang rembulan yang mengintip di balik pepohonan. Angin
malam menyisir rambutnya yang memutih dibakar usia. Ia
membelakangi putranya yang sedang mengkalkulasi modal
bisnisnya.
”Segeralah menikah Nak! Syukurilah nikmat Allah yang diberikan
kepadamu!” Lanjut Bu Nafis dengan kedua mata tetap menikmati
rembulan yang bersinar terang. Di balik pepohonan rembulan itu
bagai cahaya bidadari yang mengintip malu-malu. Sinar rembulan
menerpa wajah perempuan setengah baya itu.
”Azzam juga ingin segera menikah Bu. Tapi sudah dua kali ada gadis
diajukan ke Azzam dan Azzam cocok tapi ibu yang tidak berkenan.
Azzam harus bagaimana?”
Edited by : Bon Bon-q97 263
Bu Nafis menarik nafas lalu menutup gorden jendela. Ia lalu duduk
di hadapan putranya. Kedua matanya yang teduh memandangi wajah
putranya yang bergurat kelelahan dengan penuh kasih sayang.
”Maafkan ibu Nak. Ibu ingin yang terbaik untukmu. Tidak asal
perempuan.”
”Apakah Rina dan Tika itu tidak baik Bu.” ”Ibu tidak bilang Rina
dan Tika tidak baik. Mereka baik. Tapi ibu ingin yang lebih baik
lagi. Ibu sedikit punya ilmu titen24. Menurut yang ibu amati kok
kedua gadis itu kurang cocok untukmu. Mungkin lebih cocok untuk
yang lain.”
”Ibu ini pakai ilmu titen segala. Apa itu ilmu titen, itu bid’ah Bu, itu
khurafat!” Sengit Azzam.
”Kak jangan berkata yang sengit begitu dong sama Bue.” Husna
muncul dari kamarnya, ”Menurutku ilmu titen sebenarnya ilmiah.
Tidak bid’ah. Semua kok terus dibid’ahkan. Alangkah kerdilnya kita
menghayati ajaran Allah yang mulia ini kalau suatu ilmu yang ilmiah
terus dibid’ahkan.” Lanjut Husna.
”Terus penjelasannya bagaimana ilmu titen itu ilmiah Na. Kalau
benar-benar ilmiah maka aku akan mencabut perkataanku.” Kata
Azzam kepada adiknya.
”Ilmu titen itu berangkat dari kejelian orang-orang dahulu meniteni,
yaitu mengamati kejadian – kejadian dalam kehidupan,
peristiwa- di alam. Dari pengamatan yang berulang-ulang itu
akhirnya bisa disimpulkan sebuah struktur kejadian. Dari struktur
itulah lahir ilmu titen.
24 Ilmu meniteni, atau ilmu mengamati sesuatu dari gejala yang diberikan oleh
alam biasanya berdasarkan pengalaman yang berulang-ulang.
Edited by : Bon Bon-q97 264
Ilmu titen ini sebenarnya sudah masuk dalam seluruh aspek
kehidupan ummat manusia. Mulai dari manusia paling primitif
sampai manusia paling modern.
”Contoh ilmu titen begini Kak. Sederhananya orang dulu, zaman
dulu sekali tidak tahu ilmu pengetahuan alam. Mereka tidak sekolah
seperti kita. Kalau kita kan sekarang langsung tahu kalau ada
mendung kemungkinan besar akan hujan. Kita tahu karena dapat dari
pelajaran IPA di sekolah. Mendung pada hakeketnya adalah uap air
yang menggumpal. Jika ditiup angin jadilah hujan. Orang dulu tidak
belajar IPA. Mereka itu mengerti kalau ada mendung pasti akan
hujan itu dari pengamatan yang berulang-ulang. Kok setiap melihat
langit hitam lalu ada petir terus turun air dari langit. Demikian terus
berulang. Akhirnya pengalaman itu menjadi struktur suatu ilmu bagi
mereka yaitu kalau ada mendung maka ada hujan. Itulah ilmu titen.
”Contoh lain, orang dulu untuk mengetahui gunung mau meletus
tidak dengan alat yang canggih yang bisa mendeteksi berapa kali ada
gempa tektonik dari dalam kepundan gunung itu. Tidak Kak. Mereka
tidak punya alat itu. Tapi mereka mengetahui akan ada gempa
dengan melihat gejala alam yang berulang-ulang. Dengan niteni
gejala alam yang berulang-ulang. Misalnya kalau banyak binatang
turun dari gunung, kalau banyak binatang yang biasanya tidak turun
kok turun, kalau itu terjadi kok terus tak lama gunung meletus. Maka
itu mereka titeni, mereka perhatikan dengan seksama. Lalu mereka
jadikan alamat. Mereka jadikan tanda, bahwa kalau banyak binatang
turun dari gunung maka gunung akan meletus. Itu ilmu titen
namanya Kang.
”Atau contoh seperti ini, polisi di dunia modern ini sekalipun juga
rnenggunakan ilmu titen. Misalnya untuk mengetahui tersangka
berkata jujur atau bohong ya dengan ilrnu titen. Kalau mimiknya
begini maka jujur. Kalau gagap dan kelihatan berbelit-belit maka
Edited by : Bon Bon-q97 265
biasanya tidak jujur. Kalau tampak polos terus apa adanya ditanya
berulang-ulang jawabannya sama maka biasanya jujur. Ya itu kan
polisi berangkat dari ilmu titen.
”Juga seorang psikolog banyak menggunakan ilmu titen. Dengan
melihat getar tangan seorang remaja, gaya bicara psikolog yang
canggih bisa mengetahui remaja itu pecandu narkoba atau tidak.
”Terus lagi contoh ilmiah ilmu titen begini. Jika Kak Azzam
mengatakan kepada saya 1, 3, 5, 7, 9 maka saya akan langsung bisa
melanjutkan pasti berikutnya 11, 13,15,17. Ini bukan berarti saya
seorang wali yang serba tahu, yang tahu sebelum sesuatu itu terjadi
kemudian. Bukan! Karena saya sudah mengamati angka-angka
sebelumnya dan tahu struktur sebelumnya.
”Jika orang dulu ada yang bisa memperkirakan selembar daun
nangka di depan rumah kapan jatuhnya. Dan perkiraannya itu tepat,
maka itu tidak terus langsung bid’ah kak. Tidak terus langsung
dikatakan dia dibisiki oleh jin. Tidak! Itu ada ilmunya ya ilmu titen
itu. Ilmu mengamati fenomena alam yang dalam. Seseorang bisa
memperkirakan kapan daun nangka itu jatuh dan tepatnya hari apa
adalah setelah orang itu biasa mengamati daun nangka sebelumnya.
Dia menghitung sejak daun itu tumbuh lalu jatuh maka perlu rentang
waktu sekian masa. Kalau daun itu baru berwarna begini, misalnya
hijaunya agak muda belum hijau tua biasanya baru berumur sekian
hari. Dia tahu karena memperhatikan. Karena niteni.
”Pepatah Arab yang terkenal itu man jadda wajada, siapa yang giat
pasti akan mendapatkan, kan juga berangkat dari ilmu titen. Setelah
sejarah membuktikan bahwa orang orang yang berhasil di dunia ini
sebagian besar adalah orang-orang yang giat, orang-orang yang
bersungguh sungguh, maka kemudian orang Arab kuno
menyimpulkan man jadda wa jada.
Edited by : Bon Bon-q97 266
”Perkembangan ilmu titen yang canggih yang kemudian melibatkan
ilmu eksakta adalah ilmu falak, ilmu astronomi. Kok manusia bisa
tahu akan terjadi gerhana jnatahari? Kok manusia tahu akan terjadi
gerhana bulan? fKalau orang kuno dulu, ketika ilmu pengetahuan
belum benar-benar maju untuk mengetahui itu ya mungkin rnurni
dengan menggunakan kejelian pengamatan pada alam. Pada bintangbintang.
Sekarang ilmu itu sudah berkembang. Gerhana matahari
bisa diprediksikan dengan hitungan ilmu falak. Dasar hitungan itu
pada awalnya kan ilmu titen dulu Kak.
”Baik terakhir Kak, Rasulullah pernah menggunakan ilmu titen. Kak
Azzam tahu kapan? Yaitu ketika Rasulullah perang badar. Untuk
mengetahui jumlah pasukan kafir Quraisy Rasulullah menggunakan
ilmu titen. Yaitu dengan mengetahui dulu jumlah onta yang
disembelih setiap harinya. Ketika ada yang memberi tahu beliau
bahwa jumlah onta yang disembelih setiap harinya adalah sepuluh
maka beliau menyimpulkan jumlah pasukan kafir Quraisy kurang
lebih seribu orang. Karena satu onta biasanya bisa untuk dimakan
seratus orang. Maka tinggal ngalikan saja. Sepuluh kali seratus ya
berarti seribu. Begitu Kak. Jadi ilmu titen yang disampaikan Bue
tidak terus bid’ah. Tapi rnemang...”
Belum selesai Husna menjelaskan Bu Nafis,
”Maksud Bue itu dengan ilmu titen itu ya kira-kira Seperti yang
diterangkan Husna itu lho Zam. Tapi ibu kan cuma tamat SR saja.
Jadi Bue tidak bisa menjelaskan yang panjang rinci seperti Husna
yang sarjana.
”Begini lho Zam, alasan Bue berdasarkan ilmu titen kenapa ibu tidak
setuju dengan dua gadis itu begini.
Pertama Rina, gadis temannya adikmu itu memang baik.Bue akui itu.
Sopan santunnya baik. Cuma ada satu hal yang ibu amati, dan bue
Edited by : Bon Bon-q97 267
tidak cocok adalah ketika dia dulu menginap di sini, bisa-bisanya
habis shalat subuh tidur lagi. Padahal kita bertiga tidak tidur. Dia lalu
bangun jam tujuh pagi. Ini yang membuat ibu tidak cocok.
Bagaimana
kalau dia nanti jadi ibu bakda subuh tidur. Di rumah orang saja nekat
begitu apalagi nanti di rumah sendiri.”
’Tapi Bu, Rina pada waktu itu memang terlalu letih. Sehari
sebelumnya dia ada acara full di kampus.” Husna berusaha membela
Rina, meskipun ia juga tahu kebiasaan tidur setelah shalat subuh itu
masih dilanggengkan temannya itu sampai saat itu.
”Ah apapun alasannya. Ibu tak peduli. Kata ayahmu dulu kalau orang
tidur habis subuh rezekinya dipatuk sama ayam, jadi hilang! Terus
itu Si Tika atau Kartika Sari yang jadi penjaga kios Sumber Rejeki di
pasar Klewer. Memang dia cantik dan anggun. Saat kita dolan ke
rumahnya juga baik tutur bahasanya. Tapi Bue tidak suka caranya dia
tertawa. Tertawanya ngakak-ngakak seperti itu. Dia itu seorang gadis
masak tertawanya ngakak begitu. Kalau laki-laki masih agak
mending, mungkin masih agak bisa dimaklumi. Ini gadis. Rasulullah
saja kalau tertawa tidak ngakak-ngakak begitu. Setelah mendengar
dia tertawa seperti itu Bue langsung kehilangan selera. Maaf, yang
biasa tertawa begitu itu biasanya perempuan murahan, pelacur.
Bukan Bue menganggap dia perempuan murahan bukan. Ibu hanya
menjelaskan kenapa bue tidak suka. Daripada Bue punya menantu
kalau setiap tertawa bue tidak suka dan setiap dia tertawa bue
langsung teringat perempuan murahan kan lebih baik tidak bue
iyakan.” Bu Nafis menjelaskan alasan-alasannya. Tiba-tiba Lia
keluar dari kamarnya. ”Kayaknya ramai nih diskusinya. Lia dengar
dari kamar tadi Mbak Husna bicara tentang ilmu titen dengan segala
penjelasannya. Tapi Lia lihat ya kak banyak di Jawa ini ilmu titen
yang memang masuk khurafat kak. Jadi bid’ah. Mungkin ini yang
dimaksud kak Azzam. Kalau yang kakak sampaikan tadi memang
ilmiah.” Kata Lia. ”Yang seperti apa itu Dik?” Tanya Husna.
Edited by : Bon Bon-q97 268
”Ini misalnya ya dengan alasan ilmu titen juga. Di daerah Solo dan
sekitarnya ini kan ada pantangan anak pertama menikah dengan anak
ketiga. Di daerah Semarang sana ada pantangan anak pertama
menikah dengan anak pertama. Kata orang-orang tua juga dasarnya
ilmu titen itu.
”Pantangan anak pertama menikah dengan anak ketiga di Solo
disebut lusan. Nomer telu artinya tiga menikah dengan nomor pisan,
artinya satu. Katanya kalau nekat menikah nanti salah satu dari orang
tua pengantin putra atau pengantin putri akan mati.
”Kalau di Semarang anak pertama tidak boleh menikah dengan anak
pertama karena nanti kehidupan rumah tangganya tidak bahagia.” Lia
menjelaskan.
”Sebenarnya itu juga yang mau Mbak Husna jelaskan tadi Dik. Tapi
keburu dipotong sama Bue. Begini memang ada yang dianggap ilmu
titen, tapi sebenarnya ilmu pengawuran. Ilmu gatuk-gatuk, cuma
mencocok cocokkan peristiwa yang mentah sepintas saja terus
diambil kesimpulan. Terus dinamakan ilmu titen. Yang seperti ini
tidak ada landasan ilmiahnya. Kalau ilmu titen yang sebenarnya itu
bisa diuji keilmiahannya. Fakta dan datanya bisa dijelaskan. Teorinya
bisa didefinisikan. Lha yang cuma menggatuk-gatukkan tanpa
penelitian mendalam ini yang repot. Apalagi kalau sudah dimitoskan.
Jadilah khurafat.
”Contohnya ya pantangan anak ketiga menikah dengan anak pertama
itu. Itu mitos yang tidak ada dasarnya. Itu khurafat yang menyesatkan
memang Mbak juga sepakat. Bisa jadi dulu ada orang yang sangat
ditokohkan di masyarakat punya anak pertama dinikahkan dengan
anak orang lain nomor tiga. Setelah akad nikah salah satu dari orang
tua pengantin itu meninggal dunia. Yang memang telah tiba ajalnya.
Terus orang mengatakan itu karena sebab pernikahan itu pernikahan
anak pertama dengan anak ketiga. Karena itu menimpa seorang
Edited by : Bon Bon-q97 269
tokoh zaman itu jadi terkenal. Terus dipercaya, dijadikan pantangan.
Terus jadi mitos sampai sekarang.
”Yang juga perlu kita harus perhatikan juga. Ada ilmu titen yang
dulu pas untuk zamannya, pas untuk masanya. Namun dengan
perkembangan zaman ilmu titen itu sudah tidak pas lagi. Maka
manusia harus berpikir lagi, berijtihad lagi. Jangan tetap nekat
menggunakan ilmu titen yang tidak pas itu?”
Azzam yang sejak tadi diam saja. Kali ini angkat suara,
”Contohnya apa itu Dik? Kelihatannya yang ini menarik.”
”Contohnya ini Kak, dulu ketika ekosistem alam masih seimbang.
Gas kaca di angkasa sana tidak merajalela seperti sekarang. Ozon
belum bolong. Ada ilmu titen yang oleh orang Jawa disebut pranata
mongso. Pembagian masa dalam satu tahun untuk bertani. Ada masa
untuk mencangkul membalik tanah, ada masa untuk menanam, ada
masa untuk menyiangi, dan ada masa untuk panen. Hitungannya
selalu tepat. Kenapa? Karena ekosistem alam pada masa itu masih
seimbang. Sehingga musim hujan bisa diprediksi kapan datang.
Musim panas juga bisa diprediksi berapa panjang. Dulu ada
ungkapan desember itu maknanya deres-derese sumber, atau besarbesarnya
sumber. Karena air ada di mana-mana. Terus Januari adalah
hujan sehari-hari. Karena memang hampir tiap hari hujan. Itu semua
memakai ilmu titen. Dan itu terukur. Benar.
”Tapi zaman telah berubah. Sekarang hutan sudah gundul. Gas kaca
hampir menyelimuti seluruh angkasa. Ozon bolong-bolong. Dan
terjadilah pemanasan global. Akhirnya siklus perubahan musim di
dunia ini jadi tidak jelas. Kita tidak bisa lagi mengatakan Januari
hujan sehari hari. Sebab tahun lalu saja ketika masuk bulan Januari
daerah Blora malah masih kemarau panjang. Belum hujan. Sampai
diciptakan hujan buatan. Terus kadang-kadang bulan Juli tiba-tiba
Edited by : Bon Bon-q97 270
hujan di beberapa kota. Para petani sudah kehilangan patokan.
Mereka bingung. Kapan harus mencangkul kapan harus menanam,
dan kapan harus panen, mereka tidak tahu. Maka di sini kesimpulan
ilmu titen terdahulu harus diubah. Manusia harus mengamati lebih
dalam lagi gejala-gejala alam supaya hidup dengan seiahtera. Di sini
manusia harus ikhtiar dan bekerja keras. Kalau tetap mendasarkan
pada kesimpulan orang dulu ya semua kacau. Karena zamannya telah
berubah. Dulu waktu kita kecil Kartasura kan masih cukup sejuk
sekarang sudah panas luar biasa menyengat. Salatiga dulu kita
kedinginan kalau rekreasi ke sana. Sekarang sudah mulai panas.”
”Terima kasih Dik. Penjelasanmu membuka satu wawasan baru bagi
Kakak. Kakak jadi banyak belajar dari diskusi kita malam ini. Kita
tidak boleh tergesa-gesa menghukumi sesuatu. Segalanya harus
dilihat dengan seksama dan detil. Semua ada ilmunya. Terus apa
yang harus kakak lakukan berkaitan dengan permintaan Bue untuk
segera menikah?”
Lia menjawab, ”Ya terus berikhtiar Kak. Sampai menemukan yang
terbaik buat kakak dan bue cocok.”
”Ini Husna ada masukan lagi. Husna punya teman kerja di radio.
Sudah menikah. Lha suaminya itu punya adik perempuan lulusan
Fakultas Ekonomi Univesitas Indonesia. Namanya Milatul Ulya.
Biasa dipanggil Mila. Dia sekarang bekerja di sebuah bank syariah di
Surabaya. Kalau kakak mau, saya bisa minta datanya lebih detil
sekaligus fotonya.” Husna memberi harapan pada kakaknya.
”Boleh. Bagaimana Bue?” Ucap Azzam.
”Iya boleh saja.” Ucap Bu Nafis
”Eh cantik tidak Kak Husna?” Tanya Lia.
”Yang ditanya kok mesti cantiknya.” Tukas Husna.
Edited by : Bon Bon-q97 271
Setidaknya Kak Azzam harus dapat isteri yang cantik. Harus gak
boleh kalah dengan Eliana. Lha wong sudah diisukan dekat dengan
Eliana kok terus dapatnya terlalu jauh cantiknya kan jadi jegleg.
Turunnya terlalu jauh. Sebagai adik Lia juga ingin punya kakak ipar
cantik. Tapi tetap yang shalihah. Betul begitu Kak Azzam?” Ujar Lia
’Tidak. Tidak harus cantik. Dan tidak harus secantik Eliana. Yang
penting ketika kakak memandangnya suka itu saja. Cantik bukan
yang Kakak cari. Yang kakak cari adalah orang yang bisa menjadi
penolong kakak untuk beribadah yang sebaik-baiknya kepada Allah
di dunia ini. Orang yang juga bisa membantu kakak meraih derajat
yang tinggi di akhirat nanti.” Sahut Azzam menerangkan kriteria
calon isterinya.
”Itu baru jawaban lulusan Al Azhar! Baik Kak, besok Husna akan
minta datanya Si Mila itu syukur ada fotonya sekalian.”
Edited by : Bon Bon-q97 272
18
DARI MILA HINGGA SEILA
”Membaca data dan melihat fotonya sih ibu cocok.” Kata Bu Nafis
setelah membaca data dan foto diri gadis muda nan manis bernama
Milatul Ulya, S.E. dari Surabaya
”Wah ini lumayan cantik Kak Azzam, meskipun ya belum sekelas
Eliana. Tapi boleh kok.” Komentar Lia.
Azzam tersenyum mendengarnya.
Sekarang pendapat Kak Azzam sendiri bagaimana?” Tanya Husna.
Kalau dia mau jadi isteri kakak, kapan pun dia mau menikah boleh.
Bahkan sekarang dia mau mengajak akad nikah pasti akan kakak
langsungkan!”
”Wah! Mantap sekali Kak Azzam ini. Baru kali ini aku dengar
jawaban seorang lelaki semantap ini. Kalau Si Mila ini dengar, pasti
hatinya akar bergetar hebat berhari-hari.” Sahut Lia.
Edited by : Bon Bon-q97 273
”Kalau begitu cepatlah diatur bagaimana kakak kalian itu bisa
bertemu Mila.” Pinta Bu Nafis pada Husna dan Lia.
”Tenang Bu, sudah Husna atur sama kakaknya Mila. Ahad depan
Mila akan dolan ke rumah kakaknya di Perumahan Gentan. Kira-kira
pukul sembilan pagi saya dan Kak Azzam akan dolan ke sana.
Kakaknya akan minta Si Mila yang membuat minuman dan
mengeluarkannya. Kakaknya juga akan pura-pura keluar sebentar
membeli sesuatu dan Mila akan diminta menemui kami sebentar.
Setelah pertemuan itu barulah nanti kakaknya kan tanya Si Mila mau
tidak sama Kak Azzam. Begitu.”
”Bagus sekali skenarionya Mbak. Mbok saya sama Bue ikut.” Pinta
Lia.
”Jangan dulu nanti malah jadi berantakan rencananya. Kalau sudah
matang saja. Saat lamaran baru kita semua ke Surabaya.” Cegah
Husna.
”Bue sepakat. Semoga yang ini benar-benar jodoh.” Lirih Bu Nafis
penuh harap
”Amin.” Doa Azzam dalam hati.
* * *
Pagi itu langit tertutup awan. Angin bertiup kencang. Sesekali kilat
menyambar. Guntur menggelegar. Azzam melihat arlojinya, jam
delapan. Husna mengambil jemuran yang masih basah di halaman.
Gerimis mulai turun perlahan.
”Jadi berangkat Zam?” Tanya Bu Nafis.
”Ya harus tetap berangkat Bu. Kalau tidak kapan ketemu jodohnya.”
Jawab Azzam mantap. Wajah Bu Nafis cerah seketika
mendengarnya. Husna meletakkan pakaian yang masih basah di
Edited by : Bon Bon-q97 274
ember besar hitam. Gadis yang sudah berpakaian rapi itu lalu ke
kamarnya mengambil tas cokelat tuanya. Lalu keluar dengan senyum
mengembang.
”Siap?” Kata Husna pada kakaknya.
”Siap! Janaka dari Kartasura siap melihat Dewi Dersanala dari
Surabaya.” Canda Azzam seraya melangkah mencium tangan ibunya
minta restu.
”Nanti kalau pulang, dan hujan belum juga reda. Coba tengok Lia di
sekolahnya ya. Biar dia ikut kalian saja.” Pesan Bu Nafis pada
Azzam dan Husna. Dua orang kakak beradik itu mengangguk lalu
bergegas masuk mobil Carry Hijau tahun 1995.
Mobil itu bergerak pelan meninggalkan halaman, menelusuri jalan
dan meninggalkan dukuh Sraten. Mobil bergerak ke Perumahan
Gentan. Hujan turun sangat deras. Jalan-jalan penuh air bagaikan
anak sungai dadakan. Hujan masih lebat ketika mobil itu sampai di
sebuah rumah mungil bergaya minimalis. Azzam memarkir mobil di
tepi jalan tepat di depan rumah itu. Hujan masih mengguyur deras.
Azzam membunyikan klakson beberapa kali. Husna menurunkan
kaca jendela mobil. Yang punya rumah melongok keluar. Seorang
perempuan muda berjilbab hijau tua. Umurnya kira-kira tiga puluhan
tahun. Perempuan itu cepat-cepat menyongsong dengan membawa
dua payung. Satu ia pegang dan satunya ia serahkan Husna. Husna
turun dari mobil disambut perempuan itu yang begitu hati-hati
melindungi Husna dengan payung yang mengembang di tangannya.
Mereka berdua berjalan dalam satu payung. Azzam turun dan
langsung melindungi dirinya dengan payung. Guntur menggelegar.
Azzam merasa kerdil di tengah keagungan Tuhan.
Edited by : Bon Bon-q97 275
Azzam meletakkan payungnya di teras. Lalu menata Kemejanya dan
masuk.
”Assalamu’alaikum.” Sapa Azzam
”Wa’alaikumussalam. Silakan duduk Mas.” Jawab perempuan muda
yang sudah duduk berhadapan dengan Husna. Azzam mengambil
tempat di sisi Husna.
”Mbak Yuni, ini kakakku namanya Azzam.” Husna
memperkenalkan.
”O yang kuliah di Mesir itu?” Tanya perempuan muda. ”Iya.”
”Kenalkan Mas, saya Yuni teman kerja Husna di radio JPMI Solo.”
”Iya Mbak. Suaminya mana Mbak?”
”Itu di belakang sedang membetulkan genteng yang melorot.”
”Iya deras sekali hujannya ya Mbak. Anginnya juga besar.” Kata
Husna
”Benar. Malah ada pohon di jalan dekat perumahan sebelah
tumbang.” Kata perempuan bernama Yuni itu. ”Sebentar ya.”
Lanjutnya lalu masuk ke dalam.
Ketika tuan rumah masuk, Husna berbisik pada Azzam, ”Yang akan
ditemukan dengan kakak adalah adik suaminya Mbak Yuni ini.
Kakak santai saja. Biasa saja.”
Tak lama kemudian seorang gadis berjilbab putih keluar dengan
membawa nampan berisi teh hangat. Azzam memandang wajah
gadis itu, biasa saja nuansa hatinya, tidak ada desir aneh seperti
ketika ia melihat Anna atau Eliana dulu. Gadis itu berwajah oval.
Edited by : Bon Bon-q97 276
Alisnya tipis. Ada tahi lalat di pelipis kanannya. Tangannya lentik
meletakkan gelas dari nampan ke meja.
”Silakan Mbak, Mas diminum.” Kata gadis itu dengan suara serakserak
basah. Mirip suara Zumrah.
”Terima kasih, Mbak ya. Eh Mbak siapa kalau boleh tahu namanya?”
Husna bertanya pada gadis itu.
”Mila. Lengkapnya Milatul Ulya.” Jawab gadis itu, ”Maaf saya ke
belakang ya.” Sambungnya lalu bergegas ke belakang.
”Bagaimana Kak. Setelah melihat sekilas.” Bisik Husna pada Azzam
setelah gadis itu hilang di balik tembok.
”Biasa saja. Tapi sudah masuk standar. Jilbabnya rapat dan panjang.
Kakak suka itu.” Jawab Azzam.
Tak lama kemudian muncul seorang pria muda berkaos panjang biru
tua dan memakai celana jeans biru muda. Kepala pria itu agak botak.
Rambutnya tipis. Wajahnya segar dan ramah.
”Assalamu’alaikum, kenalkan saya Edy. Suami Yuni.” Kata pria itu
sambil menjabat tangan Azzam lalu duduk.
”Nama saya Azzam Mas. Lengkapnya Khairul Azzam. Kakak
kandung Husna ini?”
”O ini tho kakaknya Husna. Bisa nulis juga seperti adiknya?”
”Bisa, tapi nulis surat he... he... he...” Jawab Azzam.
Edy juga tertawa. Husna tersenyum saja. Ruangan itu jadi cair dan
hangat.
Edited by : Bon Bon-q97 277
”Berapa lama di Mesir?”
”Aduh jadi malu kalau ditanya itu. Saya sembilan tahun di Mesir.
Tapi masih bodoh tidak bisa apa-apa.”
”Ah jangan merendah begitu.”
”Sungguh. Bisanya malah bikin bakso. Sekarang saya usaha bakso di
UMS. Bakso cinta.”
’O bakso cinta itu ya. Yang bentuknya tidak bulat tapi berbentuk
lambang cinta?”
”Iya.”
”Itu milik Anda?”
”Benar.”
Katanya mantap. Itu teman-teman saya di kantor yang cerita kalau
mantap. Nanti kapan-kapan saya coba.”
”Datang saja Mas. Kalau ingin bertemu saya ya yang di samping
UNS.”
”Ya baik.”
Kemudian Yuni dan Mila keluar. Yuni membawa sepiring pisang
goreng dan Mila membawa dua toples berisi kacang kulit dan
rempeyek. Piring dan toples itu diletakkan di meja.
”Wah ini kayak lebaran saja Mbak Yun.” Ujar Husna. ”Biar. Adanya
cuma itu. Tidak ada apa-apa.” Sahut Yuni.
Edited by : Bon Bon-q97 278
Saat Mila mau masuk lagi ke dalam Yuni memegang tanggannya
seraya berkata,
”Jangan masuk. Ini temani kakakmu. Aku mau ke tempat Bu RT
kemarin lupa iuran seragam PKK. Mumpung aku ingat. Nanti kalau
lupa lagi tidak enak sama Bu RT.”
Mila jadi kikuk. Ia lalu duduk di kursi yang ada di samping
kakaknya. Yuni melangkah keluar mengambil payung dan
menerobos hujan. Hujan masih turun dengan lebatnya. Gelegar guruh
dan guntur berkali-kali terdengar.
”Oh ya Mas Azzam, Mas dulu di Mesir ambil jurusan apa?”
”Saya kuliah di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir. Kalau Mas Edy
dulu kuliah di mana?”
”Saya dulu di ITS. Terus kerja di Telkom, saya ditempatkan mulanya
di Salatiga terus dipindah di Solo. Saat di Solo itulah saya ketemu
Yuni. Kok tertarik. Langsung saya temui orang tuanya. Dia mau.
Orang tuanya boleh. Lalu kami nikah.” Cerita Edy ke mana-mana
menjawab pertanyaan Azzam.
”Mas Azzam sudah menikah?”
”Belum.”
”Kenapa?”
”Belum ketemu jodoh.”
”Wah apa mungkin ini kebetulan. Adik saya Mila ini iuga belum
menikah lho.”
Edited by : Bon Bon-q97 279
Milatul Ulya salah tingkah mendengar perkataan kakaknya Mukanya
memerah. Saat memerah itulah pesonanya bisa menyihir siapa saja.
Azzam melihat perubahan muka itu dan melihat pesonanya. Azzam
merasakan sihirnya. Barulah hatinya berdebar dan berdesir.
”Bagaimana Mas, apa sama adik saya saja, malah tidak usah pusingpusing
cari jodoh?”
Azzam menjawab dengan tenang. Ia harus menguasai keadaan,
”Kalau saya sih mudah saja Mas. Siapa sih yang tidak mau sama
gadis cantik berjilbab seperti Mila. Persoalannya adalah Mila mau
tidak sama saya. Saya yang degil, dan hanya seorang penjual bakso.”
Mendengar kalimat itu Mila semakin menunduk. Kedua pipinya
memerah. Jari-jarinya memilin-milin jilbab besarnya. Ia diam seribu
bahasa.
”Eh Mbak Mila masih kuliah?” Tanya Husna pada Mila.
Perlahan Mila mengangkat muka memandang wajah Husna.
”Saya sudah selesai kuliah Mbak.”
”Di mana kuliahnya?”
”Di FE UI Depok.”
”Sekarang aktivitasnya apa?” ’
”Kerja sama aktif di dakwah.”
”Kerja di mana?”
Edited by : Bon Bon-q97 280
”Di sebuah bank syariah di Surabaya.”
’Ke Solo dalam rangka apa?” ”Ya main ke rumah kakak saja.”
Berapa bersaudara sih Mbak?”
”Empat bersaudara. Kakak ini yang nomor dua. Nomor satu di
Malang. Saya nomor tiga dan nomor empat masih kuliah di UNEJ.
Oh ya tadi Masnya bilang kuliah di Mesir ya?” Mila berani bertanya
pada Azzam meskipun dengan wajah tetap menunduk memandang
meja.
”Iya.” Jawab Azzam.
”Saya dulu di SMP punya teman, namanya Nanang. Dia setahu saya
kuliah di Mesir. Apa Mas kenal?”
”Sebentar, apa namanya Nanang Sukamtono?” ”Iya.”
”Yang alisnya tebal. Terus ada kayak tompel di anak telinga
kanannya.”
”Iya benar. Ia sama teman-teman dulu malah kadang dipanggil
Nanang Tompel.”
”Kebetulan saya kenal baik. Nanang itu adik kelas saya. Dia satu
rumah dengan saya.”
Spontan pria bernama Edy berkata, ”Masya Allah, dunia ternyata
sempit sekali. Wah lha kok kebetulan. Apa ini tanda-tanda berjodoh
ya?”
Kembali wajah Mila memerah. Gadis itu diam tidak menanggapi
kalimat kakaknya dengan kata-kata tapi dengan diamnya dan
Edited by : Bon Bon-q97 281
perubahan wajahnya. Satu jam lamanya Azzam dan Husna
berbincang-bincang dengan Mila dan kakaknya. Ketika Yuni
kembali hujan mulai reda. Azzam dan Husna lalu pamit minta diri.
”Wah gadis itu masih sangat alami Kak. Meskipun dia kuliah di UI
tapi jiwa dan hatinya sama sekali masih benar benar alami. Kak
Azzam lihat tidak tadi perubahan mukanya. Diamnya. Salah
tingkahnya. Kalau sudah terkena budaya kota dan budaya metropolis
itu tak akan terjadi.” Husna menjelaskan penilaiannya dalam
perjalanan pulang ke Wangen.
”Begini saja Na. Terserah kau mengaturnya bagaimana. Kau
sampaikan saja lamaranku pada kakaknya atau langsung pada Si
Mila. Kalau kira-kira okay, kita berangkat ke Surabaya.”
”Baik Kak.”
”Semoga dia memang jodohku.” Ucap Azzam penuh harap.
”Semoga kak. Amin. Kalau dari salah tingkahnya aku yakin dia
menerima Kak. Sembilan puluh lima persen sudah okay, tinggal yang
lima persen kakak harus banyak doa.” Kata Husna.
Suatu siang Azzam dan Husna bertemu dengan Yuni di sebuah
rumah makan di dekat pasar Kleco. Yuni datang sendirian dengan
bersepeda motor. Perempuan muda itu hendak menjelaskan hasil
lamaran Azzam.
”Alhamdulillah, untuk Mila tidak ada masalah.” Kata Yuni.
”Artinya dia menerima?”
”Iya. Bahkan begitu kalian pulang dari rumahku itu, Mila bertanya
minta pada kakaknya agar serius mengejar Azzam. Tidak hanya
Edited by : Bon Bon-q97 282
guyonan.” Kata Yuni yang membuat hati Azzam bagai ditetesi
embun dingin.
”Tapi masalahnya justru ada pada ibu mertuaku, yaitu ibunya Mila.”
Lanjut Yuni.
”Apa masalahnya?”
”Masalah yang saya sama Edy sampai judeg dan bingung harus
bagaimana menghendaki perempuan tua kolot. Masalah yang sangat
mengherankan masih saja ada di zaman modern. Masalahnya adalah
Azzam anak pertama dan Mila anak ketiga. Ibu mertua itu sangat
percaya itu namanya lusan. Tidak boleh anak ketiga menikah dengan
anak pertama. Terus katanya kalau me...”
“Ya kalau menikah maka salah satu dari orang tua pengantin, baik itu
pengantin lelaki atau pengantin perempuan akan ada yang binasa.
Akan ada yang meninggal dunia. Begitu kan?”
”Iya. Edy sama saya sampai berdebat keras sama ibu mertua. Edy
malah sampai marah. Tapi ibunya tetap bersikukuh. Dan dia bilang,
’Kalau sampai Mila jadi menikah dengan lelaki itu maka aku tidak
rela dunia akhirat. Dan Edy yang membawa lelaki itu dan
keluarganya juga tidak aku ridhai!’ Begitulah kami tidak bisa
berkutik apa-apa. Edy tidak berani ikut karena malu sama Azzam.
Kalau kalian ada saran silakan. Terus terang kami telah kehabisan
cara berhadapan dengan ibu mertua yang sangat kolot dan masih kuat
memegang kejawen.”
”Ibu mertuamu di Surabaya masak masih begitu. Surabaya kan kota
santri?”
”Ibu mertua memang di Surabaya, tapi aslinya kan Karanganyar.”
Edited by : Bon Bon-q97 283
”Lha bapak mertuamu bagaimana?”
”Dia selalu ikut apa kata ibu mertua. Ah yang kasihan Mila.”
”Kenapa dengan Mila?” Tanya Husna penasaran.
”Mila tidak bisa menerima kenyataan ini. Dia sangat sedih. Ia bilang
ke saya, ’Kalau Mas Azzam mau mengajak dia kawin lari pun dia
siap. Nanti biar Mas Edy yang jadi walinya.’ Tapi suamiku itu tidak
berani. Ia takut membuat ibunya benar-benar murka dan
menyumpahinya tujuh keturunan.”
”Terus apa yang seharusnya kami lakukan?”
”Aku juga tidak tahu. Tapi kalau Azzam mau mencoba menghadapi
ibu mertuaku langsung juga tidak apa. Siapa tahu di tangan Mas
Azzam ibu mertuaku takluk.”
Mendengar penjelasan Yuni itu Azzam hanya bisa geram. Kenapa
mitos-mitos yang penuh kebohongan itu tetap saja jadi keyakinan.
Berapa banyak korban yang sengsara karena mitos seperti itu. Dulu
di dukuh Sraten, Sriani anak perempuan Bu War gagal kawin dengan
anak pedagang sapi dari Karanggede Boyolali gara-gara masalah
hitungan hari kelahiran. Menurut orang-orang Karang gede hitungan
keduanya yang tidak cocok. Kalau tetap dikawinkan akan selalu
mendatangkan huru hara rumah tangga. Perkawinan dibatalkan. Dan
anak Bu War jadi linglung sampai sekarang.
Sampai di rumah semua keterangan Yani dimusyawarahkam dengan
Bu Nafis dan Lia.
”Kak Azzam, nekat saja ke Surabaya. Labrak saja ibunya Mila yang
kolot itu. Kalau tetap bersikukuh bawa saja si Mila kawin di sini.
Kalau Edy kakaknya tidak mau jadi wali bisa pakai wali hakim.
Edited by : Bon Bon-q97 284
Kalau seperti ini diterus teruskan yang kasihan kan kaum perempuan.
Selalu jadi korban, kayak Si Mila itu. Apa salah Si Mila coba!?”
Sengit Lia dengan mata menyala-nyala.
”Jangan! Kalau Azzam tetap nekat terus ibunya Mila tetap
bersikukuh dan Azzam tetap membawa Mila nikah, ibu kok yakin
ibunya Mila itu akan meninggal dunia!” Kata Bu Nafis.
”Benarkah Bu?” Heran Lia. Azzam dan Husna juga heran. ”Benar.
Ibu agak yakin.”
Berarti ibu juga berpendapat sama dengan ibunya Mila bahwa anak
ketiga tidak boleh menikah dengan anak yang nomor pertama?” Kata
Lia dengan nada agak sinis. ”Tidak begitu.” Terus kenapa ibu
begitu?”
Kalau Azzam tetap menikahi Mila. Ibu itu akan mati karena marah!
Mati karena serangan jantung dan sakit hati yang luar biasa yang
dihembuskan oleh setan yang menjaga mitos menyesatkan itu!”
“O begitu.” Lia lega. Menurut Bue Kak Azzam harus bagaimana?”
”Cari yang lain saja! Kayak tidak ada gadis lain saja di muka bumi
ini. Masih ada yang lebih baik dari Mila. Soal Mila itu urusan
keluarga mereka!” Tegas Bu Nafis.
Sebenarnya Azzam sangat berat menerima kenyataan ini. Inilah kali
keempat ia berniat menikahi seorang gadis tapi tidak berjodoh. Yang
pertama ia melamar Anna lewat Ustadz Mujab ternyata sudah
didahului Furqan. Kedua, ia cocok dengan Rina, ibunya tidak cocok.
Ketiga, ia juga cocok dengan Tika, ibunya yang tidak cocok.
Keempat dengan Mila. Ia dan Mila sama-sama cocok, tapi ibu Mila
yang ternyata jadi penghalang. Sudah empat kali!
Edited by : Bon Bon-q97 285
”Jangan sedih Kak. Ayo Kak cari yang lain! Lia dan Mbak Husna
juga akan bantu!” Lia berusaha menghibur kakaknya.
”Kak Azzam sendiri apa tidak punya kenalan gitu? Kan kakak juga
mengajar ngaji di pesantren siapa tahu ada di antara jamaah yang
punya anak putri yang cocok buat Kakak.” Ujar Husna. Kata-kata
Husna itu mengingatkannya pada seorang bapak setengah baya yang
pernah memberikan kartu nama kepadanya. Bahkan bapak itu
menawarkan putrinya. Ia merasa untuk mendapatkan jodoh segala
jalan yang halal dan terhormat harus ditempuh.
”Ya kakak ada kenalan, kakak ingat! Beliau pernah memberi kartu
nama!” Seru Azzam.
”Iya Kak, coba saja! Siapa tahu memang jodohnya.’ Lia
menyemangati.
Azzam langsung beranjak ke kamarnya mencari kartu nama yang ia
yakin ia letakkan di dalam almari di kamarnya. Sejurus kemudian
Azzam berteriak, ”Ya ada”. Lalu keluar.
”Namanya Pak Ahmad Jazuli. Alamatnya di Batur, Ceper, Klaten.
Pemilik perusahaan cor besi dan baja Jayakusuma Logam.” Kata
Azzam.
”Ketemu sama Bapak itu di mana Zam?” Tanya Bu Nafis.
”Di pesantren Wangen Bu. Saat Azzam mengisi pengajian Al Hikam
yang pertama dulu.”
”O begitu.”
Edited by : Bon Bon-q97 286
”Wah kalau ini jodoh, bisa jadi lebih baik dari Mila dong Kak. Kan
orang Batur itu banyak yang kaya karena punya pabrik logam.”
Celetuk Lia.
”Bukan kekayaan yang kakak cari kok Lia. Tapi isteri yang
shalehah.”
”Iya Lia tahu.”
* * *
Hari berikutnya Azzam langsung meluncur ke Batur, Ceper, Klaten.
Jam sepuluh pagi Azzam sampai di alamat yang ada dalam kartu
nama itu. Ia sampai di sebuah rumah yang besar. Dengan pagar bumi
tinggi. Halamannya luas, dan rumahnya menjorok ke dalam. Dua
orang satpam menjaga pintu gerbang. Ia memperkenalkan diri dan
menjelaskan keperluannya. Pintu gerbang dari besi dibuka. Azzam
membawa mobilnya masuk. Ia melihat rumah yang mewah.
Garasinya terbuka. Ada tiga mobil terparkir di sana. Kijang kapsul,
BMW hitam. dan Nissan X-Trail.
Begitu Azzam keluar dari pintu mobilnya. Seorang lelaki berusia
kira-kira lima puluh tahun keluar dari pintu rumah dan
menyambutnya. Lelaki itu memakai sarung dan koko putih. Tanpa
peci. Rambutnya sebagian mulai memutih.
“Masya Allah, ada tamu agung tho. Nakmas Azzam. Mari-mari
silakan masuk Nak.” Lelaki itu menyambutnya dengan sangat
hangat. Azzam masuk, lantai rumah itu sepenuhnya adalah yang
tebalnya kira-kira dua senti. Ada satu dinding yang sepenuhnya
adalah aquarium. Ikan-ikan emas itu seperti naik turun berlari dan
bergerak di dinding. Dinding itu seperti dasar laut.
Edited by : Bon Bon-q97 287
”Apa kabarnya Nak?”
”Alhamdulillah baik Pak.”
”Apa kegiatan Nakmas sekarang?”
”Anu Pak, latihan bisnis kecil-kecilan.”
”Apa itu?”
”Jual bakso.”
”Bagus itu. Bapak dulu waktu masih muda pernah jualan garam
pakai sepeda. Ternyata itu bisa jadi latihan untuk menggembleng
mental bisnis. Teruskan bisnismu Nakmas, Bapak doakan semoga
barakah.”
”Amin.”
”Ngomong-ngomong, ada keperluan apa ini Nakmas kok tiba-tiba
tidak ada angin, tidak ada guntur sampai di sini?”
”Ya sowan saya ke sini pertama untuk niatan menyambung tali
silaturrahmi. Kedua ya untuk bertemu bapak, mengetahui kesehatan
bapak. Kan Bapak pernah memberi kartu nama kepada saya agar
saya datang kemari. Ketiga, terus terang untuk menjawab tawaran
bapak waktu itu. Bapak bilang punya anak putri siapa tahu
berjodoh.” Jawab Azzam dengan tenang dan lancar.
Bapak pemilik rumah mewah itu menunduk, lalu menghembuskan
nafasnya. Matanya berkaca-kaca. Raut mukanya berubah sedih.
”Maafkan saya kalau saya lancang Pak.” Lirih Azzam.
Edited by : Bon Bon-q97 288
”Tidak Nak. Kau tidak lancang. Bapak sangat berterima kasih kau
berkenan datang. Sungguh bapak sangat bangga denganmu. Dan
bapak sangat berharap saat itu begitu kau membaca kartu nama
bapak langsung datang kemari. Itu foto anak Bapak. Namanya
Afifatul Qana’ah.” Lelaki itu menunjuk ke sebuah foto wisuda di
dinding. Azzam melihat. Dan hati Azzam berdesir.
”Itu waktu dia wisuda di ITB. Setelah itu dia S2 Matematika di
Belanda. Saat aku bertemu denganmu dia baru pulang dua minggu
dan minta dicarikan jodoh yang bisa membimbingnya baca Al Quran
dan bisa mengimaminya shalat. Bapak anggap ketika bertemu
denganmu engkaulah orangnya. Cocok. Sama-sama lulusan luar
negeri. Bapak tunggu dari hari ke hari dan minggu ke minggu, kau
tidak datang. Bapak punya pikiran kau mungkin sudah ada calon.
Bapak merasa salah terlalu berharap pada orang yang bertemu
sepintas lalu.
”Sementara Afifa terus mendesak bapak. Umurnya sudah dua puluh
enam. Akhirnya bapak menyerahkan jodohnya padanya, asal baik
dan shaleh kalau dia punya calon bapak merestui. Dia bilang dulu
punya teman di ITB, orang asli Cirebon. Dia cari informasi ternyata
temannya itu masih lajang. Punya usaha toko komputer di Bandung.
Satu bulan yang lalu dia menikah Nakmas. Sekarang diboyong
suaminya ke Bandung. Kedatanganmu membuat Bapak sedih. Sedih
kenapa Bapak tidak sabar menunggumu datang.”
Azzam meneteskan air mata. Ia tidak berlama-lama. Ia pulang
dengan rasa haru membuncah di dada. Kenapa ia meremehkan
silaturrahmi? Ia memaki dirinya sendiri. Kenapa ketika diberi kartu
nama dan diminta silaturrahmi dia tidak datang. Coba kalau datang.
Anak Pak Jazuli itu tidak kalah jelita dibanding Eliana dan Anna. Ia
lulusan Matematika S2 Belanda. Sebelumnya di ITB. Dari keluarga
santri. Ia memukul kepalanya sendiri. Penyesalan selalu datang
Edited by : Bon Bon-q97 289
belakangan. Meremehkan hal-hal kecil bisa rnembuat seseorang akan
menyesal berkepanjangan.
* * *
Gagal mendapatkan putri Pak Jazuli tidak membuat Azzam putus asa
dalam berikhtiar mencari jodohnya.
Setiap ada informasi yang ia rasa menarik dikejarnya.Saat ronda
malam Kang Paimo cerita bahwa di Singopuran ada jurangan beras
yang kaya, namanya Pak H Darmanto. Biasa di panggil Haji Dar.
Kang Paimo menceritakan bahwa Haji Dar memiliki putri yang
cantik. Ia pernah bilang padanya bahwa siapa yang mau menikahi
anaknya secepatnya akan dinaikkan haji seluruh keluarganya.
Azzam tertarik. Suatu sore, saat langit terang benderang, matahari
masih bersinar cerah, Azzam mencari rumah Haji Dar. Dan ketemu.
Rumah itu dekat dengan pabrik tembakau. Haji Dar melihat Azzam
datang. Tanpa basa-basi Azzam mengutarakan niatnya menyunting
putri Haji Dar itu. Haji Dar luar biasa senangnya. Seketika Haji Dar
kebelakang mencari isterinya. Saat Haji Dar kebelakang ia melihat
ada anak gadis berkulit putih muncul dari samping rumah. Ia
perkirakan gadis itu mahasiswi semester tiga atau empat. Ia kaget,
tiba tiba gadis itu duduk begitu saja di halaman seperti anak kecil.
Lalu ia main karet yang ia bawa dengan plastik hitamnya. Belum
hilang kagetnya isteri Haji Dar muncul.
”Ini Bu namanya Nak Azzam. Dia yang melamar mau menikahi
Eva.” Terang Pak Dar pada istrinya.
”Kau sudah mantap Nak?” ”Insya Allah Bu.”
Tiba-tiba ia dikagetkan oleh gadis itu yang menangis meraung-raung
di halaman sendirian. Gadis itu jalan dan masuk rumah. Lalu
Edited by : Bon Bon-q97 290
menangis di pangkuan ibunya. ”Ibu Eva mau mimik susu!” Kata
gadis itu. Seketika seluruh badannya gemetar. Gad is itu memang
cantik tapi ternyata gadis itu punya kelainan yaitu keterlambatan
perkembangan pikirannya. Ia mau pingsan rasanya saat itu. Ia
langsung buru-buru minta diri dan minta maaf pada Pak Haji Dar. Ia
bilang bahwa dirinya salah alamat. Ingin rasanya ia menjitak Kang
Paimo.
Azzam belum juga menyerah.
Adiknya Lia mencoba mengenalkannya dengan anak Pak Badri.
Menurut Lia, Pak Badri ini adalah wali murid seorang anak didiknya.
Pak Badri pernah bercerita bahwa dia memiliki anak perempuan
yang sedang menghafalkan Al Quran di Wonosobo.
”Kata Pak Badri namanya Seila Oktaviana. Dulu sekolah di MAN I
Surakarta. Begitu lulus MAN, Seila langsung nyantri di Wonosobo.
Tahun ini katanya khatam hafal 30 juz. Mungkin yang santriwati
hafal Al Quran seperti ini yang jadi jodoh Kakak.”
”Rumah Pak Badri di mana?” Tanya Azzam penasaran.
”Dekat Kak. Di daerah Banyudono situ.”
Tak harus menunggu lama, hari berikutnya ia ke Banyudono. Pak
Badri ternyata juga ikut pengajian Al Hikam yang diasuhnya. Pak
Badri sangat senang mendengar pengakuan Azzam yang ingin
menyunting putrinya. Azzam langsung diajaknya ke Wonosobo.
”Kita langsung saja ke sana. Langsung ketemu Seila. Biar semuanya
jadi enak dan terbuka.” Kata Pak Badri.
Azzam ditemukan dengan Seila yang terus menundukkan kepala.
Pak Badri juga menjelaskan kepada Seila maksud kedatangannya
membawa Azzam. Seila melihat Azzam sesaat. Seila tidak langsung
Edited by : Bon Bon-q97 291
memberi jawaban. Seminggu setelah itu surat Seila dari Wonosobo
datang ke Banyudono. Surat itu singkat sekali. Surat itu oleh Pak
Badri diberikan kepada Azzam untuk dibaca,
Ayahanda tercinta di Banyudono
Assalamu ’alaikum Wr Wb
Ananda dengan surat ini mohon tambahan doa restunya. Pun
Ananda berdoa semoga Ayahanda dan Ibunda, juga adik-adik
semuanya selalu dikasihi dan dicintai oleh Allah. Amin.
Ayahanda berkenaan dengan maksud ayah menjodohkan ananda
dengan pemuda yang bernama Azzam, itu adalah hal yang
sepatutnya ananda syukuri. Memang kewajiban seorang ayah
mencarikan jodoh untuk putrinya.
Namun ayah, menurut ananda rumah tangga yang tidak didasari
cinta akan hampa tiada bermakna. Jujur, saat bertemu Azzam itu
hati ananda tidak menerbitkan sedikit pun cahaya cinta. Ananda
mohon maaf. Ananda tidak bisa menerimanya. Lagi pula ananda
masih akan cukup lama di pesantren. Ananda belum tuntas betul
menghafalkan 30 juz. Ananda tidak mau gara-gara memikirkan
nikah terus konsentrasi Ananda berantakan.
Setelah hafal pun ananda juga masih ingin di pesantren satu tahun
untuk mematangkan hafalan dengan cara mengabdi pada pesantren.
Sama sekali ananda tidak bermaksud mengecewakan ayahanda atau
siapa saja. Ananda hanya menyampaikan terutama yang menjadi
pendapat ananda, dan yang menurut ananda terbaik untuk ananda.
Demikian mohon maaf jika ada khilaf.
Wassalamu ’alalkum
Ta’zhim ananda, Seila Oktaviana
Edited by : Bon Bon-q97 292
Membaca surat itu Azzam malah terharu. Seila benar. Seila harus
memilih suami yang dicintainya. Dan Seila harus menyelesaikan
hafalan Qurannya. Ia sama sekali tidak mau menjadi penghalang bagi
keberhasilan seseorang menghafalkan Al Quran.
Suatu malam ketika semua orang sedang tidur nyenyak, Azzam
menangis dalam sujud shalat tahajjudnya. Ia adukan semua keluh
kesah dan lelahnya kepada Allah,
”Ya Allah, Engkau Dzat Yang Maha Melihat dan Mendengar.
Engkau melihat segala ikhtiar hamba untuk bertemu dengan makhluk
yang Engkau jodohkan untuk menjadi pendamping hidupku. Sudah
berhari-hari hamba berikhtiar mengetuk setiap pintu rumah yang
hamba yakin ada jodoh hamba. Mulai dari Anna, Rina, Tika, Mila,
Afifa, Eva, dan Seila sudah hamba datangi. Engkau Mahatahu
kenapa hamba mendatangi mereka ya Allah.
”Ya Allah hamba memohon temukanlah hamba dengan pendamping
hidup yang terbaik untuk hamba menurut-Mu ya Allah. Yang terbaik
untuk dunia dan akhirat hamba ya Allah. Hamba lelah ya Allah,
namun lautan rahmat dan cintaMu membuat hamba selalu merasa
segar dan tegar. Jangan tinggalkan hamba dalam kesia-siaan ya
Allah. Jadikanlah semua langkah hamba senantiasa mendatangkan
ridha dan rahmatMu. Amin.”
Edited by : Bon Bon-q97 293
19
PERTEMUAN DI KOTA SANTRI
Jam enam pagi, Azzam mau ke Pasar Kartasura untuk membeli
beberapa bahan penting untuk adonan baksonya. Sekarang bakso
cintanya diproduksi di rumah. Ia mempekerjakan dua karyawan. Jadi
tidak lagi di buat di kamar kos yang ada di Kleco. Azzam bahkan
tidak perlu lagi membuat ’kantor’ di sana. Semua orang kini sudah
tahu Azzam memiliki bisnis yang baik. Tak ada lagi suara suara
sumbang tentang dirinya. Apalagi ketika banyak orang tahu dia kini
menggantikan Kiai Lutfi mengajikan kitab Al Hikam. Sama sekali
tidak ada yang meremehkan. Azzam sudah masuk ke mobilnya
ketika pemuda itu datang. Azzam seperti pemah kenal wajahnya. Ia
mencoba mengingat-ingat. Akhirnya ketemu juga. Ya, namanya
Muhammad Ilyas. Azzam turun dari mobil dan menyambut tamunya.
”Ahlan wa sahlan ya akhi, kaif hall”25 Sambut Azzam dengan
bahasa Arab Fusha
25 Selamat datang saudaraku, bagaimana kabarmu?
Edited by : Bon Bon-q97 294
”Alhamdulillah hi khair akhi, wa anta kaif?”26 Jawab Hyas dengan
bahasa Arab juga.
”Alhamdulillah kama tara, Ana bi khair.”27
Lalu keduanya berbicara dengan bahasa Indonesia.
”Mari Ustadz Ilyas, silakan masuk.”
”Kelihatannya mau pergi. Kedatangan saya mengganggu ya?”
”Ah tidak. Kedatangan seorang ustadz seperti antum28 ini selalu
membawa kebaikan insya Allah.”
Ketika mereka masuk, Husna hendak mengeluarkan sepeda
motornya. Husna tetap mengeluarkan sepeda motornya. Azzam dan
Ilyas duduk di ruang tamu. Azzam meminta Husna membuatkan
minuman untuk mereka berdua.
”Pagi sekali antum datang. Berangkat dari Pedan jam berapa?”
”Selepas shalat subuh langsung kemari.” ”Kok tahu alamat rumah
ini.”
”Dari para santriwati yang dulu pernah ke sini saat mengundang
Husna untuk bedah buku.” ”Iya, iya.”
”Wah bisnis baksonya sukses ya.” ”Alhamdulillah. Doanya.”
26 Alhamdulillah baik saudaraku, dan kamu bagaimana?
27Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, saya baik.
28 Kamu
Edited by : Bon Bon-q97 295
”Semoga barakah seperti Imam Abu Hanifah. Bisnisman juga
ulama.” Kata Ilyas. ”Amin.”
Husna dan Lia di dapur bersama ibunya. Percakapan Azzam dan
Ilyas terdengar jelas oleh mereka.
”Ini ngomong-ngomong belum berangkat lagi ke India?”
”Alhamdulillah, saya kan tinggal nulis tesis saja. Kebetulan tema
yang saya tulis ke Indonesia an. Jadi bahannya malah ada di
Indonesia. Ya sekalian saja saya nulis tesis di Indonesia.
Pembimbing setuju. Dan saya bisa mengirim file tiap babnya via
email.”
”Wah enak itu, akhi.”
”Insya Allah berangkat ke India nanti saja jika tesis sudah selesai.”
”O begitu. Terus ini kok njanur gunung29 ada apa ya?
Ilyas menata duduknya. Ia tampak agak kikuk. Saat itu Husna keluar
membawa minuman. Adik Azzam itu meletakkan dua gelas teh
panas di meja tamu, tepat di depan Ilyas. Saat Husna meletakkan
gelas di hadapan Ilyas, hati Ilyas bergetar hebat.
”Silakan diminum akhi.” Ucap Azzam.
”Iya,” Tukas Ilyas, ”Mm... begini Akh Azzam, kedatangan saya pagi
ini pertama silaturrahmi. Yang kedua saya ingin menyampaikan
sesuatu kepada Akh Azzam. Sebelumnya saya mohon maaf kalau
nanti saya
29 Semacam idiom bahasa Jawa, artinya tidak seperti biasa
Edited by : Bon Bon-q97 296
dianggap lancang atau kurang sopan santun. Tapi insya Allah yang
saya sampaikan tidak ada celanya menurut syariat Islam.”
Ilyas berhenti sesaat.
Azzam mendengarkan. Di belakang Husna dan Lia yang sedang
menggoreng bakwan juga dengar meskipun pelan. Ilyas mengambil
nafas. Ia mengatur detak jantungnya yang mulai kencang.
”Mm, apa itu Akh Ilyas?” Tanya Azzam, karena Ilyas agak lama
berhenti bicara.
”Setahu saya, Antum adalah wali dari adik-adik antum, karena ayah
dan kakek antum sudah tidak ada.”
”Benar.” Jawab Azzam yang sudah mulai tahu ke arah mana Ilyas
akan bicara. Sebab sudah menggunakan kata wali, yang berarti
adalah wali nikah.
”Saya datang, dengan niat semata-mata karena ibadah kepada Allah,
saya datang untuk mengkhitbah adik akhi yang bernama Ayatul
Husna! Mohon maaf jika ini dianggap kurang sopan santun. Insya
Allah jika positif nanti kedua orang saya akan saya ajak kemari.”
Azzam memejamkan mata. Ia tidak tahu perasaan apa yang ada
dalam hatinya. Yang jelas hati kecilnya ia sangat bahagia. Sebab
yang melamar adiknya adalah seorang yang oleh banyak orang diakui
keshalehannya, juga orang yang pendidikannya baik, S1 di Madinah
dan S2 nya di Aligarh Muslim University, India. Tapi bagaimana
perasaan Husna. Ia tidak mau memaksakan apa pun kepada adiknya.
Adiknya itu sudah dewasa, sudah bisa berpikir cerdas.
Sementara Husna yang sedang menggoreng Bakwan di belakang
bagai disengat kalajengking karena kaget mendengar dirinya dilamar
Edited by : Bon Bon-q97 297
Muhammad Ilyas. Lia juga kaget. Dua orang kakak beradik itu saling
berpandangan.
Bu Nafis sedang memetik daun salam di belakang rumah. ”Wow,
selamat ya Mbak, dilamar seorang Ustadz. Mantap!” Lia tersenyum
pada kakaknya, menggoda sambil mengacungkan jempolnya.
”Sst! Jangan menggoda ya. Kujitak nanti kepalamu!” ”Ayo kak
Azzam langsung terima saja kak Azzam! Kak Husna sedang
melayang-layang bahagia!” Kata Lia setengah berbisik menggoda
Husna. Husna menjitak kepala adiknya dengan gemas dan sayang.
”Sst! Jangan ribut tho! Dengarkan apa yang akan dikatakan Kak
Azzam.” Kata Husna pelan pada Lia. Lia diam.
”Akh, ini sungguh suatu kehormatan bagi saya pribadi. Dan bagi
keluarga kami. Benar saya walinya tapi saya tentu tidak bisa
memutuskan kecuali setelah mendengar pendapat Husna. Begini saja
akhi, tiga hari lagi datanglah kemari. Insya Allah sudah ada jawaban.
Jawabannya iya atau tidak itu tergantung Husna. Dan semoga apapun
jawabannya nanti baik bagi kita semua. Ayo silakan diminum!”
Di belakang Husna mengatakan pada Lia, ”Lha seperti itu jawaban
kakak yang bijak.”
”Awas Mbak bakwanmu gosong!” Kata Lia menahan jeritan.
”Wah iya, inna lillahi”
”Makanya Mbak jangan mikirin ustadz itu.”
”Ih kamu ini menggoda kakaknya terus.”
”Lha mau menggoda siapa kalau tidak menggoda kakaknya. Lha
adanya cuma kakaknya.”
Edited by : Bon Bon-q97 298
”Alhamdulillah, bakwannya sudah selesai digoreng. Ini yang gosong
dipisahkan saja! Oh ya Dik, tolong bakwannya dikeluarkan!”
”Tidak ah! Mbak saja ah, kan Mbak yang dilamar. Sekalian melihat
bagaimana muka orang yang melamar Mbak!”
”Mbak malu Dik! Ayolah!”
”Tak mau, sorry ya Mbak!
”Dik!”
”Sorry!”
”Dik, awas kau!”
”Sorry silakan dikeluarkan, Lia mau ke belakang lihat Bue ke mana
tho kok tidak datang-datang.” Kata Lia sambil ngacir ke belakang.
”Awas!”
Terpaksa Husna yang harus mengeluarkan. Ia keluar membawa
bakwan dengan jantung berdegup kencang. Tapi ia dengan cepat bisa
menguasai dirinya. Husna berjalan tenang memasuki ruang tamu. Ia
memegang nampan yang berisi sepiring bakwan yang masih panas.
Dari jarak lima meter, ia mencoba melihat orang yang melamarnya.
Ia memandang wajah Ilyas, saat itu Ilyas sedang menundukkan
pandangannya. Husna meletakkan bakwan di hadapan Azzam.
”Dik Husna, ini Ustadz Muhammad Ilyas. Dia ini ternyata pembaca
cerpen-cerpenmu Dik.” Kata Azzam memperkenalkan tamunya. Mau
tidak mau Husna harus berdiri sesaat.
Edited by : Bon Bon-q97 299
”Iya benar. Saya kagum sama tulisan-tulisan Mbak Husna.” Sahut
Ilyas memandang ke wajah Husna. Saat itu Husna memandang ke
arah Ilyas.
”Oh ya. Terima kasih atas apresiasinya. Silakan dicicipi bakwannya.”
Ujar Husna lalu melangkah ke dalam. Sampai di dapur, Si Lia
kembali usil. ”Wah ustadz itu keren juga Mbak ya berani vulgar
begitu?”
”Vulgar bagaimana?”
”Lha tadi aku dengar dia mengatakan pada kakak, ’Saya kagum sama
Mbak Husna!’”
”Telingamu itu perlu dicukil upilnya. Dia bilang, ’Saya kagum sama
karya-karya Mbak Husna!’ Ada kata-kata, ’karya-karya’. Ngawur
kamu!” ”Masak begitu Mbak?” ”Iya!”
”Lia tidak percaya, kita tanya langsung sama orang itu. Benar tidak
kata Lia. Orang itu kagum sama Mbak Husna, baru kagum sama
karya-karya Mbak Husna! Kalau tidak Percaya ayo kita keluar tanya
langsung ke dia!” ”Tanya dengkulmu itu!” Kata Husna sewot.
Lia lalu cekikian dengan ditahan-tahan. Ia bahagia bisa mengerjai
kakaknya.
”Bue mana?”
”Nggak tahu tidak ada di belakang. Mungkin ke warung Bu War.”
Di ruang tamu Ilyas minta diri pada Azzam. Sekali lagi Azzam
menjanjikan jawabannya tiga hari lagi.
* * *
Edited by : Bon Bon-q97 300
Begitu suara sepeda motor Ilyas menghilang, Azzam langsung
menemui Husna di dapur. Bu Nafis tepat baru masuk dari pintu
belakang.
”Kayaknya ada tamu ya? Siapa tadi?” Tanya Bu Nafis. ”Bue sih, tadi
itu tamu penting. Bue malah pergi, Lia cari-cari di belakang tidak
ada. Katanya mau metik daun salam saja, malah ke mana-mana.”
Seloroh Lia pada ibunya. ”Bue minta maaf, tadi Bue ke tempat Bu
War. Di sana malah ketemu Bu Mahbub. Katanya Bu Mahbub punya
keponakan di Kudus. Keponakannya itu baru saja tamat dari Fakultas
Kedokteran UNDIP. Sekarang tugas di Puskesmas Sayung Demak.
Katanya orangnya cantik. Bu Mahbub menawarkan kalau mau Bue
sama Azzam mau dikenalkan. Siapa tahu cocok untuk Azzam.
Begitu.” Jelas Bu Nafis dengan mata berbinar-binar bahagia.
”Wah hari ini rumah ini kok seperti kejatuhan dua durian runtuh dari
langit. Kenapa tidak sekalian tiga saja. Hari ini Mbak Husna dilamar
seorang Ustadz lulusan luar negeri. Terus Kak Azzam dapat tawaran
dokter. Lha Mbok saya sekalian saja dilamar siapa gitu.” Sahut Lia.
”Benar Zam? Kata Lia, Husna dilamar seorang Ustadz? Tadi itu
Ustadz tho?” Tanya Bu Nafis.
”Iya benar Bu.”
”Terus jawabannya apa? Langsung diterima?”
”Ya tidak lah Bu. Kita kan punya seorang Ibu. Husna juga bukan
benda mati tapi dia manusia. Kan juga harus tahu pendapatnya
Husna bagaimana. Ya pada intinya terserah Husna dan ibu. Azzam
tinggal nanti menyampaikan saja. Tiga hari lagi dia akan datang,”
”Bagaimana Nduk Husna. Kau sudah kenal dan tahu orangnya?”
”Sudah.”
Edited by : Bon Bon-q97 301
”Sudah ada jawaban untuk memutuskan?”
”Belum. Biarlah Husna istikharah dulu. Nanti Husna jawab setelah
istikharah.”
”Ya memang harus begitu. Kata ayahmu dulu, pokoknya sebelum
memutuskan apa saja istikharahlah dulu.”
”Kalau Kak Azzam bagaimana?” Cecar Lia, ”Tertarik tidak untuk
melihat keponakan Bu Mahbub yang dokter itu?”
”Boleh juga. Selama shalihah, insya Allah, kakak tertarik.”
”Kalau begitu, kapan kita ke Sayung atau ke Kudus?” Tanya Lia.
”Nanti Bue rembug sama Bu Mahbub enaknya kapan. Nanti sekalian
menjenguk Si Sarah. Kasihan dia sudah hampir setengah tahun anak
itu tidak dijenguk.”
”Husna sudah ngebel ke Kudus, Sarah sehat-sehat kok Bu. Ya Bue
memang hampir setengah tahun tidak menengok. Tapi Husna sama
Lia kan tiap bulan gantian nengok ke sana.” Kata Husna
menenangkan ibunya yang selalu sedih setiap kali teringat Si Kecil
Sarah.
“Semakin cepat semakin baik. Kak Azzam juga belum berternu
Sarah sejak pulang. Kalau misalnya nanti sama- sama iyanya dan
sama lancarnya menikah bareng juga ndak apa-apa. Malah efisien di
biaya, waktu dan tenaga.”
“Memberitahu keponakan yang di Kudus itu juga disampaikan apa
adanya, Azzam itu pekerjaannya ya jualan bakso.” Bu Nafis
merendah.
Edited by : Bon Bon-q97 302
”Bu Nafis, justru saya lebih bangga pada anak muda yang mau
berwirausaha seperti Azzam. Tidak menggantungkan hidup pada
negara. Sekarang Azzam lumayan sukses bisa beli mobil sendiri.”
Tukas Pak Mahbub.
”Walah cuma mobil bekas Pak.” Sahut Bu Nafis.
”Itu menurutku lebih baik daripada dapat Fortuner baru tapi dari
uang orang tua. Siapa saja kalau cuma menerima pemberian bisa.
Tapi kalau usaha sendiri tidak semua bisa. Dan ini Bu, jika seluruh
generasi muda bangsa ini punya mental dan pola pikir seperti
Azzam, insya Allah bangsa ini akan maju. Tak ada pengangguran.
Kenapa? Karena setiap orang akan menciptakan lapangan kerja bagi
dirinya dan bahkan bagi orang lain. Kalau boleh tanya sekarang
berapa karyawan Azzam Bu?”
”Tujuh orang. Karyawan bakso cinta lima dan karyawan foto copy
dua.”
”Lihat dengan wirausaha Azzam sudah membuka lapangan kerja
buat tujuh orang. Kalau ia jadi pegawai negeri, itu tak akan terjadi.”
”Alhamdulillah Pak, berkah doa Pak Mahbub usaha Azzam semakin
baik dari hari ke hari.”
”Alhamdulillah, tapi tolong sampaikan pada Azzam agar bersiapsiap
menghadapi cuaca buruk. Cuaca tidak selamanya baik dan
tenang. Ada kalanya langit yang cerah tiba-tiba berawan lalu
mendung, bahkan bisa juga berbadai. Demikian juga dalam bisnis.”
”Baik Pak terima kasih atas waktunya. Kami pamit ya.”
”Iya Bu. Hari Ahad ya, Insya Allah?” Kata Bu Mahbub
Edited by : Bon Bon-q97 303
”Iya insya Allah. Oh ya kita berangkat dari sini jam berapa?”
”Pagi-pagi sekali saja jam setengah tujuh, biar lebih enak jalannya.”
”Sepakat.” Kata Bu Nafis
***
Ahad pagi Azzam dan keluarganya disertai Pak Mahbub dan
isterinya berangkat ke Kudus. Mereka berangkat dari Kartasura
pukul tujuh pagi. Molor setengah jam dari yang direncanakan. Yang
mengendarai mobil Azzam. Pak Mahbub duduk di samping Azzam.
Bu Nafis dan Bu Mahbub duduk di bangku tengah. Dan di bangku
belakang adalah Husna dan Lia.
Malam sebelum berangkat Bu Nafis membuat kue donat cukup
banyak. Tujuannya selain untuk oleh-oleh buat Si Sarah, juga buat
keluarga Vivi. Selain kue donat Bu Nafis dan Lia juga membuat
Arem-arem dan Lontong Opor untuk bekal di jalan.
Langit Kartasura terang benderang saat mereka berangkat. Tak ada
awan maupun mendung. Medekati Boyolali mendung seolah
mengintai mereka. Dan sampai di Ampel hujan deras mengiringi
mereka. Sampai Salatiga hujan mulai reda tinggal gerimisnya saja.
Sampai di Bawen hanya mendung yang menemani. Semakin lama
panas menyengat.
Pukul sepuluh mereka sampai di Demak. Sisa sisa hujan tampak di
sepanjang jalan. Air sungai di kiri jalan berwarna cokelat pekat.
Airnya penuh hampir meluap ke jalan. Mobil melaju di belakang bus
Nusantara. Azzzm mengemudi dengan tenang. Jam terbangnya
membuatnya memiliki insting yang bagus di jalan. Begitu ia
menemukan ruang dan kesempatan, maka bus didepannya pun ia
salip dengan penuh kemenangan.
Edited by : Bon Bon-q97 304
Rombongan itu memasuki gerbang kota Kudus pukul sebelas kurang
lima belas menit. Azzam kurang begitu tahu jalannya. Pak Mahbub
menunjukkan ke kiri atau ke kanan.
”Setelah melewati Matahari di depan itu kiri Zam.” Kata Pak
Mahbub memantau.
Azzam mengikuti petunjuk Pak Mahbub.
”Depan itu kanan! Itulah jalan Kiai Telingsing. Lurus saja terus
hingga akhirnya kita sampai di Masjid Menara Kudus yang terkenal.”
Pandu Pak Mahbub.
Azzam melewati jalan Kiai Telingsing dan mengikuti panduan yang
diberikan oleh Pak Mahbub. Tak lama kemudian sampailah mereka
di depan Masjid Al Aqsha nama lain dari masjid Menara Kudus.
Azzam parkir tak jauh dari masjid. Aura Kudus sebagai kota santri
sangat terasa. Di jalan dan di gang banyak santri putra berpeci yang
hilir mudik, dan banyak santri putri berjalan dengan jilbabnya yang
bersih menawan.
”Rumah Vivi tak jauh dari Menara. Kita jalan saja dari sini. Sebab
rumahnya melewati gang yang berkelok-kelok. Rumahnya ada di
Langgardalem.” Jelas Bu Mahbub.
Azzam membawa kardus berisi donat yang telah disiapkan ibunya. Ia
berjalan di samping Pak Mahbub. Mereka berjalan terus ke utara.
Melewati toko buku Mubarakatun Thayyibah. Lalu ada gang kecil
mereka masuk ke kanan. Gang itu berkelok-kelok. Di sebuah rumah
khas Kudus dengan ukirannya yang khas mereka berhenti. Pak
Mahbub melepas sepatunya dan naik. Rumah itu pintunya terbuka
namun lengang. Pak Mahbub mengucapkan salam. Tak lama
kemudian seorang gadis berjilbab merah marun keluar. Gadis itu
langsung tersenyum begitu tahu siapa yang datang.
Edited by : Bon Bon-q97 305
”Subhanallah, Pak Lik sama Bu Lik tho, ayo monggo monggo” Seru
gadis itu.
”Vi, bapak ibumu ada di rumah?” Tanya Pak Mahbub.
”Saya sendirian ini Pak Lik. Bapak sama ibu baru lima belas menit
yang lalu keluar. Katanya ada kumpulan pengajian jamaah haji di
Jamiatul Hujjaj Kudus, JHK itu lho Lik. Monggo Pak Lik, monggo
semuanya, masuk!”
Pak Mahbub dan Bu Mahbub mendahului masuk. Barulah Bu Nafis
dan Husna. Ketika naik Azzam menyerahkan kardusnya pada Lia.
”Vivi kenalkan ini keluarga Bu Nafis. Mereka tetangga Pak Lik di
Kartasura. Ini Bu Nafis, itu Husna, itu Lia, dan ini Mas Azzam.
Kebetulan mereka mau menjenguk Si Sarah, putri bungsu Bu Nafis
di Pesantren Krandon situ. Lha kok kebetulan. Ya akhirnya kami
bareng.”
”O begitu. Mbak Husna ini masih kuliah?” Tanya Vivi
menghadapkan wajahnya ke Husna. Kata-katanya terdengar renyah.
Wajahnya menyiratkan orangnya periang.
”Alhamdulillah, sudah selesai Mbak.”
”Sudah kerja?”
”Alhamdulillah.”
”Di mana?”
”Di radio JPMI Solo.”
”Sebentar saya kenal dengan seseorang di Solo, lewat karyakaryanya.
Apa Mbak kenal ya, namanya Ayatul Husna?” Tanya Vivi.
Edited by : Bon Bon-q97 306
Husna tersenyum. Bu Mahbub langsung menepuk paha Vivi seraya
berkata,
”Vivi ini gimana lha ini orangnya. Inilah Ayatul Husna!”
”Benarkah?”
”Ya benarlah!”
’Ini Ayatul Husna yang menulis ’Menari Bersama Ombak’ itu?”
Tanya Vivi dengan mata mau membesar memandang Husna.
”Iya benar Mbak Vivi, saya Ayatul Husna.” Lirih Husna.
”Laa ilaaha illallah, subhanallah. Mimpi apa saya sampai ketemu
orang yang saya kagumi?”
Lia berkomentar, ”Benar kata orang-orang, dunia memang sempit!”
”Mbak Husna sebentar ya saya mau ambil buku minta tanda tangan!”
Vivi bangkit dan masuk ke sebuah kamar. Lalu keluar lagi membawa
sebuah buku. Judulnya ’Menari Bersama Ombak’.
”Ini Mbak minta tanda tangannya.” Husna mengambil buku itu dan
menandatanganinya. ”Mau tanda tangan ibu saya tidak?” Tanya
Husna. ”Mau, satu keluarga semuanya deh ikut tanda tangan.” Kata
Vivi.
”Tapi kalau yang itu mahal lho.” Sahut Husna sambil menunjuk ke
arah Azzam.
”Kenapa memangnya?” Tanya Vivi. ”Dia tanda tangannya berbau
Mesir. Karena dia lulusan Mesir. Jadi mahal.” Jawab Husna. ”O
begitu.”
Edited by : Bon Bon-q97 307
”Nama lengkap Mbak Vivi siapa?” Tanya Husna. ”Alviana Rahmana
Putri Zuhri. Biasa dipanggil Vivi. Ada juga dulu teman memanggil
Alvi. Zuhri nama ayah saya. Dan nama ibu saya Fadilah.” ”Mbak
Vivi masih kuliah?” ”Sudah selesai.” ”Sudah kerja?”
”Sudah.”
”Di mana?”
”Di Puskesmas Sayung Demak.”
”Sudah menikah?”
”Belum.”
”Kenapa?”
”Belum laku. Belum ada yang mau melamar.” Jawab Vivi dengan
nada bercanda. ”Kalau dilamar mau?” ”Asal orangnya ganteng ya
saya mau.” Jawab Vivi santai.
”Kalau Mas saya itu masuk kriteria tidak?”
”Wah jawabannya perlu istikharah tiga hari dulu.” Tak ada rasa
canggung dari nada bicara Vivi.
”Tunggu sebentar ya saya membuat minum dulu ya.” Ujar Vivi
seraya beranjak ke belakang.
”Tak usah repot-repot Nduk.” Kata Pak Mahbub. ”Alah cuma air kok
Pak Lik.”
Edited by : Bon Bon-q97 308
Vivi masuk ke belakang diikuti oleh Bu Mahbub. Di belakang Bu
Mahbub berbicara berdua dengan Vivi. Menjelaskan maksud
kedatangannya. Vivi terperanjat kaget namun segera menguasai diri.
”Untuk sekilas Vivi cocok Bu Lik. Tergantung dianya mau apa tidak.
Kalau bapak sama ibu gampang. Sudah menyerahkan masalah ini
sepenuhnya padaku.”
Bu Mahbub tersenyum mendengarnya. Vivi jadi agak salah tingkah
karena penjelasan Bu Liknya. Dalam hati Vivi berkata, ”Bodoh
sekali kalau ada gadis menolak pemuda seperti dia. Tampak
berkarakter dan lulusan Mesir lagi. Terus kakak dari penulis muda
terkenal lagi. Kalau memang dia rezekiku ya tidak akan ke manamana.”
Azzam memperhatikan gerak-gerik Vivi dengan baik. Orang seperti
Vivi yang renyah dan banyak humor serta mudah bergaul dengan
orang ia rasa akan awet muda.
Orang yang ramah dan akrab pasti akan mudah dicintai, mudah
bergaul dengan orang. Ia rasa dokter seperti itu, yang ramah dan
akrab pasti akan disenangi banyak orang.
Cukup lama mereka disana tapi bapak dan ibu Vivi belum juga
pulang.
Pak Mahbub memimpin rombongan minta diri. Ketika berdiri dari
jongkok karena memakai sepatu, Azzam mencuri pandang kepada
wajah Vivi. Pada saat yang sama Vivi sedang mengamati Azzam.
Mata dua orang itu bertemu. Azzam bergetar. Demikian juga Vivi.
Dari rumah Vivi mereka kembali ke Masjid Menara Kudus. Mereka
shalat Zuhur sambil melepas lelah. Azzam melihat belasan santri
yang menggelosot dan tiduran di serambi masjid sambil komat-kamit
menghafal Al Quran. Nuansa Qurannya benar-benar terasa.
Edited by : Bon Bon-q97 309
Setelah shalat dan cukup istirahat rombongan naik mobil dan
bergerak menuju Krandon. Tempat di mana Si Kecil Sarah menuntut
ilmu. Begitu sampai di pesantren, seorang pengurus berjilbab biru
muda menyambut dan memasukkan rombongan itu ke ruang khusus
tamu. Husna meminta pada pengurus yang bertugas itu supaya
dihadirkan adiknya yang bernama Sarah.
Tak lama kemudian seorang anak kecil berumur kira kira sembilan
tahun dituntun oleh sang pengurus. Begitu melihat anak kecil itu Bu
Nafis langsung menghambur memeluknya dengan mata berkacakaca,
”Sarah!” ’
”Bue!”
”Kau baik-baik saja Nak?”
”Iya. Bue kok tidak pernah menengok Sarah?”
Bu Nafis menangis.
”Lha ini Bue nengok Sarah.”
”Kalau Mbak Husna sama Mbak Lia nengok kenapa Bue tidak
ikut?”
”Kan Mbak sudah bilang ke Sarah. Bue harus sering istirahat, kalau
tidak sakit. Kartasura Kudus kan jauh Sarah.” Husna yang sudah ada
di samping Sarah menjelaskan.
”Ayo Bue kenalkan dengan orang yang selalu kau kangenin.” Kata
Bu Nafis pelan sambil menuntun Sarah ke arah Azzam.
Edited by : Bon Bon-q97 310
”Itu siapa? Kenal tidak?” Tanya Bu Nafis sambil menunjuk Azzam.
Azzam bangkit sambil tersenyum pada Sarah. Ia memandang adik
bungsunya dengan pandangan sayang.
”Itu Kak Azzam kan Bu?”
”Iya. Kok kamu tahu?”
”Kan mirip yang difoto yang dikirim dari Mesir itu.”
”Iya. Sana cium tangan Kak Azzam.”
Sarah melangkah ke arah Azzam. Gadis kecil itu mencium tangan
kakaknya. Azzam tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk dan
mengangkat gadis kecil itu lalu menciuminya dengan linangan air
mata. Dulu saat ia ke Mesir gadis kecil itu masih dalam kandungan
ibunya. Dan kini gadis itu sudah sekitar sembilan tahun umurnya. Ia
teringat anak-anak kecil di Mesir yang sehari-hari menghafal Al
Quran.
”Sarah sudah hafal berapa juz?”
”Alhamdulillah lima juz Kak.”
”Juz mana saja itu?”
”Juz 26, 27, 28, 29, dan 30.”
”Sarah suka di pesantren?”
”Iya suka. Di sini teman Sarah banyak. Ada Inung, Dita, Nia, Putri,
Wiwik, Anis, Bila, Lola, Ipah, Siwi, Imah dan banyak lagi. Mereka
semua baik-baik. Tapi ada juga satu orang yang nakal dan suka
mengganggu Sarah dan teman-teman. Namanya Iken. Wah dia
nuakal sekali.
Edited by : Bon Bon-q97 311
Sarah malah cerita tentang teman-temannya pada Azzam. Azzam
sendiri sebenarnya tidak tega melihat anak sekecil itu harus
dikarantina di pesantren Al Quran untuk anak-anak. Tapi demi
menunaikan wasiat dan amanat dari almarhum ayahnya hal itu
terpaksa tetap dilakukan.
”Makanan apa yang ingin Sarah makan saat ini?” Tanya Azzam pada
adik bungsunya itu.
”Bakso buatan Kak Azzam. Kan kata Mbak Husna dan Mbak Lia,
Kak Azzam pinter buat bakso.” Jawab Sarah polos yang membuat
semua yang ada di ruang tamu pesantren itu tersenyum dibuatnya.
”Wah sayang Kak Azzam tidak bawa. Tapi di rumah setiap hari Kak
Azzam buat bakso.”
”Benarkah?”
”Iya benar.”
”Berarti nanti kalau liburan Sarah bisa makan bakso setiap hari?”
”Iya.”
”Wah asyik. Sarah boleh tidak kalau misalnya ajak teman-teman
Sarah yang baik-baik seperti Inung, Dita dan Nia ke rumah untuk
makan bakso buatan Kak Azzam?”
”Boleh. Semua teman Sarah boleh datang dan makan bakso
sekenyang-kenyangnya.”
”Wah asyik.”
”Eh Kak tahu nggak?”
Edited by : Bon Bon-q97 312
”Apa?”
”Itu Mbak Izzah yang pakai jilbab biru itu. Yang tadi ngantar Sarah
kemari orangnya baik sekali. Pokoknya baik sekali. Malam-malam
kalau Sarah masuk angin, Mbak Izzah itu yang selalu mijetin Sarah
dan membuatkan Sarah teh panas yang enak sekali. Sarah berharap
dia juga jadi kakak Sarah. Boleh nggak Kak Mbak Izzah itu misalnya
tinggal di rumah kita?”
Kata-kata Sarah membuat Azzam dan yang hadir di situ haru namun
juga kaget. Kaget dengan permintaannya, “Lho kan Mbak itu sudah
punya rumah sendiri, masak tinggal sama kita?”
Kata Mbak Jannah, itu Mbak yang lain lagi, Mbak Izzah tidak punya
rumah. Rumahnya ya pesantren ini, dulu rumahnya di panti asuhan.
Katanya tidak punya saudara kan kasihan. Kalau tinggal dirumah
kitakan jadi punya Bue, punya Mbak
Husna, Mbak Lia, Sarah dan Kak Azzam.” ]elas Sarah dengan suara
khas kekanak-kanakan.
”Sudah Sarah jangan mikir itu dulu. Mbak Izzah kan sudah besar.
Sudah bisa mikir dirinya sendiri. Kalau dia tinggal di rumah kita ya
boleh boleh saja.Yang penting Sarah harus rajin sekolah dan
menghafalkan Al Quran ya?”
”Iya Kak. Nanti Sarah akan cerita pada Mbak Izzah, kalau kakak
Sarah yang di Mesir sudah pulang. Terus kakak Sarah itu
membolehkan Mbak Izzah tinggal di rumah. Mbak Izzah itu kata Bu
Nyai yang paling bagus hafalannya di sini. Suaranya paling indah.
Sarah suka banget sama dia.” Puji Sarah yang membuat Husna dan
Lia iri. Adiknya itu lebih dekat dengan pengurus pesantren yang
bernama Izzah daripada mereka.
Edited by : Bon Bon-q97 313
20
BUNGA-BUNGA CINTA
Bau cinta begitu dekat. Aromanya terhisap masuk sampai ke sumsum
jiwa. Efeknya luar biasa. Menyegarkan badan. Menajamkan pikiran.
Itulah yang dirasakan oleh Azzam menjelang pertunangannya dengan
dr. Alviana Rahmana Putri yang biasa dipanggil Vivi itu. Prosesnya
tak terbayangkan akan secepat itu. Dua hari setelah bertemu dengan
Vivi, Pak Mahbub datang menanyakan apakah dia serius untuk
menikahi Vivi. Azzam menjawab serius. Pak Mahbub memberitahu
Vivi dan keluarganya menerimanya dengan hati bahagia.
Pak Mahbub kembali mengajaknya ke Kudus untuk meminang Vivi
secara resmi. Tepat satu minggu setelah pertemuan pertama, Azzam
dan keluarganya kembali ke sana. Bu Nafis membuat banyak
makanan untuk diberikan kepada keluarga Vivi. Sebagai tanda
keseriusan Azzam membelikan sebuah cincin untuk Vivi. Cincin itu
ia berikan kepada ibunya untuk dipakaikan di jari manis Vivi.
la dan rombongannya sampai di rumah Vivi hampir sama waktunya
dengan saat pertama dulu datang. Hanya lebih awal setengah jam. Di
Edited by : Bon Bon-q97 314
rumah itu ternyata sudah menunggu banyak orang. Mereka adalah
keluarga terdekat Vivi dan tetangga kiri kanan. Pak Zuhri, ayah Vivi
menyambut Azzam dan rombongannya dengan wajah berseri-seri.
Hari itu Bu Nafis tampak lebih cerah dari hari hari sebelumnya. Bu
Nafis begitu tulus bersalaman dan berpelukan dengan Bu Fadilah,
ibu Vivi.
Azzam memakai kemeja yang dibelikan ibunya di pasar Klewer. Ia
tampak gagah dan bersahaja dengan peci hitam di kepalanya. Vivi
memakai gamis cokelat susu dan jilbab putih bersih. Dokter muda itu
tampak anggun.
Acara lamaran itu jadi setengah resmi. Keluarga Vivi telah
menyusun rangkaian acara. Yaitu pembukaan kalimat dari keluarga
Azzam, kalimat dari keluarga Vivi, musyawarah atau lain-lain. Doa
dan terakhir ramah-tamah.
Acara dibuka dengan pembacaan surat Fatihah seperti biasa. Kalimat
dari keluarga Azzam diwakili oleh Pak Mahbub yang tak lain
sebenarnya adalah paman dari Vivi sendiri. Pak Mahbub adalah adik
dari ibu Vivi. Pak Mahbub menyampaikan bahwa kedatangannya
dari Kartasura untuk melamar Vivi buat Khairul Azzam. Pak
Mahbub menyampaikan kalimatnya lugas dan sederhana saja.
Singkat. Langsung ke intinya. Tidak muter-muter ke mana-mana
dulu penuh basa-basi dan tambahan cerita di sana-sini.
Dari keluarga Vivi yang menjawab langsung Pak Zuhri.
Pak Zuhri menyampaikan rasa bahagianya atas kedatangan
rombongan dari Kartasura. ”Mohon maaf jika tempat dan ruangan
yang disediakan kurang berkenan.” Adapun tentang lamaran Azzam,
Pak Zuhri mengatakan,
”Saya pribadi sebagai orang tua dan wali anak saya Alviana
Rahmana Putri sama sekali tidak keberatan, saya malah bahagia dan
Edited by : Bon Bon-q97 315
gembira. Apalagi Vivi memang sudah saatnya membina keluarga.
Hanya saja saya tidak bisa memaksakan kehendak pada anak saya.
Jawabannya langsung saja saya serahkan kepada anak saya tentang
menerima atau tidak lamaran Azzam ini.”
Ibu Fadilah lalu mendesak Vivi untuk bicara. Suasana hening sesaat
karena Vivi tidak langsung bicara. Sebenarnya Vivi sedang
menikmati kebahagiaan yang membuncah dalam dadanya. Ia
sungguh merasa mendapat anugerah agung dari Allah mau disunting
dan diperistri oleh pemuda yang ia yakin shaleh bernama Khairul
Azzam. Pemuda yang ada dalam idamannya. Ia mengidamkan punya
suami seorang santri yang baik dan paham ilmu agama. Dan Azzam
adalah lulusan pesantren tertua di dunia yaitu Al Azhar University
Cairo.
Vivi menata degup jantungnya. Tanpa ia sadari air matanya meleleh.
Lalu dengan suara agak terbata-bata, ia berkata singkat,
”Dengan membaca bismillahirrahtnaanirrahim dan dengan
mengharap ridha Allah lamaran itu saya terima.”
Semua yang hadir mengucapkan alhamdulillah. Azzam menikmati
suasana yang sangat indah. Ia langsung mencium aroma cinta.
Harumnya menyusup merasuk ke dalam jiwanya. Begitu Vivi
menyampaikan penerimaannya, Bu Fadilah menciumnya. Bu Nafis
yang ada di samping Bu Fadilah mendekati Vivi. Bu Nafis duduk
tepat di hadapan Vivi. Spontan Vivi mencium tangan calon
mertuanya. Lalu dengan disaksikan Bu Fadilah dan yang hadir Bu
Nafis memasukkan cincin emas ke jari manis Vivi.
”Semoga barakah ya Nak.” Lirih Bu Nafis.
”Amin. Mohon doanya Bu.” Jawab Vivi sedikit serak.
Edited by : Bon Bon-q97 316
Setelah itu masuk pada acara musyawarah dan acara lain-lain. Pihak
keluarga Azzam menyerahkan semuanya kepada keluarga Vivi untuk
menentukan tanggal pernikahan dan lain sebagainya. Akhirnya kedua
belah pihak sepakat bahwa akad nikah dilangsungnya satu bulan
berikutnya. Akad nikahnya di Masjid Al Aqsha atau Masjid Menara
Kudus. Akad akan dilangsungkan pada hari Kamis jam sembilan
pagi. Lalu resepsi pernikahan dilangsungkan di rumah Vivi pada hari
itu juga, sehari penuh, setelah acara akad nikah.
Sedangkan acara di Kartasura hanya semacam syukuran saja.
Mengundang tetangga satu RW, untuk mengiklankan bahwa Azzam
sudah menikah dan untuk minta doa restu. Dalam musyawarah itu
Azzam juga berterus terang bahwa ke depan Vivi akan ia boyong ke
Kartasura. Mungkin untuk sementara setelah menikah. Satu minggu
dua kali ia akan pergi ke Sayung Demak. Ke rumah dinas yang
sekarang di tempati Vivi. Keluarga Vivi setuju. Seorang bapak
berumur sekitar empat puluh tahun yang menjadi tetangga Vivi
berkata,
”Ah, jarak Kartasura-Demak kalau ditempuh dengan mobil, apalagi
disemangati dengan kerinduan dan cinta akan terasa dekat dan
ringan!”
Spontan yang hadir tertawa bahagia. Azzam dan Vivi hanya
tersenyum. Tanpa mereka sadari ada semacam magnet yang
membuat mereka berpandangan. Ces! Setetes embun bagai menetes
ke dalam hati Azzam begitu kedua matanya bertemu dengan kedua
mata Vivi. Sedangkan Vivi merasakan tubuhnya bagai mau
melayang karena bahagia. Keduanya lalu menunduk kembali.
Azzam merasakan halusnya kasih sayang Tuhan. Ikhtiarnya untuk
menemukan jodoh ternyata dikabulkan oleh Allah Swt. Sebelum
pulang Pak Zuhri rnenyerahkan kertas kecil kepada Azzam seraya
berkata,“Hanya sekedar untuk tahu saja, siapa tahu kelak ada
Edited by : Bon Bon-q97 317
gunanya untuk anak turunanmu. Ini silsilah moyangnya Vivi. Jadi
silsilahnya ini!”
Azzam membaca isi kertas itu: Alviana Rahmana Putri binti Zuhri
bin Zuhaidi bin Sukemi bin Karto bin Singodigdo bin Raden
Sastrobuwono. Azzam melipat dan memasukkan kertas itu ke dalam
saku bajunya. Kelak jika Vivi sudah jadi isterinya ia akan minta agar
sejarah pemilik nama-nama itu diceritakan kepadanya. Agar kelak
bisa ia gunakan jika punya anak dan dalam sejarah itu ada yang bisa
menyemangati anaknya.
Azzam merasa yakin bahwa Vivi adalah anugerah agung dari Tuhan
untuknya. Bagi orang yang beriman, setelah keimanannya adakah ada
anugerah yang lebih baik dan lebih indah melebihi isteri yang
shalihah?
Azzam teringat sabda Rasulullah Saw.,
”Seorang mukmin tidaklah mengambil faidah yang lebih baik
setelah takwa kepada Allah dari isteri yang shalihah; yang jika dia
menyuruh isterinya maka isteri itu mentaatinya, jika melihatnya
isteri itu menyenangkannya, jika bersumpah atas nama isterinya
maka isterinya itu memenuhinya, dan jika suami tidak di rumah
maka isteri itu menjaga harta dan kehormatan suaminya.”30
Azzam berharap setelah takwa kepada Allah, Alviana Rahmana Putri
adalah anugerah Allah terbaik dari Allah yang akan senantiasa
memberinya faidah dalam menyempurnakan ibadah kepada Allah.
Husna juga merasakan kebahagiaan yang sama. Bunga-bunga cinta
bersemi di dalam hatinya. Seakan hatinya adalah taman bunga di
musim semi. Setelah shalat istikharah dan bermusyawarah dengan
ibu, Azzam dan Lia ia mantap menerima lamaran Muhammad Ilyas.
30 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, hadits no. 1847
Edited by : Bon Bon-q97 318
”Dia dulu santrinya Kiai Lutfi, terus kuliah di Madinah, sekarang S2
di Aligarh India. Insya Allah dia shaleh. Menurut kakak tidak ada
alasan untuk menolak” Tegas Azzam. Awalnya Husna masih agak
bimbang.
Melewati tiga hari yang dijanjikan ia belum memutuskan. Setelah
pulang dari acara pertunangan kakaknya di Kudus baru ia putuskan.
Itupun setelah ia mendengar kalimat tegas dari kakak yang sangat
dihormatinya.
Akhirnya dengan hati mantap ia putuskan menerima lamaran Ilyas.
Keluarga Ilyas datang ke rumahnya mirip dengan ketika keluarganya
datang ke Kudus. Mereka membawa makanan. Membawa beberapa
orang. Acaranya juga hampir sama. Hanya saja Ilyas tidak
membelikan cincin untuknya tapi tiga potong jilbab yang cantik
warnanya.
Ketika bermusyawarah tentang penentuan hari pernikahan terjadi
dialog yang sedikit alot. Keluarga Ilyas ingin satu minggu
secepatnya. Sekilat-kilatnya. Ibunya tidak mau. Satu minggu menurut
ibunya itu terlalu cepat dan gila. Ibunya ingin pernikahannya
dilaksanakan paling tidak tiga bulan setelah pernikahan Azzam. ]adi
empat bulan dari hari pertunangan kira-kira.
Ilyas merasa keberatan. Itu terlalu lama.
”Saya khawatir bisa menimbulkan fitnah di hati saya.” Kata Ilyas.
”Masak cuma menunggu empat bulan saja kok berat. Dulu ibu saja
harus menunggu satu tahun.” Balas Bu Nafis. Semua diam. Husna
menutup rapat-rapat kedua bibirnya. Ia tak angkat suara takut salah
bicara. Suasana agak kaku sesaat. Dan Azzam menggerakkan
bibirnya mencairkan suasana,
Edited by : Bon Bon-q97 319
”Ah gampang. Kita ambil jalan tengah saja. Bagaimana biar keluarga
kami tidak repot dan keluarga Ilyas juga tidak terlalu lama
menunggu, bagaimana jika pernikahannya dilaksanakan di hari yang
sama dengan syukuran pernikahan saya di Kartasura ini.”
”Lha ini, usul yang bagus.” Kata Pak Mukhlas ayah Ilyas sambil
tersenyum.
”Bagaimana Ilyas? Apa kira-kira menunggu satu bulan juga
keberatan?” Tanya Azzam pada Ilyas. Yang ditanya jadi kikuk dan
salah tingkah. Dan dengan suara tergagap Ilyas menjawab, ”Sa... satu
bulan? Bolehlah.”
”Bue bagaimana? Kan kalau bareng syukuran pernikahannya Azzam
malah tidak terlalu repot. Meminta tolongnya tetangga juga cuma
satu kali.” Tanya Azzam pada ibunya.
”Ibu sepakat dengan usulmu Nak.” Jawab Bu Nafis. Dan tercapailah
kesepakatan.
Sejak itu Azzam dan Husna sering keluar belanja bersama untuk
mempersiapkan hari pernikahan mereka. Azzam memanggil seorang
tukang untuk memperbaiki rumahnya. Lantai yang masih hitam dari
semen ia belikan keramik. Karena kamarnya pas-pasan. Ia membuat
kamar tambahan di dekat dapur. Dinding bagian belakang dapur
dijebol dan dibuat dua kamar. Dari tembok. Di dalam kamar ia beri
kamar mandi. Kamar itulah rencananya kamar untuk Husna dan
kamar untuk dirinya. Sementara bentuk rumah tidak ia ubah sama
sekali. Biar tetap seperti aslinya. Hanya saja ia minta dirapikan dan
dicat yang rapi.
Lia membantu menyebar undangan. Terutama adalah undangan
pernikahan Husna. Kalau undangan pernikahan Azzam tidaklah
banyak karena Azzam akan akad dan walimah di Kudus. Tak lupa
Edited by : Bon Bon-q97 320
Azzam meminta Lia mengantarkan undangan ke Pesantren Wangen.
Seluruh keluarga Kiai Lutfi diundang untuk datang.
Bunga-bunga cinta bermekaran di rumah sederhana itu. Rumah
Azzam dan Husna. Bunga-bunga cinta seolah tumbuh di halaman
rumah. Tumbuh di ruang tamu.
Tumbuh di dapur. Dan tumbuh di setiap kamar. Menunggu hari H
penuh cinta Azzam dan Husna sering shalat tahajjud bersama.
Mereka berdoa bersama memohon ridha dan barakah dari Allah
’Azza wa Jalla.
Edited by : Bon Bon-q97 321
21
CIUMAN TERAKHIR
Setelah menikah dengan Anna Althafunnisa, kesibukan Furqan
adalah ikut mengajar di pesantren, mengajar di sebuah kampus
swasta di Jogjakarta, dan mengurus bisnis ayahnya di Surakarta.
Oleh sang ayah, untuk modal hidup Furqan diberi kekuasaan penuh
mengelola toko kamera yang menjual berbagai macam jenis kamera
digital di Jalan Slamet Riyadi.
Sore itu jam setengah lima Furqan pulang dari toko. Mobil
Fortunernya memasuki halaman pesantren. Furqan turun. Seorang
santri yang melihatnya datang dan mencium tangannya. Dari ruang
tamu Anna melihat kedatangan suaminya. Begitu masuk Anna
langsung melepas jaketnya dan mengikuti sang suami naik ke lantai
atas. Masuk ke dalam kamarnya. Furqan langsung mandi. Anna
sudah rapi seperti biasa. Ia baru saja mengetik beberapa bagian dari
tesisnya.
Edited by : Bon Bon-q97 322
Selesai mandi Furqan memakai jas yang dulu dipakainya saat pesta
pernikahan. Anna memandang senang penuh harapan. Ia berharap
inilah saatnya yang sekian lama ia tunggu-tunggu akhirnya datang.
”Malam ini kita ke hotel ya Dik?”
”Ke hotel mana?”
”Pilih mana Lor Inn apa Novotel?”
”Mm... Novotel saja.”
”Boleh.”
”Untuk apa kita ke hotel Mas? Apa tidak di rumah saja?”
”Untuk sesuatu yang tidak biasa.”
”Apa saatnya telah tiba? Hari yang kau janjikan telah datang.”
”Mas harap begitu Dik. Cepatlah berkemas. Nanti kalau keburu
maghrib tidak enak.”
”Baik Mas.”
Anna langsung berkemas. Ia juga menyiapkan gaun pengantin yang
dulu ia pakai. Semua perlengkapan yang ia rasa harus ia bawa ia
masukkan ke dalam kopernya. Anna begitu semangat. Rasanya ia
ingin segera sampai di Novotel. Ia ingin membuktikan pada dunia
dan pada siapa saja, bahwa dirinya tidak kalah dengan Miatun. Ia
bisa hamil dan akan punya anak, insya Allah.
Sejurus kemudian mereka berdua menuruni tangga, turun dari kamar.
Di ruang tengah mereka berpamitan pada Kiai Lutfi dan Bu Nyai
Mur.
Edited by : Bon Bon-q97 323
”Kami ada perlu penting di Solo Bah. Kami mau menginap di sana.”
Kata Anna pada Abahnya. Sang Abah hanya mengangguk, lalu
batuk. Bu Nyai Nur mengantar sampai beranda. Anna dan Furqan
masuk mobil.
Matahari memerah di ufuk barat. Tak lama lagi akan masuk ke
peraduannya. Burung-burung beterbangan kembali ke sarangnya.
Para petani yang sehari hari menggarap sawah tampak berjalan di
pematang untuk pulang. Furqan mengemudikan mobilnya dengan
tenang. Mobil itu melintas di depan pasar Kartasura dan terus ke
timur. Melewati kampus UMS, lalu pasar Kleco. Terus lurus ke
timur masuk jalan Slamet Riyadi. Hari sudah menjelang petang.
Lampu-lampu jalan sudah menyala. Azan maghrib tak lama lagi akan
bergema.
”Tahu tidak Mas, kenapa jalan ini dinamakan jalan Slamet Riyadi?”
”Tidak tahu Dik, Mas kan bukan asli orang Solo.”
”Mau tahu?”
”Mau.”
”Seingat saya ya Mas. Jalan ini dinamakan Slamet Riyadi untuk
mengenang serangan umum tahun 1949 yang dipimpin oleh Letnan
Kolonel Slamet Riyadi. Kalau tidak salah setelah Indonesia
memproklamasikan kemerdekaannya, Belanda kembali datang ke
Indonesia. Datang untuk kembali menjajah Indonesia. Dengan segala
cara Belanda ingin menguasai kembali Indonesia.
”Para pejuang kita tidak tinggal diam. Mereka berjihad membela
tanah air dan bangsa. Mereka korbankan harta, darah dan bahkan
nyawa. Terjadilah perang mempertahankan kemerdekaan di manamana
antara tahun 1945 sampai 1949. Pada tahun 1948 Belanda
Edited by : Bon Bon-q97 324
menguasai banyak wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bulan Desamber 1948 Belanda melancarkan agresi dan berusaha
menghancurkan tempat-tempat strategis milik pemerintah RI,
tujuannya untuk memberitahukan kepada dunia bahwa pemerintah RI
telah lumpuh, telah tiada.
”Ceritanya, Belanda minta agar para pemimpin dan pejuang
Republik ini menyerah. Tapi Jendral Soedirman menolak menyerah.
Jenderal hebat ini bergerilya di hutan hutan dan desa-desa yang
terletak di sekitar kota Yogyakarta dan Surakarta. Untuk membantah
opini yang disiarkan Belanda ke seluruh dunia, maka Jenderal
Soedirman merancangkan ”Serangan Oemoem”. Serangan Oemoem
ini merupakan sebuah serangan besar besaran yang bertujuan untuk
menduduki kota Yogyakarta dan Surakarta. Serangan di Yogyakarta
dipimpin oleh Letnan Kolonel Suharto, manakala serangan di
Surakarta dipimpin oleh Letnan Kolonel Slamet Riyadi.
”Dan untuk memperingati Serangan Oemoem ini, maka jalan raya
utama di kota Surakarta dinamai Jalan Slamet Riyadi!” Jelas Anna
pada suaminya panjang lebar.
”Kau ternyata suka sejarah ya Dik.”
”Katanya bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghayati
sejarahnya dan menghormati para pahlawannya.”
”Kau benar Dik.”
* * *
Mobil itu sudah mendekati Hotel Novotel. Ketika azan mengalun
merdu, Furqan dan Anna sudah keluar dari mobil. Mereka ke
resepsionis. Setelah Furqan tanda tangan seorang pelayan hotel
mengantarkan sampai kamar. Furqan memilih kamar yang mewah di
Edited by : Bon Bon-q97 325
lantai enam. Begitu masuk kamar dan meletakkan tas tangannya,
Anna langsung ke jendela. Berdiri atau duduk di samping jendela
adalah kesukaan Anna sejak kecil. Ia tak bisa membayangkan sebuah
rumah tanpa jendela. Dari jendela kamar hotel itu keindahan
sebagian kota Solo bisa dinikmati.
Furqan berdiri di samping Anna.
”Indah ya Mas.” Kata Anna sambil melihat lampu lampu kota Solo
yang tampak memancar ke kuning kuningan.
”Iya.”
”Kita shalat maghrib dulu yuk.” Pinta Anna sambil perlahan
menutup gorden.
”Ayuk.”
Furqan masuk kamar mandi mengambil air wudhu. Sedangkan Anna
melepas jilbab dan kaos kakinya. Furqan keluar, gantian Anna yang
masuk. Usai wudhu Anna mengambil mukena dari kopornya. Furqan
memandangi wajah isterinya dalam-dalam. Ia selalu kagum dengan
wajah yang sangat penyabar itu. Anna tahu suaminya
memperhatikannya. Ia pun memandang lekat-lekat wajah suaminya.
Anna tersenyum. Demikian juga Furqan.
”Ayo sholat nanti kehabisan waktu kita.” Bibir Anna bergetar,
suaranya bening.
”Ayo.”
Furqan menghadap kiblat lalu mengucapkan Takbiratul Ihram.
Setelah Fatihah ia membaca surat Al Kafirun dan Al Ikhlas. Anna
Edited by : Bon Bon-q97 326
makmum di belakangnya dengan wajah menunduk khusyu’. Selesai
shalat, zikir dan doa, Anna mencium tangan suaminya.
Furqan bangkit lalu duduk di tepi ranjang. Anna bangkit lalu berjalan
ke depan almari. Ia melepas gamisnya. Ia tidak canggung sedikit pun.
Furqan berdesir melihat apa yang dilakukan isterinya. Anna lalu
mengambil gaun pengantin yang ada di dalam kopor dan
mengenakannya. Tak lama kemudian Furqan bagai menyaksikan
bidadari turun dari langit. Ia teringat malam pertamanya. Malam
pertama yang menyiksa batinnya. Yang perihnya masih terasa sampai
saat itu.
Anna mengambil parfumnya. Suasana malam pertama itu langsung
tercipta. Bau wangi yasmin menyebar pelan. Bau nan suci merasuk
ke hidung Furqan. Merasuk ke seluruh aliran darahnya. Membuat
jantungnya berdegup kencang.
Furqan maju dan mencium kening isterinya. Tangan lentik Anna
menggeragap hendak melepas jas yang dikenakan Furqan. Wajah
Anna membara karena gairah.
”Apakah kau benar-benar siap, isteriku sayang?” Tanya Furqan.
”Aku sudah menunggunya dengan dada membara selama enam bulan
suamiku sayang. Apa kau tidak juga mengerti dan paham?”
”Kau siap dengan segala akibatnya?” ”Kalau tidak siap kenapa aku
mau jadi isterimu.” ”Tapi ada satu hal yang kau tidak tahu. Aku tidak
ingin menyampaikan hal ini. Tapi harus aku sampaikan malam ini.
Setelah itu terserah apa keputusanmu.” ”Aku tidak tahu apa yang
Mas maksud.” ”Dik aku sungguh sangat mencintaimu?” ”Sama aku
juga mencintai Mas.” ”Aku sungguh tak ingin kehilanganmu.” ”Aku
tahu itu.”
Edited by : Bon Bon-q97 327
”Namun aku tak ingin menzalimimu. Aku tidak menyentuh mahkota
yang paling berharga milikmu karena aku tidak ingin menzalimimu
Dik. Bukan karena aku tidak mampu. Ada satu tembok sangat kuat
dan berduri yang menghalangiku dari menyentuh mahkota paling
berharga milikmu.”
”Aku tak paham maksudmu Mas.” ”Sesungguhnya saat akad nikah
itu aku sudah tidak perjaka Dik.”
”Apa?!” Anna kaget.
”Maafkan aku Dik, tapi sungguh bukan aku menyengaja.”
”Aku tak percaya! Mas yang ketua PPMI! Mas yang jadi mahasiswa
kebanggaan orang-orang di KBRI! Mas yang sudah selesai S2 dan
kini mau S3! Mas yang mengajar ngaji para santri! Mas yang...
hiks... hiks...” Anna tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
”Maafkan aku Dik, tapi tolonglah kau dengarkan dulu ceritaku,
jangan marah dulu, jangan menangis dulu. Aku akan bercerita
dengan sejujur-jujurnya. Baru setelah itu terserah kamu. Terserah
mau kau apakan aku.” Ucap Furqan mengiba sambil menyeka air
mata Anna. ”Tolong, Dik, dengarkan ceritaku dulu, arjulk31” ”Baik
Mas, akan aku dengar. Tapi mendengar pengakuanmu itu hatiku
sudah sakit.” Kata Anna mengungkapkan rasa dalam hatinya.
”Maafkan aku Dik, maafkan...” Kata Furqan, ia lalu menceritakan
apa yang menimpanya sebelum ia pulang ke Indonesia. Ia bercerita
dengan sejujur-jujurnya.
Ia bercerita tentang peristiwa mengerikan yang menimpanya di
Hotel Meridien. Ia yang tahu-tahu bangun tidur dengan keadaan yang
31 Arjulk. Aku minta padamu, aku bertiarap padamu.
Edited by : Bon Bon-q97 328
memalukan. Lalu pesan Miss Italiana yang mengintimidasinya.
Tentang foto-foto yang memalukan. Tentang tertangkapnya Miss
Italiana yang ternyata agen Mossad penyebar virus HIV.
Dan tentang dirinya yang divonis positif mengidap HIV. Serta janji
Kolonel Fuad untuk tidak menyebar berita tentangnya, juga janjinya
pada Kolonel Fuad untuk tidak menyebarkan virus HIV yang
diidapnya pada orang lain.
Anna mendengarkan cerita itu dengan hati perih. Ia merasa seperti
ada sebuah tombak berkarat yang menancap tepat di ulu hatinya.
Tangisnya meledak. Furqan diam di tempatnya. Ia tahu kenyataan itu
akan sangat menyakitkan Anna. Tapi jika tidak ia sampaikan ia akan
terus tersiksa. Ia merasa telah lepas dari satu beban psikologis.
Selanjutnya ia akan menyerahkan keputusan seluruhnya pada Anna.
Anna masih menangis tersedui-sedu. Furqan meremas remas
rambutnya, tak tahu ia harus berbuat apa saat itu. Tiba-tiba merasa
sangat kasihan pada isterinya yang sangat dicintainya itu.
Anna masih menangis. Gadis itu mengusap mukanya. Lalu
memandang wajah Furqan dengan nanar dan marah, ”Kau sangat
jahat! Kau begitu tega mendustaiku dan mendustai seluruh
keluargaku! Bahkan kau mendustai seluruh orang yang hadir saat
akad pernikahan kita! Sebelum menikah pegawai KUA itu
membacakan statusmu perjaka! Ternyata kau dusta! Lebih jahat lagi,
ternyata kau mengidap penyakit yang dibenci semua orang, dan kau
tega menyembunyikannya dariku! Kau jahat!”
”Maafkan aku Dik, aku memang jahat!” ”Sangat sulit bagiku
memaafkanmu Fur!” Anna tidak lagi memanggil dengan panggilan
Mas, tapi langsung memanggil nama Furqan! Itu sebagai tanda
dalam hati Anna sudah tidak ada lagi penghormatan pada Furqan.
Edited by : Bon Bon-q97 329
”Ya aku jahat. Tapi satu hal yang aku minta kau pertimbangkan, aku
sangat mencintaimu, aku sangat menghormatimu, aku tidak ingin
menyakitimu. Aku jahat mungkin, tapi nuraniku mencegahku untuk
menyentuh mahkota kewanitaanmu. Kenapa? Karena aku tahu kau
bisa tertular virus itu. Aku tidak mau terjadi itu padamu. Kalau aku
mau aku bisa lebih jahat lagi. Malam pertama itu aku lakukan
tugasku sebagai suami. Selesai. Kau dan aku kena HIV selesai.
Ketika kau menggugatku aku akan gantian menggugatmu. Kau tidak
mungkin tahu aku kena HIV- Tapi aku tidak lakukan itu!”
”Terus kenapa kau nikahi aku, hah?!” ’Karena aku mencintaimu.”
Dan cintamu itu menyakiti aku! Cintamu itu kini jadi jahnannam
bagiku! Kalau seperti ini apa yang kau inginkan dariku? Sekedar jadi
boneka hias dalam kehidupanmu? Sekedar jadi aroma kamarmu yang
cuma kau hisap dan kau cium-cium baunya? Sekedar jadi simbol
kering. Keangkuhanmu sebagai kelas konglomerat yang merasa
berhak membeli apa saja? Apa yang kau inginkan dariku Furqan?”
”Aku sendiri tak tahu Dik.”
”Kau tahu syariat Fur! Kau tahu kitab Allah, kau tahu tuntunan
Rasulullah! Seharusnya kau tidak menikahiku, iya kan!? Kau tahu
kalau menikahiku itu akan jadi mudharat bagiku. Akan menyakitiku,
iya kan? Dan pernikahan yang pasti menyakiti isteri atau suami itu
haram hukumnya, iya kan!?” Anna mencecar dengan amarah. Ia
berusaha menjaga untuk tidak mengeluarkan kata-kata kotor.
”Iya. Kau benar Dik!”
”Kenapa yang haram itu kau lakukan juga, hah?! Apa kau tidak takut
pada Allah!?”
Furqan diam.
Edited by : Bon Bon-q97 330
”Aku minta maaf, Dik. Aku terima semua keputusanmu.”
”Baik. Ceraikan aku!” Ucap Anna penuh amarah. Jika ia punya palu
dan halal membunuh lelaki di hadapannya, rasanya ia ingin
menghantamkan palu itu ke kepala Furqan hingga hancur berkepingkeping.
Furqan diam. Hatinya bagai tertusuk pisau yang sangat tajam. Tapi ia
sudah menyiapkan saat-saat Anna akan mengucapkan kalimat itu. Ia
insyaf yang salah adalah dirinya, bukan Anna.
”Tak ada pilihan lain Dik?”
”Tidak!”
”Kalau begitu, kapan aku harus menceraikan dirimu?”
”Sekarang juga!”
”Sekarang?”
”Iya!”
”Akan aku ceraikan kamu Dik, meskipun dengan hati sakit, tapi
dengan dua syarat.”
”Aku tak mau ada syarat!”
”Kalau begitu urusannya akan jadi panjang, aku akan benar-benar
berubah jadi penjahat sekalian!”
”Maksudmu apa Fur?”
Edited by : Bon Bon-q97 331
”Kau tak sedikitpun berempati padaku. Aku ini sudah hancur sejak
sebelum pulang ke tanah air. Menikah denganmu adalah sedikit
untuk mengobati sakitku. Aku seperti mayat yang berjalan. Cahaya
hidupku seperti telah padam. Kau tahu, aku tak punsa tempat untuk
berbagi nestapa. Ayah ibuku saja tidak tahu apa yang sebenarnya
menimpa putranya. Dalam rasa sedihku yang hampir bercampur
putus asa aku masih menggunakan nuraniku. Yaitu dengan tetap
menjaga kesucianmu. Aku tak ingin menularkan virus itu padamu.
”Kau sedikitpun tak mau berempati padaku. Baiklah, aku cuma
mensyaratkan dua syarat yang tidak berat padamu kalau kau ingin
agar aku menceraikanmu. Yaitu pertama ijinkan aku mencium
keningmu sekali lagi. Ciuman perpisahan, sebab ketika kata-kata
cerai telah aku ucapkan maka aku tidak halal lagi menciummu. Yang
kedua, tolong rahasiakan apa yang menimpaku. Demi menjaga
kehormatan keluargaku dan juga kehormatan keluargamu. ”Kalau
kau obral cerita ini, dan kau tidak punya bukti, maka perang akan
berkobar amtara keluargaku dan keluargamu.
Kita semua akam sama-sama binasa. Meskipun aku tidak
menginginkannya, pasti orang-orang yang menyayangiku tidak akan
pernah terima dengan ceritamu. Katakan saja pada keluargamu, nanti
kalau kita cerai, cerai kita karena sudah tidak mungkin cocok lagi.
”Itulah syarat yang aku minta padamu. Kalau kau tidak juga mau
maka mungkin tak ada pilihan lagi bagiku kecuali jadi penjahat
sekalian. Toh kau sudah bilang aku jahat. Malam ini juga dengan
gaun pengantin yang kau kenakan akan aku renggut kehormatanmu
di kamar ini. Setelah itu terserah apa maumu. Seandainya kau
berteriak, aku santai saja, kita kan masih suami isteri. Aku berhak
melakukan itu padamu. Meskipun kau menolaknya.
”Kalau kau mengadu pada ayahmu misalnya kau merasa diperkosa,
paling mereka tertawa. Toh kamu sudah sering memperlihatkan di
Edited by : Bon Bon-q97 332
hadapan mereka pura-pura mandi sebelum Subuh. Kenapa kali ini
merasa diperkosa. Toh kita tadi berangkat dengan menampakkan
kemesraan di hadapan mereka. Hanya itu pilihan untukmu Dik.”
Furqan berkata kepada Anna dengan hati bergetar. Ia tidak ingin
mengatakan hal itu. Tapi entah kenapa melihat amarah Anna,
amarahnya ikut menyala. Mendengar perkataan Furqan, Anna jadi
berpikir bagaimana secepatnya menyelamatkan jiwanya. Ia tak mau
diperkosa sama Furqan. Ia tak bisa membayangkan dirinya terkena
virus HIV. Akhirnya dengan suara lunak, Anna menjawab,
”Baik, aku terima syaratmu. Tapi aku pegang janjimu, kau ceraikan
aku setelah kau mencium keningku.”
”Aku akan pegang janjiku. Allah jadi saksi kita berdua. Aku juga
pegang janjiku untuk merahasiakan yang terjadi di antara kita. Demi
menjaga kehormatan keluarga kita masing-masing.”
”Baik Fur.”
”Aku tahu, setelah ini kau pasti takut dan tidak mungkin tidur lagi
sekamar denganku. Jangan takut. Aku akan pesankan kamar
untukmu. Kau yang pegang kunci. Besok pagi kau bisa pulang pakai
taksi. Kau bisa memberikan alasan yang tepat pada keluargamu.”
Kata Furqan.
”Terima kasih Fur. Tapi biar aku cari hotel lain sendiri”
”Terserah kau, kemasilah barang-barangmu!”
Anna lalu mengemasi semua barangnya. Ia mengambil gamisnya lalu
masuk ke kamar mandi. Tidak seperti awal masuk hotel tadi tidak
peduli ganti pakaian di hadapan Furqan, kali ini ia merasa Furqan
adalah orang lain. Ia melepas gaun pengantinnya di kamar mandi dan
Edited by : Bon Bon-q97 333
menggantinya dengan gamis. Ia memakai jilbabnya kembali, juga
kaos kaki. Lalu ia keluar dan memasukkan gaun pengantinnya ke
koper.
”Sudah semua?” Tanya Furqan.
”Tak ada yang ketinggalan?”
”Tidak.”
”Kemarilah isteriku!” Kata Furqan.
Anna maju dan duduk di samping Furqan yang sejak tadi duduk di
tepi ranjang. Dengan penuh cinta Furqan mencium kening Anna.
Sebuah ciuman perpisahan.
”Maafkan aku Anna, aku telah menyakiti hatimu dan nyaris
menghancurkan hidupmu.” Lirih Furqan dengan suara terisak-isak.
”Aku percaya pada ceritamu Fur. Kau adalah korban tak bersalah.
Tapi aku tak bisa hidup denganmu lagi.” ”Aku tahu.”
”Aku sudah penuhi syaratmu, sekarang aku tagih janjimu!” Ucap
Anna tegas.
”Aku nikahi kau dengan baik-baik, maka aku cerai kau dengan baikbaik.
Mulai saat ini aku cerai kau Anna’ Kau bukan lagi isteriku, dan
aku bersumpah tak akan lagi kembali kepadamu!”
”Terima kasih Fur. Aku harus pergi!”
Dengan linangan air mata Anna keluar dari kamar itu. Ia tak tahu
akan ke mana. Yang ia inginkan adalah segera keluar dari hotel itu
Edited by : Bon Bon-q97 334
secepatnya. Ingin rasanya ia lari sejauh jauhnya lalu menangis
sejadi-jadinya.
Begitu Anna pergi, Furqan menangisi nestapanya. Orang yang paling
dicintainya itu sudah sangat jauh darinya. Ia merasa hanya mukjizat
yang akan mempertemukan dirinya dengan Anna kembali. Jika ia
dibenci oleh Anna, maka Anna tidaklah bersalah. Dirinyalah yang
salah. Apa dosa Anna sampai harus ikut terkena getah nestapa yang
menderanya. Dirinyalah yang zalim dan aniaya. Dialah yang selama
ini buta kehilangan kesadarannya.
Anna memejamkan mata. Bulir-bulir bening keluar dari kelopak
matanya. Ia mengadu kepada Yang Maha pengasih dan Penyayang,
Ya Allah hilangkanlah segala sebab yang menjadikan kami berkeluh
kesah takut, cemas, sedih, dan marah. Amin
Keluar dari Novotel, Anna langsung menghubungi taksi langganan
Abahnya. Lima belas menit kemudian, taksi itu datang
menjemputnya.
”Kemana Neng? Mau pulang?” Tanya sopir taksi yang sudah tua itu.
”Anu Pak. Antar saya ke Hotel Quality!”
”Baik Neng.”
Taksi berjalan ke arah Monumen Pers. Lalu belok kiri. Langit
tertutup awan tipis. Rembulan muncul tenggelam. Anna Althafunnisa
masih juga belum percaya apa yang dialaminya. Ia telah menjadi
janda. Ia cemas dan gelisah. Ia takut menghadapi status barunya yaitu
seorang janda.
Edited by : Bon Bon-q97 335
Anna menerawang ke depan dengan pandangan kosong, ia belum
menemukan kalimat apa yang akan disampaikannya kepada Abah
dan Umminya. Ia meraba dalam hati, apakah ini tafsir keraguan tipis
yang selalu menderanya saat akan mengiyakan lamaran Furqan dulu?
Kenapa dulu ia tergesa-gesa menjawab ’iya’.
Edited by : Bon Bon-q97 336
22
INGAT KEMATIAN
Zumrah mengerang kesakitan. Ia tidak tahu kepada siapa harus minta
tolong. Di dalam kamar kos itu ia sendirian. Teman satu kosnya, Si
Muni sedang pulang kampung. Sejak jam tiga pagi kepalanya terasa
pusing. Tubuhnya lemas. Perut sakit. Dunia seperti berputar. Ia tidur
telentang dengan kepala sakit bukan kepalang. Jika ia duduk
inginnya muntah. Ia sudah tidak tahan. Ia merintih. Ajalnya ia rasa
seperti akan datang.
Zumrah berpikir tentang kematian. Ia menggigil ketakutan. Janganjangan
memang ajalnya akan datang. Ia jadi berpikir kalau ia mati
akankah ia mati begitu mengenaskan. Mati sepi, sendirian, tak ada
yang tahu. Jasadnya akan membusuk di sebuah kos yang terkunci.
Jasadnya baru akan ditemukan setelah bau badannya menyengat ke
mana-mana. Atau tatkala Muni datang. Dan ia tidak tahu kapan Si
Muni akan datang.
Zumrah mengerang kesakitan. Kepalanya seperti kena godam. Ia
merasa diintai oleh bayang-bayang kematian. Ia sudah tidak tahan. Ia
Edited by : Bon Bon-q97 337
harus memberi tahu orang. Harus. Jika ia mati biarlah jenazahnya
segera diketahui orang dan dikuburkan. Ia meraih hand phonenya.
Tangannya memegang gemetaran. Ia tak tahu apakah pulsanya masih
ada ataukah tidak? Ia lihat pulsanya. Cuma tersisa lima ratus rupiah.
Hanya cukup untuk sms satu orang. Ia harus memberi tahu orang
yang tepat. Yang jika membaca smsnya ia yakin cepat datang.
Ia pikir Husna-lah yang paling perhatian. Ia tulis sms pendek: ”Na,
aku sakit, tolong datang. Zumrah.” Lalu ia kirim. Ia tahan rasa
sakitnya, tapi tetap saja ia tak kuat menanggung. Tiba-tiba ia merasa
dingin yang amat sangat. Ia menggigil. Matanya meleleh. Ia ingat
bayang kematian. Ia ingat semua dosa-dosanya di masa silam. Ia
teringat Allah, Tuhan sekalian alam. Matanya meleleh ketika ia ingat
Tuhan. Ia kembali merintih,
Tuhan
Apakah untuk mengingat-Mu
Aku harus sakit dulu
* * *
Ia masih mengerang sendirian bergelut dengan rasa sakit yang garang
ketika Husna dan Azzam datang. Pintu kostnya itu ia kunci dari
dalam. Ia terus mengerang. Husna dan Azzam mendengar erangan
dan rintihan.
”Zum, Zum!” Husna memanggil-manggil.
la tidak dengar panggilan Husna. Ia terus merintih kesakitan.
”Zum, buka pintunya Zum!” Panggil Husna dengan keras.
Tak ada jawaban.
Edited by : Bon Bon-q97 338
Azzam langsung menggedor pintu itu sekeras kerasnya. Beberapa
orang tetangga rumah itu melongok melihat ke arah Husna dan
Azzam.
”Ada apa Mas?” Tanya seorang ibu berbadan gemuk.
”Ini Bu, teman kami sakit di dalam. Tapi pintunya terkunci dari
dalam. Kami panggil-panggil sepertinya ia tidak mendengar.” Jawab
Azzam.
”Coba gedor lagi yang keras!” Sahut ibu itu.
Azzam kembali menggedor pintu keras-keras. Tak lama kemudian
pintu itu terbuka. Tampaklah wajah Zumrah yang pucat pasi. Zumrah
tampak begitu kusut, kurus dan perutnya buncit.
”Uakk!” Zumrah muntah tiba-tiba. Husna menghindar, tapi
muntahan itu tetap mengenai ujung kakinya. Husna langsung
memapah Zumrah ke kamar mandi. Zumrah kembali muntah
beberapa kali. Husna memijit mijit tengkuk Zumrah.
”Uh... uh... akhirnya kau datang Na.” Ucap Zumrah dengan suara
serak dan gemetaran.
”Kau sakit apa Zum?” Tanya Husna.
”Tak tahu Na. Badanku menggigil kedinginan. Kepala pusing luar
biasa. Dan inginnya muntah.” ”Kau sudah makan Zum?”
Zumrah menggelengkan kepala. Husna melihat-lihat apa yang bisa di
makan. Seteliti mata Husna tak menemukan apa-apa. Husna bangkit
membuka termos. Kosong.
”Muni ke mana?”
Edited by : Bon Bon-q97 339
”Sudah tiga hari pulang kampung.”
”Sejak kapan kau sakit Zum? Keningmu panas begini. Badanmu juga
panas.” Tanya Husna
”Sejak kemarin Na. Aku kira bisa aku tahan dan aku atasi, ternyata
tidak. Aku terpaksa sms kamu.” ”Kau sudah minum obat?”
”Boro-boro Zum. Air minum saja tak ada. Aku tidak bisa jalan.
Semalam terpaksa aku minum air kran.”
”Inna lillahi.” Husna kaget.
”Na, kita ajak saja keluar untuk makan terus ke dokter.” Usul
Azzam.
”Acara kakak ngisi pengajian Al Hikam bagaimana?” Tanya Husna.
”Di pesantren kan ada Kiai Lutfi.” Jawab Azzam.
”Tidak usah ke dokter, malah merepotkan kalian. Kalau kau harus
ngisi pengajian, biarlah Husna di sini saja sebentar menemaniku.”
Kata Zumrah.
”Tidak, kau harus ke dokter! Sepertinya sakitmu serius.”
”Iya Zum, ayo aku bantu kau ganti pakaian. Kita keluar cari makan,
lalu ke dokter.” Ujar Husna.
Azzam langsung beranjak keluar. Husna menutup pintu dan
membantu Zumrah. Pada saat ganti pakaian Zumrah muntah-muntah.
Edited by : Bon Bon-q97 340
”Aduh Na, aku tidak kuat berdiri apalagi keluar.” Rintih Zumrah.
”Tolong Na aku harus rebahan.” Lanjutnya. Husna memapah Zumrah
ke kasurnya.
”Bagaimana?” Tanya Azzam dari luar.
”Dia tak kuat keluar Kak. Kakak carikan makan saja buat dia, sama
minuman yang hangat. Setelah itu kita panggilkan dokter kemari.”
Kata Husna.
”Okay.”
Azzam meluncur mencari makanan dan minuman untuk Zumrah. Ia
pergi ke depan UMS. Ada banyak warung berjejer di sana. Azzam
membelikan Zumrah Soto Kwali, pergedel, sate telur puyuh dan teh
panas. Azzam juga mampir ke sebuah warung klontong untuk
membeli dua botol air mineral, dua bungkus roti, dan susu kaleng.
Lalu dengan agak tergesa-gesa kembali ke kos Zumrah. Ia
menyerahkan barang-barang yang dibelinya pada Husna. Husna
membukanya.
”Makan Soto Kwali ya?” Lirih Husna pada Zumrah.
Zumrah mengangguk. Husna mengambil piring, mangkok, gelas dan
sendok. Gadis itu meletakkan pergedel, dan sate telur puyuh di
piring. Meletakkan Soto Kwali di mangkok dan menuangkan teh
panas dari plastik ke gelas. Ia lalu menyuapi Zumrah dengan hatihati.
Zumrah makan dengan pelan-pelan.
”Kau baik sekali Husna.”
”Sudahlah makan yang banyak ya biar cepat sembuh?”
”Tolong minumnya Na.”
Edited by : Bon Bon-q97 341
Husna mengambilkan air minum. Zumrah meminumnya dengan hatihati.
”Aku kira aku sudah akan mati Na.”
”Ya kita semua akan mati Zum. Tidak hanya orang sakit yang diintai
kematian, orang yang sehat pun juga tidak luput dari intaian
kematian.” Jawab Husna sambil menyuapi Zumrah.
”Kapan terakhir kau ke dokter Zum?”
”Setengah tahun yang lalu.”
”Kandunganmu kapan terakhir kau periksakan?”
”Belum pernah.”
”Belum pernah!?”
”Iya. Mana ada uang aku Na.”
”Ya Allah, kenapa tidak bilang Zum. Periksa kandungan itu penting.
Kamu ini bagaimana! Kau boleh hidup sengsara tapi jangan bawabawa
anak kamu dong!” Cecar Husna dengan nada marah.
Zumrah diam mengatupkan kedua mulutnya rapat. Sesaat Husna
berhenti menyuapi.
”Kak, tolong panggilkan dokter. Panggilkan dokter Fatimah saja.
Rumahnya di Gang Wuni dekat pasar Kleco.” Kata Husna pada
kakaknya.
”Okay.”
Edited by : Bon Bon-q97 342
Azzam langsung meluncur ke alamat yang dijelaskan adiknya. Tak
lama kemudian Azzam datang bersama seorang dokter perempuan
setengah baya. Dokter itu tersenyum pada Husna dan Zumrah.
”Kenapa kau Nduk?” Tanya dokter Fatimah ramah.
”Badan menggigil kedinginan. Rasanya lemes. Kepala pusing luar
biasa. Perut sakit. Dan inginnya muntah saja.”
”O ya. Sebentar ya ibu periksa tensi darahnya dulu.”
Dokter Fatimah memeriksa tensi darah, detak jantung, melihat mata.
”Selama ini kau kerja di mana? Sering memforsir ya?” Tanya dokter
Fatimah pada Zumrah.
”Saya kerja di sebuah toko Foto Digital di Jalan Slamet Riyadi.
Sebenarnya tidak terforsir. Saya bekerja mulai jam setengah
sembilan sampai jam delapan malam.”
”Itu memforsir namanya. Kau hamil tua jangan terlalu banyak kerja.
Asupan gizimu harus cukup.”
”Berapa usia kandunganmu?”
”Saya tidak tahu persisnya Bu, tujuh atau delapan gitu. Pasnya saya
tidak tahu.”
”Kapan kamu terakhir periksa kandungan. Ibu bisa lihat buku
periksanya?”
”Saya tidak pernah periksa sama sekali Bu.”
Edited by : Bon Bon-q97 343
”Innalilla, Kok bisa? Suamimu mana? Yang tadi itu?” Tanya Bu
Fatimah.
Husna langsung menyahut, ”Suaminya tidak tahu entah di mana Bu.
Mungkin sudah disambar bledek! Itu tadi kakak saya bukan
suaminya.”
”Yah hidup ini harus sabar ya Nduk. Ibu doakan semoga suamimu
sadar dan insyaf!” Ujar Bu Fatimah santai.
Zumrah meneteskan air mata. Ia baru merasa butuh seorang suami di
sisinya. Ia baru merasa betapa pentingnya seorang pendamping
hidup. Ia masih akan terus mendapatkan pertanyaan seperti itu. Kelak
ketika anaknya lahir, orang-orang akan bertanya mana ayahnya. Dan
anaknya sendiri akan bertanya padanya, siapa ayahku ibu?
”Jangan menangis Nduk. Hadapi hidup ini dengan tabah ya. Kau ini
kena gejala tipes, dan darah rendah. Jangan makan yang kecut-kecut,
pedas, dan kasar dulu. Makan yang halus-halus misalnya bubur
sayur. Banyak istirahat dulu. Ini ibu beri resep, segera cari obatnya di
apotik. Ibu sarankan kau segera periksa kandunganmu. Karena
kehamilanmu sudah tua periksalah dua minggu sekali. Ibu pamit
dulu. Semoga lekas sembuh.”
”Terima kasih Bu dokter.” Ucap Zumrah. ”Sama-sama.” Jawab Bu
dokter.
”Kak Azzam resepnya sekalian dicarikan ya?” Kata Husna pada
Azzam.
”Baik.” Sahut Azzam.
Bu Dokter Fatimah mengemasi peralatannya lalu keluar. Azzam
mengikuti dan mempersilakan dokter itu masuk mobil untuk diantar
Edited by : Bon Bon-q97 344
pulang. Sementara Azzam meluncur ke Kleco, Husna bercakapcakap
dengan Zumrah.
”Maafkan aku merepotkan kalian terus.”
”Tidak apa-apa. Jadi kau sudah dapat kerja Zum?”
”Ya tiga bulan yang lalu aku dapat kerja. Di toko foto digital Slamet
Riyadi. Bosnya masih muda dan baik.
Katanya lulusan Mesir.”
”Lulusan Mesir?”
”Iya.”
”Siapa namanya?”
”Furqan.”
”Furqan Andi Hasan?”
”Iya, benar kok kamu kenal?”
”Dia itu teman Kak Azzam.”
”O, begitu.”
”Sampai sekarang statusmu masih kerja?”
”Tiga hari yang lalu aku minta cuti. Perutku sering sakit dan
kepalaku rasanya seperti ditekan-tekan benda keras.”
Edited by : Bon Bon-q97 345
”Iya harus begitu, kau harus istirahat. Oh ya Zum, kurasa sudah
saatnya kau pulang ke rumah ibumu.”
”Aku tidak bisa Na. Aku malu.”
”Itu lagi alasanmu. Berpikirlah yang dewasa kamu ini. Kalau kamu
terus di sini, yang jadi korban anakmu. Kalau kau sakit tak ada yang
membantu. Zum sebentar lagi aku dan Kak Azzam mau menikah.
Tinggal menunggu hari. Aku mungkin tidak bisa menemanimu saat
kau melahirkan. Apa kau mampu menjalani kelahiran sendiri? Kalau
kau pulang, ibumu pasti senang. Juga adik-adikmu. Pamanmu sudah
memaafkanmu. Orang-orang kampung sudah mengerti posisimu.
Sekarang ini pun kau sakit, kau butuh orang yang membantu
merawatmu. Membuatkanmu bubur, juga minuman hangat. Kalau
kau nekat tetap saja di sini terus kamu mati di sini itu namanya
bunuh diri. Sebab sejatinya kamu bisa pulang. Adik-adikmu pasti
merawatmu. Aku tahu mereka itu hatinya halus-halus, baik-baik. Ya
sebaik hatimu dulu. Tapi kalau kau memilih di sini, tanpa teman,
Sepi dan misalnya mati sampai bangkaimu membusuk, Orang tidak
ada yang tahu ya silakan. Sebagai teman aku sudah menjalankan
kesetiaanku dan kewajibanku.”
Mendengar perkataan Husna Zumrah luluh.
”Baiklah Na, aku mau pulang.”
Edited by : Bon Bon-q97 346
23
PERTEMUAN DUA KELUARGA
Kiai Lutfi duduk di ruang tamu memandang ke arah pesantren,
matanya berkaca-kaca. Ia masih terus teringat kejadian pagi tiga hari
yang lalu. Ia sedang shalat dhuha di kamarnya ketika itu, Anna yang
baru pulang dari hotel mengajaknya bicara. Anna mencium
tangannya sambil menangis. Putrinya itu tersedu-sedu di
pangkuannya seperti anak kecil kehilangan mainannya. Putrinya
tampak pucat, sedih, gelisah dan takut. Ia bingung apa yang terjadi
dengan putrinya.
”Baru bertengkar dengan suamimu ya?” ”Lebih dari itu Bah.”
“Apa itu?”
”Kami telah bercerai. Furqan sudah menceraikan Anna!”
”Apa? Cerai!? Apa Abah tidak salah dengar?” “Tidak Bah. Ini
siingguhan!” ”Kamu jangan main-main ya Nduk!” ”Anna tidak main
main Bah.”
Edited by : Bon Bon-q97 347
”Kalian kan sarjana Timur Tengah, paham agama, tahu syariat,
bagaimana mungkin kalian memilih jalan yang dimurkai Allah.”
”Justru jalan ini ditempuh untuk mencari ridha Allah Bah. Untuk
kebaikan bersama, untuk kebaikan Anna, kebaikan Abah dan Ummi,
juga kebaikan pesantren. Bahkan juga untuk kebaikan Furqan dan
keluarganya, maka kami berdua sepakat untuk bercerai! Ikatan
pernikahan kami tak mungkin dipertahankan lagi Bah. Anna sudah
berusaha yang terbaik tapi tetap saja tak ada jalan lain kecuali pisah.
”Jika ikatan pernikahan kami tetap dipertahankan yang tercipta di
antara kami bukanlah ketakwaan Bah, tapi kezaliman. Anna tak ingin
ini terjadi, tapi Anna tak bisa apa-apa lagi. Perempuan mana yang
ingin jadi janda Bah? Tak ada. Tidak juga Anna. Inilah ujian terberat
dalam hidup Anna yang harus Anna lalui dengan penuh kesabaran
Bah. Sungguh Bah Anna mohon maaf jika ini sangat menyakitkan
Abah dan Ummi”
Kalimat putrinya itu sangat mengagetkannya. Kalimat yang
diucapkan dengan linangan air mata itu bagaikan keris berkarat yang
ditusukkan ke dadanya.
”Apa sebenarnya yang terjadi Nduk?”
”Aku tak tahu bagaimana menceritakannya Bah. Yang jelas kalau
pernikahan terus dipertahankan Anna pasti binasa Bah. Dan Anna
tidak ingin binasa!”
”Dari kalimatmu ada isyarat bahwa kau yang meminta cerai pada
Furqan. Bukan Furqan yang menceraikanmu!?”
”Iya, benar Bah. Anna yang minta cerai. Dan hukumnya wajib Bah.
Bukankah marabahaya menurut ajaran Islam harus ditiadakan Bah?
Itulah yang Anna lakukan.”
Edited by : Bon Bon-q97 348
”Abah tidak paham marabahaya apa yang kau maksud?”
Anna diam, tak bisa menjawab.
”Suatu hari nanti Abah akan tahu.”
Siangnya Furqan datang. Abah langsung mengajaknya bicara. Dan
Furqan membenarkan semua ucapan Anna. Bahkan Furqan berkata,
”Yang salah saya Bah, bukan Anna. Sungguh Anna tidak salah apaapa.
Anna hanyalah korban dari ambisi pribadi saya. Saya mohon
maaf jika selama di sini banyak khilaf. Demi kebaikan bersama Anna
sudah saya ceraikan. Terserah nanti bagaimana di pengadilan nanti.
Jika prosesnya bisa lebih cepat itu lebih baik, sehingga Anna bisa
bernafas lega. Selama ini saya sudah membuatnya tersiksa. Saya
yang salah dan saya mohon maaf.” Ucapan Furqan yang jujur dan
apa adanya justru membuat Kiai Lutfi terenyuh.
Ia tak tahu harus bagaimana dan harus di pihak siapa. Yang jadi
masalah ia tidak tahu apa yang sebenamya terjadi di antara mereka.
Ketidakcocokan seperti apa yang membuat perkawinan mereka harus
hancur berantakan? Repotnya Anna dan Furqan tidak mau ada yang
menjelaskan apa yang terjadi sebenamya.
”Kami sama sekali tidak perlu ishlah. Malah akan semakin menyiksa
dua keluarga saja. Insya Allah keputusan kami sudah final. Namun
demikian semoga tali kekeluargaan di antara kita tetap terjalin.” Jelas
Furqan tegas. Hari itu juga Furqan mengemasi seluruh barangnya dan
pergi meninggalkan pesantren dengan Fortunernya. Furqan benarbenar
meninggalkan rumah mertuanya itu. Ia tidak kembali,
jadwalnya mengajarkan tafsir Jalalain dan yang lain kepada para
santri kosong tidak ada yang mengisi.
Kiai Lutfi duduk di ruang tamu memandang ke arah pesantren,
matanya berkaca-kaca. Ia masih terus teringat kejadian tiga hari yang
Edited by : Bon Bon-q97 349
lalu. Kejadian yang membuat perasaannya remuk redam. Kejadian
yang membuat isterinya, yaitu Bu Nyai Nur sempat pingsan, dan
sekarang badannya demam. Perceraian Anna dengan suaminya
baginya adalah aib yang memalukan. Keluarga Kiai semestinya bisa
menjadi suri tauladan akan terbentuknya keluarga yang sakinah,
mawaddah wa rahmah. Perceraian itu tak lama lagi akan jadi
omongan masyarakat dan dia sebagai panutan masyarakat harus
bilang apa?
Ia ingin dengan segala daya upaya agar rumah tangga putrinya itu
terselamatkan. Ia terus membujuk putrinya agar cerita masalah yang
sebenamya terjadi. Namun putrinya itu selalu saja menjawab, ”Abah,
pokoknya kami berdua telah sepakat untuk bercerai! Ikatan
pernikahan kami tak mungkin dipertahankan lagi Bah. Anna sudah
berusaha menjadi isteri yang baik, tapi tetap saja tak ada jalan lain
kecuali pisah. Jika tetap dipertahankan maka sama saja
mempertahankan kezaliman?”
Ia lalu mengejar, ”Bentuk kezalimannya apa Nduk?”
”Maaf Bah, Anna tidak bisa menceritakannya dengan detil. Takut
nanti timbul fitnah. Kalau Abah percaya sama Anna, maka
relakanlah kejadian ini Bah. Dan kuatkanlah hati Anna. Saat ini
Anna sebenamya juga remuk redam. Anna perlu orang yang
menguatkan.”
la percaya pada putrinya. Tapi ia belum juga bisa bernafas lega
karena belum mengetahui pangkal masalah sebenarnya. Ia ingin
putrinya itu bercerita saja apa adanya terus terang. Sekiranya ia tahu
apa bentuk kezalimannya mungkin ia akan punya pandangan lain
atau jalan keluar lain yang bisa menyelamatkan rumah tangga
putrinya.
Edited by : Bon Bon-q97 350
Selain tes darah ia juga minta divisum untuk mengecek selaput
daranya. Dan ia bersyukur bahwa selaput daranya benar-benar masih
utuh. Furqan memang sama sekali belum menyentuh mahkota paling
berharga baginya. Ia bernafas lega. Ia masih bisa menatap masa
depan yang cerah. Ia yakin itu. Setelah urusan perceraiannya dengan
Furqan selesai di pengadilan agama, ia akan konsentrasi tesisnya. Ia
perlu waktu untuk kembali memikirkan pernikahan.
Anna siap masuk mobil ketika panggilan dari Umminya berdering di
hand phonenya. Ia diminta pulang. Bu Maylaf dan suaminya akan
datang. Ia yakin mereka akan bersama Furqan. Dalam perjalanan ia
membayangkan apa yang akan terjadi di rumahnya nanti. Mungkin
akan terjadi perdebatan panas. Ia tidak ingin Abah dan Umminya
bertengkar dengan kedua orang tua Furqan. Menurutnya itu semua
tergantung Furqan. Jika Furqan sebelumnya bisa menjelaskan dengan
baik masalah perceraiannya kepada orang tuanya, hal itu tak akan
terjadi. Namun jika Furqan malah memprovokasi dan minta
pembelaan mereka bisa saja akan ada perang.
Jika sampai terjadi pertengkaran antara orang tuanya dengan orang
tuanya lantas kedua orang tuanya disalahkan habis-habisan, maka ia
harus bicara! Ia harus bicara apa adanya biar semuanya menilai
dengan pikiran dan kesadaran masing-masing. Ia tidak gentar, semua
senjata ia punya. Ia akan diam menjaga rahasia Furqan jika Furqan
bisa juga menjaga kehormatan bersama.
Ia merasa dirinya dan kedua orang tuanya hanyalah korban. Korban
dari ambisi pribadi Furqan yang ia duga menikahi dirinya karena
kecantikan dirinya. Ah, ia sendiri tidak pernah merasa dirinya cantik.
Dan ia tidak mau sebenarnya dinikahi orang karena kecantikan
dirinya. Sebab ia tahu kecantikan fisik itu pada saatnya nanti akan
hilang. Jika ada orang menikahi dirinya karena kecantikan fisiknya
maka bagaimana nanti jika kecantikan fisiknya hilang? Apakah ia
akan dicampakkan begitu saja?
Edited by : Bon Bon-q97 351
Anna mengendarai Viosnya dengan lebih cepat. Azan telah
berkumandang. Kalau bisa ia harus lebih dulu datang dari orang tua
Furqan. Di depan pasar Kartasura ia nyaris menabrak becak yang
seenaknya memotong jalan. ”Masyarakat bangsa ini belum tahu
disiplin!” Desisnya marah.
Anna sampai halaman rumahnya saat jamaah Isya sedang didirikan.
Ia mendengar suara ayahnya membaca awal surat Al Anbiya’. Rumah
sepi, semuanya sedang jamaah di Masjid. Cepat-cepat ia mengambil
air wudhu dan menyambar mukena, meskipun terlambat masih bisa
mendapat beberapa rakaat. Dalam sujud Anna minta kepada Allah,
agar semua urusan dimudahkan, dan agar semua jalan setan yang
mengajak permusuhan dijauhkan.
* * *
Pukul setengah sembilan kedua orang tua Furqan datang. Wajah Bu
Maylaf agak kurang ramah. Pak Andi Hasan meskipun agak dingin
tapi berusaha untuk tetap cair. Pak Kiai Lutfi tetap menyambut
ramah. Ia berusaha kuat menjaga hatinya agar tetap bening dan
tenang. Sementara Bu Nyai Nur begitu melihat wajah Bu Maylaf
langsung dingin. Sementara Furqan menunduk diam.
Pak Kiai mencairkan suasana dengan berbasa-basi menanyakan
keadaan. Menanyakan kapan berangkat dan kapan sampai di Solo.
Menanyakan menginap di mana? Juga menanyakan perkembangan
bisnisnya. Pada akhirnya pembicaraan tentang perceraian Furqan dan
Anna tidak terelakkan.
Pak Andi Hasan yang membukanya.
”Maaf Pak Kiai, ini tentang anak-anak kita. Furqan menyampaikan
kepada kami kabar yang membuat kami sedih. Katanya dia telah
menceraikan Anna. Namun ketika kami tanya sebabnya dia agak
Edited by : Bon Bon-q97 352
berbelit. Jadi untuk itulah kami datang kemari. Terus terang
perceraian tidak menjadi tradisi keluarga kami. Kami ingin tahu
mungkin sedikit penjelasan bagi kami. Karena mungkin Pak Kiai
sebagai orang yang bisa dikatakan tinggal satu rumah dengan mereka
lebih tahu. Kalau ikatan perkawinan itu bisa kita usahakan
dipertahankan kenapa tidak?”
Pak Kiai Lutfi sudah menduga ia akan dimintai semacam
pertanggungjawaban seperti itu. Ia mendesah. Ia bingung harus
menjelaskan apa. Dengan agak tergagap Kiai Lutfi bicara,
”Pak Andi, saya me...”
”Abah biar Anna yang bicara!” Tegas Anna memotong. Anna sudah
bertekad untuk tidak membuat orang tuanya dipojokkan atau
diserang. Pertanyaan Pak Andi ia rasakan seperti minta
pertanggungjawaban ayahnya.
”Begini Pak Andi dan Ibu Maylaf, masalah yang ada dalam kamar
kami berdua. Abah dan Ummi sama sekali tidak tahu menahu. Kami
sudah dewasa. Kami sudah bisa berpikir. Dan Abah saya ini bukan
tipe orang tua yang selalu menyuapi anaknya sampai tua. Tidak!
Yang jadi perhatian ayah selama ini adalah pesantren. Sebab beliau
percaya kepada saya. Bahwa saya bisa mengurus diri saya, suami
saya dan rumah tangga saya. Kalau Pak Andi sama Ibu mau bertanya
sebab kenapa kami bercerai alangkah bijaknya sekarang bertanya
dulu kepada putra Bapak tercinta. Kalau juga dia masih berbelitbelit,
dan ruwet kayak benang kusut. Barulah Bapak tanya pada saya.
Akan saja jelaskan semuanya sejelas-jelasnya, seterang-terangnya
seperti terangnya matahari di siang bolong.”
Dengan nada agak emosi Anna berbicara panjang kepada Pak Andi
dan Bu Maylaf. Pak Kiai Lutfi tak mengira putrinya yang selama ini
Edited by : Bon Bon-q97 353
halus dan penurut ternyata bisa juga menyengat seperti lebah yang
diganggu sarangnya.
Mendengar perkataan Anna itu Pak Andi agak mengukur diri dengan
siapa berhadapan. Anna bagaikan induk betina yang bisa bicara
dengan cerdas. Mau tidak mau Pak Andi harus bertanya pada
putranya,
”Fur, tolong jelaskan kepada kami semua. Yang jelas, jangan
berbelit-belit lagi! Apa sebenarnya yang terjadi?”
Furqan memutar otaknya, ia harus punya penjelasan yang tepat. Ia
melihat bara dalam mata Anna. Jika ia tidak membuat semua yang
ada di ruangan itu memaklumi kenapa ia harus menceraikan Anna,
maka Anna pasti akan membuka apa yang terjadi sebenarnya. Senjata
pamungkas ada di tangan Anna. Senjata yang jika digunakan oleh
Anna, ia rasa akan binasa.
Dengan suara serak menahan sesak di dada Furqan bicara, ”Ayah dan
ibu, Pak Kiai dan Bu Nyai, sebelumnya saya mohon maaf jika
peristiwa ini membuat sedih. Jika Ayah dan ibu sedih, saya lebih
sedih. Karena, jujur saja, faktor satu-satunya, saya ulangi lagi faktor
satu-satunya yang membuat saya dan Anna harus bercerai menurut
saya adalah diri saya sendiri. Kelemahan dan penyakit dalam diri
saya sendiri.”
Furqan mengambil nafas. Sesaat ia berhenti bicara. Matanya berkacakaca.
”Bisa lebih dijelaskan lagi faktor itu apa? Kelemahan itu apa?” tanya
Pak Andi tidak sabar dengan nada agak jengkel pada anaknya.
”Saya mau tanya pada Bapak, maaf ya Pak sebelumnya, tanpa
mengurangi rasa hormat dan ta’zhim sedikitpun sama Bapak. Saat
Edited by : Bon Bon-q97 354
Bapak menikah dengan ibu dulu. Kapan Bapak bisa maaf menyentuh
selaput dara ibu?”
Pak Andi tersentak kaget. Juga Bu Maylaf. Anna tidak rnenyangka
Furqan akan bertanya seperti itu. Pak Andi seperti bingung.
Wajahnya memerah. Ia diminta untuk membuka rahasia yang hanya
dia dan isterinya yang tahu.
Pak Kiai Lutfi tahu besannya itu bingung. Maka ia bicara dengan
santai,
”Nak Furqan, kalau saya dulu sama ibunya Anna siangnya akad
nikah, malamnya saya sudah rnengoyak selaput dara ibunya Anna.
Saya tidak bisa sabar menunda hari berikutnya. Saya ingin
menunjukkan pada ibunya Anna bahwa dia tidak salah memilih saya.
Saya jelaskan ini karena kayaknya masalahmu berhubungan dengan
hal seperti ini. Saya tidak perlu malu menjelaskan ini di sini di forum
yang kita ingin tahu kejelasan semuanya. ”
Pak Andi jadi tersindir. Ia jadi tidak malu untuk berterus terang
dengan nada kagok, ”Kalau saya melakukan itu baru berhasil satu
minggu setelahnya.”
Bu Maylaf tersenyum mendengarnya.
”Coba ayah dan ibu, juga Pak Kiai dan Bu Nyai bayangkan, saya
sampai sekarang tidak berhasil melakukan hal itu. Anna sampai
sekarang masih perawan!”
Kata-kata Furqan itu membuat yang ada di ruangan itu kaget bagai
disambar halilintar, kecuali Anna.
“Apa Fur? Kau jangan bohong?” Kata Bu Maylaf nanar.
Edited by : Bon Bon-q97 355
”Saya tidak bohong Bu. Selama enam bulan Furqan tidak mampu
melakukan itu.”
”Kau bohong Fur! Kau bersandiwara kan?” Bu Maylaf masih tidak
percaya.
Anna langsung menyahut, ”Ibu, Furqan tidak bohong. Selama enam
bulan masih utuh keperawanan saya. Kami sebenarnya tidak ingin
membuka rahasia ini. Tapi kalian semua ingin kejelasan. Apakah
setelah jelas juga tidak dipercaya? Ini saya ada visum baru saja saya
ambil dari rumah sakit, saya masih perawan. Kalau ibu masih tidak
percaya dengan visum ini, saya siap divisum ulang!”
Anna menyerahkan kertas visum yang baru diambilnya pada Bu
Maylaf. Furqan tertegun. Ia kaget sampai sedetil itu Anna
meyakinkan dirinya bahwa dirinya masih perawan. Bu Maylaf
membaca dengan mata berkaca-kaca. Pak Sofyan ikut baca. Pak
Lutfi dan Bu Nyai Nur baru tahu apa yang menimpa putrinya.
”Tapi ibu kok sering lihat kamu mandi sebelum Subuh nduk?” Tanya
Bu Nyai Nur tiba-tiba.
”Banyak orang yang mandi sebelum Subuh tanpa melakukan hal itu.
Apa ada dalam kitab kuning yang memastikan bahwa kalau ada
orang mandi sebelum Subuh pasti jinabat, pasti baru saja melakukan
hal itu?” Jawab Anna.
”Tapi kelemahanmu itu bisa disembuhkan Fur? Bisa kita obatkan, ke
Singapura kalau perlu.” Kata Pak Andi.
”Iya benar.” Imbuh Bu Maylaf sambil menyeka airmatanya.
”Furqan sudah berusaha Bu, sudah setengah tahun. Tapi sia-sia.
Ayah dan ibu jangan selalu melihat sisi saya dong. Cobalah empati
Edited by : Bon Bon-q97 356
pada Anna juga. Kalau ibu jadi Anna bagaimana? Sudah enam bulan
ternyata punya suami yang tidak juga mampu menyentuhnya. Kalau
berobat juga tidak tahu berhasil dan tidaknya. Menurut Furqan yang
terbaik, agar tidak ada kezaliman adalah bercerai. Biar Anna mencari
suami baru. Sementara itu Furqan berobat. Jika sudah sembuh
Furqan akan cari isteri lagi. Toh masih banyak perempuan di muka
bumi ini.” Jelas Furqan pada kedua orang tuanya.
Kiai Lutfi merasa sudah saatnya dia bicara. ”Jadi apa yang Pak Andi
tadi tanyakan sudah jelas semua. Sekarang menurut Pak Andi
bagaimana. Kita bicara dengan nurani orang tua yang mencintai
anak-anak kita.” ”Sungguh Pak Kiai, saya sama sekali tidak mengira
ternyata masalahnya seperti ini. Maka dengan ini kami mohon maaf,
jika anak saya ini telah membuat cahaya kehidupan di keluarga Pak
Kiai semacam ternodai. Kami juga mohon maaf telah punya
prasangka yang kurang baik pada Pak Kiai. Kalau begini, ya memang
kesalahan ada pada Furqan. Kami kira apa yang terakhir disampaikan
Furqan cukup bijak. Jalan terbaik memang ya cerai. Biar tidak ada
kezaliman. Semoga ini adalah perceraian yang menjadi obat
bersama.”
”Amin.”
Malam itu akhirnya tercapai kesepakatan secara damai. Pengajuan
masalah ke pengadilan agama akan dipercepat. Saat sidang agar tidak
berlarut-larut orang tua Furqan dan orang tua Anna akan ikut bicara
dan jadi saksi. Malam itu juga disepakati untuk tetap menjalin tali
persaudaraan. Ketika Bu Maylaf pamit, Anna mencium tangan ibu
Furqan itu. Dengan linangan air mata Bu Maylaf berkata pada Anna,
”Anakku maafkan Furqan ya, maafkan kami yang mungkin telah
menyakitimu.”
”Sama-sama Bu.” Jawab Anna dengan hati terenyuh.
Edited by : Bon Bon-q97 357
24
SENANDUNG GERIMIS
Jarum jam terasa begitu lama berputar. Detik-detik berjalan terasa
begitu berat. Matahari terasa lambat berjalan. Dan malah terasa
sangat panjang. Azzam merasa menunggu empat hari lagi bagaikan
menunggu empat tahun lamanya.
Ya, empat hari lagi Azzam menikah. Semua persiapan telah matang.
Berkali-kali ia latihan menjawab akad nikah dengan menggunakan
bahasa Arab yang fasih. ”Malu kalau lulusan Mesir menjawab akad
nikah tidak fasih.” Pikirnya. Ia sudah membayangkan hari
bahagianya itu. Ia membayangkan selesai akad nikah akan
menggandeng tangan Vivi dengan penuh kasih sayang. Dan
malamnya ia akan tidur dengan sangat nyaman di samping seorang
isteri yang penyayang.
Pagi itu gerimis turun. Azzam membayangkan jika Vivi sudah jadi
isterinya, alangkah indahnya duduk berduaan berpelukan sambil
menikmati gerimis yang turun. Dan saat hujan turun dengan lebatnya
Edited by : Bon Bon-q97 358
ia akan mengajak isterinya masuk kamar untuk bercengkerama dan
merasakan kehangatan.
Astaghfirullahl Azzam membuang jauh pikirannya yang bukanbukan.
Dalam hati ia menghardik dirinya sendiri, ”Kamu itu yang
sabar tho Zam, tinggal empat hari lagi, sabar!”
Gerimis tipis turun perlahan. Hati Azzam tak bisa diajak tenang.
Ingin rasanya ia terbang ke Kudus, dan minta kepada ayah Vivi agar
akad nikah diajukan sekarang. Biar ia bersama Vivi bisa menikmati
gerimis pagi yang turun perlahan. Entah ada ilham datang dari mana.
Hatinya menulis sebuah puisi:
gerimis turun perlahan
wajah kekasih membayang
dalam daun-daun yang basah
diriku resah
menanti pertemuan
yang tenang
cinta kasih dan sayang
Tuhan
tolong damaikan
hatiku yang gamang
Benar kata banyak orang, jika orang jatuh cinta akan mampu menulis
syair beratus-ratus bait jumlahnya. Hati Azzam masih ingin
mendendangkan puisi lagi. Namun,
”Zam ternyata masih ada yang terlupakan.” Suara ibunya
membuyarkan lamunannya. Ia tergagap. Bu Nafis berdiri di samping
kanannya sambil mengusap-usap rambutnya. ”Nanti rambutmu ini
dipotong dulu ya biar rapi.” Kata Bu Nafis lagi.
”Iya Bu, rencana nanti sore Azzam mau potong di pojok Pasar
Kartasura. Apa sih yang terlupakan Bu?”
Edited by : Bon Bon-q97 359
”Nanti itu di hari walimahnya Husna yang juga sekaligus syukuran
pernikahanmu rencananya kan ada pengajian singkatnya. Lha kita
belum minta siapa pembicaranya. Enaknya siapa ya Zam?”
”Siapa ya Bu? Apa Pak Mahbub saja?”
”Ya jangan Pak Mahbub lah Zam. Dia kan sudah ibu minta yang
bicara mewakili keluarga, masak dia juga yang mengisi pengajian.
Cari yang lainnya, yang kalau bicara enak didengarkan banyak orang
dan berbobot isinya gitu lho Zam.”
Azzam berpikir sejenak. Wajahnya tiba-tiba cerah.
”Bagaimana kalau Pak Kiai Lutfi Hakim Bu, Pengasuh Pesantren
Wangen?”
”Lha itu boleh Zam. Kalau begitu ayo kita ke tempat beliau
sekarang.”
”Sekarang Bu?”
”Iya. Mau kapan lagi. Acaranya seminggu lagi. Acaramu di Kudus
empat hari lagi. Sudah tidak ada waktu ayo kita berangkat sekarang.”
Bu Nafis ngotot.
Husna yang mendengar pembicaraan itu dari dapur berseloroh,
”Mbok nanti sore saja tho Bu, kan sedang gerimis. Mobilnya Mas
Azzam sedang dipinjam Kang Paimo mengantar ibunya ke rumah
sakit.”
”Nanti sore ibu ke Kartasura, memastikan baju Bue sudah jadi atau
belum. Sudah sekarang saja mumpung Bue sedang luang. Ya kalau
Edited by : Bon Bon-q97 360
tidak ada mobil pakai sepeda motor. Gerimis toh cuma air. Bisa
pakai jas hujan tho.”
”Nanti Bue sakit kalau kehujanan.” Lanjut Husna.
”Biar saya saja yang ke tempat Kiai Lutfi Bu.” Sambung Azzam.
”Bue harus ikut. Bue yang akan minta langsung pada Kiai Lutfi, jadi
lebih menghormati beliau. Seperti ini tugas orang tua. Insya Allah
Bue sehat.”
”Atau nunggu Kang Paimo, paling tidak lama Bu,”
”Ah kamu ini Zam bantah Bue saja. Sudah sekarang siap-siap kita
berangkat. Ya kalau Paimo langsung pulang, kalau dia mampirmampir
kesana-kemari nanti malah kelamaan nunggu. Ayo Zam
cepat!”
”Bue ini ada apa tho kok tidak sabaran sih.” Seloroh Azzam
”Sudah, cepat salin kita berangkat!” Hardik Bu Nafis
* * *
Dengan berat hati Azzam harus menuruti keinginan ibunya. Ia ganti
pakaian dan siap berangkat. Sebelum berangkat Bu Nafis minta
dibuatkan teh hangat.
”Bue ini aneh-aneh saja, kenapa tidak tadi-tadi tho. Nanti di
tempatnya Pak Kiai Lutfi kan pasti dikasih minuman.” Ujar Husna
sambil membawa teh hangat.
”Teh buatanmu lain rasanya Na. Enak. Ibu ingin meminumnya
barangkali untuk kali terakhir.” Sahut Bu Nafis.
Edited by : Bon Bon-q97 361
”Terakhir bagaimana?” Tanya Husna santai. ”Ya terakhir sebelum
kau menikah. Besok kamu kan sudah sibuk ngurusi suamimu.”
”Kalau Bue mau, Husna bisa tinggal menemani Bue sampai tua.”
”Ah Bue sudah tua kok Nak. Ya yang penting kamu nanti jadilah
isteri yang baik.”
Bu Nafis lalu minum teh hangat buatan putri tercintanya itu.
”Enak sekali Na. Kalau entah kapan nanti ibu tiada, jagalah kakak
dan adikmu ya Na.” Pesan Bu Nafis. Azzam yang mendengar
langsung menyahut,
”Aku, insya Allah yang akan menjaga Husna dan adik-adik”
“Iya, iya, ibu tahu, ibu lupa kau yang mbarep. Ayo kita berangkat
Zam.”
”Ayo.”
Dengan mengendarai sepeda motor Husna yang sudah tua, Azzam
memboncengkan ibunya menerobos gerimis pagi. Sampai di jalan
raya Azzam menambah kecepatan.
”Pelan-pelan saja Nak.”
”Ini pelan Bu. Motornya Husna tidak bisa dibuat cepat.”
”Hati-hati yang penting sampai dan selamat.”
”Iya Bu.”
Edited by : Bon Bon-q97 362
Azzam terus memacu kendaraan tua itu. Sampai di Pasar Tegalgondo
ia belok kanan. Lalu terus lurus ke barat. Sampai di pertigaan
Polanharjo belok kiri. Akhirnya tiba di halaman rumah Anna.
Saat itu Anna sedang membaca buku Dhawabithul Mashlahah yang
ditulis oleh Prof. Dr. M. Said Ramadhan Al Buthi. Anna terhenyak
melihat Azzam dan ibunya datang. Entah kenapa hatinya bergetar. Ia
langsung membungkam suara hatinya dengan mengatakan, ”Dia
sudah mau menikah dengan seorang dokter dari Kudus. Kau sudah
terima undangannya kan?” Anna bangkit menyambut ke beranda.
”Aduh Ibu, kok hujan-hujanan sih. Kenapa tidak menunggu nanti
kalau sudah reda saja?” Kata Anna halus. ”Iya, ibu ini kalau sudah
ada kemauan badai saja diterjangnya. Gunung saja mungkin bisa
dipindahkannya.” Sahut Azzam sebelum ibunya bicara.
”Iya benar Bue memang begitu sejak dulu. Lha sifat itu kan bagus.
Sifat ini yang menurun pada dirimu Zam, hingga kamu sampai ke
Mesir.” Ujar ibunya sambil tersenyum pada Azzam. Mendengarnya
Anna tersenyum.
”Nduk, Abahmu ada?” Tanya Bu Nafis pada Anna.
”Oh ya ada, masih di masjid Bu. Ibu sama Mas Azzam masuk dulu
saja. Anna akan panggilkan Abah. Ayo silakan!”
Bu Nafis sama Azzam langsung masuk. Begitu duduk Bu Nafis
langsung berkata pada Azzam, ”Kok ada ya perempuan yang jelita
dan halusnya kayak Anna. Andai saja...”
”Menantu ibu, Si Vivi, insya Allah juga halus, bahkan nanti akan
Azzam buat lebih halus dari Anna.” Azzam memotong perkataan
ibunya.
Edited by : Bon Bon-q97 363
”Ya semoga. Tapi ibu itu kenapa tidak tahu. Ketemu Anna ini kok
rasanya kayak ketemu sama anak sendiri.” ”Ya karena Anna sudah
akrab sama Husna saja kali Bu.” ”Mungkin.”
Terdengar langkah kaki melepas sandal. Ternyata Kiai Lutfi. Anna
mengikut di belakang
”Assalamu’alaikum,” Sapa Kiai Lutfi.
”Wa’alaikumussalam.” Jawab Azzam dan Bu Nafis hampir
bersamaan.
”Sudah lama Zam?” Tanya Kiai Lutfi seraya duduk. Anna lurus ke
dalam.
”Baru saja sampai Pak Kiai.”
”Ibu apa kabarnya?” Tanya Pak Kiai pada Bu Nafis.
”Alhamdulillah baik Pak Kiai.”
”Senang ya Bu, punya anak seperti Azzam ini. Pinter dan ulet!”
”Ah Pak Kiai ini bisa saja. Saya justru ingin punya anak seperti
Anna. Halus budi bahasanya.”
”Kalau begitu bawa saja Anna Bu, diadopsi saja dia, biar tinggal di
rumah ibu, biar latihan bikin bakso he... he... he...”
”Wah boleh Pak Kiai he... he... he... Pak Kiai ini bisa juga bercanda.”
Dari ruang tengah Anna mendengar canda Abah dan ibunya Azzam
dengan hati berdesir tapi geli. Orang-orang tua kalau bercanda
kadang memang bisa benar-benar lucu.
Edited by : Bon Bon-q97 364
”Ibu sama Azzam ini kok hujan-hujan kemari, ada keperluan apa,
kok kayaknya penting?”
”Iya Pak Kiai, ini begini, alhamdulillah anak saya ini, Azzam, insya
Allah mau menikah empat hari lagi.”
”Ya, saya sudah tahu, saya baca undangannya.”
”Terus adiknya yang si Husna itu juga mau menikah, dengan Ilyas,
santri Pak Kiai.”
”Iya saya juga sudah tahu.”
”Azzam menikah di Kudus, tapi nanti akan mengadakan syukuran di
Kartasura. Lha syukurannya Azzam ini dibarengkan dengan acara
walimatul ursynya Husna. Rencananya di acara itu akan kami isi
dengan pengajian singkat. Kami mohon Pak Kiai yang memberi
mau’idhah hasanahnya.” Terang Bu Nafis,
Mendengar permintaan Bu Nafis, Kiai Lutfi langsung menunduk. Ia
malu. Pernikahan putrinya gagal, tapi ia harus memberikan
mau’idhah pada orang lain. Dengan berat hati Pak Kiai Lutfi
menjawab,
”Saya merasa tidak layak Bu, maaf.”
”Kami mohon Pak Kiai, sampai hujan-hujan saya kemari, mohon.”
Desak Bu Nafis.
Mata Pak Kiai berkaca-kaca,
”Apa pantas Bu, orang yang pernikahan putrinya saja gagal kok
memberi mau’idhah pernikahan pada orang lain. ”Itu namanya
kabura maqtan ’indallah”
Edited by : Bon Bon-q97 365
Kata-kata Pak Kiai Lutfi membuat Azzam kaget. Bu Nafis belum
paham maksudnya. Anna di dalam langsung menangis tertahan.
”Saya tidak paham maksud Pak Kiai.”
”Putri saya cerai dengan Furqan Bu. Baru kemarin, Sekarang dalam
proses sidang. Memang bukan salah Anna. Yang salah saya.
Seharusnya sayalah yang memilihkan jodoh buat dia. Saya pilihkan
orang yang saya mantap ternyata saya salah. Saya juga tidak
menyalahkan Furqan. Tidak! Yang salah adalah saya, yang waktu itu
kurang tegas. Kalau saya tegas mungkin putriku sudah mau punya
anak dan bahagia. Apa pantas orang seperti saya yang masih harus
banyak belajar ini meskipun dipanggil Kiai untuk memberikan
nasihat perkawinan. Jangan paksa saya Bu! Saya malu pada Allah
juga pada diri sendiri.” Jelas Pak Kiai dengan air mata meleleh.
Azzam jadi tersentuh. Ia tak tahu apa yang terjadi. Tapi ia tak mau
berprasangka apa pun baik pada Anna maupun pada Furqan. Di
ruang tengah Anna tidak kuat untuk menahan tangisnya. Ia bergegas
ke kamar mandi, menyalakan kran dan menangis tersedu-sedu.
Ayahnya sedemikian besar jiwanya, dia malah menyalahkan dirinya
sendiri bukan orang lain.
Dalam hati Anna berjanji, untuk mencari suami lagi ia akan serahkan
semuanya pada ayahnya. Ia akan tutup mata. Siapa pun yang dibawa
ayahnya akan ia terima dengan hati terbuka. Tanpa ia pinta
pikirannya berkelebat ke Ilyas. Ah andai dia yang dulu dia pilih. Ilyas
adalah murid ayahnya, dan agaknya ayahnya lebih condong ke Ilyas
daripada Furqan. Ah! Sekarang Ilyas mau menikah dengan Husna.
Rezeki orang memang sudah ada jatahnya.
Melihat lelehan air mata Pak Kiai Lutfi, Bu Nafis terenyuh, tak
berani lagi memaksa. Dengan suara lirih, Bu Nafis berkata,
Edited by : Bon Bon-q97 366
”Kami tidak bisa memaksa Pak Kiai. Kalau boleh tanya siapa kirakira
yang sebaiknya kami pinta untuk mengisi pengajian itu menurut
Pak Kiai?”
”Coba saja Kiai Kamal Delanggu. Kalau sampai pasar langgu tanya
saja sama orang-orang di sana pasti tahu. Nanti kalau sampai sana
bilang yang minta Kiai Lutfi. Dia dulu santri di sini juga.”
”Insya Allah kami ke sana segera.”
Di luar gerimis masih turun. Langit suram. Beberapa kali suara guruh
bergemuruh. Anna masih di kamar mandi. Ia harus membuatkan
minuman. Ia menyeka mukanya dengan sedikit air, lalu
mengusapnya dengan handuk. Ia ke dapur membuat teh hangat. Lalu
mengeluarkan ke ruang tamu. Azzam menunduk sama sekali tidak
memandang ke wajah atau ke jari-jari Anna seperti yang pernah ia
lakukan dulu. Pikirannya sepenuhnya untuk Vivi, putri Kiai Lutfi itu
sudah tidak ada dalam pikirannya sama sekali.
Setelah minum teh itu Azzam dan Bu Nafis mohon diri. Gerimis
masih turun dari langit. Bu Nafis memakai jas hujan. Azzam
mengelap air yang membasahi jok motor.
”Apa tidak ditunggu nanti saja jika sudah benar-benar tidak ada
gerimis?” Ujar Pak Kiai.
”Kalau gerimis seperti ini biasanya sampai sore, Pak Kiai.” Jawab
Azzam.
”Atau ibumu biar diantar Anna pakai mobil ke rumahmu. Dan kamu
saja yang ke rumah Kiai Kamal.” Usul Pak Kiai.
”Ah tidak usah Pak Kiai. Saya juga ingin silaturrahmi ke sana.
Delanggu itu tidak jauh kok.” Bu Nafis menukas.
Edited by : Bon Bon-q97 367
”Iya monggo kalau begitu.”
Azzam menyalakan mesin. Ibunya membonceng ke belakang.
Keduanya rapat dalam balutan jas hujan. Setelah mengucapkan salam
keduanya meninggalkan pesantren dan meluncur ke Delanggu.
Azzam mengendarai motor tua itu dengan tenang. Motor itu
melewati jalan raya Solo-Jogja. Bergerak lima puluh kilometer
perjam ke selatan. Ke Delanggu. Azzam berjalan di pinggir. Karena
bus dan truk melaju dengan sangat kencang. Jalan itu bukan jalan tol
tapi mirip jalan tol.
Gerimis masih turun. Alam basah dan muram. Azzam mengendarai
motor tua itu dengan tenang. Hatinya bahagia bisa memboncengkan
ibunya dengan penuh cinta. Tiba-tiba entah dari mana datangnya
hatinya seperti mendendangkan sebuah sajak cinta untuk ibunya:
Ibu,
aku mencintaimu
seperti laut
mencintai airnya
tak mau kurang
selamanya
Sepeda motor Azzam melaju tenang di pinggir jalan. Sawah
menghijau di kiri jalan, dan pohon-pohon menghitam di kejauhan.
Azzam melaju tenang di pinggir jalan. Ia beriringan dengan mobil
pick up hitam yang membawa buah pisang. Azzam begitu mencintai
ibunya. Hatinya ingin mendendangkan puisi lagi. Namun, tiba tiba
dari arah belakang sebuah bus berkecepatan tinggi hendak menyalip
mobil pick up. Bus itu membunyikan klakson dengan keras. Azzam
minggir sampai di batas akhir aspal. Bus tetap melaju dengan
kecepatan tinggi Motor yang dikendarai Azzam. Dan...
Edited by : Bon Bon-q97 368
Duar!!!
Bemper bus bagian depan menghantam motor yang dikendarai
Azzam.
”Allah!!” Jerit Azzam spontan.
la terpelanting seketika beberapa meter ke depan. Dan langsung
pingsan. Bu Nafis terpelanting lebih jauh dari Azzam. Helm Bu
Nafis lepas sebelum kepalanya dengan keras membentur aspal.
Darah mengucur dari dua tubuh lemah tak berdaya itu. Darah itu
mengalir di aspal bersama air hujan. Bus berkecepatan tinggi itu lari
dan langsung dikejar oleh pick up hitam.
Gerimis turun semakin deras, ketika tubuh Azzam dan ibunya
ditolong banyak orang. Seorang bapak setengah baya yang kebetulan
lewat dengan membawa mobil Kijang dihentikan. Dengan Kijang itu
Azzam dan ibunya dilarikan ke rumah sakit terdekat. Darah
mengucur semakin deras mengiringi gerimis yang semakin deras.
Edited by : Bon Bon-q97 369
25
MUSIBAH
Gerimis telah berubah menjadi hujan yang sangat deras. Kilat
mengerjap dan halilintar menyambar. Dukuh Sraten tampak begitu
fana dan kerdil dalam guyuran hujan. Seorang gadis berjilbab putih
mengangkat sedikit kain roknya dan berjalan hati-hati dengan payung
di bawah hujan. Gadis itu baru keluar dari masjid. Ia baru saja ikut
rapat remaja masjid Al Mannar.
Akhirnya ia sampai ke rumahnya. Gadis itu adalah Lia.
”Assalamu’alaikum. Mbak Husna!” Panggil Lia begitu masuk
rumahnya yang lengang. ”Mbak!”
”Iya, Mbak di belakang Dik!” Jawab Husna. ”Bue sama Kak Azzam
mana?” Tanya Lia. ”Ibumu itu kalau punya kemauan tidak bisa
dicegah. Dia memaksa Kak Azzam ke rumahnya Kiai Lutfi.” ”Untuk
apa ke sana?”
Edited by : Bon Bon-q97 370
”Minta Kiai Lutfi ngisi tnau’idhah hasanah dalam acara walimah
besok.”
”O. Kan mobilnya dibawa Kang Paimo.” ”Itulah. Mbak sama Kak
Azzam sudah mencegah Bue supaya jangan berangkat pas hujan.
Tapi Bue tetap ngotot. Akhirnya Kak Azzam ya manut saja.”
”Nanti Bue sakit gara-gara kehujanan.” ”Ya semoga tidak.”
”Entah kenapa Mbak ya, hati Lia sangat tidak enak rasanya. Lia lihat
suasana pagi ini kok rasanya muram dan suram.”
”Ya ini kan lagi mendung, lagi hujan, ya suasananya memang
suram.”
”Ini di dalam hati lho Mbak.”
”Sana kamu bantu marut kelapa, biar tidak suram. Lia bergerak
memenuhi permintaan kakaknya. Tiba-tiba pintu depan diketuk
dengan cukup keras Husna dan Lia kaget. Mereka berdua
berpandangan. Lalu keluar bareng. Mereka melihat ada dua polisi
yang berdiri, di depan pintu rumah mereka. Mereka agak was-was.
”Itu polisi nyasar.” Lirih Lia. ”Hus!” Bentak Husna lirih.
”Selamat pagi Mbak?” Sapa seorang polisi berkumis tipis ”Pagi Pak.
Ada yang bisa kami bantu?” Jawab Husna ”Apa ini rumahnya
Khairul Azzam?” ”Iya. Saya adiknya Pak. Ada apa ya?” ”Maaf Mbak
jangan terkejut. Khairul Azzam dan ibunya kecelakaan! Dan
sekarang ada di Rumah Sakit PKU Delanggu.”
”Kecelakaan Pak!?” Jerit Husna dan Lia harnpir bersamaan. Jantung
keduanya bagai mau copot. Kaki-kaki mereka seperti tidak kuat
untuk berdiri.
Edited by : Bon Bon-q97 371
”Oh tidak, bue... bue! Kak Azzam!” Jerit Lia dengan tangis meledak.
”Ya Allah, kuatkan! Ya Allah jangan kau panggil mereka ya Allah!”
Lirih Husna dalam isak tangisnya.
”Maaf Mbak, kami tahu kalian bersedih. Keadaan sedang kritis.
Kalian harus ada yang ikut kami ke rumah sakit sekarang!” Kata
polisi itu.
Husna segera sadar. Dalam sedih, ia harus bergerak cepat!
”Dik, kau beritahu Pak Mahbub dan Pak RT. Beritahu siapa yang
menurutmu diberi tahu. Aku mau ikut Pak Polisi ini dulu!” Kata
Husna sambil menyeka air matanya.
”I... iya Mbak.” Jawab Lia dengan lidah kelu.
”Sebentar Pak.” Husna masuk mencari dompetnya. Ia masukkan
dompet itu ke dalam tasnya lalu bergegas keluar menerobos hujan ke
mobil sedan polisi.
Sepanjang jalan Husna menangis. Ia memandang ke jendela dengan
basah air mata. Polisi berkumis tipis itu memperhatikan Husna
sesaat. Ia merasa iba pada Husna.
”Menurut saksi mata kakak anda sama sekali tidak salah. Dia sudah
mepet ke pinggir. Bus ugal-ugalan itu yang salah. Bus itu juga
sempat lari tapi sekarang sudah tertangkap dan sedang kami tangani.
Kita doakan semoga kakak dan ibumu bisa di selamatkan.” Kata
Polisi menenangkan Husna.
* * *
Sampai di rumah sakit Husna langsung menghambur ruang gawat
darurat.
Edited by : Bon Bon-q97 372
”Suster di mana yang korban tabrakan?” Tanya Husna dengan mata
basah pada seorang perawat di depan ruang gawat darurat.
”Pemuda sama ibunya ya?” ”Iya Sus.”
”Mbak siapa?”
”Saya anak ibu itu.”
”Sabar ya Mbak, tabahkan hati Mbak ya?”
”Apa maksud suster?”
”Ibu Mbak tidak bisa kami selamatkan. Beliau sudah bertemu Allah.
Kepala beliau mungkin pecah. Darahnya mengalir banyak sekali.
Sedangkan kakak Mbak masih kritis. Masih belum sadar.”
”Ibu saya meninggal Mbak?”
”Iya, tabahkanlah hatimu Mbak!”
Tangis Husna langsung meledak.
”Bue... bue... oh... bue!”
Perawat yang ramah itu merangkul Husna. Terus berusaha
menghibur dan menenangkan Husna. Husna merasa bumi bagaikan
berputar. Rasanya ia ingin jatuh. Ia juga merasakan seperti ada belati
yang dihunjamkan ke ubun ubun kepalanya. Dalam pelukan perawat
itu Husna pingsan.
* * *
Edited by : Bon Bon-q97 373
Ketika Husna sadar, ia mendapati dirinya terbaring dalam sebuah
ruangan. Lia, Bu Mahbub dan Bu RT ada di samping. Lia menangis
dalam pangkuan Bu RT. Kedua mata Bu Mahbub juga tampak
berkaca-kaca.
Husna mendengar azan Zuhur berkumandang di kejauhan.
Husna ingat yang terjadi langsung menangis. Ia memanggil-manggil
ibunya dan kakaknya. Ia bangkit dari ranjang.
”Mau ke mana Na?”
”Mau lihat bue.”
”Sebentar ya. Tadi Pak Mahbub mengambil inisiatif minta kepada
rumah sakit untuk sekalian memandikan dan mengkafani. Meskipun
hari hujan. Masih ada waktu untuk mengubur jenazah ibumu.
Sekarang ibumu sedang dimandikan.” Jawab Bu Mahbub.
”Apa harus hari ini bue dikubur Bu?”
”Katanya menurut sunnah nabi semakin cepat semakin baik.”
”Kasihan Kak Azzam tidak bisa lihat bue.”
”Dia masih belum sadar. Kalau pun sudah sadar juga dia tidak bisa
ikut mengubur ibumu.”
Husna terus meneteskan air mata. Ia ingin tabah. Tapi ia tetap
menangis. Sepertinya baru tadi ibunya minta dibuatkan minum.
Sekarang sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ia jadi
ingat dialognya dengan ibunya sebelum ibunya berangkat. Tadi pagi
sambil membawa teh hangat ia berkata pada ibunya,
Edited by : Bon Bon-q97 374
”Bue ini aneh-aneh saja, kenapa tidak tadi-tadi tho. Nanti di
tempatnya Pak Kiai Lutfi kan pasti dikasih minuman.”
Ibunya lalu menjawab ”Teh buatanmu lain rasanya Na. Enak. Ibu
ingin meminumnya barangkali untuk kali terakhir.”
Air mata Husna meleleh. Ternyata benar, itulah teh yang ia buatkan
untuk ibunya terakhir kalinya. Setelahnya ia tidak bisa membuatkan
lagi untuk ibunya. Ia juga teringat kata-kata ibunya setelah minum
teh buatannya,
”Enak sekali Na. Kalau entah kapan nanti ibu tiada, jagalah kakak
dan adikmu ya Na.”
Dan benar, kini ibunya telah tiada. Kakaknya masih kritis belum
sadar juga. Kata-kata ibunya seperti menyadarkannya. Ia harus kuat.
Ia harus bangkit. Ia tidak boleh lemah.
”Lia.” Ia memanggil adiknya. Lia bangun dan memeluk kakaknya.
”Mbak bue sudah tidak ada. Kita tidak punya orang tua lagi Mbak.
Kak Azzam kalau mati juga bagaimana KaK.”
”Kita harus tabah adikku. Kita doakan semoga Kak Azzam selamat.
Semoga Allah tidak memanggil dua-duanya.”
”Iya Mbak.” Husna memeluk adiknya kuat-kuat. Sesedih apapun
dirinya, saat ini dialah sang kakak. Dialah yang harus mengambil
langkah dan keputusan. Ia melepas pelukan adiknya. Lalu dengan
penuh cinta menyeka air mata adiknya.
”Dik, kita sudah besar dan dewasa. Kita harus saling dukung. Kita
akan hadapi ini bersama. Kita akan hadapi ini bersama.”
”Iya Mbak.” Pelan Lia di sela-sela isaknya.
Edited by : Bon Bon-q97 375
Husna menoleh ke Bu Mahbub, ”Di mana Pak Mahbub Bu?”
”Di depan sedang berbincang bersama Pak RT dan Pak War.”
Husna langsung ke depan diikuti Lia, Bu Mahbub dan Bu RT.
”Nak Husna.” Sapa Pak Mahbub, ”Kami semua ikut berduka cita.”
”Terima kasih Pak. Menurut Pak Mahbub, enaknya bagaimana?”
Tanya Husna.
”Begitu sampai di sini tadi saya diberi tahu oleh petugas bahwa
ibumu meninggal. Bisa jadi meninggal di tempat atau di jalan. Yang
jelas sampai di UGD nyawa beliau sudah tiada ada. Saya langsung
inisiatif minta para pemuda untuk menggali kubur. Hujan di sana
sudah reda.
”Karena kepala ibumu maaf mungkin retak atau pecah dengan darah
yang begitu banyak, saya langsung minta pihak rumah sakit menjahit
lukanya terus memandikan dan mengafaninya sekalian. Sekarang
sedang dikafani. Menurut Bapak sebaiknya hari ini juga
dikebumikan. Menurut sunnah kan menyegerakan penguburan
sernakin cepat semakin baik. Tapi semua keputusan ada di tangan
kamu dan Lia.” Kata Pak Mahbub dengan suara bergetar.
”Bagaimana menurutmu Dik?” Tanya Husna.
”Kalau yang terbaik hari ini juga dimakamkan, dan itu
memungkinkan itu lebih baik. Sebab setelah ini kita masih akan
menunggu Kak Azzam.” Jawab Lia.
”Kau benar Dik. Kalau begitu kita kuburkan sekarang.” Ucap Husna.
Edited by : Bon Bon-q97 376
”Kalau boleh usul lagi,” kata Pak Mahbub, ”Sebaiknya, nanti ada
salah satu di antara kalian yang di sini. Sewaktu waktu Azzam
bangun, dia langsung ada yang menghiburnya. Langsung ada yang
mendengar suaranya kalau dia pesan sesuatu.”
”Iya Pak. Biar saya di sini, dan Lia pulang bersama jenazah ibu.”
Seorang perawat laki-laki datang, ”Pak Jenazah sudah siap di ruang
sana.”
”Ayo kita ke sana.” Seru Pak Mahbub.
Semua yang ada di situ langsung bangkit menuju ruang jenazah
mengikuti perawat. Hati Husna berdebar debar. Seperti apa wajah
ibunya. Tiba-tiba ia merasa sangat rindu pada ibunya, padahal baru
tadi pagi ia membuatkan teh hangat untuknya. Husna melangkah
memasuki ruang jenazah. Hanya ada satu jenazah. Tak lain dan tak
bukan jenazah ibunya.
”Posisinya sudah kami buat seperti ini. Kalau ada yang mau shalat
jenazah di sini boleh.” Kata perawat itu.
Husna melangkah mendekati jenazah ibunya. Kepala ibunya yang
mulia itu diperban. Mukanya bersih menyungging senyum. Ada
sedikit darah di keningnya, tak bisa tidak tangisnya meledak kembali.
Ia ciumi wajah ibunya dengan keharuan luar biasa. Hidungnya ia
ciumkan ke mulut ibunya. Ia seperti mencium bau wangi teh yang
tadi pagi di minum ibunya. Ia kembali terisak.
”Sudah Nak, tabahkanlah hatimu!” Kata Pak Mahbub. Husna bangkit
gantian Lia yang menciumi wajah ibunya dengan terisak-isak.
”Bue aku mencintaimu Bue.” Hanya itu yang dikatakan Lia.
Edited by : Bon Bon-q97 377
”Husna, Lia, shalatilah ibumu di sini. Sebentar lagi jenazah ibumu
akan dibawa ke Sraten.”
”Baik Pak.” Jawab Husna dan Lia.
Dua gadis itu lalu mengambi air wudhu dan menshalati ibunda
mereka tercinta. Setelah dishalati jenazah itu dibawa ke mobil
jenazah ke dukuh Sraten, Kartasura. Lia dan Bu Mahbub ikut dalam
mobil jenazah. Sementara Pak Mahbub, Pak RT, Bu RT dan Pak
War ikut mobil Pak War.
Sore itu dukuh Sraten hujan air mata. Kiai Lutfi yang diberitahu Pak
Mahbub langsung datang seketika didampingi Bu Nyai dan Anna.
Pak Kiai menangis mendengar cerita tragis yang menimpa Azzam
dan ibunya. Pak Kiai Lutfi merasa sangat berdosa.
”Maafkan saya Nak Lia, kalau saja saya menerima permintaan ibumu
mungkin akan lain ceritanya.” Kata Pak Kiai pada Lia.
”Kematian itu kalau sudah datang tak bisa dielakkan Pak Kiai. Tak
ada salah Pak Kiai sama sekali. Yang salah ya sopir bus yang ugalugalan
itu.” Lirih Lia.
Sore itu jenazah Bu Nafis, ibunda Azzam, dimakamkan di bawah
langit yang mendung diiringi ratusan orang termasuk Kiai Lutfi.
Yang membuat masyarakat takjub, meskipun paginya hujan tetapi
lubang untuk mengubur Bu Nafis tidak keluar mata air. Hanya basah
saja.
Selesai mengubur ibunya Lia diantar oleh Anna dengan mobilnya
pergi ke PKU Muhammadiyah Delanggu untuk menemani Husna
yang sendirian di sana.
Edited by : Bon Bon-q97 378
26
DALAM DUKA
Husna menunggui kakaknya dengan terus berzikir kepada Allah dan
memperbanyak membaca shalawat kepada Rasulullah. Pipi kiri
kakaknya berdarah. Tangan kiri kakaknya berdarah. Juga kaki kiri
kakaknya. Ada selang kecil yang dimasukkan ke tangan kanannya.
Alat pendeteksi detak jantung kakaknya ada di samping ranjang. Ia
terus berdoa kepada Allah agar kakaknya segera siuman. Orang yang
sangat dicintainya itu kini terkulai tak berdaya. Dengan beberapa
bagian tubuh terkoyak dan berdarah.
Pukul lima sore, ia melihat tangan kakaknya bergerak. Lalu kedua
kelopak matanya bergerak. Lalu perlahan membuka.
”Kak Azzam.” Lirihnya dengan linangan air mata.
Azzam membuka kedua matanya. ”Allah.” Itulah kalimat yang
keluar dari getar bibirnya. Ia mengerjapkan matanya. Lalu melihat
adiknya, ”Husna.”
Edited by : Bon Bon-q97 379
Husna berusaha tersenyum pada kakaknya. ”Iya Kak. Alhamdulillah
kakak sudah siuman.”
”Ini rumah sakit ya?”
”Iya.”
”Mana bue?”
”Tenang kak. Bue baik di tempat istirahatnya.”
”Maafkan Kakak ya Dik. Kakak kecelakaan. Bue pasti kesakitan.
Maafkan.” Lirih Azzam sambil berlinang air mata. Azzam berusaha
menggerakkan badannya. Namun nyeri luar biasa.
Seorang perawat mendekat. ”Sudah siuman?”
”Alhamdulillah. Sudah Mbak.”
”Begini, pertolongan pertama sudah kami lakukan. Masa kritis kakak
Anda sudah lewat. Agar lebih terjaga. Sebaiknya kakak Anda dirawat
di Solo, di sana peralatan lebih lengkap. Terutama untuk operasi
tulang. Kami lihat kaki kiri kakak Anda patah. Semakin cepat
dioperasi akan semakin baik. Kami akan memberi rujukan silakan
pilih rumah sakit mana yang Mbak pilih.” Jelas perawat itu
”Yarsi bisa Mbak?”
”Bisa. Kalau begitu kami akan siapkan segalanya secepatnya.”
”Pokoknya siapkan yang terbaik untuk kakak saya.” ”Baik.”
Perawat itu pergi. Kedua mata Azzam berkaca-kaca mendengar
percakapan perawat itu dengan adiknya. Ia tahu apa yang terjadi pada
Edited by : Bon Bon-q97 380
dirinya. Kakinya patah harus dioperasi. Ia akan terkapar di rumah
sakit dalam waktu yang lama. Dan ia akan istirahat di rumah dalam
waktu yang lama. Di Cairo dulu pernah ada mahasiswa Indonesia
yang dioperasi karena patah tulang saat sepakbola. Dan untuk
sembuh ia harus istirahat yang lama.
”Jika kaki kakak patah, lalu bue bagaimana Dik?” ”Dia baik Kak,
sedang istirahat.” ”Jelaskan pada Kakak.” ”Kakak jangan mikir bue
dulu.” ”Terus bue sama siapa sekarang?”
”Sama Lia. Bue sudah dibawa pulang tadi.”
”Jadi bue tidak apa-apa?”
”Sekarang sudah tidak apa-apa. Bue sudah tenang.”
”Syukurlah.” Kata Azzam sambil memejamkan mata.
”Ambulan sudah siap. Kita bisa langsung ke Solo.” Perawat tadi
datang lagi.
”Kita langsung berangkat Mbak?”
”Iya. Tapi Mbak selesaikan dulu administrasinya di sana ya. Kami
akan membawa kakakmu ke ambulan.”
”Baik.”
Husna melangkah ke bagian administrasi. Dua perawat pria datang
dan mendorong ranjang Azzam menuju ambulan. Ketika melangkah
ke bagian administrasi Lia dan Anna datang.
”Semoga musibah ini jadi sumber pahala ya Na. Kami ikut berduka.”
Lirih Anna sambil merangkul Husna. ”Terima kasih sudah mau
Edited by : Bon Bon-q97 381
datang.” Jawab Husna ”Bagaimana kak Azzam Mbak?” Tanya Lia
”Ada tulang yang patah, ini mau dirujuk ke Solo yang lebih lengkap
peralatannya. Kak Azzam harus operasi tulang.”
”Inna lillah.” Lirih Lia.
”Kasihan dia. Semoga kakakmu diberi ketabahan oleh Allah.” Ucap
Anna pelan.
”Dik kau bawa uang? Kakak cuma ada tiga ratus ribu. Kita harus
selesaikan administrasi dulu baru berangkat.
”Saya cuma ada seratus ribu. Ayo coba dulu berapa semuanya.” Kata
Husna sambil melangkah ke loket. ”Yang mau dipindah ke Solo ya?”
Tanya pegawai loket.
”Iya.”
”Semuanya satu juta setengah Mbak. Sudah semuanya. Sudah
termasuk biaya dua ambulan.”
”Dik Lia, gimana nih. Kita cuma ada empat ratus ribu.” Husna agak
bingung.
”ATM kakak?” Tanya Lia.
”Kosong, sudah habis untuk persiapan nikah.” Husna panik.
”Masih kurang berapa? Pakai uangku dulu saja.” Anna tahu
kepanikan Husna dan Lia.
”Satu juta seratus Mbak.” Jawab Husna. ”Tunggu aku ambil dulu di
ATM.” Anna melangkah keluar mengambil uang di ATM. Tak lama
kemudian Anna datang dan menyerahkan uang kepada Husna.
Edited by : Bon Bon-q97 382
”Kelihatannya banyak sekali. Berapa ini Mbak?” Tanya Husna.
”Aku ambil lima juta. Pakai saja dulu. Nanti di Solo kalian pasti
perlu ini itu.”
”Terima kasih Mbak. Insya Allah nanti saya kembalikan secepatnya.
Sebenamya saya yakin Kak Azzam masih punya uang.”
”Sudah biarkan Mas Azzam itu tenang dulu. Nggak usah mikir uang
dulu kasihan dia.” Kata Anna.
Setelah membereskan administrasi mereka berangkat ke Solo.
Gantian Lia yang menemani Azzam di mobil ambulan. Dan Husna
ikut mobil Anna Althafunnisa. Hari Sudah mulai gelap ketika
mereka masuk di R.S. Yarsi. Begitu sampai Husna langsung bilang
kepada pihak rumah sakit, ”Tolong berikan yang terbaik untuk
kakakku. Operasi yang terbaik. Berapa pun biayanya tidak jadi soal.
Saya yang menanggung. Ini kartu identitas saya Ayatul Husna,
Psikolog dan Dosen di UNS.”
Kata-kata Husna tegas. Ia tahu banyak rumah sakit yang kurang
memperhatikan pasien hanya gara-gara sang pasien atau keluarga
pasien dianggap tidak punya biaya.
”Baik.” Jawab pihak rumah sakit.
Diam-diam Anna kagum juga dengan ketegasan Husna. Tiba-tiba ia
merasa kecil dibandingkan gadis yang ada di hadapannya itu. Gadis
yang ditempa oleh pelbagai masalah kehidupan. Dan ketika ia kagum
pada gadis itu maka mau tak mau ia harus kagum pada kakaknya.
Kakaknyalah yang mendidik adiknya itu dari jarak jauh.
”Tadi kami sudah berusaha mencegah bue. Kak Azzam juga
sebenarnya tidak mau. Tapi bue ngotot. Sebelum pergi bue minta
dibuatkan teh hangat. Bue berkata, ’Teh buatanmu lain rasanya Na.
Edited by : Bon Bon-q97 383
Enak. Ibu ingin meminumnya barangkali untuk kali terakhir.’
Ternyata memang itulah terakhir kalinya minum teh hangat
buatanku.” Husna bercerita sambil berlinang air mata pada Anna.
Hal itu malah membuat mata Anna berkaca-kaca.
”Iya tadi di rumah beliau juga minum teh buatanku. Kelihatannya
beliau ceria sekali. Abah sempat menawarkan agar beliau saya
antarkan pulang ke rumah pakai mobil. Tapi beliau tidak mau. Beliau
ngotot menerobos gerimis bersama Mas Azzam ke rumah Kiai
Kamal. Abah sangat menyesal dalam hal ini, karena tidak memenuhi
harapan ibumu.” Kata Anna terisak. Di dalam hati Anna merasa
dirinyalah pangkal musibah ini. Abahnya menolak mengisi pengajian
di acara walimah itu karena merasa terpukul dengan kegagalan
pernikahannya dengan Furqan. Maka dialah pangkal musibah ini.
Itulah perasaan berdosa Anna yang menggelayut di pikirannya.
”Abahmu tidak salah. Memang sudah tiba ajalnya. Orang kalau
sudah tiba ajalnya ada saja sebab yang menjadi perantaranya.” Ujar
Husna pada Anna.
”Kau benar. Terus bagaimana dengan pesta perkawinanmu nanti?”
”Itu nanti. Yang sekarang ada dalam pikiranku adalah bagaimana
agar kakakku bisa kembali seperti semula. Aku ingin kakakku bisa
berjalan seperti semula. Kaki dan tangan kakakkulah yang turut
menempa jati diri seorang Husna. Sekarang ini yang aku pedulikan
hanyalah kakakku.”
”Kau begitu sayang pada kakakmu.”
”Kalau kau punya kakak seperti dia aku yakin kau pasti sayang
padanya.”
”Semoga dia baik-baik saja.” ”Amin.”
Edited by : Bon Bon-q97 384
Malam itu Azzam harus masuk ruang operasi. Setelah dirongent ia
mengalami patah di betis kirinya, lengan bawah tangan kiri, dan dua
tulang rusuk dada kirinya. Ia harus operasi tulang kaki dan
tangannya. Husna dan Lia tetap di sana sampai operasi selesai. Anna
dengan setia menemani dua gadis yang sedang dalam duka itu.
Sesekali Anna keluar membelikan makan buat mereka.
Jam dua malam operasi itu selesai. Azzam dimasukkan ke dalam
kamar kelas satu. Husna yang minta. Uang bisa dicari belakangan
yang penting nyaman. Dokter bedah yang meyakinkan Husna, Lia
dan Anna bahwa Azzam akan bisa kembali seperti sedia kala.
”Insya Allah, dia akan pulih lagi. Hanya nanti tentu perlu proses
sampai tulang-tulangnya menyatu dan kuat lagi- Kami akan beri obat
penyambung tulang terbaik.
Bersyukurlah bahwa yang patah bukan tulang belakangnya. Dan
alhamdulillah kepalanya tidak apa-apa. Hanya gegar ringan yang itu
biasa dalam kecelakaan ringan sekalipun. Saya dulu pernah jatuh dari
tempat tidur kepala membentur lantai dan gegar ringan. Insya Allah
nanti dia akan sembuh seperti semula. Tenang saja.”
Dokter muda yang bernama Yusuf itu dengan sangat ramah
menjelaskan secara detil apa yang dialami Azzam. Penjelasan itu
membuat hati Husna, Lia dan Anna lega. Mereka bertiga berjaga di
rumah sakit itu sampai pagi. Setelah operasi Azzam tertidur. Ia tidak
tahu bahwa Anna juga turut menjaganya bersama adik-adiknya.
Pagi harinya Pak Mahbub mengantarkan Vivi dan keluarganya
menjenguk Azzam. Saat itu Azzam sedang sedih-sedihnya karena
diberi tahu bahwa ibunya telah meninggal dunia. Azzam sudah bisa
diajak berbincang bincang siapa saja. Begitu ia tahu Vivi dan
keluarganya datang ia menyeka air matanya dan menata jiwanya.
Edited by : Bon Bon-q97 385
Vivi menatap Azzam dengan linangan air mata.
”Maafkan saya, mungkin saya harus tetap terbaring di sini. Sehingga
saya tidak mungkin ke Kudus untuk akad nikah denganmu. Maafkan.
Kita manusia hanya bisa berikhtiar tapi Allah jugalah yang
menentukan.” Ucap Azzam pada Vivi yang di dampingi kedua orang
tuanya.
”Bersabarlah. Ini musibah kita bersama. Aku akan setia
menunggumu, sampai kau sembuh.” Vivi menenangkan Azzam dan
membesarkan jiwanya.
”Terima kasih Vivi. Kau baik sekali. Kau tahu berapa lama lagi kirakira
akan sembuh. Temanku di Mesir dulu menunggu sampai satu
tahun baru dia bisa berjalan. Aku tak ingin mengikatmu dengan rasa
kasihanmu padaku. Pertunangan itu belumlah akad nikah. Itu baru
semacam perjanjian. Aku tidak ingin menzalimimu. Sejak sekarang
aku beri kebebasan kepadamu. Kalau kau sabar menunggu ku maka
terima kasihku padamu tiada terhingga. Kalau kau ternyata di tengah
penantian merasa tidak kuat, maka kau boleh menikah dengan siapa
yang kau suka. Aku tahu umurmu sama dengan umurku. Sebentar
lagi kau berkepala tiga.” Kata Azzam dengan lapang dada.
Husna takjub dengan kata-kata kakaknya itu. Kakaknya benar-benar
dewasa cara berpikirnya. Dan hebatnya kakaknya tidak mau
dikasihani. Kakaknya masih menunjukkan karakternya sebagai
Khairul Azzam yang pantang menyerah. Khairul Azzam yang sangat
percaya dan yakin akan karunia Allah.
“Aku akan berusaha setia.” Kata Vivi. ”Terima kasih atas kebesaran
jiwamu.” Lanjut gadis yang berprofesi sebagai dokter di Puskesmas
Sayung itu.
Edited by : Bon Bon-q97 386
Setelah merasa cukup Pak Mahbub dan keluarga dari Kudus minta
pamit. Sebelum meninggalkan ruangan itu Vivi masih sempat
melihatnya kembali. Dan tersenyum padanya sebelum pergi. Azzam
berusaha tersenyum. Begitu Vivi pergi Azzam menangis tersedusedu.
Ia teringat pesta pernikahannya yang batal. Ia teringat gerbang
pernikahan yang ada di depan mata.
”Kenapa kita harus banyak menangis hari-hari ini ya Na?” Tanya
Azzam pada adiknya.
”Mungkin Allah sedang menyiapkan cara agar kita bisa tersenyum
indah setelahnya.” Jawab Husna. ”Semoga jawabanmu itu benar.”
”Insya Allah kak. Janji Allah bersama kesukaran pasti ada
kemudahan.”
”Allah tidak akan mengingkari janji-Nya.” ”Pasti.”
Dan Husna juga membatalkan pernikahannya. Ia mengatakan kepada
Ilyas bahwa ia akan menikah setelah kakaknya bisa berjalan. Ia tidak
akan meninggalkan kakaknya terkapar sendirian di rumah sakit,
sementara ia berbulan madu dengan suaminya. Ia lalu mengatakan
kepada Ilyas seperti yang dikatakan kakaknya pada Vivi,
”Mas Ilyas tentu paham bahwa pertunangan itu belumlah akad nikah.
Itu baru semacam perjanjian. Au tidak ingin menzalimimu. Sejak
sekarang aku berkebebasan kepadamu. Kalau kau sabar menungguku
maka terima kasihku padamu tiada terhingga. Kalau kau ternyata di
tengah penantian merasa tidak kuat, maka kau boleh menikah dengan
siapa yang kau suka.”
Jawaban Ilyas hampir mirip dengan jawaban Vivi, ”Insya Allah aku
akan setia padamu. Akan aku selesaikan dulu masterku baru aku
akan menikahimu.”
Edited by : Bon Bon-q97 387
”Terima kasih Mas.”
Azzam dirawat di rumah sakit selama sepuluh hari. Selama sepuluh
hari, hampir setiap hari selalu ada yang datang menjenguk. Selain
warga dukuh Sraten, karyawannya di bisnis bakso dan foto copy,
banyak juga jamaah pengajian Al Hikam yang datang. Setiap kali ada
yang datang, semangat hidup Azzam berkobar, semangatnya untuk
sembuh menyala.
Dalam sebuah perenungan akan duka yang dialaminya, Azzam
menulis puisi dalam hatinya untuk meneguhkan jiwanya:
dalam duka
kita berguru pada hujan
yang terus menyiram
arang hitam
dengan kesabaran
siang malam
kuncup-kuncup pun bermekaran
meneguhkan harapan-harapan
Pada hari ke delapan dan ke sembilan Azzam dilatih bagaimana
menggunakan krek. Setelah dilihat bisa menggunakan krek dengan
baik dan pengaruh gegar kepalanya hilang Azzam diperbolehkan
pulang. Dokter menyarankan untuk banyak di rumah dulu dan
menasihati untuk tidak sekali-kali berjalan atau berdiri tanpa
bersandar pada krek.
”Kau boleh lepas krek, kalau aku sudah mengatakan kau boleh
lepas!” Demikian kata Dokter Yusuf sesaat sebelum pulang.
Pada saat ia siap untuk keluar kamar Kiai Lutfi datang, bersama Bu
Nyai dan Anna. Kiai Lutfi minta maaf kepada Azzam atas peristiwa
Edited by : Bon Bon-q97 388
pagi hari itu. Kiai Lutfi tak henti hentinya menyesali penolakannya
waktu itu.
”Kalau aku penuhi permintaan ibumu mungkin tidak terjadi
kecelakaan. Sungguh aku mohon maaf Azzam. Aku merasa
berdosa.” Kata Kiai Lutfi.
”Pak Kiai tidak salah. Ini sudah tercatat di sana.” Jawab Azzam
sambil mengacungkan tangan kanannya ke atas. ”Terus bagaimana
dengan kelanjutan pernikahanmu?” Tanya Kiai Lutfi.
”Biarlah Allah yang menentukan.” Jawab Azzam.
Edited by : Bon Bon-q97 389
27
JIWA YANG BANGKIT
Azzam harus menunggu kesembuhannya di rumah. Dokter
mengatakan ia baru boleh lepas krek kira-kira jika sudah sepuluh
bulan sejak dioperasi. Azzam hanya bisa beraktivitas di dalam
rumah. Bulan pertama aktivitasnya ada di kamarnya, ruang tamu,
dapur, dan kamar mandi.
Yang paling susah saat ia akan mandi atau buang air besar. Perban
yang ada di kaki kiri dan tangan kiri tidak boleh terkena air. Untuk
buang air besar ia tidak bisa jongkok. Sangat susah jongkok dengan
kaki satu. Dan jika ia nekat jongkok maka tulang rusuknya yang
patah akan terasa sakit. Luar biasa sakitnya.
Husna punya akal. Ia mengambil kursi kayu. Lalu minta kepada
Kang Paimo agar melubangi bagian tengahnya. Sehingga Azzam bisa
duduk ketika buang air besar. Juga bisa duduk saat mandi. Husna
sangat perhatian pada kakaknya. Sebelum mandi dia begitu teliti
mencari plastik dan membungkus kaki kiri dan tangan kiri Azzam
dengan plastik. Sehingga perbannya tetap kering dan aman.
Edited by : Bon Bon-q97 390
”Kakak kalau mandi sebaiknya duduk saja. Kaki kiri diselonjorkan.
Pokoknya jangan pernah sekali-kali bertumpu dengan kaki kiri. Ingat
kaki kiri Kakak patah dan belum tersambung betul. Dan kalau
mengambil air hati-hati. Tangan kiri diangkat ke atas. Jangan sampai
perban basah. Luka bekas operasi belum kering.”
Begitu kata Husna selalu mengingatkan setiap kali Azzam mau
mandi. Husna seolah menjadi ibu Azzam, juga sekaligus perawat
Azzam yang setia, bahkan teman berbagi duka yang tiada duanya.
Jika Husna tidak ada maka Lia dengan setia membantu kakaknya.
Memasuki bulan ketiga Azzam mulai jenuh terus di rumah ia seperti
hidup dalam rumah tahanan. Ia minta pada Husna agar memanggil
Kang Paimo. Lalu ia minta pada Husna agar menemaninya keliling
kota Solo dengan mobil yang dikemudikan Kang Paimo. Ia tengok
warung baksonya yang sempat tutup beberapa minggu. Husnalah
yang berinisiatif agar warung baksonya tetap buka.
Selama Azzam berada di rumah, hampir setiap minggu selalu ada
tamu yang datang mengunjunginya. Baik tamu itu para tetangga,
jamaah pengajian Al Hikam, maupun teman atau kenalan yang
datang mengejutkan. Suatu hari Eliana datang dengan memakai
busana muslimah yang sangat modis. Putri Dubes itu tampak anggun
dan mempesona. Eliana kaget melihat kondisi yang menimpa Azzam
dan keluarganya. Bintang sinetron itu menitikkan air matanya ketika
Husna menceritakan apa yang menimpa keluarganya.
”Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Ibu telah tiada. Padahal aku
ingin kembali mencium tangannya. Aku bawakan kerudung Turki
untuk ibu. Oleh-oleh dari umroh dua minggu yang lalu.” Ucap Eliana
dengan muka sedih.
”Jadi syuting film di Solo Mbak?” Tanya Lia.
Edited by : Bon Bon-q97 391
”Besok insya Allah mulai syuting. Saya datang lebih awal agar bisa
mampir di sini. Ada yang aku rindukan di sini.” Jawab Eliana.
”Siapa yang dirindukan Mbak?” Tanya Lia lagi.
”Dia.” Kata Eliana sambil menunjuk Azzam. ”Entah kenapa akhirakhir
ini hati aku terasa tidak enak. Aku heran kok terbayang dia
selalu. Jawabannya baru aku ketahui setelah sampai di sini.”
Lanjutnya. Gadis lulusan EHESS Prancis itu begitu berterus terang
dengan santainya. Azzam merasakan getaran lembut mendengar
perkataan Eliana. Azzam langsung mengingat tunangannya di Kudus
sana. Lia yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya
langsung bertanya,
”Apa Mbak mencintai kakak saya?”
Azzam dan Husna kaget mendengar kalimat yang meluncur dari
mulut Lia. Sementara Eliana kaget sesaat namun langsung bisa
menguasai dirinya. Dengan menunduk dia berkata, ”Sejak di
Alexandria dulu, ketika aku mau memberinya hadiah ciuman dan dia
tidak mau. Dia bersikukuh memegang teguh prinsip-prinsip Islam
yang diyakininya, aku tahu kakakmu ini orang yang berkarakter dan
berjiwa. Sejak itu aku sudah mencintainya. Tapi aku gengsi untuk
menyampaikan padanya.”
”Kalau sekarang setelah kecelakaan ini apa Mbak masih suka
padanya?”
”Kecelakaan seperti ini biasa saja. Nanti juga sembuh seperti sedia
kala. Kecelakaan seperti ini hanyalah kecelakaan fisik ringan tak
akan mengubah orang yang hatinya ada cinta. Jika kecelakaannya
adalah kecelakaan moral seperti zina misalnya maka itu akan
menghilangkan cinta. Rasa sukaku masih sama.”
”Sayang Mbak Eliana menyampaikan ini semua sudah terlambat.”
Edited by : Bon Bon-q97 392
”Maksud Dik Lia.”
”Dia sudah punya tunangan.”
Eliana tampak kecewa. ”Mungkin memang belum jodohnya.”
Ucapnya pelan.
* * *
Suatu hari saat ia jalan-jalan lagi keliling kota Solo, ia mampir di
warung bakso cintanya di UMS. Para karyawannya tampak lesu.
Pengunjung tidak ada seorang pun. Azzam merasa ada yang janggal.
Dengan langkah tertatih-tatih pakai krek Azzam bertanya, ”Ada apa
sebenarnya? Kalian tampak lesu tidak bergairah?”
”Kita difitnah Mas?”
”Difitnah apa?”
”Kita difitnah bakso kita ada formalinnya. Bahkan lebih keji lagi kita
difitnah bakso kita dibuat dari cacahan bangkai tikus.”
Azzam kaget. ”Astaghfirullah Benarkah?”
”Iya. Sudah dua hari ini sepi. Ketika saya tanya pada pelanggan setia
kita dia berterus terang tidak mau lagi beli bakso kita karena alasan
itu.”
”Kalian tahu siapa yang memfitnah?”
”Tidak Mas. Tapi itulah yang beredar di sekitar kampus.”
”Baik. Tenang. Akan aku pikirkan jalan keluarnya. Para mahasiswa
saja mudah dihasut dan difitnah rupanya.” Kata Azzam dengan
Edited by : Bon Bon-q97 393
kening berkerut. Ia harus segera menemukan jalan terbaik untuk
menepis fitnah itu. Kalau tidak usaha andalannya akan gulung tikar.
Azzam langsung pulang ke rumah dan bermusyawarah dengan Lia
dan Husna.
”Kita lapor saja ke polisi Kak? Lapor saja sama Si Mahras itu, biar
diuber siapa pemfitnahnya.” Usul Lia.
Namun ia merasa bahwa usul Lia belum benar-benar menyelesaikan
masalah.
”Kita pindah usaha saja Kak. Usaha yang lain. Kan masih banyak.
Kalau dua hari sama sekali tidak ada yang datang itu artinya sudah
sangat payah. Kalau diteruskan benar-benar akan buntung kita.” Kata
Husna.
”Itu hanya akan membuat si pemfitnah senang. Memang tujuan dia
membuat fitnah ya agar kita tidak jualan bakso. Aku tak mau
mundur!” Kata Azzam. Ia terus berpikir bagaimana caranya ia seribu
langkah lebih maju dari pesaingnya. Ia yakin yang memfitnahnya
adalah salah satu dari pesaing yang tidak ingin dia bangkit dan maju.
”Aku ketemu ide!” Teriak Azzam.
”Apa itu Kak?” Tanya Lia.
”Kita tunjukkan profesionalitas kita. Orang yang suka memfitnah
dalam bisnis biasanya adalah orang yang tidak profesional. Orang
yang cetek cara berpikirnya. Kita harus lebih maju dan lebih canggih
lagi sehingga fitnahnya hanya akan menjadi kentut di tengah padang
pasir. Alias tidak ada pengaruhnya.
”Terus apa langkah Kakak?” Tanya Husna.
Edited by : Bon Bon-q97 394
”Kita luruskan isi fitnah itu dengan argumentasi ilmiah. Ketika kita
meluruskan sekaligus kita promosi kecanggihan dan kualitas
dagangan kita.”
”Caranya bagaimana Kak?”
”Kita dituduh memakai formalin, terus difitnah memakai bangkai
tikus. Kita harus luruskan itu. Caranya pertama kita berikan contoh
produk kita ke Departemen Kesehatan. Minta keterangan isi
kandungan bakso kita. Sekaligus minta keterangan dari Depkes
bahwa bakso kita adalah bakso yang menyehatkan. Kedua kita
berikan contohnya juga ke MUI kita minta sertifikat halal. Setelah
kita sudah dapat sertifikat dari Depkes dan MUI kita kopi sertifikat
itu dengan minta legalisasi dari Depkes dan MUI kita sebar ke
seluruh penjuru kota Solo. Kita juga akan pasang iklan di Solo Pos
kitalah bakso sehat yang utama dan pertama di Indonesia.
Bagaimana?” Kata Azzam menjelaskan langkah-langkah yang harus
ditempuhnya.
”Kakak memang jagonya bisnis!” Seru Lia.
”Baik aku yang ke Depkes dan Lia yang ke MUI Solo, okay?” sahut
Husna.
”Okay.” Jawab Lia.
Sambil menunggu sertifikat jadi, sementara warung bakso libur.
Begitu sertifikat jadi Azzam langsung membuat semacam grand
opening untuk warung baksonya dengan mengundang para aktifis
kampus dan aktifis dakwah. Ia juga mengundang beberapa wartawan.
Seketika warung baksonya berjubel-jubel pengunjungnya setelah itu.
Keuntungannya dua kali lipat lebih banyak.
Edited by : Bon Bon-q97 395
Bahkan ada seorang mahasiswa asal Semarang yang tertarik untuk
membuka cabang ’Bakso Cinta’ di Semarang. Sejak itu Azzam
merasa baksonya layak difranchisekan. Dua cabang langsung ia
buka. Di Semarang dan di Jogjakarta. Dengan ketegaran luar biasa
Azzam bangkit dari keterpurukannya.
Sebenarnya berkali-kali rasa putus asa karena kecelakaan itu hendak
membelitnya, tapi ia sama sekali tidak mau rasa putus asa sedikit pun
menjamah dirinya. Berkenalan pun ia tidak mau dengan yang
namanya putus asa. Ia teringat perkataan Vince Lombard: Once you
learn to quit, it becomes a habit. Sekali saja kamu belajar untuk
berputus asa maka akan menjadi kebiasaan!
Azzam terus bangkit, pelan-pelan ia merasakan kembali gairah hidup
yang sesungguhnya. Setiap kali melihat Husna dan Lia ia merasa
bahwa dirinya masih diberi karunia yang agung oleh Allah SWT.
Husna dan Lia adalah dua permata jiwanya. Ia sangat menyayangi
kedua adiknya itu. Ia berpikir bagaimana jika ia tidak punya adik
mereka. Sanggupkah ia melalui hari-hari dukanya dengan penuh
ketegaran. Betapa banyak ia temukan seorang kakak memilik adik
yang sama sekali tidak hormat pada kakaknya. Adik yang tidak
mencintai kakaknya. Ia bersyukur memiliki adik yang sedemikian
ikhlas merawatnya dan membesarkan hatinya.
Siang itu sepucuk surat datang dibawa oleh Bu Mahbub untuknya. Ia
baca pengirimnya adalah Alviana Rahmana Putri alias Vivi. Ia buka
surat itu dengan penuh penasaran. Ia terkejut di dalamnya ada
cincinnya. Cincin yang dulu dipakaikan ibunya ke jari Vivi. Ia sudah
bisa menerka apa isinya. Tapi ia baca juga:
Yang saya hormati
Mas Khairul Azzam
Di Kartasura
Edited by : Bon Bon-q97 396
Assalamu’alaikum wr wb
Vivi tulis surat ini, sungguh dengan hati hancur, dan linangan air
mata yang terus mengalir. Harus Vivi katakan sungguh Vivi sangat
mencintai Mas. Tapi inilah Vivi, Siti Nurbaya di abad millenium.
Ibu Vivi punya teman Bu Nyai yang punya putra baru pulang dari
Syiria. Bu Nyai itu melamar Vivi. Dan ibu lebih memilih putra Bu
Nyai itu. Vivi sudah berusaha menjelaskan bahwa Vivi memilih setia
pada Mas Azzam. Tapi ibu malah sakit dan meminta aku untuk
memilih di antara dua hal; pilih ibu atau pilih Azzam.
Saat kau baca suratku ini Mas, kau pasti paham kenapa surat ini aku
kirimkan bersama cincin ini.
Maafkan diriku, jika kau anggap aku mengkhianatimu. Terima kasih
atas kebesaran jiwamu.
Wassalam,
Yang lemah tiada daya
Vivi
Ia menangis membaca surat itu. Cincin yang telah ! dipakaikan
ibunya di jari Vivi tak ada gunanya. Ia merasa di dunia ini tak ada
lagi orang yang setia pada cinta. Betapa mudah hati berubah-ubah. Ia
tersedu-sedu sendirian di kamar tamu. Pada saat itulah Husna
muncul. Ia serahkan surat itu pada Husna. Seketika Husna
berkata,”Jangan cengeng Kak, apakah kakak tidak ingat kakak
katakan pada pada Vivi ketika dia menjengukmu. Bukankah kakak
mengatakan: Sejak sekarang aku beri kebebasan kepadamu. Kalau
kau sabar menungguku maka terima kasihku padamu tiada
terhingga. Kalau kau ternyata di tengah penantian merasa tidak
kuat, maka kau boleh menikah dengan siapa yang kau suka. Kakak
Edited by : Bon Bon-q97 397
harus jadi lelaki sejati yang siap menghadapi dari setiap kata yang
telah diucapkan!”
Kata-kata Husna itu langsung melecut jiwanya. Ia tidak boleh lemah.
Ia harus buktikan pada dunia bahwa ia mampu untuk sukses dan
berguna. Ia kembali mengingat perkataan Vince Lombard:
Sekali saja kamu belajar untuk berputus asa maka akan menjadi
kebiasaan!
”Kak, yakinlah hanya jari gadis yang berhati bersih yang akan
menerima cincin itu. Percayalah Kak!” Husna memberi semangat.
”Ya aku percaya adikku. Hanya gadis yang berhati bersih yang akan
menerima cincin ini. Cincin yang dipilih oleh ibu kita tercinta.”
”Oh iya Kak. Bagaimana kalau kakak coba memberikan cincin ini
pada Eliana?”
Hati Azzam bergetar mendengar usul adiknya. Eliana ya Eliana.
Terakhir bertemu, gadis lulusan Prancis itu datang secara terangterangan
menyampaikan rasa cintanya padanya. Apakah mungkin
gadis itu adalah jodohnya? Apakah dirinya siap memiliki isteri
seorang artis yang kecantikannya dinikmati oleh sekian juta pemirsa?
Kecantikan itu jadi milik bersama bukan dirinya saja yang
memilikinya, karena memang kecantikan itu dijual untuk disuguhkan
kepada para pemirsa. Azzam jadi berpikir ketika nama Eliana
kembali disebut-sebut adiknya.
Azzam terus menumbuhkan harapan sembuh dalam hatinya. Ia
begitu iri setiap kali melihat ada anak kecil bisa berlari-lari dan
melompat-lompat seenaknya. Ingin rasanya seperti mereka berlari
dan melompat seenaknya karena kedua tulang kaki tidak ada
Edited by : Bon Bon-q97 398
masalah. Sementara dirinya belum bertumpu pada kaki kirinya. Tak
boleh ada beban untuk kaki kirinya.
Setelah sepuluh bulan lamanya hidup dalam sepi. Dokter
memutuskan Azzam boleh mulai latihan pelan pelan tidak
menggunakan krek. Tapi tetap sebagian besar tumpuan tubuh saat
berjalan dengan krek. Barulah setelah satu tahun Azzam bisa berjalan
normal tanpa krek. Ia sudah kembali bisa mengendarai mobil sendiri.
Azzam kembali aktif ke masjid. Juga aktif kembali memberi
pengajian Al Hikam di Pesantren Daarul Quran Wangen. Setiap kali
Azzam yang mengisi pengajian itu jamaah membludak memenuhi
masjid.
Dalam bisnis Azzam juga terus bangkit lebih baik. Bakso cintanya
kini sudah punya sepuluh cabang di luar Solo. Yaitu di Semarang,
Jogja, Salatiga, Klaten, Bandung, Jakarta, Depok, Malang, Surabaya,
dan Kudus. Ia bahkan mulai merambah bisnis percetakan dan
penerbitan. Ia mulai penerbitannya dengan menerbitkan buku-buku
yang ditulis adiknya sendiri yaitu Ayatul Husna.
Lambat laun ia dikenal sebagai entrepreneur muda dari Solo yang
sukses sekaligus dikenal sebagai dai muda yang mampu menyihir
hadirin jika ia sudah ada di atas panggung. Setiap minggu ia punya
rubrik khusus tentang motivasi bisnis Islami di radio Jaya Pemuda
Muslim Indonesia Solo.
Suatu sore setelah shalat ashar di atas mimbar Pesantren Daarul
Quran Wangen ia menjelaskan kandungan perkataan Imam Ibnu
Athaillah As Sakandari,
”Jamaah yang dimuliakan Allah, Ibnu Athaillah dalam kitab Al
Hikamnya mengatakan, ”Memperoleh buah amal di dunia adalah
kabar gembira bagi orang yang beribadah akan bakal adanya
Edited by : Bon Bon-q97 399
pahala di akhirat.” Maksudnya jika ada orang ikhlas beribadah
kepada Allah di dunia ini, dan orang itu merasakan buahnya ibadah
itu misalnya ketenangan hati, kejernihan pikiran, keluarga yang
sakinah, anak-anak yang shaleh, kerinduan untuk semakin giat
beribadah, merasakan kelezatan ibadah dan lain sebagainya. Itu
semua menjadi kabar gembira bahwa kelak di akhirat akan ada
pahala yang lebih lezat, pahala yang lebih agung dari Allah ’Azza wa
Jalla.”
Edited by : Bon Bon-q97 400
28
BARAKAH CINCIN IBU
”Bagaimana Kak? Mau mencoba memberikan cincin itu pada
Eliana? Kalau kakak malu, biar Husna yang bilang sama dia.”
”Na, hatiku masih bimbang.”
”Insya Allah dia bisa jadi isteri yang baik. Aku sudah baca di koran
dia sudah berniat tidak akan melepas jilbabnya setelah umrah.”
”Dunia yang kuimpikan rasanya berbeda dengan dunia yang
diimpikannya. Aku juga belum menerima kecantikan isteriku setiap
hari dinikmati jutaan orang. Di antara jutaan orang itu mungkin ada
yang membayangkan yang bukan-bukan ketika melihat wajah
isteriku di layar kaca. Entah kenapa aku belum bisa. Mungkin aku ini
kolot dan koneservatif. Ya inilah aku. Jelas Azzam pada Husna.
”Husna paham yang Kak Azzam inginkan. Bagaimana kalau Kak
Azzam coba cari di pesantren. Kan ada ribuan santriwati di Solo dan
sekitarnya ini. Kakak minta tolong aja sama pengasuhnya. Minta satu
Edited by : Bon Bon-q97 401
saja santriwatinya. Masak sih tidak juga ada satu orang pun yang
mau.” ”Mungkin ini juga ikhtiar yang harus kakak tempuh.” ”Ya
coba saja Kak. Kata orang Arab yang sering Husna dengar dari para
ustadz man jadda wajada. Siapa yang sungguh-sungguh akan
mendapatkan apa yang diinginkannya.”
”Benar Dik. Tapi enaknya ke pesantren mana ya?” ”Menurut Husna
ya dimulai yang paling dekat dan paling dikenal. Tak ada salahnya
dicoba dulu Pesantren Wangen.”
”Masak muternya ke Pesantren Wangen lagi?”
”Kenapa memangnya?”
”Malu sama Kiai Lutfi.”
”Malu kalau dikira mau melamar anaknya yang janda? Ya kakak
jelaskan saja minta santriwatinya. Kakak jelaskan apa adanya. Minta
santriwati yang cocok untuk kakak. Pak Kiai pasti akan bijak dan
legowo. Banyak juga kok kak santriwati di Wangen yang tak kalah
dengan Vivi.” Husna mencoba menyemangati kakaknya.
”Oh ya kak hampir lupa. Husna pernah hutang sama Anna lima juta
untuk biaya administrasi rumah sakit. Mumpung ingat. Kakak
bayarkan ya. Kalau bisa hari ini biar tidak lupa lagi. Tidak enak
rasanya. Sudah hampir satu tahun lho kak. Jangan-jangan Anna
sebenarnya perlu dengan uang itu tapi malu menagihnya.” ”Baik
nanti sore insya Allah kakak akan ke sana.”
* * *
Sore itu Kiai Lutfi dan Bu Nyai Nur membantu putrinya Mengemasi
dan merapikan barang-barang yang akan dibawa terbang ke Cairo.
Sudah satu tahun lebih Anna di Indonesia. Tesis yang ditulisnya
Edited by : Bon Bon-q97 402
sudah dua pertiga. Tinggal sepertiga lagi hendak dirampungkan di
Mesir.
”Jangan lama-lama di sana ya Nduk?” Tanya Pak Kiai Lutfi.
”Insya Allah Bah. Anna akan berusaha secepatnya. Yang sering jadi
kendala itu justru administrasi di Fakultas yang sering berbelit dan
molor Bah. Sering juga yang jadi kendala adalah promotor yang
sering terbang ke luar negeri. Sebab-sebab itu yang seringkali
membuat tesis jadi tidak selesai-selesai. Ya doakan saja Bah.”
”Tak pernah putus Abah dan Ummimu berdoa untukmu anakku. Oh
jadinya naik apa ke Caironya?”
”Kata teman yang mengurus di Jakarta naik Etihad Bah. Katanya itu
sekarang yang paling murah.”
Mereka bertiga ada di ruang tengah. Ruang itu dengan ruang tamu
disekat dengan kaca riben hitam tebal. Sehingga dari ruang tengah
bisa melihat ruang tamu dan tidak sebaliknya. Hanya bertiga mereka
menata pakaian, oleh-oleh, dan buku-buku yang akan dibawa Anna
ke Cairo.
”Kalau di Cairo kau rasa ada yang cocok untuk jadi suami ya tidak
apa-apa kau nikah di sana Nduk. Kau kan sudah janda, sudah lebih
bebas menentukan pilihanmu. Nanti Abah bisa kirim surat taukil32 ke
KBRI untuk menikahkan kamu.” Seloroh Pak Kiai Lutfi.
”Anna agak trauma dengan pilihan Anna Bah. Anna sudah berjanji
pada diri Anna sekarang Anna serahkan pada Abah dan Ummi siapa
yang akan mendampingi hidup Anna. Sekarang Anna sudah tidak
sedikitpun mempertimbangkan fisik lagi. Ibaratnya kalau ada orang
32 Surat kuasa mewakilkan.
Edited by : Bon Bon-q97 403
buta jadi pilihan Abah, Anna akan terima dengan kelapangan
hati.”Jawab Anna.
”Masak Ummi sama Abah mau memilihkan yang begitu untukmu.”
Tukas Bu Nyai Nur.
”Itu ibarat saja Mi. Tapi seandainya benar juga tidak ada masalah.
Orang buta, apalagi butanya sejak kecil malah tidak banyak maksiat.
Di Mesir banyak guru besar yang buta. Tapi keilmuan dan
ketakwaannya luar biasa.”
Ketika sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba...”Assalamu
’alaikum”.
Pak Kiai Lutfi, Bu Nyai dan Anna spontan melihat ke arah pintu
depan. Mereka agak kaget ketika tahu siapa yang datang. Azzam.
Setelah menjawab salam, Pak Kiai Lutfi langsung bangkit dan
menemui tamunya. Azzam mencium tangan Kiai Lutfi dengan rasa
ta’zhim. Anna melihat apa yang dilakukan Azzam. Entah kenapa hati
Anna berdesir-desir.
”Dari mana Zam?” Pak Kiai Lutfi membuka percakapan sambil
menyandarkan punggungnya di sofa yang terbuat dari busa.
”Biasa Pak Kiai, dari warung bakso. Namanya juga penjual bakso.”
”Wah besok kalau kau punya anak bakal senang itu anakmu. Tiap
hari bisa makan bakso. Habis bakso kau buka saja warung pecel lele.
Biar tiap hari makan Lele. Sampai mukanya kaya Lele. He... he...
he...!”
”Wah Pak Kiai ini bisa saja kalau bercanda.” Sahut Azzam sambil
tersenyum.
Edited by : Bon Bon-q97 404
Di dalam Bu Nyai Nur dan Anna tersenyum mendengar cara Kiai
Lutfi bercanda.
”Nduk, Abahmu itu bisa saja bercanda. Oh ya Nduk, Ummi ke
belakang dulu. Ummi lupa mengambil jemuran. Sri belum pulang.”
Kata Bu Nyai setengah berbisik.
”Biar Anna saja yang mengambilnya Mi.” Lirih Anna ”Tidak usah,
biar Ummi saja. Kau teruskan saja mengemasi barang-barangmu.”
”Bagaimana dengan kesehatanmu Zam?”
”Alhamdulillah sudah baik semua Pak Kiai. Seperti yang Pak Kiai
lihat, saya sudah bisa berjalan seperti semula. Tangan yang patah
sudah tersambung seperti semula. Dan tulang iga yang patah juga
sudah baik lagi. Rongent terakhir semuanya sudah tak ada masalah
menurut dokter. Hanya saja pen-nya belum diambil. Mungkin ya
diambil satu dua tahun lagi.”
”Alhamdulillah kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Terus
ngomong-ngomong ini ada perlu apa kamu sore ini kemari. Kok
rasanya agak berbeda dengan biasanya?”
”Begini Pak Kiai, ternyata kami masih punya hutang sama Anna.
Hampir kelupaan. Mohon sampaikan maaf pada Anna. Dulu Husna
pernah pinjam uang lima juta pada Anna untuk bayar administrasi
rumah sakit. Ini saya datang untuk membayar hutang itu.” Azzam
menjelaskan maksud kedatangannya.
Di dalam, Anna sangat berharap agar ayahnya menolak uang itu.
Agar uang itu dianggap lunas saja. Tapi Kiai Lutfi justru menjawab,
”Ini namanya rezeki. Kau datang tepat waktu Zam. Kebetulan Anna
mau pergi jauh. Itu bisa untuk uang saku baginya. Terima kasih
Zam.”
Edited by : Bon Bon-q97 405
”Pergi ke mana, kalau boleh tahu Pak Kiai?”
”Kembali ke Cairo. Dia mau menyelesaikan S2-nya.
”Alhamdulillah, semoga segera selesai. Ummat ini memerlukan ahli
fiqh seperti Anna. Kalau perlu dia harus sampai doktor Pak Kiai.
Saya sangat kagum padanya saat melihatnya jadi moderator.”
”Di mana?”
”Di Auditorium Shalah Kamil. Bahasa Arab dan Inggrinya bagus.
Dia sampai jadi pembicaraan para mahasiswa di kampus lho Pak
Kiai. Sampai ada yang ingin menyuratinya. Ada saja yang ingin
meminangnya, dan lain sebagainya. Namanya juga anak muda.”
”Dan kau juga ikut membicarakannya?”
”Kalau saya ya beraninya dalam batin saja Pak Kiai. Lha saya ini
siapa, saat itu hanya dikenal mahasiswa yang tidak lulus-lulus karena
jualan bakso. Mana berani ikut ikutan memmbicarakan dia.”
Anna jadi teringat dengan seminar sehari tentang Ulama Permpuan
di Asia Tenggara yang diadakan PMRAM, HW, PPMI, Wihdah dan
ICMI di Auditorium Shalah Kamil Universitas Al Azhar. Sebuah
seminar akbar yang dikuti oleh mahasiswa Asia Tenggara yang ada
di Mesir. Dan saat itu ia didaulat untuk jadi moderatornya. Anna
berkata dalam hati, ”Oh ternyata dia juga ikut seminar itu, pantas dia
tahu.”
”O iya Pak Kiai, saya masih ada perlu satu lagi.” Kata Azzam sambil
memandang wajah Kiai Lutfi. Wajah itu tampak begitu teduh dan
sejuk.
”Apa itu?”
Edited by : Bon Bon-q97 406
”Saya mau sedikit minta tolong pada Pak Kiai. Begini Pak Kiai,
cincin ini yang membeli dan memilih adalah almarhumah ibu.” Kata
Azzam dengan bibir bergetar. Jantungnya mulai berdegup semakin
kencang.
”Azzam sudah berikhtiar pelbagai macam jalan dan acara untuk
menemukan jari yang cocok memakai cincin ini. Terakhir sudah
terpasang cincin ini pada jari seorang gadis dari Kudus. Dan tinggal
menunggu hari akad nikah ternyata musibah jadi penghalang. Cincin
ini dikembalikan. Dan gadis itu menikah dengan orang lain.”
”Pak Kiai, sore ini Azzam datang kemari juga dalam rangka ikhtiar
mencari jari siapa yang cocok dan pas menerima cincin ini. Di sini
ada ratusan santri perempuan tidak adakah satu orang saja yang
pantas dan mau memakai cincin ini?
”Pak Kiai, Azzam titipkan cincin ini pada Pak Kiai sebab Azzam
merasa berat untuk menyimpannya, begitu Pak Kiai merasa ada yang
pantas memakainya silakan Pak Kiai pakaikan di jarinya. Azzam
akan sami’na wa atha’na. Azzam akan memejamkan mata dan ikut
pada apa yang Pak Kiai pilihkan.”
Dengan penuh pasrah Azzam menyerahkan cincin yang dibelikan
ibunya itu pada Kiai Lutfi. Tak jauh dari situ, hanya beberapa meter
saja jaraknya, di balik kaca hitam pekat tak terlihat, seorang
perempuan bermata indah mendengarkan kalimat-kalimat Azzam
dengan hati penuh harap. Penuh harap agar cincin itu disematkan
saja dijarinya. Kiai Lutfi langsung paham apa maksud Azzam
menyerahkan cincin itu padanya.
”Nak, aku mau cerita, sebuah kisah nyata, maukah kau
mendengarkan?” Kata Kiai Lutfi.
”Ya Pak Kiai, dengan senang hati dan lapangnya dada.”
Edited by : Bon Bon-q97 407
”Ada seorang gadis yang halus hatinya. Patuh dan bakti pada kedua
orang tuanya. Apapun yang diinginkan orang tuanya pasti
dikabulkannya. Gadis itu shalihah insya Allah. Gadis itu sangat takut
pada Tuhannya. Cinta pada nabinya. Bangga dengan agama yang
dipeluknya. Suatu hari gadis itu dilamar pemuda yang dianggapnya
akan membahagiakannya. Ia menerima lamarannya. Kedua orang
tuanya merestuinya. Nikahlah gadis itu dengan sang pemuda. Hari
berjalan. Bulan berganti bulan. Orang tuanya beranggapan bahwa
putrinya telah menemukan kebahagiaannya. Tenyata anggapan itu
tidak sama dengan kenyataan. Enam bulan menikah pemuda yang
menikahinya tidak mampu melakukan tugasnya sebagai suami. Gadis
itu masih perawan. Masih suci. Pemuda itu lalu menceraikannya.
Sejak sekarang pertanyaanku. Maukah kau menikah dengan gadis
itu?”
Hati Anna bergetar hebat. Air matanya meleleh. Hatinya penuh harap
semoga Azzam menerima gadis itu. Sebab gadis yang diceritakan
Abahnya pada Azzam adalah dirinya.
”Dia shalihah Pak Kiai?”
”Insya Allah.”. ”Jika Pak Kiai yang menjamin, maka saya mau!”
”Kau tidak ragu?”
”Saya mau tanya pada Pak Kiai apa dia menurut Pak Kiai pantas
untuk saya dan saya pantas untuknya?”
”Insya Allah.”
”Kalau begitu saya tidak ragu sama sekali Pak Kiai.”
”Baiklah kalau begitu shalatlah maghrib di sini. Dirimu akan aku
nikahkan dengan gadis itu bakda shalat maghrib. Yang jadi saksi
Edited by : Bon Bon-q97 408
adalah masyarakat yang jamaah di sini dan para santri. Maharnya
cincin emas ini.”
”Masalah surat-surat resminya Pak Kiai?”
”Itu gampang. Besok langsung diurus di KUA. Ketua KUA nya
malah biasanya shalat maghrib di sini. ”
”Kenapa tidak besok sekalian Pak Kiai?”
”Cincinmu ini amanah bagiku Nak, aku khawatir nyawaku tidak
sampai besok pagi sehingga aku tidak bisa menunaikan amanahmu.”
”Kalau boleh tahu, gadis itu asal mana, dan siapa namanya Pak
Kiai?”
”Dia asli Wangen sini, dia putriku sendiri namanya Anna
Althafunnisa.”
”Anna Pak Kiai?”
”Iya. Apakah kau keberatan aku nikahkan dengan Anna?”
”Tidak Pak Kiai.” Jawab Azzam dengan linangan air mata.
”Tapi Pak Kiai?”
”Tapi apa?”
”Bagaimana dengan iddahnya.”
”Sudah lama terlewati masa iddahnya. Kamu tak usah
mengkhawatirkan masalah itu. Dia telah menikah tapi sampai
sekarang masih perawan. Dia janda, tapi janda kembang. Janda yang
Edited by : Bon Bon-q97 409
mahkota kewanitaannya masih utuh. Dia sama saja belum pernah
menikah sebenarnya.”
”Maaf apa sebaiknya tidak ditanyakan dulu ke keluarga Furqan.
Siapa tahu Furqan sudah sembuh. Terus ingin rujuk pada Anna. Dan
siapa tahu sebenarnya Anna ingin rujuk pada Furqan. Sebab Furqan
itu teman baik saya, Pak Kiai. Saya tidak ingin menikah di atas
penderitaan orang lain. Apalagi teman saya sendiri.”
”Anna sudah berkali-kali bilang tidak mungkin lagi mau rujuk pada
Furqan. Dan Anna sudah menyerahkan urusan jodohnya pada
Abahnya ini. Dia bahkan bilang seandainya orang buta sekalipun
yang aku bawakan padanya, dia akan taat. Jadi tidak ada masalah
sama sekali.”
”Apa harus habis maghrib ini Pak Kiai?”
”Apa kau tidak siap?” Tantang Pak Kiai Lutfi.
Di balik dinding kaca hitam, Anna Althafunnisa menahan harunya. Ia
mendengar percakapan Azzam dengan Abahnya dengan dada
bergetar. Ia sangat berharap pernikahannya dengan Azzam benarbenar
terjadi setelah shalat maghrib.
”Baik, saya siap Pak Kiai!” Jawab Azzam mantap.
Anna langsung sujud syukur dengan tubuh bergetar karena
merasakan anugerah yang datang begitu tiba-tiba. la teringat kembali
pertemuannya dengan Azzam pertama kali waktu ditolongnya
dengan taksi. Ia ingat kembali saat ia menanyakan namanya;lalu ia
menunduk dan hanya memperkenalkan namanya dengan
mengatakan: Abdullah. Ia sangat berteri kasih dan kagum pada
pemuda itu ketika itu. Sampai kini pemuda itu akan menikahinya.
Edited by : Bon Bon-q97 410
Sementara Azzam berusaha keras untuk menahan air matanya. Ia
tidak mau air matanya meleleh di depan calon mertuanya. Ia ingat
pertama kali mendengar nama Anna dari Pak Ali, sopir KBRI. Lalu
ia cari informasi. Ternyata Anna adalah bintangnya mahasiswi
Indonesia yang ramai dibicarakan dan didambakan orang. Ia nekat
meminangnya lewat Ustadz Mujab, tapi Ustadz Mujab memberikan
jawaban yang tidak pernah dilupakannya.
Ia masih ingat betul kata-kata Ustadz Mujab:
“Allahlah yang mengatur perjalanan hidup ini. Sungguh aku ingin
membantumu Rul. Tapi agaknya takdir tidak menghendaki aku bisa
membantumu kali ini. Anna Althafunnisa masih terhitung sepupu
denganku. Aku tahu persis keaadaan dia saat ini. Sayang kau datang
tidak tepat pada waktuya. Anna Althafunnisa sudah dilamar
orang. Ia sudah dilamar oleh temanmu sendiri.”
Allahlah yang mengatur hidup ini. Kalau memang jodohku adalah
Anna Althafunnisa seperti apapun berliku adanya maka akan sampai
pada jodohnya. Itulah yang ada di benak Azzam. Meski ia berusaha
menahan,tapi matanya tetap berkaca-kaca.
Langit cerah. Ufuk barat memerah. Angin berhembus. Daun mangga
jatuh. Senja bertasbih. Burung- burung pulang ke sangkarnya dengan
bertasbih. Para santri di masjid ada yang menghafal Alfiyah, ada yang
membaca Al Quran, ada yang membaca ma’tsurat, dan ada juga yang
memilih duduk menghadap kiblat dengan bertasbih.
Azan maghrib berkumandang. Azzam menjawab panggilan azan
dengan hati bergetar. Jiwanya ia pasrahkan semuanya kepada Allah.
Sementara Anna bersiap dengan mukena putihnya. Ia larut dalam
zikir mengagungkan Allah.
Edited by : Bon Bon-q97 411
Senja itu langit cerah. Angin mengalir dari sawah. Bintang-bintang
bertasbih. Shalat didirikan. Selesai shalat Kiai Lutfi naik mimbar,
setelah membaca hamdalah dan shalawat pengasuh pesantren itu
memberikan pengumuman singkat,
”Jamaah shalat maghrib, santri-santriku yang aku sayangi. Malam
ini pengajian tafsir Jalalain waktunya diganti bakda Isya. Insya
Allah bakda maghrib ini akan ada peristiwa bersejarah yang
penting. Yaitu saya akan menikahkan Anna Althafunnisa dengan
Khairul Azzam. Saya mohon kepada semua yang ada di masjid ini
untuk menjadi saksi!”
Setelah itu Pak Kiai turun dan memanggil Azzam untuk maju ke
depan. Azzam maju dengan langkah gemetaran. Lebih dari seribu
mata santri memandang ke arahnya. Pak Kiai duduk di depan
mihrab. Azzam duduk tertunduk di hadapannya. Pak Kiai memanggil
seorang santri senior bernama Hamid, seorang pria berumur empat
puluh lima tahunan bernama Pak Fadlun. Pak Fadlun adalah kepala
KUA Kecamatan Polanharjo. Sebelum akad Pak Kiai berkata pada
Pak Fadlun, ”Tolong Pak Fadlun sampeyan jadi saksi, dan sekalian
kau catat dan kau buatkan surat nikahnya. Persyaratan berkasberkasnya
menyusul ya.”
”Inggih Pak Kiai.” Jawab Pak Fadlun.
Azzam mendengar percakapan itu. Hatinya semakin mantap. Di
lantai dua, Anna menanti detik-detik membahagiakan itu dengan
tidak sabar. Ia segera ingin resmi jadi isteri Azzam, agar status
jandanya segera hilang.
Pak Kiai memulai prosesi akad nikah. Sebelumnya ia membatakan
khutbah nikah secara singkat. Semua dalam bahasa Arab. Khutbah
nikahnya baginda Nabi ketika menikahkan Fatimah dengan Ali.
Khutbah yang ditulis banyak ulama dalam kitab-kitab fiqh. Lalu Kiai
Edited by : Bon Bon-q97 412
Lutfi berkata kepada Azzam,”Ya Khairul Azzam, anikahtuka wa
tazwijatuka binti Anna Althafunnisa bi mahri al khatam min dzahab
haalan”33
”Qiiiltu nikahaha wa tazwijaha bi mahril madzkur haalan”34 Jawab
Azzam spontan. Di lantai dua Anna langsung memeluk Umminya
yang ada di samping. Ibu dan anak larut dalam tangis bahagia.
”Ummi, Anna sudah punya suami lagi. Anna tidak janda lagi. Dan
suami Anna kali ini adalah orang yang sebenamya selama ini Anna
cintai.” Kata Anna setengah berbisik pada ibunya.
”Iya Nduk, alhamdulillah.”
Selesai akad Pak Kiai membaca doa, yang diamini semua santri yang
memenuhi masjid itu. Setelah itu para santri menyalami Azzam
dengan senyum mengembang. Pak Kiai hendak membawa Azzam ke
rumah untuk menemi isterinya.
Azzam menjawab, ”Perkenankan saya i’tikaf Pak Kiai sampai Isya.”
”Jangan panggil Pak Kiai lagi. Panggillah Abah. Sekarag kau
menantuku Zam.” ”Baik Abah.”
Pak Kiai tetap pulang, dan meminta isteri dan anak putrinya
menyiapkan sesuatu yang bisa digunakan untuk menyambut sang
menantu setelah shalat Isya’.
33 ”Wahai Khairul Azzam, aku nikahkan dan aku kawinkan kamu dengan putriku
Anna Althafunnisa dengan mahar cincin emas dibayar tunai.”
34 ”Aku terima menikah dan mengawininya dengan mahar tersebut dibayar tunai.”
Edited by : Bon Bon-q97 413
29
DAN CINTA PUN BERTASBIH
Anna tidak sabar untuk segera bertemu Azzam. Selesai shalat Isya ia
berharap Azzam akan dibawa Abahnya langsung ke rumah. Tapi
Abahnya malah meminta Azzam untuk memberikan pengajian Tafsir
Jalalain. Dengan agak berat Azzam maju ke mimbar pesantren. Ia
meminjam kitab Tafsir seorang santri. Di atas mimbar setelah
membaca hamdalah, Azzam berkata,
”Para santri Pesantren Wangen yang saya cintai. Jujur saya tidak siap
untuk membacakan Tafsir Jalalain. Saya tidak punya persiapan apaapa.
Saya tidak mau ngawur dalam memahami tafsir ayat-ayat suci
Al-Quran. Sebagai gantinya saya akan sedikit bercerita saja. Semoga
ada gunanya.
Saya awali dari sebuah kisah yang sangat menggugah saya. Suatu
siang, saat saya masih kuliah di Universitas Al Azhar Kairo, sekitar
tahun 1999 saya membeli majalah Al ij’uu Al Islami yang diterbitkan
oleh Kementerian Wakaf Kuwait. Sampai di flat, karena lelah, yang
Edited by : Bon Bon-q97 414
saya baca dulu adalah suplemen majalah itu. Yaitu majalah tipis
untuk anak, namanya Bara’imul Iman.
Dalam keadaan lelah saya memang biasa membaca bacaan yang
ringan dan menghibur. Pokoknya harus tetap membaca. Termasuk
majalah anak-anak. Bahkan, saat itu saya juga sering membaca
komik Donal Bebek versi bahasa Arabnya. Selain ringan, lucu,
menghibur, seringkali saya juga menemukan kosa kata baru dan lucu
dalam bahasa Arab. Jadi dalam lelah pun masih tetap bisa
mendapatkan manfaat berlipat.
Di majalah Bara’imul Iman yang saya pegang itu saya menemukan
sebuah kisah yang sangat bergizi dan memotivasi. Sebuah kisah fabel
yang sangat menggugah dan inspiratif judulnya Kisah Seekor Anak
Singa.
Alkisah, di sebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang mati
setelah melahirkan anaknya. Bayi singa yang lemah itu hidup tanpa
perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian serombongan
kambing datang melintasi tempat itu. Bayi singa itu menggerakgerakkan
tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak
hatinya. Ia merasa iba melihat anak singa yang lemah dan hidup
sebatang kara. Dan terbitlah nalurinya untuk merawat dan
melindungi bayi singa itu.
Sang induk kambing lalu menghampiri bayi singa itu dan membelai
dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Merasakan hangatnya
kasih sayang seperti itu, sibayi singa tidak mau berpisah dengan sang
induk kambing. Ia terus mengikuti ke mana saja induk kambing
pergi. Jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing itu.
Hari berganti hari, dan anak singa tumbuh dan besar dalam asuhan
induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing. Ia menyusu,
makan, minum, bermain bersama anak-anak kambing lainnya.
Edited by : Bon Bon-q97 415
Tingkah lakunya juga layaknya kambing. Bahkan anak singa yang
mulai berani dan besar itu pun mengeluarkan suara layaknya
kambing yaitu mengembik bukan mengaum!
la merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambingkambing
lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya
adalah seekor singa.
Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala buas masuk
memburu kambing untuk dimangsa. Kambing-kambing berlarian
panik. Semua ketakutan. Induk kambing yang juga ketakutan
meminta anak singa itu untuk menghadapi serigala.
”Kamu singa, cepat hadapi serigala itu! Cukup keluarkan aumanmu
yang keras dan serigala itu pasti lari ketakutan!” Kata induk kambing
pada anak singa yang sudah tampak besar dan kekar.
Tapi anak singa yang sejak kecil hidup di tengah-tengah komunitas
kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung di balik
tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras-kerasnya dan yang keluar
dari mulutnya adalah suara embikan. Sama seperti kambing yang lain
bukan auman. Anak singa itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika salah
satu anak kambing yang tak lain adalah saudara sesusuannya
diterkam dan dibawa lari serigala.
Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan
serigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan nanar dan marah,
”Seharusnya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu bisa
menyelamatkan saudaramu! Seharusnya bisa mengusir serigala yang
jahat itu!”
Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia tidak paham dengan maksud
perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa takut pada serigala
Edited by : Bon Bon-q97 416
sebagaimana kambing-kambing lain. Anak singa itu merasa sangat
sedih karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Hari berikutnya serigala ganas itu datang lagi. Kembali memburu
kambing-kambing untuk disantap. Kali ini induk kambing tertangkap
dan telah dicengkeram oleh serigala. Semua kambing tidak ada yang
berani menolong. Anak singa itu tidak kuasa melihat induk kambing
yang telah ia anggap sebagai ibunya dicengkeram serigala. Dengan
nekat ia lari dan menyeruduk serigala itu. Serigala kaget bukan
kepalang melihat ada seekor singa di hadapannya. Ia melepaskan
cengkeramannya.
Serigala itu gemetar ketakutan! Nyalinya habis! Ia pasrah, ia merasa
hari itu adalah akhir hidupnya!
Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu berteriak keras,
”Emmbiiik!”
Lalu ia mundur ke belakang. Mengambil ancang ancang untuk
menyeruduk lagi.
Melihat tingkah anak singa itu, serigala yang ganas dan licik itu
langsung tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah singa yang
bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing.
Seketika itu juga ketakutannya hilang. Ia menggeram marah dan siap
memangsa kambing bertubuh singa itu! Atau singa bermental
kambing itu!
Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukkan kepalanya
layaknya kambing, sang serigala telah siap dengan kuda-kudanya
yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu merobek wajah anak
singa itu dengan cakarnya. Anak singa itu terjerembab dan
mengaduh, seperti kambing mengaduh. Sementara induk kambing
Edited by : Bon Bon-q97 417
menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luar biasa. Induk
kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan
serigala. Bukankah singa adalah raja hutan?
Tanpa memberi ampun sedikitpun serigala itu menyerang anak singa
yang masih mengaduh itu. Serigala itu siap menghabisi nyawa anak
singa itu. Di saat yang kritis itu, induk kambing yang tidak tega,
dengan sekuat tenaga menerjang sang serigala. Sang serigala
terpelanting. Anak singa bangun.
Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang
dahsyat!
Semua kambing ketakutan dan merapat! Anak singa itu juga ikut
takut dan ikut merapat. Sementara sang serigala langsung lari
terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing
itu, ia terkejut di tengah-tengah kawanan kambing itu ada seekor
anak singa.
Beberapa ekor kambing lari, yang lain langsung lari. Anak singa itu
langsung ikut lari. Singa itu masih tertegun. Ia heran kenapa anak
singa itu ikut lari mengikuti kambing? Ia mengejar anak singa itu dan
berkata,
”Hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing! Aku tak
akan memangsa anak singa!”
Namun anak singa itu terus lari dan lari. Singa dewasa itu terus
mengejar. Ia tidak jadi mengejar kawanan kambing, tapi malah
mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap. Anak singa
itu ketakutan,
”Jangan bunuh aku, ammpuun!”
Edited by : Bon Bon-q97 418
”Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak membunuh anak
singa!”
Dengan meronta-ronta anak singa itu berkata, ”Tidak aku anak
kambing! Tolong lepaskan aku!”
Anak singa itu meronta dan berteriak keras. Suaranya bukan auman
tapi suara embikan, persis seperti suara kambing.
Sang singa dewasa heran bukan main. Bagaimana mungkin ada anak
singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram ia
menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukkan siapa
sebenarnya anak singa itu. Begitu sampai di danau yang jernih
airnya, ia meminta anak singa itu melihat bayangan dirinya sendiri.
Lalu membandingkan dengan singa dewasa.
Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut, ”Oh, rupa
dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa, si raja hutan!”
”Ya, karena kamu sebenarnya anak singa. Bukan anak kambing!”
Tegas singa dewasa.
”Jadi aku bukan kambing? Aku adalah seekor singa!”
”Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa dan
ditakuti oleh seluruh isi hutan! Ayo aku ajari bagaimana menjadi
seekor raja hutan!” Kata sang singa dewasa.
Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan
mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu menirukan, dan
mengaum dengan keras. Ya mengaum, menggetarkan seantero hutan.
Tak jauh dari situ serigala ganas itu lari semakin kencang, ia
ketakutan mendengar auman anak singa itu.
Edited by : Bon Bon-q97 419
Anak singa itu kembali berteriak penuh kemenangan, ”Aku adalah
seekor singa! Raja hutan yang gagah perkasa!”
Singa dewasa tersenyum bahagia mendengarnya.
Saya tersentak oleh kisah anak singa di atas! Jangan jangan kondisi
kita, dan sebagian besar orang di sekeliling kita mirip dengan anak
singa di atas. Sekian lama hidup tanpa mengetahui jati diri dan
potensi terbaik yang dimilikinya.
Betapa banyak manusia yang menjalani hidup apa adanya, biasabiasa
saja, ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh
siapa dirinya sebenarnya. Hidup dalam tawanan rasa malas, langkah
yang penuh keraguan dan kegamangan. Hidup tanpa semangat hidup
yang seharusnya. Hidup tanpa kekuatan nyawa terbaik yang
dimilikinya.
Saya amati orang-orang di sekitar saya. Di antara mereka ada yang
telah menemukan jati dirinya. Hidup dinamis dan prestatif. Sangat
faham untuk apa ia hidup dan bagaimana ia harus hidup. Hari demi
hari ia lalui dengan penuh semangat dan optimis. Detik demi detik
yang dilaluinya adalah kumpulan prestasi dan rasa bahagia. Semakin
besar rintangan menghadap semakin besar pula semangatnya untuk
menaklukkannya.
Namun tidak sedikit yang hidup apa adanya. Mereka hidup apa
adanya karena tidak memiliki arah yang jelas. Tidak faham untuk apa
dia hidup, dan bagaimana ia harus hidup. Saya sering mendengar
orang-orang yang ketika ditanya, ”Bagaimana Anda menjalani hidup
Anda?” atau ”Apa prinsip hidup Anda?”, mereka menjawab dengan
jawaban yang filosofis,
”Saya menjalani hidup ini mengalir bagaikan air. Santai saja.”
Edited by : Bon Bon-q97 420
Tapi sayangnya mereka tidak benar-benar tahu filosofi ’mengalir
bagaikan air’. Mereka memahami hidup mengalir bagaikan air itu ya
hidup santai. Sebenarnya jawaban itu mencerminkan bahwa mereka
tidak tahu bagaimana mengisi hidup ini. Bagaimana cara hidup yang
berkualitas. Sebab mereka tidak tahu siapa sebenarnya diri mereka?
Potensi terbaik apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada
mereka. Bisa jadi mereka sebenarnya adalah ’seekor singa’ tapi tidak
tahu kalau dirinya ’seekor singa . Mereka menganggap dirinya adalah
’seekor kambing sebab selama ini hidup dalam kawanan kambing.
Filosofi menjalani hidup mengalir bagaikan air yang dimaknai
dengan hidup santai saja, atau hidup apa adanya bisa dibilang
prototipe, gaya hidup sebagian besar penduduk negeri ini. Bahkan
bisa jadi itu adalah gaya hidup sebagian besar masyarakat dunia
Islam saat ini.
Ketika saya pulang kampung, setelah sembilan tahun meninggalkan
kampung halaman untuk belajar di Cairo, saya menemukan tidak ada
perubahan berarti di kampung halaman saya. Cara berpikir
masyarakatnya masih sama. Cara hidupnya masih sama saja. Pak
Anu yang ketika saya masih di SD dulu kerjanya menggali sumur,
sampai saya pulang dari Mesir, bahkan sampai saat saya berdiri di
mimbar ini juga berprofesi menggali sumur. Bu Anu yang dulu
kerjanya menjual air memakai gerobak sampai sekarang juga tidak
berubah. Mbak Anu yang dulu jualan krupuk sambal di dekat SD
sampai sekarang juga masih di sana dan berjualan dagangan yang
sama.
Bahkan teman-teman yang dulu ketika di bangku sekolah dasar
terlihat begitu rajin dan cerdas, yang dulu pernah bercita-cita mau
jadi ini dan itu dan saya berharap ia telah meraih cita-citanya sekian
tahun berpisah ternyata jauh panggang dari api. Orang-orang yang
dulu hidup memprihatinkan ternyata sampai sekarang tidak berubah.
Edited by : Bon Bon-q97 421
Kenapa tidak berubah?
Jawabnya karena mereka tidak mau berubah.
Kenapa tidak mau berubah?
Jawabnya karena mereka tidak tahu bahwa mereka harus berubah.
Bahkan kalau mereka tahu mereka harus berubah, mereka tidak tahu
bagaimana caranya berubah. Sebab mereka terbiasa hidup pasrah.
Hidup tanpa rasa berdaya dalam keluh kesah. Dan cara hidup seperti
itu yang terus diwariskan turun-temurun.
Ada seorang sastrawan terkemuka, yang demi melihat kondisi bangsa
yang sedemikian akut rasa tidak berdayanya sampai dia mengatakan,
”Aku malu jadi orang Indonesia!”
Di mana-mana, kita lebih banyak menemukan orang orang bermental
lemah, hidup apa adanya dan tidak terarah. Orang-orang yang tidak
tahu potensi terbaik yang diberikan oleh Allah kepadanya. Orangorang
yang rela ditindas dan dijajah oleh kesengsaraan dan kehinaan.
Padahal sebenarnya jika mau, pasti bisa hidup merdeka, jaya,
berwibawa dan sejahtera.
Tak terhitung berapa jumlah masyarakat negeri ini yang bermental
kambing. Meskipun sebenarnya mereka adalah singa!
Banyak yang minder dengan bangsa lain. Seperti mindernya anak
singa bermental kambing pada serigala dalam kisah di atas. Padahal
sebenarnya, Bangsa ini adalah bangsa besar! Ummat ini adalah
ummat yang besar!
Bangsa ini sebenarnya adalah singa dewasa yang sebenarnya
memiliki kekuatan dahsyat. Bukan bangsa sekawanan kambing.
Edited by : Bon Bon-q97 422
Sekali rasa berdaya itu muncul dalam jiwa anak bangsa ini, maka ia
akan menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah singa yang tidak
boleh diremehkan sedikitpun.
Bangsa ini sebenarnya adalah Sriwijaya yang perkasa menguasai
nusantara. Juga sebenarnya adalah Majapahit yang digjaya dan
adikuasa. Lebih dari itu bangsa ini, sebenarnya, dan ini tidak
mungkin disangkal, adalah ummat Islam terbesar di dunia. Ada dua
ratus juta ummat Islam di negeri tercinta Indonesia ini.
Banyak yang tidak menyadari apa makna dari dua ratus juta jumlah
ummat Islam Indonesia. Banyak yang tidak sadar. Dianggap biasa
saja. Sama sekali tidak menyadari jati diri sesungguhnya.
Dua ratus juta ummat Islam di Indonesia, maknanya adalah dua ratus
juta singa. Penguasa belantara dunia. Itulah yang sebenarnya.
Sayangnya, dua ratus juta yang sebenarnya adalah singa justru
bermental kambing dan berperilaku layaknya kambing. Bukan
layaknya singa. Lebih memperihatinkan lagi, ada yang sudah
menyadari dirinya sesungguhnya singa tapi memilih untuk tetap
menjadi kambing. Karena telah terbiasa menjadi kambing maka ia
malu menjadi singa! Malu untuk maju dan berprestasi!
Yang lebih memprihatinkan lagi, mereka yang memilih tetap
menjadi kambing itu menginginkan yang lain tetap menjadi
kambing. Mereka ingin tetap jadi kambing sebab merasa tidak
mampu jadi singa dan merasa nyaman jadi kambing. Yang
menyedihkan, mereka tidak ingin orang lain jadi singa. Bahkan
mereka ingin orang lain jadi kambing yang lebih bodoh!
Marilah kita hayati diri kita sebagai seekor singa. Allah telah
memberi predikat kepada kita sebagai ummat terbaik di muka bumi
ini. Marilah kita bermental menjadi ummat terbaik. Jangan bermental
ummat yang terbelakang. Allah berfirman, ”Kalian adalah sebaikEdited
by : Bon Bon-q97 423
baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh
berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman
kepada Allah.!”35
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”
Pidato motivasi yang disampaikan Azzam membuat dada para santri
membara oleh semangat. Ketika Azzam turun, ia langsung disambut
dengan takbir yang menggema di seluruh masjid. Pak Kiai Lutfi
langsung memeluknya erat-erat dan mengatakan, ”Aku cinta padamu
Nak! Ini aku hadiahi kamu sorban yang paling kucintai, sorban
pendiri pesantren ini!” Azzam menerima sorban itu dengan linangan
air mata.
* * *
Dengan hati bergetar Azzam mengiringi Kiai Lutfi ke rumah. Ia lihat
dengan ujung matanya Anna dan Umminya sudah masuk duluan. Ia
sudah punya isteri. Inilah rezeki yang tidak di sangka-sangka
datangnya.
Begitu sampai Bu Nyai Nur langsung berkata kepadanya, ”Langsung
naiklah ke atas Nak! Isterimu sudah menunggu di sana. Di atas cuma
ada dua kamar, perpustakaan dan kamar isterimu. Kamar isterimu
yang ada di sebelah kanan. Yang pintunya ada tulisannya Anna .”
Azzam agak ragu.
”Jangan ragu, naiklah! Ini juga rumahmu.” Kata Kiai Lutfi
menguatkan.
Azzam naik ke atas. Hatinya berdegup kencang ketika sampai di
sebuah kamar yang ada tulisannya Anna. Ia ketuk kamar itu pelan
35Ali Imran: 110
Edited by : Bon Bon-q97 424
sambil mengucapkan salam. Ada suara yang bening menjawab dari
dalam. Pintu terbuka perlahan. Dan tampaklah bidadari itu di
hadapannya. Azzam masuk. Anna mengunci pintunya. Azzam
memandang Anna dengan mata berkaca-kaca. Anna memakai jilbab
dan baju birunya. Jilbab dan baju biru yang ia kenakan saat pertama
bertemu di Cairo. Saat ia menolong gadis yang kini jadi isterinya itu
dengan memberinya tumpangan taksi.
Anna menunduk malu. Dalam terpaan temaram cahaya lampu tidur
Anna tampak begitu jelita. Bau harum wangi yasmin merasuk jiwa.
Azzam maju dan mengangkat wajah isterinya, lalu lirih berkata,
”Apakah kau ridha dinikahkan Abahmu denganku?”
Anna menganggukkan kepala. Ternggorokannya tercekak haru. Ia
seperti tak mampu bicara.
”Kalau begitu duduklah, aku akan membacakan doa barakah.”
Anna menuruti perintah Azzam. Ia duduk di samping ranjang.
Azzam duduk di samping isterinya. Ia meletakkan sorban pemberian
Kiai Lutfi ke ranjang, lalu pelan tangan kanannya memegang ubunubun
isterinya dan membacakan doa barakah yang diajarkan
Rasulullah. Ann mengamini dengan air mata meleleh.
”Ayo kita sholat dulu!”
”Baik Mas.”
Mereka mengambil air wudhu lalu shalat. Selesai shalat Azzam
berdoa lagi. Anna mengamini. Setelah itu perlahan Anna melepas
mukenanya. Di balik mukena Anna memakai baju dan bawahan biru.
Azzam berdiri dan berkata pada Anna,
”Maaf Dik, aku harus pulang.”
Edited by : Bon Bon-q97 425
”Pulang ke mana?”
”Ke Sraten. Kasihan Husna dan Lia.”
”Mas tidak boleh pulang. Malam ini harus tidur di kamar ini.”
”Mereka nanti cemas kalau Mas tidak pulang.”
”Jangan khawatir Husna tadi sudah aku beritahu lewat handphone,
sebelum Mas masuk kamar ini. Dia titip salam.”
”Tapi aku harus pulang, ada urusan yang Husna tidak tahu.”
”Apa itu?”
”Memberi bumbu adonan bakso.”
”Apakah bakso itu lebih berharga dari isterimu ini Mas.”
”Tidak Dik, tentu kau lebih berharga. Bahkan dibanding dengan
dunia seisinya.”
”Kalau begitu sekarang lakukanlah tugasmu sebagai seorang suami.”
Ucap Anna pelan.
Jari-jari Anna memegang kancing baju birunya. Azzam melihat
dengan hati bergetar.
”Tunggu isteriku!” ”Kenapa?”
Azzam maju lalu perlahan mencium kening isterinya. Dengan suara
halus Azzam berkata kepada isterinya, ”Ini bukan tugasmu, ini tugas
suamimu!” Ia merebahkan isterinya pelan-pelan. Dengan mata
Edited by : Bon Bon-q97 426
berlinang Anna berkata, ”Mas Azzam, aku punya puisi untukmu,
mau kau mendengarkan?”
Azzam mengangguk dengan tangan terus bekerja untuk
menyempurnakan ibadah dua insan yang dimabuk cinta. Anna
berkata kepada Azzam:
Kaulah kekasihku Bukalah cadarku Sentuh suteraku Muliakan
mahkotaku Nikmati jamuanku Jangan khianati aku!
Azzam tersenyum, lalu mencium kembali kening isterinya. Lalu ia
membalas,
Bismillah, Kemaril ah cintaku Akan kubuka cadarmu dengan cintaku
Akan kusentuh suteramu dengan cintaku Akan kumuliakan
mahkotamu dengan cintaku Dan kunikmati jamuanmu dengan
cintaku Tak mungkin aku mengkhianatimu Karena aku cinta padamu
Kedua insan itu bertasbih menyempurnakan ibadah mereka sebagai
hamba-hamba Allah yang mengikuti sunnah para nabi dan rasul yang
mulia. Malam begitu indah. Rembulan mengintip malu di balik
pepohonan. Rerumputan bergoyang-goyang bertasbih dan
bersembahyang. Malam itu Azzam dan Anna merasa menjadi hamba
yang sangat disayang Tuhan.
Selesai shalat subuh, Azzam membaca Al Quran disimak oleh
isterinya tersayang. Setengah juz ia baca dengan tartil dan penuh
penghayatan. Ia telah melewatkan malam yang tak akan terlupakan
selama hidupnya. Anna tampak begitu ranum dan segar. Senyumnya
mengembang ketika suaminya selesai membaca Al Quran.
”Mau apa pagi ini sayang?” Tanya Anna.
”Terserah kau.”
Edited by : Bon Bon-q97 427
”Bagaimana kalau kita buka internet. Aku akan beritahu temanteman
di Cairo bahwa aku sudah tidak janda lagi.”
”Boleh, tapi di mana kita buka internet?”
”Di kamar samping. Komputernya ada line internetnya.”
”Baik. Ayo kita ke sana.”
Suami isteri itu lalu beranjak ke perpustakaan dan membuka internet.
Ketika mereka sedang berduaan di depan komputer, Kiai Lutfi
masuk ke perpustakaan. Kiai Lutfi tersenyum, lalu balik kanan,
sebelum pergi Kiai Lutfi bertanya pada Anna dengan nada canda,
”Nduk bagaimana jago yang Abah pilihkan?”
”Pilihan Abah tepat. Jagonya lebih hebat dari elang!” Jawab Anna
sekenanya.
Azzam langsung menguyek-uyek kepala isterinya dengan rasa cinta
dan sayang.
Anna melihat inbox emailnya. Email terbaru dari Furqan. Ia ingin
melewati email itu, tapi Azzam berkata, ”Coba buka emailnya apa
isinya?”
Mau tidak mau Anna membuka email mantan suaminya itu. Pelanpelan
email itu mereka baca berdua:
Untuk Anna Di Kartasura
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh. Semoga kau,
Abahmu, Ummimu, dan seluruh keluargaEdited
by : Bon Bon-q97 428
”Karena dipaksa, ya baiklah, dengan senang hati isteriku.” Ucap
Azzam pelan di telinga isterinya.
Mereka berdua kembali ke kamar dan menutup pintu kamar. Anna
kembali membacakan puisinya dengan sepenuh jiwa, Azzam
menjawab dengan suara bergetar,
Akan kumuliakan mahkotamu dengan cintaku
Dan kunikmati jamuanmu dengan cintaku
Tak mungkin aku mengkhianatimu Karena aku cinta padamu
Kedua insan itu kembali bertasbih menyempurnakan ibadah mereka
sebagai hamba-hamba Allah yang mengikuti sunnah para nabi dan
rasul yang mulia. Pagi begitu indah. Sang Surya mengintip malu di
balik pepohonan. Rerumputan bergoyang-goyang bertasbih dan
bersembahyang. Pagi itu Azzam dan Anna kembali merasa menjadi
hamba yang sangat disayang Tuhan. Fa biayyi aalaai Rabbikuma
tukadzibaan!
Candiwesi, Salatiga-Ciputat-Kukusan, Depok:
Oktober-Nopember 2007
Alhamdulillah wash shalatu was salamu ’ala Rasulillah.
Edited by : Bon Bon-q97 429
TENTANG NOVEL BERIKUTNYA
Alhamduliltah, dengan rahmat dan taufiq dari Allah Azza wa Jalla
dwilogi ”Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2” berhasil penulis
rampungkan. Dengan berleleran keringat dan berdarah-darah Azzam
akhirnya berhasil meraih apa yang diikhtiarkannya. Namun di
hadapan Azzam masih terbentang seribu satu tantangan kehidupan.
Tanggung jawabnya setelah rnenikah dengan Anna Althafunnisa
justru semakin berat. Azzam tak akan pernah benar-benar
beristirahat. Memang demikianlah seorang Muslim sejati seharusnya.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjelaskan, bahwa seorang
Muslim sejati akan benar-benar istirahat adalah jika kedua kakinya
telah menginjakkan pintu Surga. Sebelum itu tak ada istirahat, yang
ada adalah ikhtiar dan terus ikhtiar untuk menggapai cinta dan ridha
Allah Swt.
Lalu bagaimanakah nasib Eliana, Furqan, Husna, Zumrah, juga
Fadhil dan Cut Mala? Juga nasib Husna dan kedua adiknya?
Tentang perjuangan hidup Husna selanjutnya, juga perjuangan Eliana
untuk mendapatkan hidayah di tengah tengah kehidupan hedonis
yang mengepungnya, serta perjuangan Furqan untuk kembali bangkit
menciptakan masa depannya insya Allah penulis sedang menyiapkan
novel pembangun jiwa berikutnya berjudul: DARI SUJUD KE
SUJUD.
Kepada segenap pembaca yang penulis cintai; mohon doanya,
semoga novel DARI SUJUD KE SUJUD segera bisa penulis
selesaikan. Semoga Allah Swt. senantiasa mencurahkan hidayah dan
inayah-Nya kepada kita semua. Amin.
Wallahu waliyyut taufiq wal hidayah.
Salam cinta dan ta’zhim, Habiburrahman El Shirazy
Edited by : Bon Bon-q97 430
KITAB-KITAB YANG MENDAMPINGI PENULISAN NOVEL INI:
Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu, Prof. Dr. Wahbah Zuhaili, Dar Al
Fikr Al Mu’ashir, Damaskus, 2006
Al Hikam, Al Imam Ibnu ’Athaillah Al Sakandari, Thaha Putra,
Semarang, Tanpa Tahun
Al Islam Aqidatun Wa Syari’atum Al Imam Al Akbar Syaikh
Mahmoud Shaltout, Dar Al Syuruq, Cairo, 2004
Al Jami’ Li Ahkami Al Qur’an, Imam Al Qurthubi, Al Maktabah At
Taufiqiyyah, Cairo, Tanpa Tahun.
Al Mughni, Ibnu Qudamah, Al Maktabah Al Riyadh Al Haditsah,
Riyadh, Tanpa Tahun.
Al Qawaa’id Al Fiqhiyyah Baina Al Ashaalah Wa At Taujiih, Prof.
Dr. Muhammad Bakar Ismail, Daar Al Manaar, Cairo, 1997
Fathul Bari Bi Syarhi Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqalani,
Dar Al Hadits,1998
Min Taujihat Al Islam, Al Imam Al Akbar Syaikh Mahmoud
Shaltout, Dar Al Syuruq, Cairo, 2004
Shahih Muslim Bi Syarhin Nawawi, Imam Abu Zakariya An
Nawawi, Dar At Taqwa, Cairo, 2001
Subul Al Salam, Al Imam Al Shan’ani, Thaha Putra, Semarang, tanpa
tahun
Syarh Al Qawaid Al Fiqhiyyah, Syaikh Ahmad Muhammad Al
Zarqa, Dar Al Qalam, Damaskus, 1989.
Edited by : Bon Bon-q97 431
PROFIL PENULIS
HABIBURRRAHMAN EL SHIRAZY, lahir di Semarang, pada
hari Kamis, 30 September 1976. Sasterawan muda yang oleh
wartawan majalah Matabaca dijuluki ”Si Tangan Emas” karena
karya-karya yang lahir dari tangannya dinilai selalu fenomenal dan
best seller ini, memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah
1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al
Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan KH. Abdul Bashir
Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke Kota Budaya Surakarta
untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK)
Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan
pengembaraan intelektualnya ke Fak. Ushuluddin, Jurusan Hadis,
Universitas Al-Azhar, Cairo dan selesai pada tahun 1999. Telah
merampungkan Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for
Islamic Studies in Cairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri
(2001). Profil diri dan karyanya pernah menghiasi beberapa koran
dan majalah, baik lokal maupun nasional, seperti Jawa Post, Koran
Tempo, Solo Pos, Republika, Suara Merdeka, Annida, Saksi, Sabili,
Muslimah, Tempo, Majalah Swa dll.
Kang Abik—demikian novelis muda ini biasa dipanggil adikadiknya
— semasa di SLTA pernah menulis naskah teatrikal puisi
berjudul ”Dzikir Dajjal” sekaligus menyutradai pementasannya
bersama Teater Mbambung di Gedung Seni Wayang Orang
Sriwedari Surakarta (1994). Pernah meraih Juara II lomba menulis
artikel seMAN I Surakarta (1994). Pernah menjadi pemenang I
dalam lomba baca puisi relijius tingkat SLTA se-Jateng (diadakan
oleh panitia Book Fairx94 dan ICMI Orwil Jateng di Semarang,
1994). Pemenang I lomba pidato tingkat remaja se-eks Karesidenan
Surakarta (diadakan oleh Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS
Surakarta, 1994). Kang Abik juga pemenang I lomba pidato bahasa
Arab se-Jateng dan DIY yang diadakan oleh UMS Surakarta (1994).
Ia juga peraih Juara I lomba baca puisi Arab tingkat Nasional yang
Edited by : Bon Bon-q97 432
diadakan IMABA UGM Jogjakarta (1994). Pernah mengudara di
radio JPI Surakarta selama satu tahun (1994-
1995) mengisi acara Syarhil Quran setiap Jumat pagi. Pernah
menjadi pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se-
Jateng yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng (1995) dengan
judul tulisan, Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian
Remaja.
Ketika menempuh studi di Cairo, Mesir, Kang Abik pernah
memimpin kelompok kajian MISYKATI (Majelis Intensif Studi
Yurisprudens dan Kajian Pengetahuan Islam) di Cairo (1996-1997).
Pernah terpilih menjadi duta Indonesia untuk mengikuti
”Perkemahan Pemuda Islam Internasional Kedua” yang diadakan
oleh WAMY (The World Assembly of Moslem Youth) selama
sepuluh hari di kota Ismailia, Mesir (Juli 1996). Dalam perkemahan
itu. ia berkesempatan memberikan orasi berjudul ”Tahqiqul Amni
Was Salam Fil *Alam Bil Islam” (Realisasi Keamanan dan
Perdamaian di Dunia dengan Islam). Orasi tersebut terpilih sebagai
orasi terbaik kedua dari semua orasi yang disampaikan peserta
perkemahan berskala internasional tersebut. Pernah aktif
di Majelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI Orsat Cairo (1998-2000).
Dan pernah menjadi koordinator sastra Islam ICMI Orsat Cairo
selama dua periode (1998-2000 dan 2000-2002). Sastarawan muda
ini juga pernah dipercaya untuk duduk dalam Dewan Asaatidz
Pesantren Virtual Nahdhatul Ulama yang berpusat di Cairo. Dan
sempat memprakarsai berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) dan
Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Cairo.
Selain itu, Kang Abik, telah menghasilkan beberapa naskah drama
dan menyutradarai pementasannya di Cairo, di antaranya: Wa Islama
(1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf
Qardhawi yang berjudul ’Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah
Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insaniyyah al Islam
Edited by : Bon Bon-q97 433
terkodifikasi dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh
Kelompok Kajian MISYKATI Cairo, 1998). Berkesempatan menjadi
Ketua Tim Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu
menara ”NAFAS PERADABAN” (diterbitkan oleh ICMI Orsat
Cairo, 2000).
Kang Abik, telah menghasilkan beberapa karya terjemahan, seperti
Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002),
Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah Ilallah (Era Intermedia, 2004),
dll. Cerpencerpennya termuat dalam antologi Ketika Duka
Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta
Menemukanmu (GIP, 2004) dll.
Sebelum pulang ke Indonesia, di tahun 2002, Kang Abik diundang
oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia selama lima hari (1-5
Oktober) untuk membacakan puisipuisinya berkeliling Malaysia
dalam momen Kuala Lumpur World Poetry Reading Ke-9, bersama
penyair-penyair dunia lainnya. Puisinya juga termuat dalam Antologi
Puisi Dunia PPDKL (2002) dan Majalah Dewan Sastera (2002) yang
diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam dua bahasa,
Inggris dan Melayu. Bersama penyair dunia yang lain, puisi Kang
Abik juga dimuat kembali dalam Imbauan PPDKL (1986-2002) yang
diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (2004).
Pada medio pertengahan Oktober 2002, Kang Abik tiba di Tanah Air,
saat itu juga, ia langsung diminta menjadi kontributor penyusunan
Ensiklopedi Intelektualisme Pesantren; Potret Tokoh dan Pemikirannya,
(terdiri atas tiga jilid dan diterbitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, 2003).
Mengikuti panggilan jiwa, antara tahun 2003 hingga 2004, Kang
Abik memilih mendedikasikan ilmunya di MAN I Jogjakarta.
Selanjutnya, sejak tahun 2004 hingga tahun 2006 ini, Kang Abik
tercatat sebagai dosen di Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan
Islam Abu Bakar Ash Shiddiq UMS Surakarta.
Edited by : Bon Bon-q97 434
Selain menjadi pernah dosen di UMS Surakarta, kini Kang Abik
sepenuhnya mendedikasikan dirinya di dunia dakwah dan pendidikan
lewat karya-karyanya, lewat Pesantren Karya dan Wirausaha
BASMALA INDONESIA, yang sedang dirintisnya bersama sang adik
tercinta, Anif Sirsaeba dan budayawan kondang Prie GS di
Semarang, dan lewat wajihah dakwah lainnya.
Berikut ini adalah beberapa karya Kang Abik, yang telah terbit di
Indonesia dan Malaysia dan menjadi karya fenomenal, bahkan
megabestseller di Asia Tenggara, antara lain: Ayat Ayat Cinta,
Pudarnya Pesona Cleopatra, Di Atas Sajadah Cinta, Ketika Cinta
Bertasbih dan Dalam Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007). Kini
sedang merampungkan Dari Sujud ke Sujud, Langit Makkah Berwarna
Merah, Bidadari Bermata Bening dan Bulan Madu di Yerussalem.
Sastrawan muda yang kini sering diundang di forumforum nasional
maupun internasional ini masih duduk di Pengurus Pusat Forum
Lingkar Pena. Dan untuk mendulang manfaat Kang Abik membuka
komunikasi dan silaturrahim kepada sidang pembaca lewat e-mail:
kangabik@yahoo.com.

Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google


Followers

 

Copyright 2009 All Rights Reserved Magazine 4 column themes by One 4 All